THANKS TO CORONAVIRUS, DUA BANK INI BISA DIMASUKAN SEBAGAI SAHAM #1 DAN #2 DALAM PORTFOLIO

Industri keuangan diperkirakan menjadi sektor yang akan mengalami tekanan cukup besar dari  krisis Covid-19 ini. Disrupsi perekonomian menghantam dua sisi bersamaan, sisi supply dan demand.

Angka Indonesia Manufacturing PMI pada bulan April (27.5) menjadi cermin tajamnya kontraksi kegiatan usaha. Angka ini merupakan angka terendah dalam 10 tahun terakhir, sejak survey PMI ini dilakukan. Pada bulan Maret angka PMI ini masih tercatat 45.3. Anjloknya kegiatan produksi akan merupakan kabar buruk bagi perusahaan dan bank-bank pemberi pinjaman.

Sebelum datangnya coronavirus, sejak pertengahan tahun 2018, sektor keuangan Indonesia sebetulnya juga sudah berada di dalam kondisi perekonomian yang tidak kondusif. Besaran angka pertumbuhan kredit perbankan, menunjukan trend penurunan. Bahkan di akhir tahun 2019, tingkat pertumbuhan itu hanya mencapai 6.1%, yang merupakan angka pertumbuhan kredit terendah dalam 20 tahun terakhir. 

Sektor Terbaik di IHSG tahun 2019.

Namun begitu, tahun 2019 menjadi tahun yang sangat baik untuk sektor keuangan di BEI. Berbaliknya kebijakan Fed, dari rencana semula yang akan menaikan bunga, menjadi menurunkan bunga, menghasilkan rally dan sentimen positif di pasar modal. 

BEI ikut mendapatkan berkah meningkatnya antusiasme dan likuiditas itu. Sepanjang tahun 2019, investor asing mencatatkan Neto Pembelian sebesar Rp 50 Trilyun. Nilai rata-rata perdagangan di BEI dalam tahun 2019 (Rp 9.1 Trilyun/hari), merupakan angka perdagangan harian BEI tertinggi dalam sejarah BEI.

Oleh karena itu, tidak mengherankan apabila Bank BCA dan Bank BRI – sebagai perusahaan #1 dan #2 dengan Market Cap terbesar – menjadi target pertama investor asing setiap mereka mengalokasikan dananya di BEI.

Pelajaran dasar ilmu ekonomi di SMA, tentang kurva permintaan dan penawaran, “Meningkatnya permintaan akan menghasilkan kenaikan harga” juga berlaku di bursa. 

Dengan demikian, meskipun IHSG hanya naik 1.7% selama tahun 2019 itu, Sektor Keuangan meningkat dengan angka lebih tinggi, 15.22%.

Dalam jangka pendek, kenaikan harga sering ditentukan bukan oleh karena kenaikan laba atau pendapatan, tetapi lebih disebabkan oleh ekspektasi, antusiasme atau, sebaliknya, rasa cemas para pelaku pasar. 

EPS – yang mencerminkan kinerja – Bank BCA pada tahun 2019, “hanya” naik 10% dibanding dengan EPS-nya pada tahun 2018. Tetapi kenaikan yang “hanya” 10% ini, tidak menghalangi kenaikan harga BCA dengan angka yang lebih tinggi, 28%. Kenaikan sebesar 28% ini menjadikan harga saham BCA ditutup di harga Rp 33,425.

Hal yang serupa, terjadi juga terjadi dengan Bank BRI. Di tahun 2019, BBRI menghasilkan EPS sebesar Rp 281, atau naik 6% dibandingkan dengan EPS yang bisa dihasilkannya di tahun 2018. Bagaimana dengan harga sahamnya? Dengan harga saham BBRI yang tercatat di Rp 4,400 pada akhir tahun 2019, harga sahamnya meningkat 20%.

“………..jika kenaikan harga di bursa sudah lebih tinggi dibandingkan dengan kemampuan perusahaan dalam meningkatkan EPS-nya, hal ini menjadi salah-satu tanda bahwa pasar sedang dilanda rasa optimisme yang tinggi” (CMBPM, hal 174). 

Betapapun baiknya kinerja sebuah perusahaan, tetapi apabila sahamnya harus dibeli dengan harga terlalu tinggi, hal ini akan menganggu imbal-hasil kita dalam jangka panjang. Seringkali rasa optimisme menutupi hasil perhitungan sederhana kalkulator kita.

Coronavirus Mengubah Gambar Itu

Sektor keuangan dipersepsikan menjadi satu sektor yang rawan dengan adanya Covid-19. Sampai tulisan ini dibuat, sektor Keuangan berubah menjadi sektor yang penurunannya (31%) lebih buruk dibandingkan angka penurunan IHSG (26%). Bank BRI turun 40% dan Bank BCA 24%.

Fenomena yang sama, tentang terpuruknya sektor keuangan juga dapat kita lihat di Wall Street. Ketiga bank terbesar di Amerika,  mengalami penurunan yang jauh lebih besar dari S&P 500. Wells Fargo turun 54%. JP Morgan turun 35%, serta Bank Of America turun 36%. 

Di luar airlines stocks, yang akhirnya dijual semuanya di bulan April, angka merah saham perbankan mewarnai Equity Portfolio Berkshire di Kwartal I/2020. Selain ketiga Bank di atas, ada 4 bank saham lain yang termasuk dalam 15 Equity Portfolio BH dengan nilai terbesar. Dengan demikian, 7 dari 15 perusahaan yang berada di Top-15 Equity Portfolio Berkshire Hathaway adalah saham-saham perbankan. 

Top-15 ini mewakili 85% nilai Equity Portfolio BH (USD 248 Milyar, akhir tahun 2019). Saham-saham perbankan mewakili sekitar 30% nilai Portfolio BH. Meskipun hal ini tidak akan mengganggu Buffett, namun apa yang terjadi di dalam Kwartal I/2020 ini, niscaya bakal merupakan kenangan istimewa untuk Buffett. 

Apakah penurunan saham-saham perbankan di BEI dan Wall Street ini wajar?

Masih belum tersedia informasi yang memadai, tentang seberapa besar “damage” yang (akan) ditimbulkan oleh Covid-19 ini. Keterbatasan ini tidak memungkinkan kita untuk melakukan perkiraan yang reasonable.

Meskipun demikian, kalau kita kembali ke Indonesia, data bulan Maret menunjukan angka pertumbuhan kredit (yoy) yang masih cukup tinggi,  sebesar 7.95%. Tingkat pertumbuhan ini lebih baik dibandingkan (yoy) Desember yang hanya 6.08%. Trend peningkatan ini, tentu saja sangat mungkin berbalik arah di Kwartal ke II dan III.

Likuiditas juga masih tampak terjaga, meskipun tentu sangat terbantu oleh QE yang dilakukan BI. Dana Pihak Ketiga di bulan Maret, masih menunjukan peningkatan (yoy) sebesar 9.54%. Kenaikan ini lebih baik dibandingkan dengan angka (yoy) Desember, sebesar 6.54%. 

Kondisi perbankan Indonesia menghadapi krisis sekarang ini, tentunya sangat berbeda dengan kondisi perbankan Indonesia saat terjadi krisis tahun 1998.

Pada krisis 1998, perbankan Indonesia justru merupakan bagian dari masalah pokoknya. Kepemilikan bank-bank, dimanfaatkan pemiliknya   sebagai sumber-utama pendanaan untk membiayai kegiatan usaha non-bank yang mereka miliki.  

Ketika krisis terjadi, dan bisnis non-bank mereka bermasalah, akhirnya semuanya bermuara menjadi permasalahan kredit macet di bank-bank mereka. Kualitas kredit yang sangat buruk, sehingga bermuara pada kredit macet, tentu bisa dimengerti. Posisi sebagai pemilik dan nasabah bank, pada saat yang sama, membuat proses pemberian kredit sulit buat dilakukan dengan wajar dan benar. 

Itu sebabnya, tidak ada satu pemilik bank-pun yang selamat, atau dapat keluar dari krisis dengan tetap memiliki bank-nya. Either dibubarkan, atau dijual kepada pemegang saham baru – seperti Bank BCA. Hanya ada satu Bank besar yang selamat melewati krisis itu, yaitu Panin Bank.

Krisis 1998 menjadi tonggak untuk melakukan perbaikan struktural di  industri perbankan, termasuk masalah kualitas pemberian kredit, serta kecukupan modal perbankan.

Disrupsi Covid-19 sangat besar kemungkinan akan bisa meningkatkan kredit macet. Namun sejauh ini, dari hasil pertemuan KKSK kemarin, diumumkan bahwa Non Performing Loan (Gross) sampai Maret tahun ini angkanya sekitar 2.7%. Hanya naik sedikit dari angka NPL di bulan Desember (2.53%). Tentu kita masih harus melihat perkembangannya dalam bulan-bulan mendatang. Dengan rata-rata Net Interest Margin di atas 5%, angka NPL di atas masih dalam batasan terkendali.

Selain itu, industri perbankan Indonesia termasuk yang memiliki angka kecukupan modal yang tinggi. Capital Adequacy Ratio di bulan Maret memang sedikit turun (21.72%) dibandingkan dengan CAR pada bulan Desember 2019 (23.31%), namun angkanya masih di atas persyaratan yang berlaku. 

Meskipun Bukan Waktu Terbaik…..

Seperti disampaikan di atas, 7 perusahaan (dari 15 perusahaan dengan nilai investasi terbesar di dalam Portfolio Berkshire Hathaway) adalah Bank. 

Saya memahami, tidak semua investor tertarik untuk berinvestasi pada bank konvensional. I get it. Masih banyak kelompok usaha lain, yang bisa mereka pilih sebagai tempat investasinya.

Namun, untuk mereka yang memiliki preferensi pada bisnis perbankan, dan ingin mengalokasikan bagian terbesar dana portfolionya pada bank bank di Indonesia, saat ini merupakan salah-satu waktu yang baik untuk mengakumulasi saham-saham perbankan. 

Memang peluangnya saat ini tidak sebesar seperti di tahun 1998-2000, karena seperti telah dituliskan di atas kondisi permasalahannya sudah berbeda. Sistem perbankan saat ini tidak seburuk ketika terjadi krisis tahun 1998. Sehingga penurunan harga dari koreksi sekarang ini tidak bisa sedramatis seperti tahun 1998-2000.

Tentu tidak ada jaminan, bahwa harga saham perbankan ini sudah tidak bakal turun lagi. Adanya berita negatif tentang kondisi perekonomian makro dan industri keuangan dalam bulan-bulan mendatang, akan bisa membuat harga saham turun. Siapa yang dapat mengukur suasana hati para pelaku pasar yang sangat temperamental?

Pertanyaan pokoknya, adalah :”Apakah industri perbankan masih akan tetap relevan di masa-masa mendatang, seperti apa yang sudah terjadi selama ini?”.

Saya termasuk yang meyakini, bahwa fungsi intermediasi perbankan masih tetap akan relevan. Berbagai Fin-Tech mungkin saja mengambil sebagian market-share dari fungsi tersebut. Namun, bahkan jika hal itu terjadi, memerlukan waktu panjang untuk dapat mengambil-alih bisnis perbankan di Indonesia dengan Assets sekitar $ 600 Milyar saat  ini. Selain itu, dalam perjalanan usahanya, apa yang dilakukan oleh Fin-Tech itu, bisa menjadi bagian dari kegiatan usaha perbankan yang telah dilakukannya selama ini.

Tidak ada negara di dunia ini yang perekonomiannya maju, yang tidak disertai dengan pertumbuhan dalam industri perbankan-nya. Kemajuan dan pertumbuhan industri perbankan, bahkan seringkali lebih pesat dari pertumbuhan perekonomian negaranya.

Tahun 2002 total assets perbankan Indonesia masih sekitar $ 80 Milyar, di akhir tahun 2019 angkanya sudah sekitar $ 600 Milyar. Peningkatan ini setara CAGR 12.58%, atau dua kali pertumbuhan GDP Indonesia. Tidak heran, jika Bank Central Asia yang dijual pemerintah Indonesia di tahun 2000 senilai Rp 10 Trilyun, hari ini nilainya sudah mencapai $ 43 Milyar. Untuk memberikan perspektif, angka ini sama dengan 4% nilai GDP Indonesia (!).

Peningkatan skala perekonomian Indonesia, seperti ditunjukan melalui kenaikan GDP, Market Cap, dan pertumbuhan middle-class selama ini, menjadi bukti kemajuan berbagai sektor dan industri pendukungnya.

Menjadi bagian dari pemegang saham perusahaan-perusahaan di dalam sektor yang pertumbuhannya lebih tinggi dibandingkan perekonomian nasional, dapat memberikan imbalan yang lebih dari memuaskan. Bank merupakan bisnis dengan pertumbuhan lebih tinggi dari perekonomian Indonesia.

BBRI dan BBCA, sebagai leaders industri perbankan Indonesia, tentu menjadi opsi yang masuk akal, untuk menjadi bagian portfolio mereka yang berinvestasi di BEI. Di luar kedua bank ini, masih ada satu Bank lagi yang menarik perhatian saya, dengan niche market-nya yang dapat menjadikan nilai tambah Bank ini. 

Sama halnya dengan bank lainnya, Covid-19 tentu bakal mengganggu kinerjanya. Antisipasi bakal terganggunya kinerja perusahaan ini telah membuat harganya turun. Penurunan valuasi saat ini, dalam pandangan saya, sudah tidak lagi menyisakan sedikitpun rasa optimisme terhadap Bank ini. Seringkali, apabila optimisme itu sudah tidak tersisa lagi, kita hanya tinggal menunggu waktu. Kabar tentang kondisinya yang sudah tidak buruk saja di kemudian hari, akan dianggap menjadi sebuah kabar baik oleh pasar. Dan kita tahu, bagaimana reaksi pasar ketika menerima kabar baik. Untuk perusahaan semacam ini, less bad saja sudah menjadi good news. 

Namun, sampai sekarang ini, masih banyak Bank belum mengeluarkan Laporan Keuangan Kwartal I/2020. Jadi sementara ini, saya menunggu dahulu publikasi laporannya, sebelum menyebutkan nama Bank itu.  

Untuk tahap awal ini, BBRI dan BBCA akan dimasukan sebagai bagian dari Portfolio. Bisa jadi, setelah LK I/2020 dipublikasikan, saham Bank ini akan menjadi Portfolio #3.

APA YANG TERJADI DI BEI?

Seperti disampaikan BI kemarin, dari QE yang telah dilakukan sampai dengan April ( Rp 504 Trilyun), sekitar 33% diantaranya  (Rp 166 Trilyun) merupakan pembelian SBN di pasar sekunder yang dijual oleh foreign investors. 

Besaran penjualan SBN ini bisa menjadi indikasi ekivalen dollar yang keluar, yang dilakukan investor asing. Adanya arus dana keluar ini selain mengurangi cadangan devisa, juga menambah tekanan pada nilai tukar Rupiah.

Sampai dengan akhir Maret 2020, nilai SBN yang masih dimiliki investor asing tercatat Rp 927 Trilyun, turun dari nilai Rp 1,062 Trilyun pada akhir tahun 2019.

Adanya pembelian SBN yang dilakukan oleh BI, meskipun telah dapat mengurangi tekanan likuiditas, namun masih belum bisa mengurangi yield-nya yang masih bertahan di atas 8%. Apabila kita lihat di minggu ke-3 Februari, yield itu masih sekitar 6.5%. Hal ini dapat menjadi indikasi belum kembalinya minat foreign investors untuk masuk ke pasar obligasi. 

Selama bulan April, masih terjadi arus dana asing yang keluar, sebesar Rp 2.14 Trilyun. Namun minggu pertama bulan Mei ini tercatat dana asing masuk membeli SBN senilai Rp 1.2 Trilyun.

Current spread antara Indonesia dan Amerika untuk 10-years Bonds tercatat 752 basis points. Sementara itu, angka 5-years CDS Indonesia tercatat di 206.94. Sudah turun dari angkanya yang terburuk saat March Madness (290.8), tetapi masih jauh dari angka di minggu ke-3 bulan Februari (58.4), ketika kondisi masih relatif stabil.

Masih akan terjadi tarik-menarik antara lebarnya spread (dari US dan Indonesia Bonds) dengan tingkat kepercayaan investor asing yang tercermin dalam angka CDS. Perkembangan positif dari kedua faktor ini, tentu akan dapat menurunkan yield dan CDS, serta menguatkan nilai Rupiah.

BAGAIMANA DENGAN IHSG?

Di akhir minggu kemarin, angka IHSG tercatat di 4,597. Dengan demikian, YTD IHSG masih mengalami penurunan 27%.

Namun setelah menyentuh angka terendahnya di 3,938, pada minggu ke-3 bulan Maret, sudah terjadi recovery sebesar 17%.

Melalui beberapa catatan saya sudah menyampaikan, jika kita melihat data-data historis 20 tahun terakhir, tidak pernah ada koreksi (peak to bottom) yang lebih dari 15 bulan.  

IHSG menyentuh angka terendahnya karena Covid-19 tanggal 23 Maret 2020 di 3,938. Dengan demikian, IHSG sudah turun sekitar 41% dari angka tertingginya di bulan April 2019 (6,636), sekitar 12 bulan yang lalu.

Apakah angka IHSG bisa terkoreksi kembali ke angka terendah di 3,938, dan kemudian melanjutkan penurunannya? Ataukah angka itu akan menjadi angka terendahnya tahun ini?

Hanya tinggal menunggu waktu 3 bulan, untuk melihat apakah Covid-19 ini akan mencatat sejarah baru di BEI, dimana koreksi peak-to-bottom ternyata dapat lebih dari 15 bulan. sejarah Tetapi apabila sejarah baru itu tidak terjadi – dan angka 3,938 merupakan angka terendah IHSG, maka kita akan lebih sering membaca ucapan Mark Twain : “History doesn’t repeat itself, but it does rhyme”. Over and over again.

FAKTOR ASING.

Kita masih belum tahu, kapan Covid-19 ini dapat ditanggulangi dengan tuntas. Berhentinya mayoritas kegiatan ekonomi, jelas akan berdampak pada kinerja perusahaan dan bank-bank yang memberikan pinjaman.

Melihat kinerja Kwartal I, II dan III tahun 2020, menurut hemat saya, masih belum dapat memberikan gambaran yang lengkap tentang damage yang ditimbulkan Covid-19. Namun demikian, langkah-langkah yang diambil BI dan pemerintah – betapapun banyak kekurangannya – sudah dapat mengurangi kecemasan pasar. Market (systemic) risks sudah berkurang, dan perhatian akan lebih diarahkan kepada corporate atau sector risks.

Di dalam banyak waktu, krisis seringkali menawarkan banyak peluang yang bisa menghasilkan yield lebih dari memuaskan.

Drawdown di pasar – meskipun dengan alasan dan skala yang berlainan – merupakan bagian dari dinamika pasar, yang telah sering terjadi selama ini.

Peranan investor asing (atau investor Indonesia yang memakai badan usaha asing) selalu menjadi perhatian, karena apa yang mereka lakukan di BEI, dianggap dapat menentukan perilaku pasar modal. Hal yang sama juga juga terjadi di Pasar Uang.

Selama Kwartal I/2020, asing (lihat pengertian di atas) tercatat melakukan Neto penjualan sebesar Rp 10 Trilyun. Dalam bulan April, neto penjualan masih terus terjadi dan mencapai Rp 11 Trilyun. Dengan demikian, akumulasi penjualan asing dalam 4 bulan terakhir ini sudah mencapai Rp 21 Trilyun. 

Jika kita melihat neto PEMBELIAN asing selama tahun 2019 (Rp 49 Trilyun), apa yang dilakukan mereka dalam minggu-minggu mendatang ini, akan merupakan indikasi apakah semua saham yang mereka beli di tahun 2019 itu akan dilepas semua. 

Anjloknya IHSG secara masif ini, terutama untuk mereka yang mungkin belum terlalu lama berinvestasi di pasar modal, tentu bukan merupakan peristiwa yang menyenangkan. Tidak heran apabila hal ini menurunkan nilai perdagangan saham di bursa. Banyak yang mungkin sudah melemparkan handuk putih, dan mengucapkan sumpah : Kapok, dan tidak mau lagi berinvestasi di pasar modal. 

Di tahun 2019, nilai perdagangan harian BEI mencapai Rp 9.1 Trilyun per-hari, atau meningkat sekitar 7% dibanding dengan tahun 2018 (Rp 8.5 Trilyun). Dalam 4 bulan tahun 2020, rata-rata nilai perdagangan sudah turun menjadi Rp 6.6 Trilyun. 

Antusiasme yang semakin rendah untuk melakukan trading – setelah terjadinya penurunan yang masif – selalu merupakan kabar baik untuk mereka yang berpegang pada prinsip, bahwa dibalik lembaran saham-saham itu ada kinerja perusahaan.

Dalam menjalankan perusahaan, kondisi perekonomian tidak selalu berpihak kepada perusahaan. Namun, jika setiap terjadi masalah yang menimpa perusahaan, para pemilik perusahaan itu langsung menyerah, berapa banyak perusahaan yang harus ditutup setiap jam-nya? 

In real world, pemilik perusahaan harus menghadapi masalah – besar maupun kecil, baik yang berasal dari internal maupun external, dan manajemen perusahaan tentu harus menangani permasalahan itu.

Ada yang hanya memerlukan waktu pendek untuk manajemen bisa menyelesaikan persoalan itu. Ada juga yang memerlukan waktu panjang, bisa bulanan atau tahunan. 

Attitude yang berlainan terjadi di pasar modal. Berita buruk di hari ini, dipandangnya sebagai berita buruk yang harus terus-menerus dihadapi perusahaan. Begitu pula jika ada kabar baik yang mungkin di dengar serta dibacanya. Berita baik itu bakal terus menerus menjadi bagian dari perusahaan. Kata forever merupakan hal permanen di dalam pemikirannya. 

PERUBAHAN SEKTOR

Sampai akhir tahun 2019, sektor Finance merupakan leader di pasar. 

Angka IHSG selama tahun 2019 hanya meningkat 1.7%. Sektor Finance menunjukan kenaikan yang lebih impresif, 15% dalam periode yang sama. Di belakangnya menyusul Sektor Industri Dasar dan Kimia (14%) serta sektor Property (12.5%). Sektor terakhir ini menjadi sektor yang tadinya saya perkirakan bakal meneruskan kenaikannya, dan menjadi leader di tahun 2020.

Thanks to coronavirus, tampaknya dugaan itu meleset, kecuali jika tanda-tanda inflasi – jika perekonomian bergerak kembali, bisa mulai datang.

Tiga besar bank yang mendominasi industri perbankan, BBCA, BBRI dan BMRI mewakili sekitar 23.5% Market Cap BEI untuk tahun 2019. TPIA dan BRPT  yang masuk kedalam kelompok 10 besar Market Cap BEI tahun 2019, dengan bobot 2.55% dan 1.85%, menjadi alasan mengapa Sektor Industri Dasar & Kimia menjadi sektor dengan kinerja terbaik kedua di tahun 2019.

10 perusahaan terbesar (Top 10) BEI mewakili 47% Market Cap BEI. Sisanya, 53%, harus dibagi oleh sekitar 660 perusahaan. 

Coronavirus telah mengubah peta kekuatan sektor di BEI.

Sektor Finance, yang masih memimpin sampai bulan Februari, tidak bisa lagi menjadi leader, khususnya karena kedua saham di sektor ini (BCA dan terutama BRI) tidak lagi dapat menahan tekanan penjualan sahamnya di bursa. Pengumuman shares buy-back BRI – dan diharapkan bisa menahan laju penurunan sahamnya – dimanfaatkan untuk dapat menjual saham BRI di harga yang lebih baik. Sementara IHSG turun 27.95% (YTD di penutupan minggu lalu), Sektor Finance turun lebih buruk lagi, sebesar 31.63%. 

Sektor Consumer Goods mengambil-alih posisi “leader”. Tentu bukan karena kinerjanya positif, tetapi karena penurunannya (negatif 12.41%) lebih kecil dibandingkan penurunan IHSG.

Ke-3 bank terbesar yang akhir tahun masih menguasai 23.5% Market Cap BEI, pada penutupan minggu lalu bobotnya turun  8.5%, menjadi 21.5%. 

BBRI menunjukan penurunan yang paling parah dari ke-3 bank besar itu. Bobot BRI sebesar 7.4% di akhir tahun 2019, saat ini hanya tinggal 5.9% saja. Sementara itu, UNVR menjadi pelaku utama yang membuat Sektor Consumer Goods menjadi leader sampai penutupan minggu lalu. Bobot UNVR yang masih 4.4% di akhir tahun 2019, saat ini sudah naik hampir 32%, mencapai 5.8%. Posisinya yang masih di ranking 5 dari Top 10 pada akhir tahun 2019, saat ini sudah meningkat satu tangga, di posisi ke-4. Apabila TLKM tidak sigap, posisinya di Top-3 sangat mungkin bisa diambil-alih oleh UNVR. Meskipun secara YTD harganya masih turun sekitar 4%, tetapi sejak March Madness tanggal 23 Maret, saham UNVR ini sudah meningkat 29%.

APAKAH INFLASI AKAN DATANG?

Seperti diberitakan New York Post, Lary Kudlow, penasihat keuangan Presiden Amerika, menyebutkan bahwa paket stimulus coronavirus ini angkanya lebih dari $6 Trilyun, atau sekitar 30% dari GDP Amerika.

Pada dasarnya ini adalah QE – printing money out of thin air – yang juga dilakukan Amerika saat menghadapi krisis tahun 2008. Mekanismenya melalui ekspansi Neraca Fed, peningkatan hutang dan pembengkakan defisit.

Sebelum Amerika dihantam meteor coronavirus, ekspansi Neraca Fed itu belum kembali normal. Angkanya masih $ 4 Trilyun. Adanya Covid-19 menambah bengkak Neraca Fed menjadi lebih dari $ 6 Trilyun.

Apa konsekwensi yang akan timbul dari kebijakan yang saat ini diambil? Meskipun tidak memberikan penjelasan lebih lanjut, Buffett misalnya, telah menyampaikan kekhawatirannya soal “extreme consequences”, yang diakibatkan oleh QE saat ini. Apakah kekhawatirannya ini, yang membuat dia masih tetap memelihara dry-powder-nya sekarang ini?

Bagaimana pemerintah Amerika akan membiayai lonjakan defisit-nya?  Bagaimana cara membayar angka pinjaman yang sudah lebih tinggi dari nilai GDP-nya saat ini? Cetak uang lagi? Berhutang lagi?

Jika kombinasi ini yang dilakukan, bukankah ini merupakan resep yang ideal untuk terjadinya inflasi?

Jika ternyata inflasi muncul – nilai mata uang semakin turun – apa yang harus dilakukan? Assets-class yang mana yang akan diuntungkan?

Jika inflasi terjadi, penabung, deposan dan pemilik bonds akan menjadi kelompok yang dirugikan. Mereka akan mengalihkan dananya kedalam assets-class yang dapat menetralisir kenaikan inflasi, yang mengurangi purchasing power dari mata uang (currency). 

Dalam kondisi saat ini, dimana aktivitas perekonomian nyaris berhenti, dengan suku bunga mendekati 0, angka pengangguran yang tinggi, dan harga komoditas sangat rendah, mempertanyakan apakah bakal terjadi inflasi mungkin merupakan pertanyaan yang ganjil. 

Berbagai indikator sekarang ini lebih mencerminkan deflasi dari sebuah perekonomian yang sedang berada di dalam kondisi resesi. Bagaimana mungkin menduga bakal ada inflasi? 

Mari kita coba lihat.

Seperti disebutkan di atas, coronavirus tidak hanya melakukan disrupsi atas sisi demand, tetapi juga supply chain. Apabila locked-down dibuka, dan kegiatan kembali normal, peningkatan permintaan (pemulihan dari sisi demand) akan lebih cepat, dibandingkan dengan pemulihan supply yang terdisrupsi oleh coronavirus ini.

Meningkatnya permintaan yang tidak dapat segera diimbangi dengan pasokan yang seimbang, menjadi resep untuk terjadinya inflasi.

Semakin lama sisi demand tertekan, maka ketika tekanan itu terangkat, serta katup mulai dibuka lagi, lonjakan demand yang terjadi akan makin kuat. Demand yang tertekan karena locked-down yang hanya sebulan, tentu bakal menghasilkan reaksi lonjakan demand berbeda, dibanding dengan masa locked-down yang lebih panjang, 6-12 bulan. Atas dasar ini, menduga bakal terjadinya inflasi bukan hal yang berlebihan. 

Inflasi memang tidak akan terjadi dalam kondisi resesi. 

Namun apabila recovery mulai terjadi – dan disrupsi supply chain tidak bisa dipulihkan dalam waktu segera – terjadinya inflasi menjadi sebuah kemungkinan. Meningkatnya angka defisit dan kenaikan nilai pinjaman, yang berasal dari stimulus sekarang ini – akan menambah tekanan itu. 

Meskipun begitu, jika kita melihat apa yang terjadi dengan QE ex-krisis 2008, bukankah kebijakan itu tidak menimbulkan inflasi?

Terkait hal ini, apa yang disampaikan Bank for International Settlement (BIS) mungkin bisa membantu. Menurut pandangan BIS, terbentuknya global supply chain menjadi faktor penting terjadinya disinflasi selama ini.

Tidak tersedianya bahan baku, tenaga kerja, atau mesin produksi suatu negara, dapat ditanggulangi dengan kehadiran global supply-chain ini. IPhone, dan berbagai produk lainnhya yang ada di tangan konsumen di Amerika – yang dihasilkan perusahaan Amerika – tidak harus diproduksi di Amerika. QE tidak hanya berhenti di kantong-kantong perekonomian  Amerika saja. Pasokan QEdijawab dengan peningkatan pasokan barang melalui global supply chain. 

Berdasarkan estimasi IMF, sekitar 75% kenaikan nilai perdagangan dari tahun 1993-2013 disebabkan oleh adanya peningkatan di dalam global supply chain. Dalam 20 tahun itu, nilai perdagangan dunia naik sebesar 500%. Terpeliharanya global supply chain, menjadi landasan kuat yang memungkinkan terjadinya ekspansi itu, tanpa menimbulkan inflasi.  

Jika global-supply chain tidak bisa terpelihara dengan baik, atau terjadi disrupsi karena adanya coronavirus ini, maka QE bisa memiliki potensi untuk menimbulkan inflasi. Mengutip istilah Prof Stephen Roach dari Yale University, “Inflation was primarily a local affair”. Dorongan inflasi menjadi lebih besar di dalam sebuah perekonomian yang tertutup. Jika terjadi kenaikan upah/gaji, dan pemerintah melarang impor barang – sementara produksi di dalam negeri terbatas, atau tidak efisien – maka dapat memicu inflasi. 

Coronavirus telah menimbulkan disrupsi dalam global supply chain. 

Benar, bahwa sudah mulai banyak yang berpikir melakukan reshoring, atau mengalihkan kembali pusat-pusat produksi ke negara asal. 

Jepang misalnya, mengalokasikan sebagian dana peruntukan Covid-19 recovery-nya, untuk program reshoring bagi perusahaan Jepang yang berniat mengalihkan usahanya dari China. 

Reshoring Initiative – Bringing Manufactaring Back Home juga menjadi penggerak program reshoring di Amerika. Namun pengalihan kegiatan usaha – untuk mengganti disrupsi supply chain itu – tentu memerlukan waktu. Tidak bisa segera menjawab peningkatan demand yang terjadi.

Dengan demikian, potensi terjadinya inflasi sebagai akibat dari money-printing yang dilakukan saat ini, tidak bisa serta merta diabaikan.

Dari sudut pandang yang lain, adanya faktor inflasi ini, mungkin bahkan dapat membantu pemerintahan sebuah negara dalam “memperkecil” beban hutangnya (berbanding GDP) yang semakin meningkat sekarang ini, seperti diterangkan di bawah ini.

Adanya coronavirus membuat Indonesia tidak lagi dapat menggunakan batasan defisit maximum 3% dari GDP. Selain itu, Debt To GDP kita juga akan mengalami peningkatan. ADB sudah memperkirakan, bahwa ratio itu akan meningkat menjadi 37.8% akhir tahun 2020. Angka kenaikan yang cukup tinggi, dari level 29.8% di akhir tahun 2019. 

Membandingkan ratio ini, dengan mengatakan bahwa angkanya masih lebih rendah dari Amerika, tentu bukan merupakan perbandingan yang dapat menenangkan kita. 

REFLATION

Bagaimana elemen inflasi yang dirancang pemerintah (reflation), lewat ekspansi perekonomian – melalui stimulus fiskal dan moneter – dapat memperbaiki ratio Debt To GDP sebuah negara?

Bahkan dalam pandangan Prof Reach, berkaca pada apa yang terjadi di Amerika seusai PD II, inflasi ini menjadi satu-satunya jalan keluar untuk 

Amerika, agar bisa menurunkan GDP To Debt Ratio-nya yang sekarang ini sudah lebih tinggi dari GDP-nya.

Angka setinggi ini hanya pernah dialami Amerika sebelumnya, setelah terjadinya PD II. Masalah hutang seusai PD II ini bisa diperbaiki, melalui reflation, lewat stimulus fiskal dan moneter. Kebijakan ganda ini dapat menghasilkan laju pertumbuhan, dan menimbulkan inflasi.

Dalam kurun waktu 1947-1957, sementara angka pinjaman turun 0.9%, akselerasi inflasi telah menciptakan peningkatan angka GDP sekitar 7% per-tahun. Hal ini berhasil menurunkan Debt To GDP Ratio Amerika ke angka 47%.   

Bagaimana dengan Indonesia setelah terjadinya krisis tahun 1998?

Tahun 2000, Debt To GDP Ratio kita masih sangat tinggi, yaitu 87.44%. Dalam kurun waktu 2000-2010, tingkat inflasi Indonesia mencapai rata-rata 7.87%. Bahkan di dalam tahun 2002 dan 2005 mencapai dua digit, masing-masing 12.16% dan 14.18%. 

Akselerasi inflasi dalam 10 tahun itu telah menciptakan pertumbuhan angka GDP, dari USD 179 Milyar (tahun 2000) menjadi USD 755 Milyar (tahun 2010). Terjadi kenaikan GDP sebesar USD 576 Milyar. 

Di sisi lain, Hutang Indonesia hanya naik 18%, yaitu dari USD 156 Milyar (2000) menjadi USD 185 Milyar (2010). Kombinasi  ini bisa menurunkan Debt To GDP Indonesia dari 87.44% pada tahun 2000, menjadi 24.53% di tahun 2010.

Besaran ratio 24%-an ini masih bisa dipertahankan sampai tahun 2014. Sejak 2015, mulai terjadi peningkatan menjadi 27% dan terus berlanjut sampai akhir tahun 2019 di angka 29.8%. Seperti dituliskan di atas, ADB memperkirakan bahwa ratio ini akan naik lagi sampai 37.8% akhir tahun 2020 ini.

SEKTOR APA?

Apabila pada akhirnya inflasi terjadi, maka turunnya nilai mata uang itu akan merupakan kabar baik untuk sektor komoditas dan property. Gold sebagai lambang kecemasan, bahkan sudah terlebih dahulu meningkat harganya. Meskipun atas dasar alasan yang berbeda. Bukan karena soal inflasi, tetapi timbulnya kecemasan pasar karena datangnya Covid-19.

Di dalam 4-5 tahun terakhir, sektor komoditi bukan merupakan sektor  yang terlalu menyenangkan. Bloomberg Commodity Index maupun ETF yang fokusnya di komoditi, sudah kehilangan 50% nilainya. Coronavirus menambah tekanan pada sejumlah komoditi dalam tahun ini.

Apabila roda perekonomian mulai bergerak, dan potensi adanya inflasi muncul ke permukaan, maka sektor komoditi dan properti merupakan  sektor yang akan menarik perhatian. Dalam kesempatan lain, saya akan coba melihat apa yang terjadi di BEI sepanjang tahun 2020 ini.

APA YANG TERJADI DI WALL STREET?

Jika Anda bertanya kepada pemegang saham Amazon, MSFT dan FB, “Bisa ceritakan bagaimana cara Anda mengendalikan kecemasan Anda dalam menghadapi coronavirus saat ini?”. Boleh jadi mereka akan balik bertanya :”What? Apa itu coronavirus?”. 

Guncangnya pasar akibat coronavirus, seakan-akan tidak memiliki arti samasekali untuk ketiga perusahaan ini.

Berbeda dengan S&P yang secara YTD masih turun 9.32%, AMZN, MSFT dan FB, selama tahun 2020 ini mencatat kenaikan masing-masing 28%, 17% dan 22%. Bahkan jika dihitung dari saat pasar sedang di puncak kecemasannya, saham MSFT dan FB meningkat 35% dan 42%.

S&P 500, walaupun YTD-nya masih negatif, sudah mengalami recovery sebesar 27% dari titik terendahnya. Recovery yang demikian cepat ini, membuat banyak orang heran. Bukankah berbagai kabar buruk saat ini dengan mudah masih terlihat dimana-mana? Kenaikan pengangguran, berhentinya mayoritas kegiatan bisnis, melonjaknya defisit dan hutang masih menjadi berita rutin di berbagai media. Selain itu, bukankah kita juga masih belum bisa mengendalikan coronavirus sampai saat ini? Apa yang terjadi dengan Wall Street, yang pergerakannya berlainan dengan apa yang ditunjukan di Main Street?.

PASAR YANG MEMILIKI DUA SISI.

Dalam pandangan saya, kita dapat melihatnya dari sejumlah faktor di bawah ini :

  1. Berbeda dengan krisis sebelumnya di Amerika tahun 2008 (atau 1998 di Indonesia), dimana asal mula krisis itu berasal dari adanya kebusukan yang terjadi di dalam sistem keuangan, krisis Covid-19 berasal dari luar sistem yang ada. Coronavirus is a random event. Ibaratnya seperti meteor yang datang dan jatuh menimpa bumi. 
  • Jatuhnya meteor ini, dalam tempo yang pendek segera membuat berhentinya berbagai macam aktivitas. Berhentinya kegiatan ini tidak terbatas pada kegiatan perekonomian, tetapi juga aktivitas sosial, bahkan ritual keagamaan yang biasa dilakukan berjamaah. Jatuhnya meteor ini telah menciptakan lubang besar yang berupa ketidak-pastian.
  • Dampak kerusakan yang ditimbulkan – apakah karena kebusukan dari internal  system seperti di tahun 2008 ataupun random event seperti saat ini – pada akhirnya bisa saja sama. Namun demikian, skala percepatan kerusakannya berbeda. Penyebab dari internal, menimbulkan kerusakan relatif bertahap – banyak yang mungkin sudah bersiap-siap, karena sudah mulai mencium baunya. Dalam kasus meteor coronavirus ini, kedatangannya yang “tiba-tiba” itu menimbulkan kecemasan berjamaah, yang hampir bersamaan di berbagai tempat. Hal ini menciptakan skala kecemasan yang tidak terkendali dan massif.
  • Timbulnya kecemasan yang tidak terkendali itu, misalnya dapat kita lihat pada apa yang terjadi pada assets yang selalu dianggap sangat tidak berisiko setiap terjadinya krisis (Treasury Notes) atau gold price yang sering dianggap sebagai safe haven, serta menjadi instrumen untuk hedging. Lazimnya, di saat terjadi krisis, kedua asset- class ini akan mengalami kenaikan. Ketika kecemasan pasar ini berada di puncaknya, di bulan Maret kemarin, Fed melakukan pemotongan suku-bunga. Namun apa yang terjadi di pasar? Kita menyaksikan anomali, karena di Treasury Market, justru gambar yang berbeda terjadi. US Bond yield bukannya turun, tetapi justru naik dan mencapai 2% lebih. Agresifnya angka penjualan T-Notes di Treasury Market menjadikan harganya rontok, sehingga yield meningkat sampai di atas 2%. Gold price juga anjlok sekitar 14% dari harga seminggu sebelumnya, di $1,675/oz.
  • Gambaran ini menunjukan, bahwa investors tidak hanya sekedar menjual saham yang dimilikinya Mereka juga ikut menjual no-risk assets (Treasury Notes) serta safe-haven instrument (gold). Apa yang terjadi ini menunjukan skala kecemasan yang begitu besar-nya. VIX, yang biasa dipakai mengukur besaran kecemasan pasar, melonjak 400% dalam waktu yang relatif pendek. Contoh-contoh ini menunjukan pasar yang sangat reaktif. Everything was on sale.
  • Langkah Fed dan pemerintah Amerika, dengan mantra “whatever it takes”  juga memberi indikasi besarnya lubang ketidak-pastian yang terjadi di pasar ketika itu. Neraca Fed yang melonjak 50% di dalam hitungan minggu, maupun lonjakan hutang Amerika yang langsung mencapai angka lebih dari 100% GDP-nya, menjadi opsi yang segera diambil untuk menutup lubang besar itu. Kombinasi kebijakan moneter dan stimulus fiskal ini, merupakan The Known Factor untuk menghadapi The Uncertainty yang ditimbulkan oleh Covid-19.
  • Response berupa kebijakan moneter serta stimulus fiskal di atas, sejauh ini telah berhasil mengangkat market risk (systemic risk), meskipun malapetaka akibat coronavirus ini masih terjadi sampai saat ini. Seberapa besar damage yang ditimbulkan, sampai sejauh ini is anyone’s guess. Disrupsi yang ditimbulkan Covid-19 ini tidak hanya di sisi demand saja, tetapi juga supply-side. Pengaruhnya terhadap masing-masing sektor dan perusahaan akan bisa sangat berbeda. Perhatian investor mulai beralih, tidak lagi kepada pasar secara umum, tetapi akan lebih diarahkan kepada kinerja masing-masing sektor/perusahaan. Apa yang terjadi dalam 9-12 bulan ke depan dari masing-masing sektor/perusahaan, akan menentukan arah pergerakan pasar selanjutnya. Angka-angka di Kwartal I dan II/2020 ini, menurut hemat saya, masih belum dapat memberikan gambaran yang memadai.  
  • Oleh karenanya, ada baiknya untuk bisa lebih hati-hati membaca “recovery” S&P yang terjadi dalam satuan waktu yang pendek ini. Untuk sebagian, mantra Fed telah menjadi bantalan. Oleh karena itu, terjadinya recovery ini bukan berarti the worst is over. Hal ini, lebih menunjukan munculnya keyakinan pasar, karena adanya Big Brother yang telah siaga buat melemparkan tali bantuan. Attitude yang sama, hari ini disampaikan juga oleh Lagarde, Presiden ECB: “……….a swift, sizeable, and symmetrical European tool to fund the recovery is necessary, and ECB will play its part”. Terjadinya recovery yang relatif cepat ini, merupakan hasil pembalikan sikap reaktif sebelumnya yang juga begitu massif dan cepat. Ketika Big Brother kehadirannya belum dirasakan, penjualan non-risk assets yang sangat agresif seperti disampaikan di atas, merupakan salah satu contoh sikap pasar yang sangat reaktif ketika itu. Pada saat orang berteriak :”Kebakaran…kebakaran…kebakaran”, melarikan diri keluar serta melepaskan apapun yang ada di dalam, menjadi opsi yang masuk akal. Ketika ternyata ada Big Brother yang bisa mengendalikan api, mereka yang sudah berada di luar itu, mulai merasa nyaman untuk masuk kembali. Bahkan berebutan masuk, lebih cepat dibandingkan dengan saat mereka lari ke luar.
  • Terjadinya recovery S&P 500 ini juga harus dikaitkan dengan fakta tentang peranan sejumlah kecil emiten, yang merupakan bagian dari S&P 500. Microsoft, Amazon, Google, Facebook serta Apple, yang jumlahnya hanya 1% dari jumlah perusahaan di dalam S&P 500, memiliki bobot 20% dalam S&P 500.  Dengan demikian, 80%-bobot sisanya dibagi oleh 495 (95%) emiten lain. Oleh karena itu, S&P 500 sekarang ini bisa disebut memiliki dua muka. Satu muka yang berseri-seri, terutama diwakili ke-5 emiten tersebut di atas. Recovery S&P 500 ini tidak dengan sendirinya mewakili 495 muka lainnya yang berada dalam komponen S&P 500. Kelompok Bank, misalnya, menunjukan wajah berbeda. Year To Date, JP Morgan turun 33 %, bahkan Wells Fargo turun 52%. 

Apakah money-printing ini akan menjadi pemicu inflasi di masa-masa mendatang ini? Jika inflasi terjadi, apa yang seharusnya menjadi perhatian investor? Hal ini mungkin akan dibahas dalam catatan berikutnya.

Perspective

AGM BERKSHIRE 2020 – THE WORLD GREATEST INVESTOR’S SAME MISTAKE

Berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya, AGM Berkshire Hathaway kali ini hanya dihadiri oleh Buffett dan Abel saja.

Laporan tentang kinerja tahun 2019 – yang menjadi objek AGM – tidak terlalu mendapatkan perhatian. Kinerja BH di tahun 2019, sebesar 10%, lebih rendah dibandingkan S&P 500 yang mencatat kenaikan sangat baik (31.5%). Kinerja satu tahun seperti ini, tentu tidak akan terlalu merisaukan Buffett.

Hal seperti ini juga sudah seringkali terjadi. Dari 54 tahun operasi, 17 tahun diantaranya kinerja Berkshire Hathaway lebih buruk dibandingkan S&P 500. Artinya, setiap 3 tahun sekali S&P 500 mengungguli kinerja Berkshire. Namun jika kita memakai satuan waktu lebih panjang, sementara S&P 500 di periode 1964-2019 menunjukan kenaikan 19,784%, kinerja Berkshire meningkat dengan angka yang jauh lebih impresif, yaitu 2,744,062%.

Adanya coronavirus mengalihkan perhatian pada apa yang terjadi pada kinerja BH dalam Kwartal I/2020. Informasi tentang apa yang BH lakukan di bulan April 2020, menjadi tambahan informasi yang lebih menarik perhatian banyak orang, dibandingkan laporan tentang kinerja tahun 2019.

Edgar L. Smith dan Harta Karun di Laporan Keuangan

Sebelum mengalihkan perhatian kepada LK untuk Kwartal I/2020 – dan apa yang dilakukannya di bulan April 2020 – ada baiknya, kita melihat LK Berkshire Hathaway terlebih dahulu untuk tahun 2019.

Laba BH pada tahun 2019 yang luar biasa besarnya, $81.4 Milyar, tidak lantas menjadikan Buffett senang. Angka laba ini meningkat 1,900% dibandingkan laba pada tahun 2018.

Buffett, dan Munger, memang termasuk yang tidak sepakat dengan adanya perubahan Generally Accepted Accounting Principles (GAAP) yang mulai diadopsi tahun 2018.

GAAP baru ini mengharuskan adanya pencatatan kenaikan atau penurunan nilai portfolio saham, yang dimiliki sebuah perusahaan. Seperti kita tahu, Equity Portfolio merupakan salah satu Rerumpunan dari 5 Rerumpunan Pohon didalam Hutan bernama Berkshire Hathaway. Rerumpunan Equity Portfolio ini, bahkan lebih sering menjadi perhatian utama banyak orang.

Untuk investor seperti Buffett – dimana tujuan kepemilikan sahamnya bukan untuk diperjual-belikan – naik-turunnya harga saham yang terjadi diantara periode-periode laporan keuangan, memang menjadi tidak relevan. Equity Portfolio BH saat ini sekitar $ 200 Milyar. Kenaikan atau penurunan 1% harga saham setiap hari, sama artinya dengan laba atau rugi $1 Milyar per-hari. 

Oleh karena itu, Buffett menganjurkan untuk tidak terlalu terpukau kepada peningkatan Laba (yang dibuat berdasar GAPP) tahun 2019, yang sangat luar biasa itu. 

Dia menganjurkan untuk lebih memberikan perhatian atas Operating Earnings. Laba sebesar $81.4 Milyar itu meliputi Operating Earnings, $ 24 Milyar (2018 : $ 24.8 Milyar), Realized Gains, $ 3.7 Milyar (2018 : 2.8 Milyar), Unrealized Gains (kenaikan nilai Equity Porfolio), $ 53.7 Milyar. Pada tahun 2018, Equity Portfolio BH turun $ 20.6 Milyar. Jika Anda ingat, Wall Street sangat cemas di akhir tahun 2018, karena adanya kekhawatiran Fed menaikan suku bunga.

Hanya dalam setahun, terjadi swing sebesar $ 74.6 Milyar, dari rugi ($20.6 Milyar) berubah menjadi untung ($ 53.7 Milyar). Jika hal ini tidak bisa kita sebut sebagai karakter pasar yang sangat temperamental, lantas harus kita sebut apa?. Angka $ 74.6 Milyar itu cukup untuk membeli BBCA, BBRI dan BMRI sekaligus ketiganya.

Kekuatan Hutan BH, kita tahu, terletak pada floating yang semakin lama semakin meningkat. Floating BH yang dalam tahun 1970 hanya $ 39 Juta, pada akhir tahun 2019 sudah mencapai angka $129 Milyar, naik 330,769%. Tidak heran, apabila dengan saldo kas, ekivalen kas serta floating yang dimiliki, banyak orang yang menunggiu, cash deployment seperti apa yang akan dilakukan Buffett menghadapi krisis saat ini.

Equity Portfolio Berkshire di akhir tahun 2019 mencapai angka $ 248 Milyar. Sekitar 85% dari nilai itu ditanamkan pada 15 perusahaan. Saham Apple mencatat nilai investasi terbesar ($74 Milyar), atau hampir 30% dari total portfolio. Lima saham yang dimilikinya (Apple, American Express, Coca Cola, Bank of America dan Wells Fargo) mewakili 67% nilai Equity Portfolio Berkshire. Typical portfolio Buffett, yang sangat terkonsentrasi.

Hal yang cukup menarik perhatian saya adalah kutipannya tentang pandangan Edgar L. Smith. Apa yang disampaikan ini menggaris-bawahi pemahaman Buffett tentang Power of Retained Earnings. Di dalam buku CMMLK, saya juga telah menulis pentingnya kita melihat Retained Earnings, untuk  dapat menemukan Harta Karun dari perusahaan (CMMLK, Page 140). 

Buffett mengutip pandangan Smith ini melalui JM Keynes, ekonom Inggris yang terkemuka, “Perusahaan-perusahaan yang baik, tidak mengembalikan semua hasil keuntungan kepada para pemegang sahamnya. Perusahaan seperti ini, akan menahan sebagian laba yang dihasilkannya itu, untuk dipergunakan kembali didalam kegiatan usahanya. Dengan demikian, terdapat elemen kelipatan berganda (terjadinya compounding interest) dengan menginvestasikan dana itu dalam kegiatan usaha yang baik. Melalui perjalanan waktu, real value dari kegiatan usaha yang baik itu menghasilkan kelipatan yang lebih tinggi, dibandingkan jika laba tersebut dibagikan sebagai dividen kepada para pemegang saham”.

Bagi perusahaan yang bisa menghasilkan ROE yang tinggi, menahan hasil laba dalam perusahaan akan menghasilkan kelipatan berganda, dibanding membagi dividen buat para pemegang sahamnya.

Dividen yang diterima pemegang saham, mungkin dipakai belanja (return nol), atau disimpan sebagai deposito, yang hasilnya jauh lebih rendah dibandingkan dengan yang bisa dihasilkan (ROE) Bank BCA, misalnya. Apabila manajemen BBRI tidak dipaksa untuk membayar dividen yang terlalu tinggi – katakanlah sama seperti Bank BCA – maka Bank ini akan menghasilkan manfaat yang jauh lebih tinggi kepada semua pihak, dibandingkan dengan saat ini.

KINERJA KWARTAL I/2020

No surprise, Berkshire Hathaway pada Kwartal I/2020 ini, harus mencatat kerugian yang sangat besar, karena Equity Portfolio-nya anjlok sekitar $ 69 Milyar. Sama seperti apa yang terjadi dalam tahun 2019, ketika Equity Portfolio-nya meningkat pesat, turunnya nilai portfolio tentu tidak akan menjadi perhatian utamanya (kecuali untuk saham-saham di 4 airlines). 

Adanya kompensasi Operating Earning sebesar $ 7 Milyar, dan Tax Benefit sebesar $ 13 Milyar, menghasilkan angka kerugian $ 49 Milyar pada buku Berkshire Kwartal I/2020.

Selama Kwartal I/2020, tidak ada penjualan dan pembelian saham cukup besar yang dilakukan Buffett. Dry powder-nya belum dimanfaatkan. Adanya penurunan saldo kas di akhir Kwartal I/2020, disebabkan oleh pembelian Treasury Bills, sehingga mencapai angka $95 Milyar akhir Kwartal I kemarin. T-Bills serta Kas yang dimilikinya, $ 134 Milyar, angkanya lebih tinggi dibanding cadangan devisa Indonesia yang dimiliki Indonesia saat ini.

Kalaupun ada yang cukup istimewa selama Kwartal I/2020 adalah shares buy-back yang dilakukannya. Dalam 3 bulan itu, untuk saham Class A, jumlah Treasury Stock naik 7.7% dibandingkan akhir tahun 2019. Sementara untuk Class B, terjadi peningkatan Treasury Stock sekitar 22%. 

Meskipun demikian, secara total, Treasury Stock ini masih sangat kecil dibandingkan dengan Market Cap BH. Apabila pasar masih mengalami koreksi di hari-hari mendatang ini, saya tidak akan heran, apabila shares buy-back dilakukan Buffett dengan lebih agresif. Shares buy-back ini tentunya bakal disambut baik oleh para pemegang saham : Potongan kue per-saham akan semakin besar.

BUFFETT’S SECOND MISTAKE

Buffett memberikan tambahan informasi tentang apa yang dia lakukan selama bulan April 2020. Di dalam bulan April itu, Buffett menjual seluruh kepemilikan saham Berkshire senilai $6.1 Milyar. Seperti diketahui, Berkshire memiliki saham pada ke-4 airlines terbesar di Amerika (Delta, 11%, American Airlines 10%, Southwest Airlines, 10% serta 9% di United Airlines).

Kabar buruk investasi Buffett di bisnis airlines bukan yang pertama-kali ini terjadi. Sebetulnya banyak orang merasa heran, ketika akhir tahun 2016 Buffett tertarik lagi masuk ke bisnis ini.

Bisnis airlines merupakan jenis bisnis yang sangat capital intensive. Karakter bisnis-nya juga termasuk yang sering dia katakan  sebagai commodity-type business : Price taker. Buffett sendiri pernah merasakan pahitnya berinvestasi di bisnis airlines ini pada tahun 1989-1990.

Tahun 1989 Buffett membeli preferred shares US Air (yang menjadi American Airlines saat ini), dengan nilai investasi $358 Juta, setara 12% saham USAir. Kegagalan investasi ini, dalam pandangannya, “reminds us of what not do do”. 

Pada bulan Maret 1990, Buffet mengumumkan impairment charges atas investasi di US Air ini, sehingga tinggal $89.5 Juta. Charlie Munger, juga menyatakan mundur dari Board USAir. Bahkan dalam LTS-nya tahun 1990, Buffet menulis “Since our purchase, the economics of the airline industry have deteriorated at an alarming pace…………….The trouble this pricing has produced for all carriers illustrates an important truth : In a business selling a commodity-type product, it’s impossible to be a lot smarter than your dumbest competitor”. Ouch!

Bahkan di AGM tahun 2013, Buffett juga sempat berkata, bahwa “Investor telah banyak menanamkan dana di bisnis penerbangan selama satu abad ini, dimana hasilnya sangat buruk. It’s been a death trap for investor”. “You’ve got huge fixed cost; you’ve got strong labor unions, and you’ve got commodity pricing. That’s not a great recipe for success”. 

Mengapa 3 tahun kemudian, Buffett lantas masuk kembali ke bisnis yang sering dihujatnya ini? Bulan Februari 2020, Berkshire masih membeli tambahan 976 ribu saham Delta, sehingga kepemilikannya menjadi 11%. Bahkan pada bulan  Maret, masih banyak yang menduga bahwa investasi gajah-nya tahun ini adalah salah-satu airlines itu. Sejak Bekshire mengakuisisi Burlington setelah krisis tahun 2008, belum ada akusisi besar yang dilakuka. Total investasinya dalam keempat airlines itu mencapai sekitar $ 9 Milyar. 

Adanya konsolidasi di industri penerbangan Amerika, yang mengurangi risiko perang harga, menjadikan 4-airlines itu memiliki economic moat. Peningkatan CFO, dengan relatif rendahnya oil price ketika itu, boleh jadi menjadi tambahan faktor yang mengubah pandangan Buffett terhadap bisnis airlines ini. 

Coronavirus membuat Buffett harus mengubah pandangan optimisnya atas bisnis airlines dalam 3 tahun terakhir ini. Dia berkata, bahwa “The world has changed”. “It turned out I was wrong’ (untuk kedua kalinya pada bisnis yang sama). “We took money out of the business basically even at a substantial loss”. “We will not fund a company that ….where we think that is going to chew up money in the future”. 

Kita sudah memahami, bahwa penurunan harga saham di pasar, tidak pernah menjadi alasan Buffett untuk menjual saham yang dimilikinya. Di dalam pandangan Buffet, Covid-19 “had changed the business in a very major way”. Seperti banyak diberitakan, US airlines menerima bagian dari dana sebesar $ 25 Milyar dalam bentuk grants dan pinjaman.

Apabila kita mengambil analisa paling simpel saja, elemen tambahan modal yang harus diinjeksikan untuk airlines ini tentu dapat mengubah semua perhitungan.

Katakan ada bisnis yang memiliki hutang 100 Juta. Analisa pay-back period, yield serta berbagai perhitungan lainnya, tentu akan didasarkan kepada hutang sebesar 100 Juta itu. Adanya peristiwa, yang menimbulkan tambahan hutang di buku perusahaan, at best akan mengurangi kalkulasi yield serta memperpanjang pay-back period, yang berlainan dari perhitungan awal investasi. Dalam pandangan saya, hal ini yang menjadi salah-satu pertimbangan Buffett melakukan penjualan saham airlines-nya.

Namun, apapun yang terjadi, investasi Buffett dalam bisnis airlines ini tidak mengubah karakter bisnisnya yang sangat padat modal. Dampak yang ditimbulkan coronavirus, tentu semakin menguatkan pandangan tentang kekuatan bisnis yang berkarakter capital-efficient. Terganggunya kegiatan usaha karena coronavirus jelas berdampak pada kelompok CEC juga. Namun demikian, pengaruhnya ini tidak separah seperti yang harus dihadapi capital intensive company.

Jakarta, 4 Mei 2020.