PERSPEKTIF 16 JUNI 2020

PERSPEKTIF 16 JUNI 2020

FED VS CORONA

Apa yang terjadi di Wall Street kemarin, kembali menunjukan semakin besarnya peranan Fed di pasar – Fed, telah menjadi big player di pasar.

Rencana Fed, bahwa akan mulai melakukan pembelian bond langsung (individual corporate bonds) – melalui Secondary Market Corporate Credit Facilty – membuat S&P 500 berbalik, dari kondisi negatif 2.5% di awal perdagangan menjadi positif 0.83% di akhir perdagangan kemarin di New York.

Sebelum Wall Street dibuka, Index S&P 500 maupun Dow Jones Future menunjukan angka negatif sepanjang perdagangan di Asia dan Eropa. Hal ini telah membuat pasar di Asia dan Eropa mengalami penurunan dalam perdagangan kemarin. Pembalikan yang terjadi di Wall Street semalam, diperkirakan akan mendorong kenaikan pasar di Asia serta Eropa hari ini.

Pembelian corporate bonds oleh Fed selama ini, dilakukan melalui ETF yang keranjangnya berisi corporate bonds. Di catatan Persepktif yang ditulis sebelumnya, apa yang dilakukan Fed ini telah mendorong LQD (ETF Investment Grade Bonds) mengalami kenaikan.

Injeksi likuiditas yang dilakukan Fed dari bulan Maret, mencerminkan   kekuatan yang ditunjukan Fed. Tanpa adanya injeksi itu, yang berhasil menciptakan stabilitas di pasar, tidak mungkin S&P 500 bisa naik 45% dari angka terendahnya.

Apa yang dilakukan Fed saat ini, menjadi indikasi keinginan Fed untuk memastikan tersedianya akses pendanaan untuk perusahaan. Bahkan Fed juga menghimbau pemerintah untuk dapat meningkatkan belanja negara, untuk mempercepat pemulihan ekonomi. 

Berbagai indikator perekonomian menunjukan kondisi perekonomian yang buruk di berbagai sektor. President dari Federal Reserve Bank of San Francisco, Mary. C Daly, seperti dikutip New York Times, mengacu kepada masa pemulihan yang sangat panjang ketika terjadinya Great Depression dan Great Recession. Dibutuhkan waktu bertahun-tahun, bahkan dekade sampai terjadinya pemulihan ketika itu. Oleh karenanya, dia menambahkan, “A decade is too long. We can’t wait 10 years for an economic recovery to reach everyone”.

Dengan attitude seperti ini, kesigaan Fed ini tidak terbatas hanya pada apa yang disampaikannya minggu lalu. Seusai FOMC, Fed menyatakan komitmen, untuk tetap mempertahankan jumlah pembelian Treasury dan MBS sebesar USD 120 Milyar/bulan. Selain itu, 15 dari 17 Board members mengisyaratkan kondisi suku bunga mendekati angka 0 bisa berlangsung sampai tahun 2022. Dimulainya program Fed melakukan pembelian bonds perusahaan secara individu, menguatkan kehadiran Fed sebagai pelaku pasar yang aktif. Dengan langkah ini, Fed ingin memastikan bahwa perekonomian dapat berfungsi kembali secepat mungkin. Perbaikan likuiditas di pasar uang dan pasar modal tidak sama dengan sudah berfungsinya kembali mesin perekonomian.

Akan menarik, untuk melihat apakah industri perminyakan yang sudah memakan banyak korban, dan menyatakan dirinya bangkrut, menjadi target dari program ini. Oil rigs yang sudah anjlok lebih dari 60% dalam setahun ini, akan menimbulkan gangguan pasokan minyak dunia. Jika permintaan kembali normal, dan disrupsi dari sisi pasokan tidak dapat dipulihkan segera, hal ini dapat menjadi pemicu kenaikan oil price. 

Bagaimana di Indonesia? 

Di Indonesia, angka defisit sudah tidak lagi dibatasi maximum sebesar 3%. Angka terakhir yang diajukan pemerintah saat ini 6.27%. Minggu lalu, pemerintah mengumumkan adanya rencana pembangunan 89 proyek baru dalam tahun 2020-2024, senilai USD 95 Milyar. 

Proyek-proyek ini antara lain pembangunan rel kereta api, jalan tol, 5 bandara, 5 pelabuhan, 5 kawasan industri, 3 smelter, dan banyak lain-nya lagi di sektor infrasruktur dan energi.

Proyek-proyek ini, jika dilakukan dengan baik, tentu dapat membantu mempercepat proses pemulihan perekonomian. Berbagai proyek ini, diperkirakan dapat menciptakan tambahan lapangan kerja sebanyak 4 juta orang setiap tahunnya.

Sejauh ini QE yang sudah dilakukan BI, berdasarkan pengumuman BI angkanya telah mencapai Rp 503.8 rilyun. Tambahan stimulus fiskal, sekitar Rp 600 Trilyun, yang meningkatkan defisit Rp 1,028,5 Trilyun, menjadi response tambahan yang dilakukan pemerintah.

Berdasarkan laporan terakhir, GDP di Kwartal I turun 2.41% di Kwartal I/2020. Angka penurunan ini merupakan angka terburuk sejak tahun 2009, saat krisis di Amerika ketika itu juga berdampak pada perekonomian Indonesia.

Dengan kontraksi sebesar 2.41% ini, maka pertumbuhan GDP tahunan untuk 12 bulan sampai Maret 2020, hanya sekitar 2.97%. Angka ini merupakan angka terendah sejak 2011. Dengan perbaikan yang bisa terjadi di Kwartal III dan IV, Menkeu memperkirakan bahwa untuk tahun 2020, GDP Indonesia akan mengalami kontraksi sebesar 0.4%. Sementara, Menko Ekuin, pada sisi lain, memperkirakan GDP Indonesia masih akan tetap mencatat angka pertumbuhan 2.3% untuk tahun 2020.

Apabila kita mengambil dugaan yang lebih pesimis, yaitu kontraksi sebesar 0.4%, kalau kita terjemahkan dalam angka Rupiah akan setara dengan Rp 63 Trilyun. Kalau kita mengambil kontraksi yang terjadi dalam Kwartal I/2020, angka itu setara dengan Rp 379 Trilyun. 

Dengan melihat angka-angka sejauh ini, response yang telah dan akan dilakukan pemerintah, angkanya lebih besar dari kontraksi yang saat ini sudah terjadi dalam Kwartal I/2020.

Oleh karena disrupsi Covid-19 di Indonesia ini mulai meningkat di bulan terakhir Kwartal I dan di awal Kwartal II/2020, apa yang terjadi pada kontraksi perekonomian dalam Kwartal II/2020 masih harus kita lihat. Begitu pula dengan response pemerintah atas perubahan angka-angka yang terjadi.

Namun sejauh ini, kita sudah melihat bahwa response yang disiapkan lebih besar dari kontraksi yang terjadi. 

Saya hanya ingin menambahkan, bahwa dengan berbagai pembatasan yang memang perlu dilakukan, tidak sama artinya dengan berhentinya kegiatan perekonomian secara total. Capacity Utilization di Kwartal I, angkanya masih 74.09%, jauh di atas angka tahun 2008 saat terjadinya krisis tahun 2008, apalagi tahun 1998. Aliran barang – meskipun jelas menurun – masih berlangsung. Pekerjaan masih dilakukan, meskipun tidak lagi di kantor-kantor, WFH. 

Pada saat roda perekonomian bergerak lagi, meskipun dalam pacuan yang lebih lambat, adanya injeksi likuiditas berupa kombinasi stimulus fiskal dan kebijakan moneter, yang angkanya lebih besar dari kontraksi yang terjadi, menjadi elemen yang tidak boleh kita lupakan.

Salam,

Joeliardi

PERSPEKTIF 15 JUNI 2020

PERSPEKTIF – 14 JUNI 2020

PERSPEKTIF 15 JUNI 2020

Masih menyambung tentang soal membeli atau tidak membeli saham yang harganya sudah naik, minggu lalu saya juga menerima e-mail dari seorang dokter. Subjek e-mail-nya : Timing Entry BBTN.

“….apakah di harga BBTN saat ini masih boleh masuk atau tidak?……. Karena harga saat ini sudah naik 40% lebih (dari harga saat BBTN mulai masuk dalam JSP)….”.

Time memiliki peran sangat krusial dalam keberhasilan portfolio kita. Apabila 2 elemen berikut ini Anda tambahkan dalam strategi investasi Anda, Anda dapat segera merasakan perbedannya.

Pertama, extending your time horison. Kedua, gunakan trailing-stop. 

Pada saat Anda membeli saham, tanamkan keinginan untuk memilki sahamnya dengan time-horison yang memadai. Dengan memiliki niat seperti ini, yaitu memilikinya untuk kurun waktu yang panjang, maka Anda hanya mau membeli saham-saham tertentu saja, dan hanya mau membelinya dengan harga tertentu juga. Anda persyaratan tertentu yang harus dipenuhi saham yang Anda beli itu. Hanya jika persyaratan itu sudah dipenuhi saham tersebut, baru Anda akan membelinya. Hal ini akan menjaga Anda, sehingga bisa terhindar dari kerugian. 

Sekali lagi, time menjadi faktor krusial. Timing? Not so much. Karena sejauh pemahaman saya, tidak ada orang yang bisa mengetahui kapan harga sebuah saham itu berada di bottom-nya, dan kapan di top-nya.

Khusus terkait pertanyaan dari dokter ini, keengganan saya untuk bisa mengiyakan, BUKAN karena harga sahamnya sudah naik 40%. Setiap kita membeli saham di harga tertentu, harga yang dibayarkan ini tidak bisa berdiri sendiri. Pertanyaan dasarnya adalah, VALUE apa yang kita dapatkan dengan membayar PRICE seperti itu. 

Harga saham yang sudah naik 40%, bukan merupakan alasan yang bisa kita pakai untuk tidak mau lagi membeli saham itu. 

Sebelum kita membahas lebih lanjut BBTN, ada baiknya untuk melihat contoh lain, untuk memahami, bahwa kenaikan harga 40% tidak dapat dipakai sebagai alasan yang tepat untuk tidak membeli sebuah saham.

Seperti tampak di gambar, harga saham MSFT sudah naik sekitar 60%, dari USD 63 awal tahun 2017 menjadi $ 104 awal tahun 2019. Apakah harganya yang sudah naik 60% ini, dapat dijadikan alasan untuk tidak boleh membeli sahamnya lagi?. Tentu alasan itu tidak tepat.

Pada saat harga saham MSFT USD 63, laba MSFT (VALUE)-nya “hanya” $ 20 Milyar. Ketika VALUE (laba MSFT) itu naik 95%, mencapai angka  $ 39 Milyar, maka kenaikan harganya yang 40% itu tidak bisa dijadikan alasan untuk tidak membeli saham MSFT. 

Dengan contoh ini jelas, bahwa naiknya harga saham, bukan menjadi alasan yang tepat untuk tidak membeli saham. Harga saham yang kita bayarkan tidak bisa kita perlakukan sebagai hal yang berdiri sendiri.  

Inilah esensi dari Value Investing. Kita meyakini, dan ini sudah terbukti puluhan, bahkan ratusan tahun, PRICE (harga saham) sudah pasti akan mengikuti VALUE (kinerja perusahaan) dalam jangka panjang. 

Oleh karena itu, jika kita memiliki saham perusahaan yang dari tahun ke tahun dapat secara konsisten meningkatkan Value-nya, maka harga sahamnya pasti akan ikut meningkat. Tetapi hal ini memerlukan waktu yang memadai.

Kembali ke soal BBTN. Jadi kenaikan harga BBTN yang sudah naik 40% itu, bukan menjadi alasan untuk “jangan dulu melakukan pembelian”.

Alasan utamanya adalah, 1) Kita belum tahu apa yang terjadi dengan kinerja BBTN (dan BBRI) akibat Covid-19 ini. Seberapa besar damage-nya, yang akan mengubah Value perusahaan. Dalam beberapa catatan sebelumnya, data-data BI sudah menunjukan terjadinya kontraksi dari penyaluran kredit, seperti juga sudah saya singgung baik di IG maupun di catatan ini. Not a surprise, tetapi kita belum tahu magnitude-nya ini seperti apa. Dalam kondisi normal, saya sudah menunjukan CFO dari kedua Bank itu, jelas menunjukan bahwa harganya saat ini undervalue dan sangat menarik. Tetapi saat ini, bukan kondisi normal. Oleh sebab itu ada baiknya, untuk melihat LK Kwartal II/2020. Meskipun tentunya tidak sepenuhnya tergambar, tetapi kita bisa melihat kecenderungan-nya. Berbagai langkah yang diambil oleh BI dan pemerintah, kita sudah jelas melihat adanya extra-ordinary effort karena situasinya yang tidak normal ini. 

2) Memahami bahwa mayoritas pelaku pasar bukan merupakan long-term investors, saya menduga, ada sebagian yang mungkin tergoda untuk take profit, karena sudah mendapat keuntungan 40-50% dalam 1 bulan. Kalau yang mau menjual lebih banyak dari yang mau membeli kan harga mungkin bisa turun lagi. Kita juga tidak tahu, siapa membeli di berapa, dan berapa banyak. Motivasi dan tujuan membelinya juga bisa sangat beragam. Belum lagi kalau tiba-tiba ada berita negative. Katakanlah ada yang membeli di harga 1,100 atau 1,200, dan berniat membeli untuk jangka panjang. Tiba-tiba banyak berita buruk muncul. Saya tidak akan heran, jika niatnya untuk berinvestasi jangka panjang lantas berubah. Yang tadinya niat 3 tahun, melihat di pasar harganya turun karena berbagai berita buruk itu, hanya dalam 3 hari saham itu dijual. Dan di harga yang lebih rendah dari harga belinya.

Siapa tahu, ada yang seperti itu. Saya tidak tahu. 

Kalau saya bisa menganjurkan, sebaiknya alokasikan danya membeli saham yang tadi pagi sudah saya posting di webpage. 

Catatan tambahan, terkait Trailing Stop, yang sudah saya sampaikan juga harganya, agar bisa diikuti secara disiplin. Kalau hit, the next day langsung dijual. No question asked, dan move on.

Salam,

Joeliardi Sunendar

PERSPEKTIF – 14 JUNI 2020

PERSPEKTIF – 14 JUNI 2020

Pada tanggal 8 Juni, BI mengumumkan cadangan devisa per-Mei 2020, sebesar USD 130.5 Milyar. Angka ini meningkat dari angka bulan April (USD 127.9 Milyar). Sebagaimana diketahui, akhir Maret 2020, angka cadangan devisa kita sempat anjlok menjadi USD 120.5 Milyar – yang kemudian mendorong pemerintah menerbitkan global bonds. Covid-19 telah menimbulkan cash outflow, yang mengakibatkan terjadinya penurunan nilai cadangan devisa dari USD 130.4 Milyar (Januari 2020) menjadi USD 120.5 Milyar pada bulan Maret 2020 di atas.

Angka cadangan devisa yang kembali ke angka sebelum Covid-19 itu, menjadi hasil kombinasi dari penerbitan global bonds dan aliran dana yang mulai masuk kembali, baik di pasar uang maupun di pasar modal.

Di pasar uang, hal ini dapat dilihat dengan semakin kecilnya pembelian SBSN/SUN yang dilakukan BI di pasar primer. Partisipasi investor mulai kembali menyerap enerbitan instrumen hutang ini.

Pembelian SBSN di pasar perdana yang dilakukan BI, turun dari angka Rp 11.95 Trilyun (21 April – 8 Mei), menjadi Rp 1.17 Trilyun pada lelang tanggal 8 Mei. Begitu juga dengan SUN, dari nilai Rp 10.84 Trilyun pada lelang 28/29 April – 12 Mei, turun menjadi Rp 2.09 Trilyun pada lelang minggu pertama bulan Juni.

Kecenderungan yang sama, tampak di Pasar Modal. Dari awal Februari sampai minggu ke-II bulan Mei, investor asing melakukan Net-Selling sebesar Rp 20.9 Trilyun. Posisi Net-Selling ini mulai berbalik menjadi Net-Buying di Minggu ke-III bulan Mei (Rp 3.8 Trilyun) dan Rp Minggu-I bulan Juni (Rp 2.3 Trilyun). Meskipun minggu kemarin, asing tampak melakukan Net-Selling Rp 1.8 Trilyun. Kombinasi antara profit-taking – memanfaatkan kenaikan IHSG yang cukup besar – dan volatilitas Wall Street sebagai reaksi atas pernyataan Powell minggu lalu, tampak ikut mempengaruhi suasana hati pelaku pasar di BEI. Harap diingat, bahwa mayoritas investor asing di BEI, bukanlah long-term investors.

Besaran out-flow yang terjadi, yang sejauh ini masih belum diimbangi dengan inflow dalam jumlah yang sama, mengisyaratkan banyaknya investor yang masih sidelines. Mereka yang masih sidelines ini, ketika melihat kenaikan index yang cukup besar, akan terdorong untuk mulai mengalihkan dana yang dimilikinya ke pasar modal. Hal ini merupakan faktor yang dapat meningkatkan volatilitas. Mereka yang merasa telah ketinggalan – karena tidak mengikuti kenaikan itu – bisa menimbulkan reaksi FOMO, Fear Of Missing Out (again). Keinginannya untuk jangan sampai ketinggalan lagi, akan meningkatkan risiko investasinya. Price yang dibayarkannya melebihi Value yang didapatkannya. Seakan tidak tersedia lagi transaksi perdagangan itu esok hari, bulan, minggu atau tahun depan. 

Permasalahan mayoritas investors adalah, minatnya untuk melakukan pembelian saham justru terjadi pada saat pasar menunjukan kenaikan (dimana risiko semakin meningkat). Bukan pada saat pasar itu sedang menawarkan risiko yang lebih rendah, ketika harga saham perusahaan sedang mengalami penurunan.

Peningkatan volatilitas tidak berarti sama dengan adanya penurunan Index. Apa yang terjadi saat ini, baik di major stock-exchanges maupun di BEI, memberikan kita gambaran tentang volatilitas yang terjadi. Kita melihat penurunan besar yang terjadi dalam satu hari, diikuti dengan kenaikan besar di hari berikutnya. Demikian pula sebaliknya.

Mari kita coba lihat, dinamika apa yang ditimbulkan oleh Covid-19 ini, sehingga kita bisa memahami kerangka berpikir jangka panjangnya.

Dalam kondisi systematic risk seperti saat ini, yang terjadi bersamaan di berbagai belahan dunia, apa yang dilakukan oleh Amerika sebagai kekuatan ekonomi terbesar di dunia, sangat berpengaruh atas pasar-pasar lainnya.   

Sementara IHSG meningkat sekitar 25% dari terendahnya, Dow Jones sudah meningkat hampir 40% dari terendahnya.

Ada kesamaan langkah awal yang dilakukan Fed dan BI, di akhir Maret dan awal April 2020. Dua institusi ini mengumumkan, bahwa mereka akan melakukan pembelian Surat Hutang Negara-nya masing-masing di pasar sekunder. Langkah awal ini perlu dilakukan, untuk menjamin likuiditas di pasar. Di saat kecemasan pasar berada pada puncaknya, asset-class yang lazim dianggap safe-haven, seperti Treasury dan SUN, ternyata ikut dijual oleh investors. 10-yrs Treasury yield berada di atas 1%, dan yield SBN-10 tahun lebih dari 8%. Peran aktif yang dilakukan Bank Sentral mampu menurunkan yield ini. (Apabila banyak invetors yang menjual SUN, maka harga SUN jatuh, dan membuat yield naik; begitu juga sebaliknya, jika semakin banyak yang membeli SUN, maka harga SUN akan naik, dan membuat yield-nya menurun). 

Selain itu, BI sama seperti Fed, ikut aktif melakukan pembelian obligasi negara di pasar perdana, yang diterbitkan pemerintahnya untuk bisa membiayai stimulus fiskal dan defisit belanja negara.

Kedua langkah ini, berhasil memperbaiki stabilitas pasar, yang sempat terganggu oleh Covid-19. Melalui sejumlah catatan sebelumnya, saya telah menyampaikan, bahwa Uncertainty yang ditimbulkan Covid-19 ini, sudah bisa dikendalikan oleh kebijakan moneter maupun stimulus  fiskal. Kedua hal ini muncul sebagai The Known Factor.

The Known Factor ini , yang berhasil menyingkirkan rasa cemas pasar, membuat pemulihan pasar juga terjadi dengan cepat. Langkah lanjut (Fed) melakukan pembelian corporate bonds dan ETF, semakin dapat meyakinkan pasar. Pemulihan pasar dan kenaikan harga saham, tentu dapat menjadi modal awal untuk kebangkitan perekonomian. Namun, modal awal seperti ini tentu saja belum memadai.

Pemulihan perekonomian yang bersinambungan, hanya mungkin jika mesin perekonomian dapat berfungsi kembali dengan baik. Covid-19 telah membuat banyak perusahaan berhenti berusaha, dan tidak bisa menghasilkan pendapatan. Perusahaan tidak dapat membayar hutang pinjaman dan bunganya (termasuk obligasi). Bond market berhenti.

Oleh karena itu, langkah Fed melakukan pembelian corporate bonds dan ETF Bonds (di Indonesia hal ini belum dilakukan) menjadi indikasi awal, untuk dapat memastikan bekerjanya kembali fungsi kredit, dan bond market. Upaya Fed ini tampak berhasil. Kita dapat melihat salah-satu contoh ETF, LQD, yang keranjangnya berupa Investment Grade Corporate Bond.

Fed mengumumkan rencana pembelian Corporate Bonds maupun ETF Bonds ini tanggal 23 Maret. Ketika itu, harga LQD di USD 114. Melihat harga LQD saat ini, yang sudah naik di USD 132, merupakan pertanda bahwa bond market sudah mulai berfungsi kembali. Upaya pemulihan kembali yang harus dilakukan masing-masing perusahaan, tentu tidak dapat dilakukan dengan baik tanpa dukungan credit market.

Bagaimana dengan Indonesia, yang sumber pendanaan utamanya dari perbankan dan bukan bond market? Sampai sejauh ini, saya tidak ada mendengar tentang rencana BI untuk ikut aktif melakukan pembelian corporate bonds. Langkah yang dilakukan BI selain aktif membeli SUN di pasar primer dan sekunder, industri perbankan juga menjadi salah-satu yang mendapatkan perhatian BI.

Ada sejumlah langkah yang sudah dilakukan BI terkait perbankan ini.

Pasokan likuiditas, dilakukan melalui berbagai mekanisme. Selain repo SBN yang berada di perbankan (pada tanggal 14 Mei berjumlah Rp 886 Trilyun), Bank juga bisa minta pemerintah untuk dapat menempatkan tambahan dana pemerintah di perbankan. Proyeksi defisit yang lebih dari Rp 1,000 Trilyun, serta kebutuhan penempatan dana pemerintah di perbankan bisa dilakukan melalui penerbitan SUN, dimana BI akan menjadi pembelinya.

Penurunan RR perbankan, dengan dana DPK sekitar Rp 5,900 Trilyun, akan memberikan tambahan peluru sekitar Rp 180 Trilyun di industri perbankan. Bagaimana dengan potensi kredit macet di perbankan? Sejauh mana pemerintah bisa memberikan bantuan?

Dirut BRI, pada pertengahan Mei menyampaikan harapannya, untuk mendapatkan suntikan dana dari pemerintah. Bantuan ini diperlukan untuk membantu likuiditas yang berkurang, akibat restrukturisasi dari akibat Covid-19 ini.

Saya kutip, pernyataannya di IQ Plus :”Mudah-mudahan pemerintah menempatkan dana di Bank-Bank yang melakukan restrukturisasi, termasuk BRI. Karena BRI paling banyak merestrukturisasi UMKM, jadi mudah-mudahan dapat yang paling banyak, meski tidak sepenuhnya”. 

BRI sendiri sampai akhir April sudah melakukan restrukturisasi untuk sekitar 1.4 juta nasabahnya, untuk total nilai pinjaman Rp 101 Trilyun. Apa yang disampaikan oleh BI di atas, merupakan respon atas usulan yang disampaikan industri perbankan.

OJK sendiri dalam pengumumannya telah menyampaikan, bahwa ada sekitar 90 bank yang telah melakukan restrukturisasi untuk sekitar 4.3 Juta nasabahnya, dengan pinjaman senilai Rp 391 Trilyun, per-tanggal 11 Mei 2020.

Selain itu, BI juga sudah memberikan indikasi untuk bisa memberikan renumerasi untuk dana Bank yang termasuk dalam RR. Namun sampai saat ini, saya belum mengetahui berapa besarannya.

Terkait hal ini, saya sekaligus ingin menjawab pertanyaan yang kurang lebih senada yang ditanyakan oleh beberapa JSP subscribers :

“Pak, saya mau beli BBTN di 1,150 atau maximum 1,200. Time frame saya 1-3 tahun ke depan, apakah sudah kemahalan? Saya masih mau kejar beli…”(KL)

“Saya baru join 3 hari lalu, portfolio saya kosong/nol. Bagaimana ya Pak, apakah saya langsung ikutan beli di harga berapapun, atau harus menunggu harga turun, sampai ada pemberitahuan untuk pembelian emiten lain? Berarti saat ini saya do nothing, harus sabar” (GI).

“Saya terlambat beli BBRI, BBCA dan BBTN. Apakah saya bisa masuk sekarang, atau tunggu dulu? Saya investasi untuk 1-2 tahun. Saya mau trading saham di luar negeri, apakah ada broker yang direkomendasi? (RW).

Ada pertanyaan lain, tetapi karena pertanyaannya senada, tidak perlu saya tuliskan lagi disini.

Jawaban saya :

Untuk ketiga saham itu, kalau saya lihat CFO Kwartal I saja, saya dapat langsung mengatakan, bahwa di harga saat ini masih murah. Apabila hal ini terjadi dalam kondisi normal, saya pasti akan tetap memberikan rekomendasi beli.

Saya ambil contoh BRI, misalnya, CFO Kwartal I/2020, mencapai angka Rp 16.5 Trilyun. CFO perbankan, seperti sudah saya sering sampaikan lebih straight-forward dibanding non-perbankan. Di CFO perbankan, angka itu merupakan nilai tunai bersih yang diterima dari hasil bunga, komisi dan penerimaan bank lainnya, setelah dikurangi semua biaya bunga yang dibayarkan kepada deposan, dan biaya operasi perbank-an. Jika ada kredit macet, dan pembayaran bunganya tidak diterima, ya tidak bakal masuk dalam CFO. Jadi angka ini adalah angka murni. Pure. Tidak mungkin bisa dimanipulasi, seperti angka laba, yang ada di Income Statement. Income is an opinion, Cash is a fact.

Dalam kondisi normal, dalam setahun diperkirakan nilai tunai yang bisa diterima BRI ini menjadi sekitar Rp 66 Trilyun. Market Cap saat ini hanya sekitar Rp 370 Trilyun. Anda bisa berhitung sendiri.

Begitu juga dengan BBTN. CFO-nya di Kwartal I/2020, Rp 1.2 Trilyun. Dalam kondisi normal, kita bisa mengharapkan CFO setahun mencapai Rp 4.8 Trilyun. Market Cap saat ini Rp 12 Trilyun, yang lebih kecil dari Equity-nya (Book Value) sebesar Rp 16 Trilyun.

Tetapi sekarang is no ordinary time. Kita telah melihat di atas sejumlah hal yang sedang dan harus dilakukan BI. Oleh karena itu, ada baiknya untuk menunggu terlebih dahulu Laporan Keuangan Kwartal II/2020. Apakah ada perubahan signifikan dalam 3 bulan ini, sehingga kita bisa lebih memahami pengaruhnya terhadap industri perbankan dalam 12-18 bulan mendatang. Apakah harga sahamnya akan naik, atau turun dalam 2-3 bulan mendatang, sampai mereka mengeluarkan Laporan Keuangannya, tentu saja saya tidak tahu. Kalau saya tahu harganya pasti naik dalam 2-3 bulan ini, pasti saya akan suruh beli. Kalau saya tahu harganya akan turun, pasti saya suruh jual dulu, dan nanti kalau sudah turun, saya suruh beli lagi. Masalahnya, saya tidak tahu itu.

Yang saya tahu, saat ini ada permasalahan temporer yang diakibatkan oleh Covid-19, yang memberi dampak cukup luas. Masih perlu waktu untuk melihat seberapa besar dampak yang terjadi. Apabila kita sudah bisa mendapatkan tambahan info itu, at least kita bisa lebih paham, apakah Price yang kita bayarkan itu lebih rendah dari Value yang kita bisa dapatkan.

Terkait saham di BEI ini, saat ini saya juga sedang melihat sejumlah emiten di beberapa sektor yang cukup menarik. Mudah-mudahan saja data-datanya bisa dilengkapi, sehingga saya bisa memberikan at least 1 emiten lagi di BEI.

Ada opsi lain yang bisa dilakukan untuk ketiga nama di BEI yang telah ada di JSP itu, seperti yang sudah dilakukan di emiten terakhir, dengan melakukan pembelian bertahap. Kalau kemarin kita melakukan 50% di batch pertama, dan 50% di batch kedua, untuk 3 saham di BEI ini bisa dilakukan pembelian batch pertama 25%. Setelah itu nanti kita akan melihat perkembangannya. (Ini khususnya untuk yang merasa harus membeli saham, dan doing nothing bukan merupakan satu hal yang menyenangkannya).

Salam,

Joeliardi 

TRYING TO BE CONSISTENTLY NOT STUPID

Jakarta, 12 Juni 2020

Angka IHSG pada minggu terakhir Mei dan minggu pertama bulan Juni, meningkat pesat, naik 8.65%. Kenaikan ini diikuti dengan peningkatan nilai transaksi harian.

Memasuki awal minggu ke-2 Juni, bahkan IHSG sempat kembali di atas angka 5,000.

Penjelasan Powell setelah FOMC (Federal Open Market Committee) meeting hari Rabu, menimbulkan reaksi negatif di pasar. Pernyataan-nya bahwa perekonomian menghadapi “considerable risks”, dan GDP akan terkontraksi 6.5% tahun 2020, mendorong penurunan S&P 500 dan Dow Jones, dan sejumlah major exchanges di Eropa. Bahkan S&P 500 turun 6% semalam. 

Kekhawatiran akan datangnya gelombang kedua Covid-19 merupakan faktor tambahan, yang semakin menekan index, termasuk IHSG. Pada saat systematic risks terjadi di berbagai belahan dunia, yang terjadi di Wall Street akan sangat mempengaruhi pasar-pasar lainnya. 

Pernyataan Powel di atas, tidak hanya menimbulkan reaksi negatif di pasar, tetapi juga di lingkungan team perekonomian Trump, dan tentu juga Trump sendiri. Navarro, penasihat ekonomi White House, ketika diwawancara Yahoo Finance, bahkan sempat menyebut Powell “the worst bedside manner of any Fed Chairman in history”. Bukan itu saja, Navarro juga menyebutkan, kalau Powell menjadi penjual sushi, maka “he would market it as cold dead fish”. Apa yang di-tweet oleh Trump, silahkan lihat sendiri di twitter-nya, karena saya termasuk orang yang tidak ingin menyebar-luaskan apa yang disampaikan DJT ini. 

Apabila kita sejenak keluar dari apa yang terjadi di pasar, saya kira kita akan sepakat, bahwa berbagai hal yang disampaikan Powell bukanlah hal yang baru. Hal itu juga sudah diketahui, pada saat Wall Street rally 47%, dan BEI 25%, dari angka terendahnya, beberapa hari yang lalu.

Jadi apa yang terjadi? 

Tiga hari lalu, pada saat saya mulai menyinggung Trailing Stop, karena semua 14 saham JSP mengalami kenaikan cukup besar, dalam catatan itu saya mengingatkan “Kenaikan seperti ini (1 triple-digit, 10 double-digit dan 3 single-digit) dalam jangka pendek, bukanlah hal yang biasa. Oleh karena itu, mengharapkan terjadinya hal yang sama merupakan harapan yang tidak realistis”.

Untuk dapat memberikan konteks yang saya sampaikan di atas, dapat kita lihat pada apa yang terjadi pada sejumlah emiten di Amerika, yang telah mengambil langkah Chapter-11 (menyatakan dirinya bangkrut). Atau,  kalau kita melihat kondisi keuangannya, mereka saat ini berada di ambang kebangkrutan.

Hari Senin tanggal 8 Juni kemarin, hanya dalam 1 hari saja, Extraction Oil/XOG naik 247.91%. Noble naik 163.43%, Hertz (115.18%), Whitting Petroleum, yang sudah seringkali saya singgung proses kebangkrutan-nya, naik 152.17%, dan banyak lagi yang lainnya. Jika namanya bukan spekulasi, istilah apa yang tetap untuk menyebut fenomena ini?

Memang betul untuk ukuran Wall Street, nilai transaksi perdagangan dari perusahaan yang bangkrut dan akan bangkrut di atas, relatif kecil. Hertz, misalnya, angka perdagangannya tercatat sekitar USD 250 Juta. Angka yang tentunya sangat kecil dibanding, katakanlah Apple, yang nilai transaksinya USD 16 Milyar/hari. Namun, apabila dibandingkan dengan nilai transaksi harian di BEI, transaksi harian Hertz sekitar USD 250 Juta ini sama dengan 50% nilai perdagangan harian di BEI.

FOMO?

Berdasarkan data Investment Company Institute (ICI), saat kecemasan melanda pasar, dana yang diparkir di Market Fund meningkat. Di akhir bulan Maret, angkanya mencapai USD 1.2 Trilyun. Terjadinya market-madness di berbagai pasar saham dunia, US Treasury menjadi pilihan.

Investor memilih Money Market Fund yang hanya menghasilkan yield sekitar 0.35%. 

Ekspansi Neraca Fed, yang hanya dalam hitungan minggu meningkat dari USD 3.8 Trilyun menjadi USD 7.1 Trilyun, menjadi cermin tentang agresifnya Fed melakukan stabilisasi pasar. Pembelian yang dilakukan Fed tidak terbatas pada Treasury di pasar sekunder saja, tetapi juga di pasar primer (yang berasal dari stimulus fiskal), corporate bonds, dan bahkan junk bonds (melalui ETF). Adanya bantalan yang dilakukan Fed ini, menjadi awal pembalikan pasar. Aliran dana yang kembali di pasar, yang diparkir di Money Market Fund, kembali masuk ke pasar modal. 

Elemen FOMO (Fear Of Missing Out), diduga menjadi elemen pemicu new madness. Mengalirnya kembali dana yang masuk ke pasar, yang disertai FOMO ini, menjadikan bursa berbalik dengan cepat. Kenaikan sebesar 47% dalam 2.5 bulan bukanlah fenomena biasa. Di BEI, angka transaksi perdagangan per-hari, seperti sudah disampaikan di catatan saya sebelumnya, juga meningkat 2 kali lipat.

Inilah konsekwensi dari konstruksi pembentukan harga yang memang harus terjadi setiap harinya. Headlines dan attitude pelaku pasar akan sangat menentukan harga yang terbentuk itu, at least di dalam jangka pendek. Dalam jangka panjang? Not so much.

Kalau kita kembali ke kebijakan Fed, tidak ada yang berubah. Bahkan dalam FOMC kemarin itu, 17 board members mengeluarkan proyeksi yang sama, suku bunga mendekati 0 akan berlangsung sampai dengan tahun 2022. Artinya, easy money masih akan berlangsung lama. Oleh karena itu, menurut hemat saya, kembalinya index ke harga terendah tanggal 23 Maret itu, probabilitanya menjadi semakin kecil.

Namun, di sisi lain, koreksi seperti yang terjadi semalam di Wall Street, sebesar 6% untuk S&P dan 7% Dow Jones, menjadi koreksi yang wajar, jika kita melihat madness seperti yang saya tunjukan dalam kenaikan sejumlah perusahaan yang sudah menyatakan (atau memiliki potensi) bangkrut di atas.

Dengan demikian, terjadinya koreksi harus dipandang sebagai peluang untuk membeli tambahan saham baru yang menarik.

Untuk menutup catatan ini, saya ingin menjawab satu pertanyaan dari salah-seorang Subscriber :

“Pak, mengapa saham di BEI yang direkomendasikan hanya terbatas 3 saham saja? Apakah ada rencana untuk menambah lagi saham-saham  di BEI?”.

Seperti saya sampaikan di Catatan JS-Portfolio tanggal 13 Mei 2020, saat dimulainya konstruksi JSP, saya tidak tahu kapan satu saham akan dimasukan, atau dikeluarkan dari JSP. Hal ini akan sangat tergantung, apa yang ditawarkan pasar.

Saya membayangkan, bahwa dalam satu bulan ada 1 atau 2 saham di BEI atau non-BEI yang akan dimasukan kedalam JSP. Dengan demikian, dalam satu tahun, bisa genap mendapatkan sekitar 15-25 perusahaan, dan bisa mulai memilah, mana saham BEI dan non-BEI.

Namun apa yang terjadi di pasar, dengan begitu banyak opportunity, hanya dalam 2 minggu ada sekitar 10 saham yang sudah masuk dalam JSP. Jika opportunity di pasar tidak seperti yang ada saat itu, boleh jadi saat ini di JSP hanya ada 3, atau maximum 4 saham saja, seperti saya rencanakan semula. 

Apa yang akan dilakukan dengan JSP ini akan tetap sama. Saya hanya akan menambah atau mengeluarkan saham, sesuai dengan peluang yang ditawarkan. Meskipun untuk sebagian, saya menganjurkan, agar secara disiplin menggunakan Trailing Stop.

Khusus untuk saham di BEI, saya juga sudah menyampaikan keyakinan saya, bahwa banyak perusahaan-perusahaan di BEI yang akan tumbuh dan besar melalui perjalanan waktu. Namun saya tetap menganjurkan untuk mereka yang dapat melakukan diversifikasi ke saham non-BEI, juga mengalokasikan sebagian dananya di saham-saham non BEI.

GDP Indonesia sudah mengalami peningkatan luar biasa. And yet, jika kita hanya fokus ke saham-saham perusahaan Indonesia saja, berarti kita mengabaikan opportunity yang ditawarkan 99% GDP dunia. GDP Indonesia hanya mewakili 1% GDP dunia saja. Melakukan diversifikasi di dalam satu pasar, tidak memberikan diversifikasi yang optimum.

Kedua, elemen nilai tukar berada di luar kendali kita. Dalam 5 tahun, IHSG sudah naik 40%. Namun di dalam periode yang sama, nilai tukar Rupiah terhadap USD juga anjlok lebih dari 40%. Secara efektif hasil portfolio itu menjadi Nol. Apabila Anda mengirim anak sekolah ke LN, Anda tidak bisa membayar dengan Rupiah. Naik turunnya nilai Rupiah, berada di luar kendali kita, dan Anda tidak bisa minta selisih nilai tukar kepada Menteri Keuangan, atau pemerintah Indonesia, jika kebijakan yang mereka ambil membuat nilai Rupiah turun. Anda bertanggung-jawab untuk memproteksi diri sendiri. 

Terkait pertanyaan mengapa hanya 3 yang di BEI. Meskipun sebagian sudah saya jawab di atas, saya ingin bertanya balik, memangnya harus berapa? What’s wrong dengan hanya 3 saja, jika sementara ini hanya tiga emiten itu saja yang ada dalam JSP.

Anda tahu, berapa CAGR Berkshire Hathaway? 20%, atau “cuma” 1.7% per-bulan. Menghasilkan CAGR 20% bukan hal yang mudah, tetapi jika Anda menghasilkan 1.7% per-bulan, hal ini tidak akan membuat Anda berjingkrak-jingkrak kegirangan. 

On that note, mengapa harus “memaksakan” diri untuk menambah 2 atau 3 saham lagi? Bahkan jika sisa 7 bulan tahun 2020 ini Anda tidak melakukan apa-apa, yield yang Anda dapatkan sudah melebihi 20%. Kalau 1 bulan 20%, kalau disetahunkan sudah 240%. Sudah lebih baik dari apa yang bisa dihasilkan Berkshire Hathaway. Apabila kita tidak yakin, bahwa yang akan kita tambahkan itu tidak dapat membuat yang ada menjadi lebih baik, mengapa harus ditambah?

Memilih untuk tidak melakukan apa-apa, seringkali menjadi opsi lebih baik dibandingkan memaksakan diri melakukan sesuatu. Tentunya hal ini tidak berarti, tidak ada lagi yang akan dimasukan. Perjalanan masih panjang. Pada saat kita berbicara peluang Gold Oil Ratio, tentunya kita tidak berharap bahwa semua itu akan terjadi dalam hitungan hari. Ada perjalanan waktu yang masih harus dijalani. Apakah 12, 18 ataukah 24 bulan, kita akan sama-sama lihat. Tetapi tidak segera. Apabila rencana semula mendapatkan 14 saham tadi membutuhkan waktu 6-8 bulan, dan saat ini sudah kita miliki, bukankah 4-5 bulan ke depan kita dapat lebih tenang mengamati peluang apa yang akan ditawarkan pasar.

Kalau saya bisa meminjam perkataan Charlie Munger, menghindarkan potensi kerugian seringkali menjadikan kinerja portfolio kita bisa lebih baik, daripada terlalu terpukau pada potensi keuntungan. Istilah yang sering saya pakai adalah, mendahulukan pertanyaan ini “Apakah kita sudah memiliki downside protection dari investasi yang kita lakukan?.

Jika downside protection itu sudah kita miliki, the upside will be taken care of. 

Kembali meminjam perkataan Charlie Munger, kita akan melihat apa yang ditawarkan pasar, dalam rangka “trying to be consistently not stupid instead of trying to be intelligent”.

Salam,Joeliardi Sunendar  

GOLD TO OIL RATIO

GOLD TO OIL RATIO.

Munculnya kesempatan yang baik untuk berinvestasi di oil sector.

Di dalam beberapa catatan terakhir, ekspansi Neraca dari Bank Sentral dan stimulus fiskal di berbagai negara, telah merupakan bantalan yang dapat menghindarkan terjadinya dampak lebih buruk akibat Covid-19. 

Semalam, dalam konferensi pers seusai meeting Federal Open Market Committee, Jerome Powell, kembali mengulang mantra “whatever it takes”-nya, saya kutip, “We’re strongly committed to using our tools to do whatever we can for as long as it takes” (huruf tebal dari saya).

Melalui statement-nya, Fed juga menyatakan, bahwa perekonomian  masih menghadapi “considerable risks”. Pernyataan ini memperkuat alasannya, mengapa ekspansi Neraca Fed masih akan terus berlanjut. FOMC secara spesifik juga menyatakan, untuk tetap mempertahankan pembelian Treasuries (USD 80 Milyar) dan MBS (USD 40 Milyar) setiap bulannya.

Pernyataan, bahwa perekonomian menghadapi “considerable risks”, bukanlah pernyataan mengejutkan. Memang apa yang kita harapkan dari timbulnya disrupsi perekonomian yang tiba-tiba ini?. Namun hal ini, cukup untuk membuat pasar terkoreksi. 

Lewat sudut pandang yang lain, S&P 500 yang telah meningkat sekitar 40% hanya dalam waktu 2 bulan dari terendahnya, juga dapat menjadi alasan terjadinya koreksi yang berasal dari mereka yang take-profit. 

Pernyataan Fed, “We’re not even thinking about thinking about rasing rates” tentunya juga bukan merupakan hal yang mengejutkan. Namun pasar menangkap pernyataan Fed ini, sebagai tambahan indikasi dari adanya prospek perekonomian yang buruk. Selain terjadinya koreksi saham, harga Treasury (safe haven) juga kembali meningkat. Bonds- yield untuk 10 Years US Treasury turun 2.9% ke 0.726% semalam.

Namun demikian, pernyataan Fed ini – yang menjadi alasan berbagai kebijakan yang dilakukannya – tentu tidak tanpa konsekwensi. Injeksi masif yang dilakukan Fed, dan Bank Sentral lainnya, dalam pandangan saya, merupakan benih-benih inflasi. Membicarakan potensi inflasi di dalam kondisi perekonomian yang tertekan seperti sekarang ini, saya paham, menjadi agak ganjil. 

Injeksi masif, dengan besaran yang tidak pernah terjadi sebelumnya, merupakan kabar buruk untuk nilai mata uang kertas. Hal ini menjadi bentuk lain dari proses penurunan nilai mata uang. Cost of money, di sejumlah negara, sudah mendekati angka 0, bahkan negatif. Turunnya nilai mata uang kertas, sama artinya dengan kenaikan nilai real assets seperti komoditi, properti dan nilai (saham-saham) perusahaan.

Harga rumah yang 10 tahun lalu bisa dibeli dengan harga Rp 300 Juta, saat ini mungkin harganya sudah Rp 600 Juta, atau lebih. Kenaikan itu, kenaikan harga rumah, sama artinya dengan turunnya nilai mata uang kertas. 

Berinvestasi di sektor komoditi, properti serta di saham perusahaan-perusahaan yang baik, dapat menghindarkan kita dari penurunan nilai mata uang kertas ini.

Migas, sekarang ini merupakan salah-satu komoditi yang menawarkan peluang yang baik. Didalam kondisi normal, oil-companies yang sangat padat modal (CIC), bukan merupakan favorit saya. Namun apabila kita melihat dinamika yang terjadi di sektor migas saat ini, dan yang terjadi di masa lalu bisa menjadi panduan kita, opportunity di sektor ini akan terlalu menarik untuk dilewatkan.

Berlainan dengan bisnis yang dilakukan oleh CEC, sektor komoditi ini harus selalu mengalami periode boom & bust cycle. 

Gold serta oil merupakan komoditi yang juga harus mengalami siklus ini. Berdasarkan statistik dengan populasi data sejak tahun 1861, 80% dari periode selama 160 tahun ini, Gold Oil Ratio berada dalam kisaran 10 X dan 30 X. Dengan demikian, probabilita terjadinya Gold Oil Ratio (GOR) di bawah 10 X atau di atas 30 X, peluangnya hanya 20%. Dalam kasus extreme, katakanlah GOR 100 X atau 1 X, tentu masih mungkin terjadi, namun terjadinya hal itu menjadi sebuah black-swan event. 

GOR Chart

Disrupsi perekonomian akibat Covid-19 menimbulkan penurunan oil demand sekitar 25 juta barrel-per-day (bpd) di bulan April, atau 25% dari worldwide demand sebelum datangnya Covid-19. Membanjirnya oil – sebagai akibat physical delivery dari transaksi future yang tidak bisa dilakukan, karena penuhnya oil storage – membuat harga minyak turun mendekati 0. Bahkan sempat menyentuh angka negatif. Banyak yang terkejut, dan lantas bertanya “Kok bisa, harga minyak negatif?”. Boleh jadi yang bertanya ini belum tahu, bahwa ada komoditas lainnya (uang kertas) yang harganya juga negatif. 

Harga negatif itu adalah konsekwensi dari physical delivery yang tidak mungkin dilakukan. Storage fee yang melambung tinggi, membuat oil price menjadi negatif. Situasi seperti ini tidak berlangsung lama, harga minyak bergerak naik, meskipun masih di bawah USD 20. Dengan gold price naik – karena munculnya kecemasan – di harga USD 1,750, maka Gold Oil Ratio saat itu mencapai angka 88 X. Ratio yang berada di luar kisaran angka normal.  

Pertanyaannya adalah, apakah penurunan demand ini akan berlanjut terus? Apakah oil demand akan tetap berada di level 75-80 juta bpd?. 

Pembukaan kembali kegiatan perekonomian, tentu dapat menjadikan demand yang hilang itu datang kembali. Besaran angka demand yang kembali, serta bisa berlangsung berapa lama, akan sangat bervariasi. Hal ini akan tergantung kepada seberapa cepat “back to normal” atau “to new normal” ini terjadi. Namun, kecenderungannya, sisi demand  yang hilang ini tidak akan berlangsung selamanya.

Dari sisi supply, mungkin gambarannya berbeda. Seperti sudah sering saya sampaikan, industri shale-oil telah merubah peta bisnis oil dunia. Shale-oil telah mampu meningkatkan produksi minyak Amerika dalam 10 tahun terakhir. Berdasarkan data dari EIA, produksi Amerika telah meningkat lebih dari 2 kali lipat dari 5.1 Juta bpd (2008) menjadi 11.8 Juta bpd (2019), atau sekitar 12% dari produksi dunia.

Namun demikian, production cost shale-oil jauh lebih tinggi dibanding conventional oil. Banyak shale-oil company yang akan bangkrut, jika harga minyak di bawah USD 50. Hal ini sudah terjadi tahun 2015-2016, dan sedang berlangsung saat ini.

Berbeda dengan peningkatan sisi demand, yang akan kembali muncul dengan mulai berputarnya kegiatan perekonomian, penurunan supply yang “terpaksa” diturunkan itu tidak serta-merta dapat dipulihkan di dalam waktu segera.

Disrupsi produksi dalam periode yang cukup panjang, berbulan-bulan, pasti menimbulkan damage baik terhadap sumur-sumur minyak yang sudah digunakan, maupun cadangan minyaknya. Hal ini menjadi lebih relevan untuk shale-oil, yang memakai metoda fracking, dan produsen  offshore oil. Untuk menghidupkan kembali produksinya memerlukan waktu panjang.

Kalau kita melihat data oil rigs terakhir, hanya dalam tempo 2-3 bulan ini, sudah turun sekitar 50%. Diperkirakan, dengan panjangnya daftar kebangkrutan perusahaan minyak Amerika, seperti disampaikan G&R, satu perusahaan riset di Amerika, diperkirakan di akhir tahun 2020 ini, oil rigs yang aktif hanya tinggal 25%. Atau turun 75% dari jumlah rigs di awal tahun 2020. Hal ini diperkuat dengan revisi penurunan belanja modal dari perusahaan-perusahaan minyak. Dengan demikian, hal ini akan menjadikan disrupsi dari sisi supply menjadi lebih panjang.

Kembalinya sisi demand, yang tidak bisa diimbangi dengan segera dari sisi supply, merupakan resep ideal untuk terjadinya  kenaikan oil price. OPEC menjadi kelompok yang dapat mempengaruhi pembentukan oil price. Saat ini, karena adanya Covid-19 ini, OPEC+ sudah setuju untuk memotong produksi  sekitar 8 Juta bpd. Apabila terjadi pemulihan sisi demand, OPEC+ menjadi kelompok yang dapat segera mengisi lubang yang hilang dari sisi supply. Apabila demand yang kembali ini ke level sebelum Covid-19 datang, maka masih ada gap 12 juta bpd.

Dengan gold price di level 1,750 dan WTI 38, maka GOR saat ini berada di angka 46 X. Tidak sangat extreme, tetapi berada di luar kisaran ratio yang normal. Jika histori bisa menjadi indikasi, maka berinvestasi pada oil companies saat ini, menjadi pilihan yang lebih menarik.

Pada tahun 2016, Gold Oil Ratio mencapai angka 47 X seperti saat ini, dimana oil price tercatat USD 26/barrel dan gold USD 1,220. Oktober tahun 2018, oil price naik ke USD 75/barrel, terjadi kenaikan sebesar 188% dalam waktu kurang dari 3 tahun. Di dalam periode yang sama, gold price harganya tidak kemana-mana, bahkan sempat turun sedikit di bawah harga USD 1,220.

Membalik-balik rangkaian batu di kelompok perusahaan komoditas, dimana salah satunya oil stocks, merupakan bagian untuk menghindar dari penurunan nilai tukar uang kertas. Satu saham di NYSE yang 2 hari lalu dimasukan menjadi bagian JSP, menjadi saham pertama di sektor ini yang ada dalam JSP.  

Have a great investing,

Joeliardi  

Beberapa catatan dari Administrasi :

  1. Bagi mereka yang ingin menerima e-mail dari JSPortfolio.id, bisa memilih Subscribe di kolom Subscribe Newsletter
  • Untuk Member, meskipun posting yang dikirim lewat e-mail juga sudah diposting di webpage, yang hanya dapat diakses Member, disarankan juga untuk melakukan Subscribe Newsletter. Saat ini sedang diusahkan untuk Member baru bisa secara otomatis juga menerima setiap e-mail yang dikirim.
  • E-mail Newsletter dapat diakses juga oleh non-Member, namun Catatan Portfolio & Status Terakhir Portfolio, hanya bisa diakses oleh Member saja.
  • Untuk mereka yang ingin melakukan Subscription bisa dilakukan di webpage jsportfolio.id, dengan mengikuti instruksi yang telah disiapkan disitu.
  • Kami tidak bisa menjawab pertanyaan yang sifatnya perorangan. Apalagi menyangkut saham tertentu secara spesifik, di luar yang ada di dalam JSP ini.  

TRAILING STOP

TRAILING STOP

Good morning.

So far, so good.

Semua saham dalam JS-Portfolio menunjukan pergerakan positif. Dari 14 saham itu, ada 1 saham diantaranya menghasilkan triple-digit gain, 10 saham double digit gain. Tiga saham yang terakhir masuk di dalam portfolio, menunjukan kenaikan single digit gain.

Seperti sudah saya sampaikan, kenaikan seperti ini bukan merupakan kenaikan yang sering terjadi. Penurunan tajam sebelumnya, menjadi alasan mengapa recovery yang terjadi juga sangat tajam. Oleh karena itu, mengharapkan kenaikan seperti ini menjadi sebuah hal yang rutin, bukan merupakan harapan yang realistis. Namun demikian, landasan untuk menemukan perusahaan yang baik – di harga yang baik – dapat menjadi pedoman yang dapat diterapkan di berbagai kondisi pasar.

Untuk mereka yang menggunakan pedoman trailing-stop, saya hanya ingin mengulang prinsip dasar mekanismenya. Sesuai dengan profile dari masing-masing investor, Anda dapat menentukan sendiri berapa persen angka yang Anda dapat pergunakan di dalam trailing-stop ini, baik pada saat menginisiasi posisi, maupun setelah memiliki posisi. 

Angka yang digunakan untuk mengingatkan kembali mekanisme dari trailing-stop ini, hanya untuk memudahkan contoh saja. Bagi mereka yang tidak mau menggunakan trailing-stop, saya juga bisa mengerti. Namun apabila apa yang terjadi di pasar, masih membuat Anda harus terganggu, saya anjurkan untuk memakai trailing-stop. And move on.

Untuk contoh ini, kita ambil satu saham di BEI, dan satu non-BEI.

  1. Saham di BEI. BTN, dimasukan dalam JSP tanggal 18 Mei dengan harga Rp 750. Kita ambil contoh, bahwa maximum toleransi yang Anda tetapkan untuk satu saham adalah 30%. Dalam penentuan angka ini, sesuai toleransi masing-masing, saya menganjurkan pemakaian trailing stop 25%-35%. Namun demikian, untuk jenis perusahaan komoditas – yang volatile – saya anjurkan memakai persentase lebih tinggi, 40%-50%. Harap diingat, untuk memakai position-sizing juga. Kembali ke contoh BTN, dengan persentase 30% yang dipakai, maka SETELAH kita membeli di harga Rp 750, kalau BTN jatuh di bawah harga Rp 525, kita akan langsung jual. No question asked.
  • Apabila setelah pembelian itu, harga BTN naik, maka otomatis trigger untuk trailing stop itu juga berubah. Pedoman harga 525 itu tidak lagi berlaku. Pedoman trailing-stop memakai CLOSING-PRICE tertinggi yang terjadi selama saham BTN masih berada di dalam JSP. Perhatikan kata CLOSING PRICE ini. Kita mengabaikan naik dan turunnya harga yang terjadi selama perdagangan, yang kita pakai adalah harga penutupan tertinggi. Dalam hal BTN ini, harga penutupan tertinggi sejak tanggal 18 Mei adalah 1,275. Jadi harga Rp 1,175 ini yang sekarang kita pakai sebagai referensi dan bukan Rp 750 lagi. Dalam hal Closing Price sudah lebih tinggi dari harga beli, saya menganjurkan untuk memakai persentase traling stop lebih rendah dari yang kita pakai pada saat memulai pembelian. Dengan demikian, jika terjadi pembalikan harganya, kita masih dapat memperoleh keuntungan. Atau memperkecil angka kerugian. Untuk contoh BTN ini, saya menganjurkan untuk memakai angka 20% sebagai trailing stop, dari saham BTN yang sudah naik dari harga belinya. Dengan demikian, jika BTN turun kembali ke Rp 940, saham BTN itu langsung dijual. No question asked, dan Anda masih dapat menikmati gain 25%. Keuntungan 25% dalam waktu 3 minggu, bukan hal yang pantas dikeluhkan. Namun, jika BTN tidak turun ke harga Rp 940, Anda akan terus memegang saham BTN ini. Apabila closing price BTN di hari-hari berikutnya naik di atas Rp 1,175, maka Anda tentu menggunakan angka trailing stop yang baru. Jika highest closing price yang baru itu Rp 1,500, maka pedoman trailing stop menjadi Rp 1,200, dan demikian seterusnya. Anda hanya perlu waktu sekitar 5 menit di akhir perdagangan, untuk melakukan penyesuaian trailing-stop yang akan dipakai.
  • Dalam kasus non-BEI, kita bisa memakai saham Eurobank yang dimasukan dalam JSP di tanggal  20 Mei pada harga Euro 0,3060. Persentase trailing-stop untuk EUROB yang dipakai ketika mulai dimasukan, sama dengan BTN, 30%. Kalau EUROB turun ke harga Euro 0,2910, saham ini akan langsung dijual. No question asked.
  • Dengan mekanisme yang seperti BTN, kita melihat bahwa sejak saham ini dibeli, harga tertingginya sampai closing semalam di Athens Stock Exchange terjadi harga Euro 0,4316. Oleh karena harga EUROB ini sudah di atas harga belinya, maka persentase traling stop diubah. Tidak lagi 30%, tetapi 20%. Dengan pedoman ini, maka jika EUROB turun ke Euro 0,345, saham ini akan dijual. No question asked. Anda masih mendapatkan keuntungan 13%, dalam waktu 3 minggu. Angka yang masih lebih baik dari non-risk investment yang memberikan yield 1% dalam setahun.

Mekanisme trailing-stop ini, akan menghilangkan komponen emosi di dalam keputusan investasi Anda. Adanya referensi ini, juga membantu Anda untuk dapat lebih disiplin, karena ada pedoman yang dapat Anda pakai.

Trailing-stop akan mencegah terjadinya catastrophic loss – yang untuk sebagian disebabkan oleh pertimbangan emosional. Selain itu, dengan memakai trailing-stop ini Anda akan terus menunggangi the winner, dan mendapatkan keuntungan yang optimum. The winning-stock ini akan selalu berada di dalam portfolio Anda, sampai Anda memperoleh signal, dari pedoman trailing-stop, bahwa sudah waktunya Anda untuk merealisasikan keuntungan Anda.

Salam, 

Joeliardi

Ada tambahan catatan dari pihak Administrasi :

  1. Mohon maaf, jika masih ada permasalahan administrasi. Mereka yang sudah teregistrasi sebagai Subscriber di jsportfolio.id masih ada yang belum menerima e-mail lewat address jsportfolio2@gmail.com. Posting rekomendasi yang dikirim via e-mail kemarin, pada saat yang sama juga sudah bisa diakses di webpage jsportfolio.id oleh paid-subscribers. Untuk sementara, posting rekomendasi hanya akan dilakukan lewat webpage saja. Apabila ada paid-subscribers yang ingin memastikan, untuk bisa menerima e-mail, dapat mengirim kembali alamat e-mailnya ke jsportfolio2@gmail.com
  • Sebaliknya, ada juga mereka yang sebetulnya bukan Subscribers, tetapi menerima e-mail rekomendasi karena data mereka telah masuk pada saat Subscribe, tetapi belum menyelesaikan aspek administrasinya. Kami sudah memperbaiki hal ini, dan tidak akan terulang lagi.  
  • Karena masih banyaknya pertanyaan, berikut ini adalah tahapan untuk menjadi Subscribers di jsportfolio.id : 1) Klik Subscribe di webpage jsportfolio.id, 2) Isi data, dan lakukan pembayaran. 3) Kirim konfirmasi pembayaran ke e-mail jsportfolio2@gmail.com atau WA 0811822622. 4) Setelah konfirmasi pembayaran kami terima, kami akan mengaktifkan Subscriber Account untuk dapat mengakses JS-Portfolio.

Perspective

Year To Date S&P 500 mencapai angka positif untuk pertama-kalinya sejak kedatangan pandemic Covid-19. Coronavirus telah mendorong Fed dan Pemerintah Amerika menggelontorkan stimulus yang setara dengan seperempat GDP Amerika. Apa ini artinya? Ketika S&P 500 berada di level yang sama dengan angka S&P 500 saat ini, besaran stimulus senilai USD 5 Trilyun itu tidak ada dalam perekonomian Amerika. Injeksi dana dan stimulus ini dalam waktu yang relatif panjang, masih akan tetap berada dalam perekonomian Amerika.

Apa yang terjadi setelah krisis tahun 2008 di Amerika? Krisis itu telah membuat Neraca Fed melonjak 400% dalam tempo 5 tahun, karena dengan adanya kebijakan moneter dan stimulus fiskal untuk menjawab krisis pada saat itu. Periode 10 tahun (2009-2019) setelah terjadinya krisis itu menjadi salah satu periode terbaik di pasar modal, S&P 500 meningkat 500%. Tentu saja, dalam perjalanannya, ada tanjakan dan penurunan yang terjadi.

Coronavirus telah menjadikan Neraca Fed melonjak dari USD 4 Trilyun menjadi lebih dari Rp 7 Trilyun. Fed bahkan melakukan hal yang tidak pernah dilakukan sebelumnya, dengan membeli junk bonds dan ETF. Ada satu hal yang belum dilakukan Fed, dan sudah dilakukan BOJ, yaitu membeli saham-saham perusahaan di Bursa. Apa yang disampaikan oleh Powel, “whateever it takes”, menjadi mantra dalam menjawab adanya disrupsi.

QE yang dilakukan Fed serta stimulus fiskal bernilai Trilyunan dollar yang diinjeksikan dalam perekonomian (yang tidak ada sebelum terjadinya pandemic ini), niscaya akan menjadi tambahan peluru, dan merupakan kabar baik untuk pasar.

Bagaimana dengan Indonesia? Kebijakan moneter serta stimulus fiskal bernilai lebih dari Rp 1,000 Trilyun menjadi bantalan yang disiapkan oleh BI dan pemerintah Indonesia. Hal ini telah mulai memperbaiki kadar kecemasan yang ditimbulkan Covid-19. Pandemic ini masih sangat memprihatinkan. Angka-angkanya juga masih belum menunjukan penurunan. Namun dengan Stay at Home atau Work From Home dan berbagai pembatasan yang dilakukan, tidak berarti perekonomian menjadi Zero. Angka capacity utilization di Kwartal I/2020 masih sebesar 74.09%, turun 0.32% dari Kwartal terakhir tahun 2019. Ada kemungkinan angkanya masih akan turun pada Kwartal II/2020, tetapi sulit untuk dapat mengatakan bahwa angkanya menjadi nol. 

Kondisi “less-bad” ini telah menjadikan perbaikan di dalam nilai tukar Rupiah dan IHSG. Aliran dana yang sudah mulai masuk lagi menjadi penyebab terjadinya hal itu. IHSG sudah mulai tembus kembali di atas 5,000. IHSG sudah meningkat 29% dari angka terendahnya yang tercatat 2.5 bulan lalu. Lebih dari itu, di minggu pertama bulan Juni, kita melihat rekor transaksi perdagangan harian dari rata-rata Rp 7 Trilyun sebelumnya, menjadi Rp 11-12 Trilyun. Bahkan kemarin, nilai perdagangan mencapai Rp 13.5 Trilyun. Ada 302 emiten yang mengalami peningkatan harga, dibandingkan dengan 134 emiten yang harganya turun. Advance To Decline Ratio ini memberikan indikasi denyut nadi yang terjadi di pasar saat ini. 

Untuk mereka yang ingin bergabung di JS-Portfolio, prosesnya hanya bisa dilakukan di https://jsportfolio.id

SEKTOR PROPERTI, SIKLUS BARU YANG TERTUNDA

SEKTOR PROPERTI – SIKLUS YANG TERTUNDA

Apa yang ditunjukan bursa saham, pada saat berakhirnya tahun 2019, semakin memberi keyakinan pada saya – saat itu – bahwa tahun 2020 akan menjadi tahun awal recovery di sektor properti.

Sektor properti merupakan bisnis cyclical, dengan siklus 5-6 tahunan. Namun demikian, berbeda dengan bisnis komoditas yang sama-sama cyclical, tanah dan bangunan yang merupakan produk utama property business, melalui perjalanan waktu selalu mengalami apresiasi. Dalam hal komoditi seperti seperti oil, copper, nickel dll, harga komoditas ini bisa berfluktuasi – naik turun dengan tajam – dalam perjalanan siklus yang harus dilaluinya.

Oil price yang naik dari 30-an dollar tahun 2004 ke 140 dollar di bulan Juni 2008, bisa turun kembali ke 30-40 dollar di awal tahun 2009. Saat big boys di Wall Street mulai meramalkan, bahwa oil price akan terus turun sampai 20 dollar (boleh jadi, pada saat harga mulai jatuh karena “ramalan” mereka ini, mereka justru memulai posisi long-nya), harga minyak berbalik mengalami peningkatan, dan mencapai harga $120 di  awal tahun 2011. Harga itu kemudian mulai turun lagi di pertengahan tahun 2014, sampai ke harga 30-an dollar pada akhir tahun 2016. Dan demikian seterusnya, siklus itu berputar, dan harga naik-turun.

Beberapa bulan yang lalu, kita menyaksikan roller-coaster yang sama pada oil price ini, sebagai konsekwensi dari boom-bust sebuah cyclical industry.

Hal seperti ini, tidak terjadi pada property business. Meskipun sama-sama harus melewati siklus, di Indonesia yang infrastruktur-nya belum merata, harga property masih akan tetap naik lewat perjalanan waktu. Sebidang tanah di jalan Thamrin, Kuningan atau Sudirman, meskipun mengalami siklus, nilainya tetap akan naik. Tanah kosong, tidak diapa-apakan juga, melewati waktu pasti naik, beda dengan komoditas.

Apabila ada pembangunan infrastruktur, maka akan muncul kota-kota satelit baru, katakanlah di kawasan area berjarak 30-60 km dari TKS. Adanya pembangunan infrastruktur itu, tidak akan menurunkan harga properti di kawasan TKS, tetapi meningkatkan harga di kawasan satelit baru ke arah harga properti di TKS. Bukan sebaliknya. Bahkan apabila sepetak tanah itu tidak diapa-apakan, 10, 15 atau 20 tahun kemudian harganya pasti naik. That’s the beauty of property. Dia dapat menjadi asset-class yang bisa mengkompensasi penurunan nilai uang kertas. 

Dalam banyak kesempatan, saya sudah menyampaikan, bahwa PBV tidak dapat digunakan untuk mengukur murah dan tidaknya satu CEC. Dalam hal property company, metrik PBV justru menjadi metrik yang sangat relevan untuk dapat menilai murah-tidaknya harga saham dari property company.

Prinsip-prinsip akuntansi mensyaratkan, setiap pembelian asset harus dicatat atas dasar biaya perolehannya. Apabila BSD atau Summarecon membeli tanah tahun 1990 dengan harga Rp 100 ribu/m2, maka harga tanah yang tercantum di Neraca tahun 2020, untuk tanah yang sama itu akan tetap dicantumkan di Rp 100 ribu per-m2. Meskipun harganya sekarang katakanlah sudah Rp 10 atau 20 Juta/m2, tetapi angka yang dicatat di Neraca tetap saja Rp 100,000. 

Dengan demikian, sebagian dari nilai Equity (Book Value) yang dicatat di Neraca, ini mencerminkan harga beli tanah, dan bukan harga pasar. Oleh karena itu, jika kita bisa membeli saham dengan PBV di bawah 1, kita mendapatkan double discount. Pertama, kita membelinya dengan harga lebih rendah dari angka Modal. Kedua, angka yang dicerminkan dalam Modal itu adalah harga beli, yang nilainya tentu di bawah harga pasar yang berlaku.

Saat ini, ada sekitar 43 emiten properti di BEI yang harganya di bawah Book Value, atau PBV lebih kecil dari 1. Ini bisa menjadi daftar awal di Watchlist. 

Meskipun PBV di bawah 1, kalau perusahaan punya hutang, dan bisnis sedang lesu, maka ada kemungkinan perusahaan tidak bisa membayar bunga, atau cicilan pinjaman. Saya mendengar sudah ada perusahaan properti yang terpaksa harus menjual hotel dan mall yang dimilikinya. Hilangnya hotel atau mall ini tentu akan mengurangi recurring income yang perannya justru semakin penting, saat kondisi penjualan properti sedang lesu. Oleh karena itu, selain PBV di bawah 1, tambahkan juga metrik Debt Equity Ratio/DER. Semakin kecil angka DER tentu semakin bagus. Misalnya untuk DER ini maximum angkanya 0.5 X. Saya melihat ada beberapa perusahaan, bahkan praktis tidak memiliki hutang lagi. 

Dengan tambahan metrik ini, maka jumlah emiten di Watchlist tentu semakin sedikit. Watchlist bukanlah daftar pembelian, tetapi tahapan awal untuk melakukan penelitian lebih lanjut. Misalnya, berapa besar land bank yang saat ini dimiliki perusahaan. Berapa tahun land-bank yang ada ini akan habis? Apakah masih ada potensi untuk memperluas land-bank di sekitarnya? Berapa luas, dan berapa besar investasi yang diperlukan? Bagaimana perbandingan recurring income (hotel, mall, golf, convention centre dsb.) dengan penjualan kavling atau rumah?. Selain itu, bisa dilihat juga sejumlah metrik keuangannya seperti Gross Margin, Operating/Net Margin, ROE, Debt/EBITDA dan sebagainya.   

Seperti dikatakan di atas, melihat apa yang terjadi di bursa tahun 2019 kemarin, saya menduga tahun 2020 akan menjadi tahap awal recovery sektor properti. 

Akhir tahun 2019, ada 3 sektor yang leading, yaitu Finance (15.22%), Industri Dasar dan Kimia (14.44%), serta sektor Properti di posisi ke-3 dengan kenaikan 12.54%. IHSG sendiri di tahun itu hanya naik 1.7%. 

Sektor Keuangan (BBCA cs) dan Sektor Industri Dasar dan Kimia (Barito Pacific cs) sudah dari tahun 2018 terlihat memimpin. Bahkan dengan kenaikan 2 tahun berturut-turut, yang dilanjutkan tahun 2019, Barito dan Chandra Asri, akhirnya berhasil masuk TOP-10 pada tahun 2019. Sementara itu, Sektor Properti di tahun 2018 posisinya masih buruk.  

Dengan demikian, tahun 2019 merupakan tahun pertama bagi Sektor  ini, keluar dari masa gelapnya. Statistik Penjualan Rumah dari Laporan BI, seperti tampak di dalam gambar, menunjukan angka pertumbuhan yang sangat impresif – khususnya untuk perumahan besar – di dalam dua Kwartal terakhir tahun 2019. Kedua indikasi ini – di bursa dan di lapangan – meningkatkan keyakinan saya, bahwa tahun 2020 ini akan menjadi tahun awal kebangkitan properti. Sudah waktunya sektor ini memulai siklus pertumbuhan barunya.

Covid-19 ternyata tidak rela melihat apa yang saya perkirakan itu bisa terjadi. Kedatangan Covid-19 memutuskan pergerakan yang positif ini, seperti juga terjadi pada berbagai sektor lainnya.

Uncertainty dari dampak Covid-19 ini, seperti sudah saya sampaikan dalam beberapa catatan, memunculkan bank sentral – via monetary policy-nya – dan pemerintah – via stimulus fiskal-nya – sebagai Aktor penting untuk mengurangi kadar uncertainty itu. Kombinasi monetary policy dan stimulus fiskal ini berhasil menjadi the Known Factor.

Injeksi likuiditas dalam skala yang tidak pernah terjadi sebelumnya ini, dalam pandangan saya, memungkinkan sektor Properti meneruskan pergerakan positifnya, yang sementara terganggu karena Covid-19.

Berbagai kebijakan yang dilakukan – The Known Factor – menawarkan konsekwensi lain, yaitu menurunnya nilai mata uang kertas. Turunnya nilai mata uang kertas sama artinya dengan meningkatnya nilai hard assets : komoditi, properti dan saham di pasar modal. Dan merupakan kabar buruk untuk pecinta uang kertas.

Saya termasuk yang cukup antusias, untuk mulai melihat-lihat kembali sejumlah emiten properti di tahun 2020 ini.

AKUSISI YANG DILAKUKAN ICBP

AKUISISI INDOFOOD CBP

Anda salah, kalau menduga bahwa foto barisan Indomie di atas ini, saya ambil di salah satu toko kelontong di Indonesia.

Indomie yang berderet panjang ini saya lihat di sebuah toko kelontong di Trieste, yang berjarak sekitar 2 jam arah ke Timur dari kota Venezia.

Posisi Trieste ini sangat strategis, bagi mereka yang ingin meneruskan perjalanan dari Itali ke Slovenia, atau Croatia. Jika saya mau ke Zagreb, biasanya saya stop-over di Trieste (atau Venezia). Tidak sampai 2 jam dari Trieste, sudah sampai di Ljubljana, Slovenia. Bisa 2-3 malam dulu menginap di Ljubljana. Slovenia, negara asal Melania Trump, di tahun 2016 mendapat kehormatan sebagai European Green Capital. Bikes is everywhere in Ljubljana. Hanya perlu 2 jam perjalanan dari Ljubljana – by car, not bikes hehehe – sudah sampai di Zagreb, ibu kota Croatia.

INDOMIE.

Tahun 2016, berdasarkan informasi WINA (The World Instant Noodles Association) konsumsi mie-instan mencapai angka 98 Milyar. Dengan selesainya pabrik Indofood CBP di Palembang dalam Kwartal IV/2020 kemarin, ICBP mampu menghasilkan 19 Milyar bungkus mie, atau 20% dari produksi dunia. Dan memang, seperti ditunjukan dalam pajangan Indomie di Trieste itu, Indomie sudah menjadi bagian makanan dunia. Ketika saya berkunjung ke Mostar dan Sarajevo di Bosnia, orang yang mengantar saya dengan antusias bercerita soal Indomie yang sangat mereka sukai, begitu mereka tahu saya berasal dari Indonesia. Tentu saja saya hanya senyum-senyum mendengakan cerita mereka : If you don’t have something nice to say, silent or smiles is your best option.

Global instant-noodle market mencapai angka USD 44.5 Milyar dalam tahun 2019. Di dalam tahun 2020-2025, berdasarkan proyeksi Expert Market Research (EMR), sektor ini diperkirakan akan tumbuh dengan CAGR 5%, dan bisa mencapai angka USD 61.4 Milyar di tahun 2025.

INDOMIE KSA.

Indomie dan Supermie tidak lagi hanya dikenal di Indonesia. Di Saudi Arabia, Indomie diproduksi oleh Pinehill Arabia Food Limited, dimana 59% sahamnya dimiliki oleh Pinehill Company, yang merupakan Target akuisisi Indofood CBP. 

Pinehill Arabia, dikenal juga sebagai Indomieksa (Indomie Kingdom of Saudi Arabia) memiliki 3 pabrik Indomie. Dua di Jeddah dan satu lagi di Dammam. Pabrik yang di Jeddah telah berdiri hampir 30 tahun yang lalu, sementara yang di Dammam baru dibangun tahun 2005. Jamaah haji/umrah Indonesia, yang masih senang makan Supermie dibanding lamb briyani, untuk apa repot-repot membawa Supermie sendiri dari Indonesia? (Saya sendiri lebih memilih lamb briyani).

Riset EMR, dalam publikasinya yang disebutkan di atas, menyebutkan bahwa Indomie merupakan leader dari instant-noodle market di Saudi Arabia, dengan pangsa pasar 95%. Dengan demikian, 5% pangsa pasar harus dibagi oleh pemain lainnya, seperti Nestle SA, Riyadh Food dll.

INDOMIE NIGERIA

Di Nigeria, Indomie diproduksi oleh Dufil Prima Foods, yang 48.99% sahamnya – melalui Platinum Streams Ltd – dimiliki oleh Pinehill juga. Dufil yang menyebut dirinya “…home of Nigeria’s most loved noodle brand, Indomie Instant Noodle”, meskipun baru dibentuk tahun 2001, namun kegiatan operasinya sudah dilakukan sejak tahun 1996 melalui De United Foods Industries Ltd.

Selain Salim Group, Kellog, US-listed company – lewat JV-nya dengan Tolaram Group Singapore (partner Salim Group di Dufil) –  juga berada di dalam Dufil. Saat ini, CEO dari Dufil Group, Adhi Narto, merupakan lulusan dari Institut Teknologi Bandung (ITB). Dia sudah bergabung di Dufil Group sejak tahun 2001. Sebelum menjadi CEO, dia menjadi COO di Group ini. 

Brand Indomie, yang “diberikan” Indofood kepada Dufil menjadi nama yang sangat popular di Nigeria. Nama Indomie berada di ranking #1 di Brand Equity Index Nigeria, di atas brand seperti Coke dan Maggi.

Di Nigeria, Indomie mulai masuk tahun 1988 melalui import, meskipun baru pada tahun 1996 diproduksi  di negeri itu oleh De United Foods. Kanter WorldPanel Report yang dipublikasikan tahun 2017, diantara 16 brands yang bertarung di instant noodle market Nigeria, Indomie berada di posisi paling atas, dengan pangsa pasar sekitar 74%.

Sekitar 1.9 Milyar bungkus Indomie terjual di Nigeria setiap tahun dari 3 pabriknya. Hal ini menjadikan Nigeria menduduki posisi ke-11 dari pasar instant noodle terbesar dunia. 

INDOMIE MESIR, TURKI, KENYA, MAROKO dan SERBIA

Di beberapa negara ini, Indomie hadir melalui Salim Wazaran Gida (di Turki) dan Salim Wazaran Group Ltd (di Mesir, Kenya, Maroko, Serbia). 59% saham dari kedua holding company ini dimiliki oleh Pinehill yang juga termasuk target akusisi Indofood CBP. Karena ke-2 non-operating holdings ini menguasai sekitar 80% berbagai operating company yang memproduksi Indomie, maka Pinehill menjadi ultimate shareholders, dengan kepemilikan sekitar 48% dari produsen-produsen itu.

Di Mesir, Indomie sudah mulai masuk sejak tahun 1990, lewat import dari Indonesia dan Saudi (Pinehill Arabia). Baru sekitar 15 tahun lalu, di tahun 2005, Salim Group menyetujui bekerja sama dengan Wazaran Group, untuk membangun pabrik Indomie di Mesir. Melalui pendirian pabrik ini,  pasar Mesir tidak lagi tergantung kepada Pinehill Arabia. 

Pabrik yang didirikan di Badr City, Kairo ini mulai berproduksi di bulan Oktober 2009.

Di Turki, produksi Indomie dimulai di tahun 2010, tidak lama setelah pabrik Indomie di Mesir. Pabrik pertamanya ini terletak di Cerkezkoy, Tekirday, yang dimiliki Adkoturk, yang mayoritas kepemilikan saham-nya dimiliki Salim Wazaran Gida. 

Saudi Arabia, Mesir dan Turki telah membawa Indomie setidaknya di dalam 10-20 tahun terakhir, sebagai salah-satu halal-food di negara-negara yang penduduknya mayoritas muslim. Anthony Salim, melalui Pinehill Corpora – dan bukan via ICBP/INDF – selama ini telah merintis jalan panjang, Bersama-sama partner lokalnya di negara-negara itu.

TARGET COMPANY.

Target Company (Pinehill Company, yang 51% sahamnya dimiliki oleh Pinehill Corpora-nya Anthony Salim), melalui anak-anak perusahaan-nya (Target Group) sekarang ini memiliki 12 pabrik, dengan kapasitas 10 Milyar bungkus (setengah kapasitas ICBP saat ini).

Nilai penjualan Target Group pada tahun lalu mencapai USD 534 Juta, dengan laba sebelum pajak USD 125 Juta. Dengan keragaman tax-rate dari berbagai negara, kita asumsikan saja tax-rate 20%, sehingga NPAT sekitar USD 100 Juta. Net Income Margin 18.7% tentu saja tidak buruk. ICBP sendiri NIM-nya sedikit di bawah 12%. Selain itu, dengan Equity Target Group sebesar USD 246.3 Juta, ROE Target Group ini mencapai angka 40.6%. ROE sebesar ini akan menjadikan para pemegang saham bersiul-siul.

Nilai akusisi sudah disetujui sebesar (kita bulatkan) USD 3 Milyar. Dari jumlah itu, USD 300 Juta didanai oleh kas internal, sementara sisanya sebesar USD 2.7 Milyar akan didanai dari pinjaman baru. Untuk jumlah kas sebesar USD 300 Juta, ICBP tidak akan kesulitan memakai kas yang ada di perusahaan. Saat ini, ICBP memiiki saldo kas Rp 8.9 Trilyun, dan hutang bank yang akan jatuh tempo pada tahun ini kurang dari Rp 200 Milyar. Selain itu, diperkirakan dalam 3 kwartal sisa tahun ini, akan ada tambahan CFO sekitar Rp 4-5 Trilyun.

MENGAPA HARGA AKUSISINYA USD 3 MILYAR?

Kesepakatan harga ini dilakukan,  dengan disertai adanya guaranteed-profit sebesar USD 128.5 Juta (untuk tahun 2020 dan 2021). Atas dasar ini, nilai akuisisi ini setara dengan PER 23X. Dalam penjelasannya, nilai PER 23 X merupakan PER rata-rata berdasarkan data yang dikutip dari Bloomberg dari perusahaan sejenis di kawasan AMEA (6 perusahaan) dan di Asia (5 perusahaan). ICBP sendiri dengan harga saat ini memiliki valuasi dengan PER sekitar 22-23 X. 

Apakah harga akuisisi ini wajar? Bagaimana pengaruh akusisi terhadap gambar ICBP di masa-masa yang akan datang?

Sebelum menjawab pertanyaan itu, agar diperhatikan terlebih dahulu guaranteed profit sebesar USD 128.5 Juta ini. Ada klausul dalam butir-butir perjanjian itu, yang akan membuat harga yang dibayar tidak lagi USD 3 Milyar. Jika USD 128.5 Juta ini tidak dapat dicapai, maka harga akusisi itu akan dikurangi dengan angka sebesar 23 (yang merupakan nilai PER) dikalikan selisih dari actual profit dengan guaranteed profit. Jadi kalau laba hanya 120 Juta (bukan 128.5 juta), maka harga akusisi itu akan dikurangi sebesar USD 195.5 Juta (23 dikali 8.5 Juta). Ini juga sebabnya, ada sebagian pembayaran yang ditahan dulu sampai bulan April 2022, menunggu berakhirnya masa “guaranteed-profit’ ini.

Buat mereka yang menganggap, bahwa tidak ada masalah bagi Target Group untuk menghasilkan laba USD 128.5 Juta tahun 2020, karena di  tahun 2019 saja sudah menghasilkan laba  sebesar USD 125 Juta, tentu ada baiknya untuk memperhatikan terminologi yang dipakai. Dari apa yang saya baca, ada sejumlah pembahasan memakai cara pandang ini.

Seperti dikatakan di atas, basis PER 23 X ini adalah Profit yang bersih, yang merupakan hak (attributable) untuk Target Company (Pinehill) dan bukan Target Group. 

Pinehill (dan karena itu ICBP) setelah terjadinya akusisi TIDAK memiliki 100% saham Target Group. Di atas sudah disebutkan, bahwa Pinehill hanya memiliki 59% saham di Pinehil Arabia, 48.9% di Dufil Foods, dan masing-masing 59% (dari 80%) di operating company di bawah Salim Wazaran di Mesir cs dan Salim Wazaran di Turki.

Laba sebesar USD 125 Juta di tahun 2019 adalah Laba Sebelum Pajak untuk kepemilikan 100% saham Target Group. Apabila kita memakai terminlogi yang sama seperti  yang dipakai dalam “Guaranteed Profit” (USD 128.5 Juta), yaitu, saya kutip “consolidated net profit AFTER tax ATRRIBUTABLE to parent companies of the Target Group (NPAT)”, dari rumusan ini kita tahu bahwa tidak tepat untuk membandingkan angka “guaranteed profit” USD 128.5 Juta dengan laba yang disebut di dalam Agreement itu sebagai laba tahun 2019 (USD 125 Juta).

Apabila kita mau melakukan apple to apple comparison dengan angka “guaranteed profit” yang USD 128.5 Juta itu, maka seharusnya angka yang kita pakai adalah “laba bersih setelah pajak yang menjadi haknya Pinehill” di tahun 2019. Kalau kita menggunakan rumusan ini, besaran laba untuk tahun 2019 adalah USD 43.2 Juta di tahun 2019, atau hanya sekitar 30% dari angka USD 125 Juta. Tahun 2018 juga angkanya tidak jauh berbeda (USD 41.8 Juta). Inilah angka laba yang menjadi hak-nya Pinehill jika akusisi itu dilakukan tahun 2018 atau tahun 2019. Harga akusisi ini setara dengan (PER) sekitar 69 kali dari EPS yang merupakan hak-nya Pinehill.

Oleh karena itu, hal yang menjadi perhatian menarik saya adalah, apa yang terjadi dalam tahun 2020 ini, sehingga baik pembeli dan penjual (ya saya tahu, ada related party transactions) sehingga kedua-duanya menganggap “guaranteed-profit” USD 128.5 Juta menjadi angka yang “attainable”. Angka ini kan 300% dari laba yang dihasilkan tahun lalu.

Kalau kita melihat analogi laba Target Group tahun lalu (USD 125 Juta), dimana angka ini menghasilkan laba “attributable to” Pinehill Limited (Target Company) sebesar $43.2 Juta, maka proyeksi laba dari Target Group tahun 2020 bisa mencapai USD 361 Juta. Dengan Tax Rate 20%, maka NPAT mencapai USD 289 Juta.

Apabila kita memakai Net Income Margin yang sama (18.7%, sangat impresif) maka di tahun 2020, berarti nilai penjualan Target Group ini akan mencapai USD 1.54 Milyar. Atau, naik 189% dari nilai penjualan Target Group tahun 2019 (USD 534 Juta). Adanya kenaikan penjualan 189% merupakan berita yang luar biasa, apapun jenis perusahaan itu. Itulah sebabnya, sekali lagi, saya sangat tertarik untuk mengikuti apa yang menjadi penyebab dari kenaikan nilai penjualan serta laba yang sangat luar biasa dari Target Group ini. 

Namun demikian, karena saya tidak mempunyai data-data yang lebih rinci, perhitungan-perhitungan ini sangat kasar,  atau ballpark figures. Mereka yang memiliki informasi lebih lengkap, tentu dapat melakukan perhitungan dengan lebih baik.

JADI, BAGUS ATAU JELEK AKUSISI INI BUAT ICBP?

Dalam banyak kesempatan, saya sudah menyampaikan, masih relatif kecilnya Market Cap emiten di BEI, membuat kita masih dapat dengan mudah menunjuk siapa yang memiliki emiten itu. 

Group Djarum, misalnya, masih sanggup untuk bisa “menguasai” BCA, yang Market-Capnya “hanya” USD 44 Milyar. Namun siapa yang dapat “menguasai” JP Morgan, dengan Market Cap sekitar USD 310 Milyar?

Anda tahu siapa yang punya JP Morgan, atau Apple dan Microsoft? 

Berbagai contoh lain, dengan mudah menunjukan begitu longgarnya kepemilikan saham di developed market, dibanding dengan emerging market seperti Indonesia. Oleh karena itu, activist investors di pasar Amerika, yang hanya punya 1-2% saham saja sudah bisa mengganggu manajemen, karena loose-nya kepemilikan saham.  

Hal  berbeda terjadi di BEI. Founding-shareholders masih menguasai mayoritas kepemilikan saham. Manajemen tidak mungkin untuk bisa memiliki pandangan lain, kecuali mengutamakan kepentingan pemilik saham mayoritas. Apa yang ingin mereka lakukan, pasti akan ditindak-lanjuti oleh manajemen. Pemegang saham publik juga tidak memiliki kekuatan apa-apa.

Indofood CBP, 80% sahamnya dimiliki INDF, sehingga hanya 20% saja saham yang berada di tangan publik. Jumlah pemegang saham publik, dengan status perorangan, ICBP ada sekitar 4,600 orang. Jangan bilang banyak (tahun 2019, ada 12.5 Milyar bungkus mie instan dikonsumsi masyarakat Indonesia). Selain cuma 4,600 orang, individual investors ini juga hanya menguasai 0.22% saham ICBP. Bagaimana mau memiliki suara yang berarti?

Oleh karena itu, dalam pandangan saya, akusisi ini tidak ada yang bisa menghalang-halangi, kecuali kalau ICBP gagal mendapatkan pinjaman untuk melakukan akuisisi ini. 

Dengan demikian, akusisi itu harus kita perlakukan sebagai “a given factor”. Kita hanya bisa menghitung-hitung dengan informasi terbatas apa dampak akusisi, dengan nilai yang sudah disepakati, atas prospek dan gambar ICBP di masa datang.

Berbicara tentang prospek, saya kira tidak ada yang tidak sependapat, bahwa pertumbuhan pasar Target Group  ini memang sangat menarik. Namun, Anda tidak bisa bertanya, “mengapa ICBP tidak mulai saja dari awal melakukan penetrasi di pasar Target Group ini?”. 

Nilai akusisi sebesar USD 3 Milyar – yang saat ini menghasilkan angka penjualan USD 534 Juta dan attributable NPAT USD 42 Juta – memang seperti dikatakan manajemen, dilakukan di market yang masih dalam tahap awal pertumbuhannya. 

Tentu akan merupakan pertanyaan menarik, capital deployment yang mana yang dapat lebih meningkatan added-value untuk perusahaan.

Saat ini, ICBP memiliki modal sebesar Rp 26.7 Trilyun (USD 1.8 Milyar). Angka ini sekitar 60% dari harga akuisisi yang sudah disepakati (USD 3 Milyar). Dengan modal yang hanya 60% dari harga akusisi, ICBP dapat menghasilkan nilai penjualan sekitar USD 2.8 Milyar, atau 5 kali lebih besar dari yang diproyeksikan Target Group melalui akusisi ini.

Apabila hanya melihat hal ini saja, maka memilih melakukan capital-deployment sendiri tentu lebih menguntungkan. Namun seperti telah disinggung di atas, sudah ada tapak Anthony Salim di berbagai negara itu, sehingga tidak mungkin manajemen (dimana AS juga Presdir-nya) melakukan penetrasi yang sama, dengan memakai bendera ICBP dan bersaing dengan Target Group di kawasan yang sama. Mengambil-alih dan melakukan akusisi menjadi satu-satunya pilihan, bagi ICBP masuk ke negara itu. Kembali lagi, hal ini sudah menjadi “a given factor”.

GAMBAR ICBP SETELAH AKUISISI

Dalam 5 tahun ini, Sales ICBP tumbuh dengan CAGR 7.4%, namun EPS-nya tumbuh lebih baik dengan CAGR 13.86%. 

Seperti digambarkan di atas, “guaranteed profit” yang dipakai didalam akuisisi ini – dalam pandangan saya, yang tidak mempunyai informasi lebih rinci – merupakan angka yang sangat optimistis. Penjualan naik 3 kali lipat, begitu juga labanya. 

Meskipun sangat sulit dipahami, maka buat kepentingan perhitungan semata-mata, kita bisa mempergunakan informasi itu.

Penjualan perusahaan diperkirakan mencapai Rp 67 Trilyun, dimana kenaikan angkanya berasal dari kombinasi pertumbuhan organik dan konsolidasi angka penjualan Target Group.

  • Adanya tambahan pinjaman baru sebesar Rp 40.5 Trilyun untuk akusisi ini, akan meningkatkan DER perusahaan (yang posisinya negatif, karena saat ini kondisinya Net Cash). DER diproyeksikan berada di kisaran 120-125%.
  • Pinjaman untuk akuisisi sebesar USD 2.7 Milyar, sampai saat ini masih belum diketahui dalam instrumen apa, kreditornya siapa dan pricing-nya seperti apa. Dugaan saya, dengan melihat jenis akuisisinya, mungkin akan dibiayai dengan Bonds. Jika mengacu kepada bonds terakhir yang dikeluarkan Hutama Karya maupun Mandiri, kupon-nya sekitar 3.75%. Dengan demikian, maka akan ada komponen biaya bunga sekitar Rp 1.5 Trilyun di tahun 2020. Adanya tambahan biaya bunga ini, berhadapan dengan kenaikan laba (“guaranteed profit”, Rp 1.9 trilyun). 
  • Kombinasi antara kenaikan penjualan post-akusisi, yang disertai kenaikan laba, baik generik maupun dari hasil akusisi dan adanya biaya bunga, maka laba ICBP tahun 2020, diperkirakan mencapai angka Rp 6.8 Trilyun (EPS Rp 540). Sekali lagi, saya mengingatkan bahwa ini merupakan perhitungan yang sangat kasar, atas dasar ballpark figure, dan sangat optimistis (berdasarkan angka-angka yang ada dalam proposal akuisisi).

Masih tersisa sejumlah pertanyaan, karena akusisi sudah merupakan “given factor”, mengapa akusisi ini menggunakan pinjaman dan bukan penerbitan saham baru? Untuk sementara, hal ini bisa menjadi diskusi internal saja. Kombinasi low-interest rate environment, serta kondisi pasar yang sedang tidak favorable, bisa dipertimbangkan untuk alasan sementara ini. 

Salim Group, sebelum terjadinya krisis tahun 1998, merupakan pelaku bisnis #1 di Indonesia. Adanya akuisisi ini, bisa kembali menempatkan Group ini sebagai pelaku bisnis terkemuka di Indonesia. ICBP di tahun 2010, masih berada di luar Top-10 Market Cap di BEI. Saat ini, bersama sama TPIA dan BRPT (yang juga belum muncul di Top 10 tahun 2010), ketiganya masuk sebagai bagian dari Top-10. Dalam pandangan saya, jika akusisi ini dilakukan melalui right-issue, peningkatan Market Cap ICBP akan lebih cepat dibandingkan dengan memanfaatkan pinjaman dari Bank. 

APA YANG TERJADI DI SEKTOR KEUANGAN DI BEI?

Minggu terakhir sebelum liburan lebaran, ada anomali terjadi di pasar. Di minggu itu, sementara IHSG hanya naik 0.85%, kenaikan di sektor keuangan mencapai 3.48%. Atau 4 kali lebih baik dibandingkan dengan kenaikan angka IHSG. Angka ini menunjukan, bahwa sektor keuangan (bersama-sama sektor Aneka Industri) menjadi leader. Para penggemar pacuan kuda di BEI, tentu sudah mengetahui siapa perusahaan di sektor Aneka Industri yang sedang memimpin di depan saat ini (Hal ini tentu merupakan topik yang lain). 

Hal yang sama masih terjadi kemarin, di hari pertama trading setelah libur. Sektor keuangan mengalami kenaikan lebih tinggi (2.06%) dari angka kenaikan IHSG (1.78%). Padahal di minggu sebelumnya, sektor ini merupakan sektor yang terburuk, dengan penurunan sebesar 7.47%. Jauh lebih buruk dibandingkan angka penurunan IHSG di minggu yang sama (1.95%).

Anomali ini menimbulkan pertanyaan : Apakah ini pertanda bahwa the worst is over di sektor keuangan? Ataukah perkembangan yang terjadi 10 tahun di Sektor ini menjadi terhenti, karena datangnya Covid-19?

Mari kita lihat.

Perhitungan sederhana, berupa ratio antara IHSG dengan Index Sektor Keuangan, menghasilkan angka 4.71X di akhir tahun 2019. Ratio yang sama, saat ini ini tercatat 5.25X. Simple ratio ini, memberikan indikasi tentang kinerja Sektor Keuangan yang lebih buruk dibandingkan IHSG selama tahun 2020 ini. Sementara IHSG (YTD) turun 26.55%, angka penurunan di Sektor Keuangan jauh lebih buruk (33.19%).

Dalam Perspective tanggal 11 Mei 2020, saya juga telah menunjukan, bahwa Market Cap ke-3 bank terbesar di BEI yang masih 23.5% pada akhir tahun 2019, di minggu itu sudah turun 8.5% menjadi 21.5%.

Sebelum kedatangan Covid-19, pertumbuhan luar biasa yang terjadi di sektor keuangan telah menempatkan Sektor ini sebagai leaders di BEI.

Tahun 2010, emiten yang memiliki Market Cap terbesar di BEI, adalah sebuah perusahaan yang ada di Sektor Aneka Industri, yang sudah kita singgung di atas. Market Cap-nya ketika itu Rp 221 Trilyun. Sekarang ini, dengan Market Cap-nya yang sudah turun menjadi Rp 175 Trilyun, posisi emiten ini turun dari #1 menjadi #7.

Jika rasa optimisme sudah tidak tersisa lagi di pasar, datangnya sedikit kabar baik seringkali bisa menjadi katalis, yang dapat mengubah arah. Katalis berupa windfall profit di Kwartal IV/2020, yang akan diperoleh emiten ini boleh jadi merupakan katalis baik. Dari sejak terendahnya di 2 bulan lalu, harga sahamnya sudah meningkat 23%.

Mari kita kembali ke Sektor Keuangan.

Tahun 2010, ketiga bank terbesar BEI, berada di ranking #3 (BBCA), #4 (Mandiri) dan #5 (BBRI). Bobot ketiga bank ini mewakili 12,89% dari nilai Kapitalisasi Pasar IHSG. 

Seperti sudah ditulis di atas, bobot ketiga Bank terbesar di BEI ini, pada akhir tahun 2019 tercatat 23.5%. Perananannya meningkat 2 kali lipat dibandingkan 10 tahun yang lalu. Market Cap ke-3 Bank ini sudah naik dari Rp 417 Trilyun (2010) menjadi Rp 1,706 Trilyun akhir tahun 2019, sebelum datangnya Covid-19. Terjadi kenaikan sebesar 400% ini jauh lebih baik dibandingkan kenaikan angka IHSG (170%) dalam periode yang sama, yaitu dari 3,703 (2010) menjadi 6,299 (2019).

Untuk lebih memberikan perspektif : 10 emiten di BEI dengan Market Cap terbesar, memiliki bobot 46.3%. Sisanya (53.7%) harus dibagi oleh 600-an lebih perusahaan lainnya di BEI. Apa ini artinya? Bagi investor (asing maupun lokal, terlebih asing) yang mau mengalokasikan dana di BEI, mereka pasti memprioritaskan emiten berada di dalam Top 10 ini. Kelompok Top-10 ini, menjadi penentu kemana angka IHSG bergerak (dalam jangka pendek). Berdasarkan observasi awal saya, sekitar 70% gerakan IHSG ditentukan oleh Kelompok Top-10 ini.

Perhatikan angka di atas, 50% dari bobot Top-10 ini, diwakili oleh tiga Bank yang termasuk di dalam Sektor Keuangan. Drastisnya penurunan IHSG, bobot terbesarnya dipengaruhi oleh apa yang terjadi pada Sektor ini. 

Demikian pula sebaliknya, membaiknya IHSG secara signifikan hanya mungkin terjadi, apabila cuaca cerah datang kembali di sektor ini. 

Langkah awal QE yang dilakukan oleh BI, selain melakukan pembelian SBN yang “dibuang” investor asing (Rp 166 Triyun), BI juga membuat kebijakan untuk menurunkan Reserve Requirement (GWM). Relaksasi RR ini menambah peluru likuiditas perbankan, yang harus berhadapan dengan terganggunnya kinerja usaha nasabah-nasabahnya. Di luar itu, BI juga sedang mempertimbangkan semacam “renumerasi” atas GWM yang ditempatkan Bank. Adanya renumerasi ini, bisa sedikit membantu tambahan pendapatan Bank, yang terganggu karena adanya penurunan kemampuan nasabah-nasabahnya karena Covid-19.

Sejauh ini, apabila saya melihat CFO (show me the money) dan bukan laba (yang dipengaruhi oleh peningkatan besaran cadangan NPL) BRI dan BTN, yang saya gunakan sebagai contoh, saya belum melihat ada tekanan yang berarti. Namun demikian, harap diingat bahwa terjadinya hal ini terbatas untuk apa yang dicerminkan dalam LK Kwartal I/2020. Disrupsi Covid-19 ini mengalami eskalasi sejak awal April, dan masih berlangsung sampai saat ini. Apa yang terjadi di dalam Kwartal II/2020 akan dapat memberikan tambahan input.

Namun demikian, terjadinya pergerakan yang berbeda dari Wall Street (Pasar Sudirman) dan Main Street (Pasar Matraman?) sudah seringkali terjadi. Lazimnya, Wall Street seringkali lebih dahulu cemas (silahkan perhatikan angka VIX yang lompat sampai 400% ke 85, atau buat kita di Indonesia, CDS yang naik 400% sampai ke angka 290), meskipun di Main Street skala kecemasannya tidak separah itu. Orang masih jalan-jalan dan berdebat keras : locked-down, atau tidak. Ada vaksin dan obat atau tidak dan seterusnya. 

Ketika kecemasan di Main Street sudah berada di puncaknya, karena mendengar berbagai berita (riil) tentang meningkatnya kematian akibat Covid-19, meledaknya angka pengangguran, macetnya kegiatan usaha, mereka yang di Wall Street rasa cemasnya justru mulai menurun. Bisa kita lihat, misalnya VIX tidak lagi di 85, tetapi sudah turun hampir 70% menjadi 28. Di Indonesia, CDS sudah tidak lagi 290, dan sekarang ini sudah tinggal 170. Dialektika seperti ini sudah sering berlangsung, dan dapat menjadi alasan munculnya kembali interest terhadap sektor ini. Kombinasi kebijakan moneter dan stimulus fiskal yang dilakukan oleh BI dan pemerintah, mungkin sudah dapat membantu mengangkat awan hitam yang menyelimuti sektor ini.

Likuiditas perdagangan juga tampaknya sudah mulai kembali ke IHSG. Dalam 4 bulan pertama tahun 2020, rata-rata perdagangan harian masih di kisaran Rp 6-7 Trilyun, turun dari rata-rata nilai perdagangan dalam tahun 2019 (Rp 9.1 Trilyun). Kemarin, angkanya sudah mulai membaik di Rp 8.6 Trilyun (all board). 

Selama Kwartal I/2020, investor asing masih melakukan penjualan di BEI, dengan angka Neto Penjualan Rp 10 Trilyun. Dalam bulan April, penjualan masih dilakukan investor asing, dengan nilai Neto Penjualan sebesar Rp 8.8 Trilyun. Minggu lalu, investor asing sudah mulai masuk kembali ke BEI, dengan Neto Pembelian sebesar Rp 14 Trilyun. Angka ini jauh lebih tinggi dibanding dengan nilai Neto Penjualan yang masih terjadi di minggu sebelumnya (Rp 4 Trilyun).

Valuation gap yang saat ini terjadi antara emerging markets (termasuk BEI) dan developed market (khususnya Amerika), dapat meningkatkan minat smart-money untuk kembali melirik emerging markets.