PERSPEKTIF 22 JUNI 2020

PERSPEKTIF 22 JUNI 2020

Grafik di bawah, menunjukan kenaikan sejumlah Assets dalam 3 bulan terakhir, sejak Fed dan pemerintah Amerika mengambil kebijakan QE dan stimulus fiskal, untuk menghadapi dampak Covid-19. Langkah ini, kemudian juga dilakukan oleh berbagai bank sentral dan pemerintah di berbagai negara, termasuk Indonesia.

Khusus untuk CDS Indonesia, “kenaikan” dalam grafik itu menunjukan meningkatnya confidence investor kepada Indonesia, yang ditunjukan oleh penurunan angka CDS 3 bulan lalu, di 290, menjadi 124 pada saat ini.

Skala maupun mekanisme kebijakan yang dilakukan Fed, tidak pernah terjadi sebelumnya. Dalam presentasinya di Princeton University pada akhir Maret, Powell bahkan mengatakan “We crossed a lot of red-lines that had not been crossed before”. “……this is that situation in which you do that, and you figure out afterward”. 

Injeksi likuiditas yang sangat masif ini, merupakan benih yang memiliki konsekwensi buruk atas nilai mata uang kertas. Penurunan nilai mata uang kertas ini, merupakan bentuk lain dari terjadinya kenaikan real-assets, seprti komoditi, properti dan kepemilikan saham. Akan terjadi penyesuaian (kenaikan) harga berbagai real-assets.

Proses penyesuaian harga ini sudah mulai berlangsung, dan akan terus berlangsung dalam waktu-waktu mendatang. Rumah yang bisa dibeli dengan uang Rp 1 Milyar 10 tahun yang lalu, dan sekarang rumah yang sama itu hanya dapat dibeli dengan harga Rp 2 Milyar, menjadi contoh tentang penurunan nilai uang kertas. Anda bisa menggunakan contoh real-assets yang lain. Dari mulai kebutuhan produk sehari-hari, sampai barang-barang non-esential. 

Pastikan Anda menempatkan poisisi yang baik untuk menghadapi penurunan nilai uang kertas ini.

Sektor Properti

Covid-19 tidak hanya membuat disrupsi pada sisi demand, tetapi juga terhadap sisi supply. 

Dari sisi demand, berdasarkan hasil survey dengan populasi sebanyak 95 perumahan di kawasan Jabotabek, Indonesia Property Watch/IPW, seperti diberitakan Kompas menunjukan penurunan angka yang tajam dalam Kwartal I/2020.

Kita masih harus melihat, bagaimana perubahan dari sisi demand ini, pada saat kegiatan perokonomian mulai bergulir kembali. Namun jika demand mulai meningkat kembali, tidak serta-merta perbaikan dalam sisi demand ini bisa dipenuhi oleh sisi supply.

Dari data Bank Indonesia, seperti tampak pada gambar, dari pinjaman di sektor properti, kredit konstruksi menjadi sektor dengan penurunan angka yang paling tinggi. Hal ini menjadi indikasi dari penurunan tajam dalam pembangunan perumahan. 

Sektor properti mulai mengalami penurunan dari sejak tahun 2014. Di tahun 2013, seperti dilaporkan AsiaPropertyHq, harga properti masih mencatat kenaikan sebesar 13%. Pada tahun 2017 dan 2018, angka ini sudah turun ke kisaran 3%, dan hanya tercatat sebesar 2.5% di Kwartal II/2019. Siklus normal properti 6 tahunan yang diharapkan akan mulai tampak di tahun 2020 ini, harus tertunda dengan datangnya Covid-19.

Berkaitan dengan sektor properti, rekomendasi untuk membeli saham satu emiten properti di BEI, sudah diposting di jsportfolio.id semalam. Emiten ini menjadi emiten properti BEI ke-2, yang masuk di dalam JSP.

Emiten yang bergerak di niche-market sektor properti ini, memasuki  tahun 2020 ini telah melakukan langkah transformasi yang strategis. Keberhasilannya melakukan transformasi ini, menandai keberhasilan strategi perusahaan di dalam 10 tahun terakhir. 

Going-forward, adanya kombinasi track-record di atas, serta strategic yang sangat kuat saat ini, rencana ekspansi dalam 2-3 tahun ke depan ini, diharapkan bisa meningkatkan nilai perusahan secara signifikan. 

Valuasi saat ini, samasekali tidak memperhitungkan lompatan operasi perusahaan dalam 2-3 tahun mendatang. Emiten yang menjadi leader di sektor ini, dengan pangsa pasar 37% (60% lebih besar dari peringkat kedua), menjadi indikasi kemampuan manajemen saat ini. Bahkan jika pertumbuhan perusahaan tidak diperhitungkan, valuasi-nya sekarang ini hanya setara dengan EV/EBITDA kurang dari 3X, dan PBV di bawah 0.4X.  

Seperti disampaikan dalam catatan itu, agar diperhatikan WARNING-nya untuk tidak mengejar saham ini, dan tetap berpegang pada harga maximum yang dianjurkan. Do not chase this stock!

Salam,

Joeliardi Sunendar 

PERSPEKTIF 19 JUNI 2020

PERSPEKTIF 19 JUNI 2020

Pertemuan Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia tanggal 17-18 Juni kemarin, selain memutuskan penurunan suku bunga BI-RRR (Reverse Repo Rate) sebesar 25 bp menjadi 4.25%, juga memutuskan beberapa ketentuan lainnya.

Covid-19 menimbulkan permasalahan untuk perusahaan-perusahaan, yang menjadi nasabah industri perbankan. QE melalui instrumen SBN, dilakukan untuk dapat memastikan bahwa likuiditas tetap bisa terjaga dengan baik. Penurunan persentase Giro Wajib Minimum, dari angka 5% menjadi 2%, juga menjadi bagian tambahan injeksi likuiditas dalam industri perbankan.

Dalam pertemuan kemarin, BI memberikan tambahan stimulasi untuk perbankan. BI memutuskan untuk memberikan jasa giro sebesar 1.5% kepada Bank yang dapat memenuhi Giro Wajib Minimum. Bunga 1.5% ini diberikan BI untuk jumlah dana sebesar 3% dari Dana Pihak Ketiga. Adanya jasa giro ini, menjadi tambahan pendapatan perbankan.

BI memperkirakan bahwa perekonomian kita masih akan mengalami kontraksi dalam Kwartal II/2020. Sementara untuk keseluruhan tahun 2020, BI memperkirakan akan terjadi kontraksi perekonomian sebesar 0.9%-1.9%. Kalau kita terjemahkan dalam angka, penurunan kue PDB ini berada di kisaran Rp 140 Trilyun – Rp 300 Trilyun. Kombinasi dari kebijakan moneter dan stimulus fiskal sejauh ini, angkanya telah lebih besar dari proyeksi penurunan kue PDB ini. Mengacu kepada proyeksi ini, perbaikan perekonomian diharapkan mulai terlihat dalam Kwartal III/IV. Untuk tahun 2021, BI memperkirakan pertumbuhan PDB sekitar 5%-6%.

Sebagaimana telah disampaikan kemarin, terjadinya kenaikan surplus perdagangan sebesar USD 2.09 Milyar dari Defisit USD 372 Juta (April), lebih disebabkan oleh penurunan tajam (42%) angka Impor. Turunnya impor ini, terutama dalam hal bahan baku produksi dan capital goods, harus terus diperhatikan. Karena dapat mengganggu sisi supply.

Mulai terlihatnya arus dana masuk, sebesar USD 7.5 Milyar di Kwartal II sampai 15 Juni, menunjukan mulai menariknya asset domestik kita. Arus dana masuk ini berhasil meningkatkan kembali cadanga devisa di bulan Mei, yang tercatat sebesar USD 130.5 Milyar. Perkembangan ini, menjadi salah-satu alasan mengapa BI memperkirakan bahwa defisit transaksi berjalan akan berada di kisaran 1.5% dari PDB dalam bulan-bulan mendatang. Angka defisit ini jauh  di bawah perkiraan awal yang berkisar 2.5%-3% dari angka PDB.

Dari sisi perbankan, CAR perbankan Indonesia sebesar 22.03% di bulan April, menunjukan masih tetap terjaganya stabilitas sistem keuangan. NPL (gross) tercatat 2.89% serta 1.13% (neto), masih berada di kisaran angka yang wajar. Namun demikian, dengan angka pertumbuhan sisi kredit (5.7%, April yoy), yang lebih rendah dibandingkan dengan angka pertumbuhan DPK (8.1%) menunjukan fungsi intermediasi yang masih belum optimum.

CDS 5 tahun Indonesia yang tercatat saat ini, 126, jauh di bawah angka tertingginya di 290, pada tanggal 23 Maret 2020, menjadi indikasi dari mulai pulihnya kembali keyakinan investor terhadap Indonesia. Carry-trade yang mulai menarik perhatian pasar lagi, bahkan menempatkan Indonesia di peringkat teratas Carry Titans, seperti laporan Bloomberg kemarin.

Untuk mereka yang masih bertanya tentang private placement BSDE, yang diumumkan kemarin, ada beberapa catatan tambahan :

Peraturan OJK No. 038/POJK.04/2014, memungkinkan emiten untuk melakukan penambahan modalnya tanpa Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu (HMETD), “baik untuk memperbaiki posisi keuangan maupun selain untuk memperbaiki posisi keuangan Perusahaan Terbuka”.

Ada sejumlah persyaratan, yang tentunya harus dipenuhi dahulu, jika “memperbaiki posisi keuangan” merupakan dasar untuk penambahan modal tanpa HMETD. 

BSDE jelas tidak bisa memenuhi persyaratan itu. Namun alasan “selain untuk memperbaiki posisi keuangan” dapat merupakan alasan untuk BSDE mengambil langkah ini. 

Penambahan modal tanpa HMETD, hanya dapat dilakukan maximum 10% dari modal disetor. BSDE mengambil angka maximum ini, dengan menerbitkan saham baru sebanyak 1.92 Milyar, dengan harga Rp 640 per-saham. Dengan harga pelaksanaan ini, maka BSDE mendapatkan tambahan dana sebesar Rp 1.22 Trilyun. Tambahan saham seluruhnya diambil oleh 2 pemegang saham utama, yang saat ini memiliki 51.58% saham, sehingga kepemilikannya meningkat menjadi 55.98%.

Secara fundamental, tidak ada perubahan berarti dari apa yang telah saya sampaikan sebelumnya, pada saat memasukan BSDE dalam JSP.

Adanya peningkatan modal ini, akan menambah Kas BSDE dari Rp 10.4 Trilyun (31 Maret 2020) menjadi Rp 11.6 Trilyun. Modal naik menjadi Rp 33.4 Trilyun, dari sebelumnya sebesar Rp 32.2 Trilyun (31 Maret). 

Penambahan jumlah saham baru sebanyak 1.92 Milyar, meningkatkan jumlah saham BSDE menjadi 21.17 Milyar lembar saham, dari 19.24 Milyar (31 Maret). NBV berubah dari Rp 1,672 menjadi Rp 1,578. Tidak terlalu banyak berubah, dibandingkan dengan entry point JSP di harga Rp 760.

Berapa besar nilai tambah yang dapat dihasilkan dari tambahan modal ini, tentunya akan sangat tergantung kepada capital deployment yang dilakukan manajemen BSDE.

Namun demikian, pelaksanaan penambahan modal tanpa HMETD ini, seperti sudah saya sampaikan sebelumnya, menjadi ganjil karena saat ini tidak ada urgensi yang mengharuskan perusahaan melakukannya.

Pertama, sekarang ini perusahaan memiliki saldo Kas Rp 10.2 Trilyun, dan hutang bank yang akan jatuh tempo tahun ini, jumlahnya hanya Rp 581 Milyar.

Kedua, dalam laporannya kepada OJK, pada tanggal 18 Maret 2020, BSDE telah menyampaikan rencananya untuk melakukan shares buy-back. Dalam keterangan pers-nya, bahkan Direksi BSDE menyebutkan, bahwa shares buy-back ini akan dilakukan dengan menggunakan dana internal senilai Rp 1 Trilyun. Oleh karena itu, terjadinya penambahan modal tanpa HMETD ini menjadi ganjil. Untuk apa membeli sahamnya kembali, lewat program  shares buy-back, jika kemudian menerbitkan saham baru. Apabila kedua pemilik saham utama mau meningkatkan sahamnya, mengapa mereka tidak membelinya di pasar saja. Kalau mereka membelinya di pasar, BSDE tentu tidak harus mengeluarkan dana untuk melakukan shares buy-back.  

Sejauh ini, saya belum mendapatkan informasi berapa banyak saham yang dibeli melalui program shares buy-back ini, dan di harga berapa. Angka-angka di atas, tentunya harus kita sesuaikan dengan pembelian kembali saham yang dilakukan BSDE dari bulan Maret, sampai dengan 18 Juni kemarin.

Apakah terjadinya keganjilan ini akan berpengaruh terhadap harganya di bursa dalam jangka pendek? Bisa saja. I don’t know. 

Apakah kedua pemegang saham utama akan menjual kembali di pasar tambahan 1.92 Milyar saham yang mereka dapatkan di harga Rp 640 ini? Jika ini yang dilakukan, bisa jadi meningkatnya order jual akan bisa menurunkan harganya. Namun, saya meragukan, bahwa keuntungan selisih harga yang terjadi saat ini merupakan motivasi para pemegang saham utama ini.

Sambil tetap berpedoman kepada Traling Stop, mereka yang memiliki time-frame investasi yang memadai, dapat mengabaikan soal private-placement ini. Private-placement tidak mengubah thesis investasi JSP di perusahaan ini. Namun, adanya hal ini menurunkan point corporate governance BSDE, sampai ada penjelasan lebih lanjut, dan yang lebih masuk akal, dari manajemen BSDE.

Salam,

Joeliardi Sunendar

PERSPEKTIF 18 JUNI 2020

PERSPEKTIF 18 JUNI 2020

Dari hasil survey yang diberitakan Bloomberg, penurunan suku-bunga, akan menjadi salah satu keputusan Rapat BI yang dilakukan hari ini.

Perkiraan penurunan suku bunga 25 basis points, menjadi 4.25%, akan merupakan pemotongan suku bunga yang ketiga kalinya tahun 2020. 


Banyak yang menduga, penurunan 25 basis points ini akan dilakukan oleh BI dalam pertemuannya bulan Mei lalu. Namun, pada pertemuan bulan lalu, BI tetap mempertahankan angka suku bunga 4.50%.

Gubernur BI sendiri dalam sejumlah kesempatan, telah menyinggung soal lebarnya spread antara US Bonds dan SUN yields. Ditambah angka inflasi yang relatif rendah, dan membaiknya angka defisit, nilai Rupiah dianggap masih undervalued, sehingga memiliki potensi menguat.

Pandangannya ini, tampak disepakati pasar. Kondisi ini telah kembali mendorong terjadinya carry-trading. Memanfaatkan kondisi tingginya spread yang dihasilkan dari currency yang memiliki potensi penguatan nilai tukar. You got the best of the two world : high interest rate serta nilai tukar yang menguat. Seperti ditunjukan di dalam gambar, dari 9 Carry Titans, Rupiah berada di peringkat teratas.

Mengacu kepada pandangan ini, penurunan 25 basis points pada hari ini, mungkin sudah berada di meja. Pasar sebenarnya cukup surprise, ketika pertemuan BI bulan lalu itu tidak memutuskan penurunan suku bunga.

Namun demikian, dalam pandangan saya, keputusan penurunan suku bunga hari ini, jika dilakukan, lebih didorong oleh proyeksi penurunan GDP di Kwartal II/2020. Hari Selasa lalu, pemerintah memperkirakan, bahwa PDB akan terkontraksi sebesar 3.1% pada Kwartal II/2020 ini. Kontraksi ini lebih buruk dibandingkan Kwartal I/2020, sebesar 2.41% (qoq).

Terjadinya kontraksi pada Kwartal II/2020 ini, tentu akan mengubah angka proyeksi GDP (yoy), yang sebelumnya diperkirakan akan berada di angka 2.97%. Sejauh ini saya belum mendapatkan angkanya.

Meskipun keputusan penurunan suku bunga selalu memiliki dua sisi, namun, pada umumnya penurunan suka bunga selalu disambut baik oleh pasar. Melemahnya perekonomian – yang menjadi trigger untuk terjadinya penurunan suku bunga ini – sering berada di balik layar.

Bulan Mei kemarin, Neraca Perdagangan Indonesia mencatat surplus sebesar USD 2.1 Milyar, naik hampir 1,000% dibanding angka surplus di bulan Mei tahun 2019 (USD 220 Juta). Bulan April 2020, Indonesia masih mencatat angka defisit perdagangan sebesar USD 372 Juta.

Namun peningkatan surplus perdagangan yang terjadi pada bulan Mei ini, menjadi indikator tentang melambatnya mesin perekonomian ini. Terjadinya surplus, diakibatkan oleh menurunnya impor, sekitar 42%. Penurunan masuknya bahan baku, dan capital goods (komponen dari angka impor), tetap harus menjadi bahan perhatian kita. 

Apabila sisi demand yang akan kembali meningkat melalui re-opening, dan ada time-lag dari sisi supply untuk memenuhi kebutuhan bahan baku dan capital-goods, kesenjangan ini tentu akan dapat mendorong kenaikan harga. Apalagi menjelang serta saat Idul Adha, angka inflasi selalu bergerak naik. Apakah BI akan lebih memilih buat mencegah hal itu, atau baru akan melakukan tindakan setelah indikasinya terlihat. 

Apa yang diputuskan BI hari ini bisa memberi kita indikasi mana pilihan yang akan diambil. Selain itu, kembali kita akan melihat berapa besar response (kebijakan moneter dan stimulus fiskal) yang disiapkan, guna menjawab damage yang terjadi ini.

Salam,

Joeliardi

PERSPEKTIF 16 JUNI 2020

PERSPEKTIF 16 JUNI 2020

FED VS CORONA

Apa yang terjadi di Wall Street kemarin, kembali menunjukan semakin besarnya peranan Fed di pasar – Fed, telah menjadi big player di pasar.

Rencana Fed, bahwa akan mulai melakukan pembelian bond langsung (individual corporate bonds) – melalui Secondary Market Corporate Credit Facilty – membuat S&P 500 berbalik, dari kondisi negatif 2.5% di awal perdagangan menjadi positif 0.83% di akhir perdagangan kemarin di New York.

Sebelum Wall Street dibuka, Index S&P 500 maupun Dow Jones Future menunjukan angka negatif sepanjang perdagangan di Asia dan Eropa. Hal ini telah membuat pasar di Asia dan Eropa mengalami penurunan dalam perdagangan kemarin. Pembalikan yang terjadi di Wall Street semalam, diperkirakan akan mendorong kenaikan pasar di Asia serta Eropa hari ini.

Pembelian corporate bonds oleh Fed selama ini, dilakukan melalui ETF yang keranjangnya berisi corporate bonds. Di catatan Persepktif yang ditulis sebelumnya, apa yang dilakukan Fed ini telah mendorong LQD (ETF Investment Grade Bonds) mengalami kenaikan.

Injeksi likuiditas yang dilakukan Fed dari bulan Maret, mencerminkan   kekuatan yang ditunjukan Fed. Tanpa adanya injeksi itu, yang berhasil menciptakan stabilitas di pasar, tidak mungkin S&P 500 bisa naik 45% dari angka terendahnya.

Apa yang dilakukan Fed saat ini, menjadi indikasi keinginan Fed untuk memastikan tersedianya akses pendanaan untuk perusahaan. Bahkan Fed juga menghimbau pemerintah untuk dapat meningkatkan belanja negara, untuk mempercepat pemulihan ekonomi. 

Berbagai indikator perekonomian menunjukan kondisi perekonomian yang buruk di berbagai sektor. President dari Federal Reserve Bank of San Francisco, Mary. C Daly, seperti dikutip New York Times, mengacu kepada masa pemulihan yang sangat panjang ketika terjadinya Great Depression dan Great Recession. Dibutuhkan waktu bertahun-tahun, bahkan dekade sampai terjadinya pemulihan ketika itu. Oleh karenanya, dia menambahkan, “A decade is too long. We can’t wait 10 years for an economic recovery to reach everyone”.

Dengan attitude seperti ini, kesigaan Fed ini tidak terbatas hanya pada apa yang disampaikannya minggu lalu. Seusai FOMC, Fed menyatakan komitmen, untuk tetap mempertahankan jumlah pembelian Treasury dan MBS sebesar USD 120 Milyar/bulan. Selain itu, 15 dari 17 Board members mengisyaratkan kondisi suku bunga mendekati angka 0 bisa berlangsung sampai tahun 2022. Dimulainya program Fed melakukan pembelian bonds perusahaan secara individu, menguatkan kehadiran Fed sebagai pelaku pasar yang aktif. Dengan langkah ini, Fed ingin memastikan bahwa perekonomian dapat berfungsi kembali secepat mungkin. Perbaikan likuiditas di pasar uang dan pasar modal tidak sama dengan sudah berfungsinya kembali mesin perekonomian.

Akan menarik, untuk melihat apakah industri perminyakan yang sudah memakan banyak korban, dan menyatakan dirinya bangkrut, menjadi target dari program ini. Oil rigs yang sudah anjlok lebih dari 60% dalam setahun ini, akan menimbulkan gangguan pasokan minyak dunia. Jika permintaan kembali normal, dan disrupsi dari sisi pasokan tidak dapat dipulihkan segera, hal ini dapat menjadi pemicu kenaikan oil price. 

Bagaimana di Indonesia? 

Di Indonesia, angka defisit sudah tidak lagi dibatasi maximum sebesar 3%. Angka terakhir yang diajukan pemerintah saat ini 6.27%. Minggu lalu, pemerintah mengumumkan adanya rencana pembangunan 89 proyek baru dalam tahun 2020-2024, senilai USD 95 Milyar. 

Proyek-proyek ini antara lain pembangunan rel kereta api, jalan tol, 5 bandara, 5 pelabuhan, 5 kawasan industri, 3 smelter, dan banyak lain-nya lagi di sektor infrasruktur dan energi.

Proyek-proyek ini, jika dilakukan dengan baik, tentu dapat membantu mempercepat proses pemulihan perekonomian. Berbagai proyek ini, diperkirakan dapat menciptakan tambahan lapangan kerja sebanyak 4 juta orang setiap tahunnya.

Sejauh ini QE yang sudah dilakukan BI, berdasarkan pengumuman BI angkanya telah mencapai Rp 503.8 rilyun. Tambahan stimulus fiskal, sekitar Rp 600 Trilyun, yang meningkatkan defisit Rp 1,028,5 Trilyun, menjadi response tambahan yang dilakukan pemerintah.

Berdasarkan laporan terakhir, GDP di Kwartal I turun 2.41% di Kwartal I/2020. Angka penurunan ini merupakan angka terburuk sejak tahun 2009, saat krisis di Amerika ketika itu juga berdampak pada perekonomian Indonesia.

Dengan kontraksi sebesar 2.41% ini, maka pertumbuhan GDP tahunan untuk 12 bulan sampai Maret 2020, hanya sekitar 2.97%. Angka ini merupakan angka terendah sejak 2011. Dengan perbaikan yang bisa terjadi di Kwartal III dan IV, Menkeu memperkirakan bahwa untuk tahun 2020, GDP Indonesia akan mengalami kontraksi sebesar 0.4%. Sementara, Menko Ekuin, pada sisi lain, memperkirakan GDP Indonesia masih akan tetap mencatat angka pertumbuhan 2.3% untuk tahun 2020.

Apabila kita mengambil dugaan yang lebih pesimis, yaitu kontraksi sebesar 0.4%, kalau kita terjemahkan dalam angka Rupiah akan setara dengan Rp 63 Trilyun. Kalau kita mengambil kontraksi yang terjadi dalam Kwartal I/2020, angka itu setara dengan Rp 379 Trilyun. 

Dengan melihat angka-angka sejauh ini, response yang telah dan akan dilakukan pemerintah, angkanya lebih besar dari kontraksi yang saat ini sudah terjadi dalam Kwartal I/2020.

Oleh karena disrupsi Covid-19 di Indonesia ini mulai meningkat di bulan terakhir Kwartal I dan di awal Kwartal II/2020, apa yang terjadi pada kontraksi perekonomian dalam Kwartal II/2020 masih harus kita lihat. Begitu pula dengan response pemerintah atas perubahan angka-angka yang terjadi.

Namun sejauh ini, kita sudah melihat bahwa response yang disiapkan lebih besar dari kontraksi yang terjadi. 

Saya hanya ingin menambahkan, bahwa dengan berbagai pembatasan yang memang perlu dilakukan, tidak sama artinya dengan berhentinya kegiatan perekonomian secara total. Capacity Utilization di Kwartal I, angkanya masih 74.09%, jauh di atas angka tahun 2008 saat terjadinya krisis tahun 2008, apalagi tahun 1998. Aliran barang – meskipun jelas menurun – masih berlangsung. Pekerjaan masih dilakukan, meskipun tidak lagi di kantor-kantor, WFH. 

Pada saat roda perekonomian bergerak lagi, meskipun dalam pacuan yang lebih lambat, adanya injeksi likuiditas berupa kombinasi stimulus fiskal dan kebijakan moneter, yang angkanya lebih besar dari kontraksi yang terjadi, menjadi elemen yang tidak boleh kita lupakan.

Salam,

Joeliardi

PERSPEKTIF 15 JUNI 2020

PERSPEKTIF – 14 JUNI 2020

PERSPEKTIF 15 JUNI 2020

Masih menyambung tentang soal membeli atau tidak membeli saham yang harganya sudah naik, minggu lalu saya juga menerima e-mail dari seorang dokter. Subjek e-mail-nya : Timing Entry BBTN.

“….apakah di harga BBTN saat ini masih boleh masuk atau tidak?……. Karena harga saat ini sudah naik 40% lebih (dari harga saat BBTN mulai masuk dalam JSP)….”.

Time memiliki peran sangat krusial dalam keberhasilan portfolio kita. Apabila 2 elemen berikut ini Anda tambahkan dalam strategi investasi Anda, Anda dapat segera merasakan perbedannya.

Pertama, extending your time horison. Kedua, gunakan trailing-stop. 

Pada saat Anda membeli saham, tanamkan keinginan untuk memilki sahamnya dengan time-horison yang memadai. Dengan memiliki niat seperti ini, yaitu memilikinya untuk kurun waktu yang panjang, maka Anda hanya mau membeli saham-saham tertentu saja, dan hanya mau membelinya dengan harga tertentu juga. Anda persyaratan tertentu yang harus dipenuhi saham yang Anda beli itu. Hanya jika persyaratan itu sudah dipenuhi saham tersebut, baru Anda akan membelinya. Hal ini akan menjaga Anda, sehingga bisa terhindar dari kerugian. 

Sekali lagi, time menjadi faktor krusial. Timing? Not so much. Karena sejauh pemahaman saya, tidak ada orang yang bisa mengetahui kapan harga sebuah saham itu berada di bottom-nya, dan kapan di top-nya.

Khusus terkait pertanyaan dari dokter ini, keengganan saya untuk bisa mengiyakan, BUKAN karena harga sahamnya sudah naik 40%. Setiap kita membeli saham di harga tertentu, harga yang dibayarkan ini tidak bisa berdiri sendiri. Pertanyaan dasarnya adalah, VALUE apa yang kita dapatkan dengan membayar PRICE seperti itu. 

Harga saham yang sudah naik 40%, bukan merupakan alasan yang bisa kita pakai untuk tidak mau lagi membeli saham itu. 

Sebelum kita membahas lebih lanjut BBTN, ada baiknya untuk melihat contoh lain, untuk memahami, bahwa kenaikan harga 40% tidak dapat dipakai sebagai alasan yang tepat untuk tidak membeli sebuah saham.

Seperti tampak di gambar, harga saham MSFT sudah naik sekitar 60%, dari USD 63 awal tahun 2017 menjadi $ 104 awal tahun 2019. Apakah harganya yang sudah naik 60% ini, dapat dijadikan alasan untuk tidak boleh membeli sahamnya lagi?. Tentu alasan itu tidak tepat.

Pada saat harga saham MSFT USD 63, laba MSFT (VALUE)-nya “hanya” $ 20 Milyar. Ketika VALUE (laba MSFT) itu naik 95%, mencapai angka  $ 39 Milyar, maka kenaikan harganya yang 40% itu tidak bisa dijadikan alasan untuk tidak membeli saham MSFT. 

Dengan contoh ini jelas, bahwa naiknya harga saham, bukan menjadi alasan yang tepat untuk tidak membeli saham. Harga saham yang kita bayarkan tidak bisa kita perlakukan sebagai hal yang berdiri sendiri.  

Inilah esensi dari Value Investing. Kita meyakini, dan ini sudah terbukti puluhan, bahkan ratusan tahun, PRICE (harga saham) sudah pasti akan mengikuti VALUE (kinerja perusahaan) dalam jangka panjang. 

Oleh karena itu, jika kita memiliki saham perusahaan yang dari tahun ke tahun dapat secara konsisten meningkatkan Value-nya, maka harga sahamnya pasti akan ikut meningkat. Tetapi hal ini memerlukan waktu yang memadai.

Kembali ke soal BBTN. Jadi kenaikan harga BBTN yang sudah naik 40% itu, bukan menjadi alasan untuk “jangan dulu melakukan pembelian”.

Alasan utamanya adalah, 1) Kita belum tahu apa yang terjadi dengan kinerja BBTN (dan BBRI) akibat Covid-19 ini. Seberapa besar damage-nya, yang akan mengubah Value perusahaan. Dalam beberapa catatan sebelumnya, data-data BI sudah menunjukan terjadinya kontraksi dari penyaluran kredit, seperti juga sudah saya singgung baik di IG maupun di catatan ini. Not a surprise, tetapi kita belum tahu magnitude-nya ini seperti apa. Dalam kondisi normal, saya sudah menunjukan CFO dari kedua Bank itu, jelas menunjukan bahwa harganya saat ini undervalue dan sangat menarik. Tetapi saat ini, bukan kondisi normal. Oleh sebab itu ada baiknya, untuk melihat LK Kwartal II/2020. Meskipun tentunya tidak sepenuhnya tergambar, tetapi kita bisa melihat kecenderungan-nya. Berbagai langkah yang diambil oleh BI dan pemerintah, kita sudah jelas melihat adanya extra-ordinary effort karena situasinya yang tidak normal ini. 

2) Memahami bahwa mayoritas pelaku pasar bukan merupakan long-term investors, saya menduga, ada sebagian yang mungkin tergoda untuk take profit, karena sudah mendapat keuntungan 40-50% dalam 1 bulan. Kalau yang mau menjual lebih banyak dari yang mau membeli kan harga mungkin bisa turun lagi. Kita juga tidak tahu, siapa membeli di berapa, dan berapa banyak. Motivasi dan tujuan membelinya juga bisa sangat beragam. Belum lagi kalau tiba-tiba ada berita negative. Katakanlah ada yang membeli di harga 1,100 atau 1,200, dan berniat membeli untuk jangka panjang. Tiba-tiba banyak berita buruk muncul. Saya tidak akan heran, jika niatnya untuk berinvestasi jangka panjang lantas berubah. Yang tadinya niat 3 tahun, melihat di pasar harganya turun karena berbagai berita buruk itu, hanya dalam 3 hari saham itu dijual. Dan di harga yang lebih rendah dari harga belinya.

Siapa tahu, ada yang seperti itu. Saya tidak tahu. 

Kalau saya bisa menganjurkan, sebaiknya alokasikan danya membeli saham yang tadi pagi sudah saya posting di webpage. 

Catatan tambahan, terkait Trailing Stop, yang sudah saya sampaikan juga harganya, agar bisa diikuti secara disiplin. Kalau hit, the next day langsung dijual. No question asked, dan move on.

Salam,

Joeliardi Sunendar

PERSPEKTIF – 14 JUNI 2020

PERSPEKTIF – 14 JUNI 2020

Pada tanggal 8 Juni, BI mengumumkan cadangan devisa per-Mei 2020, sebesar USD 130.5 Milyar. Angka ini meningkat dari angka bulan April (USD 127.9 Milyar). Sebagaimana diketahui, akhir Maret 2020, angka cadangan devisa kita sempat anjlok menjadi USD 120.5 Milyar – yang kemudian mendorong pemerintah menerbitkan global bonds. Covid-19 telah menimbulkan cash outflow, yang mengakibatkan terjadinya penurunan nilai cadangan devisa dari USD 130.4 Milyar (Januari 2020) menjadi USD 120.5 Milyar pada bulan Maret 2020 di atas.

Angka cadangan devisa yang kembali ke angka sebelum Covid-19 itu, menjadi hasil kombinasi dari penerbitan global bonds dan aliran dana yang mulai masuk kembali, baik di pasar uang maupun di pasar modal.

Di pasar uang, hal ini dapat dilihat dengan semakin kecilnya pembelian SBSN/SUN yang dilakukan BI di pasar primer. Partisipasi investor mulai kembali menyerap enerbitan instrumen hutang ini.

Pembelian SBSN di pasar perdana yang dilakukan BI, turun dari angka Rp 11.95 Trilyun (21 April – 8 Mei), menjadi Rp 1.17 Trilyun pada lelang tanggal 8 Mei. Begitu juga dengan SUN, dari nilai Rp 10.84 Trilyun pada lelang 28/29 April – 12 Mei, turun menjadi Rp 2.09 Trilyun pada lelang minggu pertama bulan Juni.

Kecenderungan yang sama, tampak di Pasar Modal. Dari awal Februari sampai minggu ke-II bulan Mei, investor asing melakukan Net-Selling sebesar Rp 20.9 Trilyun. Posisi Net-Selling ini mulai berbalik menjadi Net-Buying di Minggu ke-III bulan Mei (Rp 3.8 Trilyun) dan Rp Minggu-I bulan Juni (Rp 2.3 Trilyun). Meskipun minggu kemarin, asing tampak melakukan Net-Selling Rp 1.8 Trilyun. Kombinasi antara profit-taking – memanfaatkan kenaikan IHSG yang cukup besar – dan volatilitas Wall Street sebagai reaksi atas pernyataan Powell minggu lalu, tampak ikut mempengaruhi suasana hati pelaku pasar di BEI. Harap diingat, bahwa mayoritas investor asing di BEI, bukanlah long-term investors.

Besaran out-flow yang terjadi, yang sejauh ini masih belum diimbangi dengan inflow dalam jumlah yang sama, mengisyaratkan banyaknya investor yang masih sidelines. Mereka yang masih sidelines ini, ketika melihat kenaikan index yang cukup besar, akan terdorong untuk mulai mengalihkan dana yang dimilikinya ke pasar modal. Hal ini merupakan faktor yang dapat meningkatkan volatilitas. Mereka yang merasa telah ketinggalan – karena tidak mengikuti kenaikan itu – bisa menimbulkan reaksi FOMO, Fear Of Missing Out (again). Keinginannya untuk jangan sampai ketinggalan lagi, akan meningkatkan risiko investasinya. Price yang dibayarkannya melebihi Value yang didapatkannya. Seakan tidak tersedia lagi transaksi perdagangan itu esok hari, bulan, minggu atau tahun depan. 

Permasalahan mayoritas investors adalah, minatnya untuk melakukan pembelian saham justru terjadi pada saat pasar menunjukan kenaikan (dimana risiko semakin meningkat). Bukan pada saat pasar itu sedang menawarkan risiko yang lebih rendah, ketika harga saham perusahaan sedang mengalami penurunan.

Peningkatan volatilitas tidak berarti sama dengan adanya penurunan Index. Apa yang terjadi saat ini, baik di major stock-exchanges maupun di BEI, memberikan kita gambaran tentang volatilitas yang terjadi. Kita melihat penurunan besar yang terjadi dalam satu hari, diikuti dengan kenaikan besar di hari berikutnya. Demikian pula sebaliknya.

Mari kita coba lihat, dinamika apa yang ditimbulkan oleh Covid-19 ini, sehingga kita bisa memahami kerangka berpikir jangka panjangnya.

Dalam kondisi systematic risk seperti saat ini, yang terjadi bersamaan di berbagai belahan dunia, apa yang dilakukan oleh Amerika sebagai kekuatan ekonomi terbesar di dunia, sangat berpengaruh atas pasar-pasar lainnya.   

Sementara IHSG meningkat sekitar 25% dari terendahnya, Dow Jones sudah meningkat hampir 40% dari terendahnya.

Ada kesamaan langkah awal yang dilakukan Fed dan BI, di akhir Maret dan awal April 2020. Dua institusi ini mengumumkan, bahwa mereka akan melakukan pembelian Surat Hutang Negara-nya masing-masing di pasar sekunder. Langkah awal ini perlu dilakukan, untuk menjamin likuiditas di pasar. Di saat kecemasan pasar berada pada puncaknya, asset-class yang lazim dianggap safe-haven, seperti Treasury dan SUN, ternyata ikut dijual oleh investors. 10-yrs Treasury yield berada di atas 1%, dan yield SBN-10 tahun lebih dari 8%. Peran aktif yang dilakukan Bank Sentral mampu menurunkan yield ini. (Apabila banyak invetors yang menjual SUN, maka harga SUN jatuh, dan membuat yield naik; begitu juga sebaliknya, jika semakin banyak yang membeli SUN, maka harga SUN akan naik, dan membuat yield-nya menurun). 

Selain itu, BI sama seperti Fed, ikut aktif melakukan pembelian obligasi negara di pasar perdana, yang diterbitkan pemerintahnya untuk bisa membiayai stimulus fiskal dan defisit belanja negara.

Kedua langkah ini, berhasil memperbaiki stabilitas pasar, yang sempat terganggu oleh Covid-19. Melalui sejumlah catatan sebelumnya, saya telah menyampaikan, bahwa Uncertainty yang ditimbulkan Covid-19 ini, sudah bisa dikendalikan oleh kebijakan moneter maupun stimulus  fiskal. Kedua hal ini muncul sebagai The Known Factor.

The Known Factor ini , yang berhasil menyingkirkan rasa cemas pasar, membuat pemulihan pasar juga terjadi dengan cepat. Langkah lanjut (Fed) melakukan pembelian corporate bonds dan ETF, semakin dapat meyakinkan pasar. Pemulihan pasar dan kenaikan harga saham, tentu dapat menjadi modal awal untuk kebangkitan perekonomian. Namun, modal awal seperti ini tentu saja belum memadai.

Pemulihan perekonomian yang bersinambungan, hanya mungkin jika mesin perekonomian dapat berfungsi kembali dengan baik. Covid-19 telah membuat banyak perusahaan berhenti berusaha, dan tidak bisa menghasilkan pendapatan. Perusahaan tidak dapat membayar hutang pinjaman dan bunganya (termasuk obligasi). Bond market berhenti.

Oleh karena itu, langkah Fed melakukan pembelian corporate bonds dan ETF Bonds (di Indonesia hal ini belum dilakukan) menjadi indikasi awal, untuk dapat memastikan bekerjanya kembali fungsi kredit, dan bond market. Upaya Fed ini tampak berhasil. Kita dapat melihat salah-satu contoh ETF, LQD, yang keranjangnya berupa Investment Grade Corporate Bond.

Fed mengumumkan rencana pembelian Corporate Bonds maupun ETF Bonds ini tanggal 23 Maret. Ketika itu, harga LQD di USD 114. Melihat harga LQD saat ini, yang sudah naik di USD 132, merupakan pertanda bahwa bond market sudah mulai berfungsi kembali. Upaya pemulihan kembali yang harus dilakukan masing-masing perusahaan, tentu tidak dapat dilakukan dengan baik tanpa dukungan credit market.

Bagaimana dengan Indonesia, yang sumber pendanaan utamanya dari perbankan dan bukan bond market? Sampai sejauh ini, saya tidak ada mendengar tentang rencana BI untuk ikut aktif melakukan pembelian corporate bonds. Langkah yang dilakukan BI selain aktif membeli SUN di pasar primer dan sekunder, industri perbankan juga menjadi salah-satu yang mendapatkan perhatian BI.

Ada sejumlah langkah yang sudah dilakukan BI terkait perbankan ini.

Pasokan likuiditas, dilakukan melalui berbagai mekanisme. Selain repo SBN yang berada di perbankan (pada tanggal 14 Mei berjumlah Rp 886 Trilyun), Bank juga bisa minta pemerintah untuk dapat menempatkan tambahan dana pemerintah di perbankan. Proyeksi defisit yang lebih dari Rp 1,000 Trilyun, serta kebutuhan penempatan dana pemerintah di perbankan bisa dilakukan melalui penerbitan SUN, dimana BI akan menjadi pembelinya.

Penurunan RR perbankan, dengan dana DPK sekitar Rp 5,900 Trilyun, akan memberikan tambahan peluru sekitar Rp 180 Trilyun di industri perbankan. Bagaimana dengan potensi kredit macet di perbankan? Sejauh mana pemerintah bisa memberikan bantuan?

Dirut BRI, pada pertengahan Mei menyampaikan harapannya, untuk mendapatkan suntikan dana dari pemerintah. Bantuan ini diperlukan untuk membantu likuiditas yang berkurang, akibat restrukturisasi dari akibat Covid-19 ini.

Saya kutip, pernyataannya di IQ Plus :”Mudah-mudahan pemerintah menempatkan dana di Bank-Bank yang melakukan restrukturisasi, termasuk BRI. Karena BRI paling banyak merestrukturisasi UMKM, jadi mudah-mudahan dapat yang paling banyak, meski tidak sepenuhnya”. 

BRI sendiri sampai akhir April sudah melakukan restrukturisasi untuk sekitar 1.4 juta nasabahnya, untuk total nilai pinjaman Rp 101 Trilyun. Apa yang disampaikan oleh BI di atas, merupakan respon atas usulan yang disampaikan industri perbankan.

OJK sendiri dalam pengumumannya telah menyampaikan, bahwa ada sekitar 90 bank yang telah melakukan restrukturisasi untuk sekitar 4.3 Juta nasabahnya, dengan pinjaman senilai Rp 391 Trilyun, per-tanggal 11 Mei 2020.

Selain itu, BI juga sudah memberikan indikasi untuk bisa memberikan renumerasi untuk dana Bank yang termasuk dalam RR. Namun sampai saat ini, saya belum mengetahui berapa besarannya.

Terkait hal ini, saya sekaligus ingin menjawab pertanyaan yang kurang lebih senada yang ditanyakan oleh beberapa JSP subscribers :

“Pak, saya mau beli BBTN di 1,150 atau maximum 1,200. Time frame saya 1-3 tahun ke depan, apakah sudah kemahalan? Saya masih mau kejar beli…”(KL)

“Saya baru join 3 hari lalu, portfolio saya kosong/nol. Bagaimana ya Pak, apakah saya langsung ikutan beli di harga berapapun, atau harus menunggu harga turun, sampai ada pemberitahuan untuk pembelian emiten lain? Berarti saat ini saya do nothing, harus sabar” (GI).

“Saya terlambat beli BBRI, BBCA dan BBTN. Apakah saya bisa masuk sekarang, atau tunggu dulu? Saya investasi untuk 1-2 tahun. Saya mau trading saham di luar negeri, apakah ada broker yang direkomendasi? (RW).

Ada pertanyaan lain, tetapi karena pertanyaannya senada, tidak perlu saya tuliskan lagi disini.

Jawaban saya :

Untuk ketiga saham itu, kalau saya lihat CFO Kwartal I saja, saya dapat langsung mengatakan, bahwa di harga saat ini masih murah. Apabila hal ini terjadi dalam kondisi normal, saya pasti akan tetap memberikan rekomendasi beli.

Saya ambil contoh BRI, misalnya, CFO Kwartal I/2020, mencapai angka Rp 16.5 Trilyun. CFO perbankan, seperti sudah saya sering sampaikan lebih straight-forward dibanding non-perbankan. Di CFO perbankan, angka itu merupakan nilai tunai bersih yang diterima dari hasil bunga, komisi dan penerimaan bank lainnya, setelah dikurangi semua biaya bunga yang dibayarkan kepada deposan, dan biaya operasi perbank-an. Jika ada kredit macet, dan pembayaran bunganya tidak diterima, ya tidak bakal masuk dalam CFO. Jadi angka ini adalah angka murni. Pure. Tidak mungkin bisa dimanipulasi, seperti angka laba, yang ada di Income Statement. Income is an opinion, Cash is a fact.

Dalam kondisi normal, dalam setahun diperkirakan nilai tunai yang bisa diterima BRI ini menjadi sekitar Rp 66 Trilyun. Market Cap saat ini hanya sekitar Rp 370 Trilyun. Anda bisa berhitung sendiri.

Begitu juga dengan BBTN. CFO-nya di Kwartal I/2020, Rp 1.2 Trilyun. Dalam kondisi normal, kita bisa mengharapkan CFO setahun mencapai Rp 4.8 Trilyun. Market Cap saat ini Rp 12 Trilyun, yang lebih kecil dari Equity-nya (Book Value) sebesar Rp 16 Trilyun.

Tetapi sekarang is no ordinary time. Kita telah melihat di atas sejumlah hal yang sedang dan harus dilakukan BI. Oleh karena itu, ada baiknya untuk menunggu terlebih dahulu Laporan Keuangan Kwartal II/2020. Apakah ada perubahan signifikan dalam 3 bulan ini, sehingga kita bisa lebih memahami pengaruhnya terhadap industri perbankan dalam 12-18 bulan mendatang. Apakah harga sahamnya akan naik, atau turun dalam 2-3 bulan mendatang, sampai mereka mengeluarkan Laporan Keuangannya, tentu saja saya tidak tahu. Kalau saya tahu harganya pasti naik dalam 2-3 bulan ini, pasti saya akan suruh beli. Kalau saya tahu harganya akan turun, pasti saya suruh jual dulu, dan nanti kalau sudah turun, saya suruh beli lagi. Masalahnya, saya tidak tahu itu.

Yang saya tahu, saat ini ada permasalahan temporer yang diakibatkan oleh Covid-19, yang memberi dampak cukup luas. Masih perlu waktu untuk melihat seberapa besar dampak yang terjadi. Apabila kita sudah bisa mendapatkan tambahan info itu, at least kita bisa lebih paham, apakah Price yang kita bayarkan itu lebih rendah dari Value yang kita bisa dapatkan.

Terkait saham di BEI ini, saat ini saya juga sedang melihat sejumlah emiten di beberapa sektor yang cukup menarik. Mudah-mudahan saja data-datanya bisa dilengkapi, sehingga saya bisa memberikan at least 1 emiten lagi di BEI.

Ada opsi lain yang bisa dilakukan untuk ketiga nama di BEI yang telah ada di JSP itu, seperti yang sudah dilakukan di emiten terakhir, dengan melakukan pembelian bertahap. Kalau kemarin kita melakukan 50% di batch pertama, dan 50% di batch kedua, untuk 3 saham di BEI ini bisa dilakukan pembelian batch pertama 25%. Setelah itu nanti kita akan melihat perkembangannya. (Ini khususnya untuk yang merasa harus membeli saham, dan doing nothing bukan merupakan satu hal yang menyenangkannya).

Salam,

Joeliardi 

TRYING TO BE CONSISTENTLY NOT STUPID

Jakarta, 12 Juni 2020

Angka IHSG pada minggu terakhir Mei dan minggu pertama bulan Juni, meningkat pesat, naik 8.65%. Kenaikan ini diikuti dengan peningkatan nilai transaksi harian.

Memasuki awal minggu ke-2 Juni, bahkan IHSG sempat kembali di atas angka 5,000.

Penjelasan Powell setelah FOMC (Federal Open Market Committee) meeting hari Rabu, menimbulkan reaksi negatif di pasar. Pernyataan-nya bahwa perekonomian menghadapi “considerable risks”, dan GDP akan terkontraksi 6.5% tahun 2020, mendorong penurunan S&P 500 dan Dow Jones, dan sejumlah major exchanges di Eropa. Bahkan S&P 500 turun 6% semalam. 

Kekhawatiran akan datangnya gelombang kedua Covid-19 merupakan faktor tambahan, yang semakin menekan index, termasuk IHSG. Pada saat systematic risks terjadi di berbagai belahan dunia, yang terjadi di Wall Street akan sangat mempengaruhi pasar-pasar lainnya. 

Pernyataan Powel di atas, tidak hanya menimbulkan reaksi negatif di pasar, tetapi juga di lingkungan team perekonomian Trump, dan tentu juga Trump sendiri. Navarro, penasihat ekonomi White House, ketika diwawancara Yahoo Finance, bahkan sempat menyebut Powell “the worst bedside manner of any Fed Chairman in history”. Bukan itu saja, Navarro juga menyebutkan, kalau Powell menjadi penjual sushi, maka “he would market it as cold dead fish”. Apa yang di-tweet oleh Trump, silahkan lihat sendiri di twitter-nya, karena saya termasuk orang yang tidak ingin menyebar-luaskan apa yang disampaikan DJT ini. 

Apabila kita sejenak keluar dari apa yang terjadi di pasar, saya kira kita akan sepakat, bahwa berbagai hal yang disampaikan Powell bukanlah hal yang baru. Hal itu juga sudah diketahui, pada saat Wall Street rally 47%, dan BEI 25%, dari angka terendahnya, beberapa hari yang lalu.

Jadi apa yang terjadi? 

Tiga hari lalu, pada saat saya mulai menyinggung Trailing Stop, karena semua 14 saham JSP mengalami kenaikan cukup besar, dalam catatan itu saya mengingatkan “Kenaikan seperti ini (1 triple-digit, 10 double-digit dan 3 single-digit) dalam jangka pendek, bukanlah hal yang biasa. Oleh karena itu, mengharapkan terjadinya hal yang sama merupakan harapan yang tidak realistis”.

Untuk dapat memberikan konteks yang saya sampaikan di atas, dapat kita lihat pada apa yang terjadi pada sejumlah emiten di Amerika, yang telah mengambil langkah Chapter-11 (menyatakan dirinya bangkrut). Atau,  kalau kita melihat kondisi keuangannya, mereka saat ini berada di ambang kebangkrutan.

Hari Senin tanggal 8 Juni kemarin, hanya dalam 1 hari saja, Extraction Oil/XOG naik 247.91%. Noble naik 163.43%, Hertz (115.18%), Whitting Petroleum, yang sudah seringkali saya singgung proses kebangkrutan-nya, naik 152.17%, dan banyak lagi yang lainnya. Jika namanya bukan spekulasi, istilah apa yang tetap untuk menyebut fenomena ini?

Memang betul untuk ukuran Wall Street, nilai transaksi perdagangan dari perusahaan yang bangkrut dan akan bangkrut di atas, relatif kecil. Hertz, misalnya, angka perdagangannya tercatat sekitar USD 250 Juta. Angka yang tentunya sangat kecil dibanding, katakanlah Apple, yang nilai transaksinya USD 16 Milyar/hari. Namun, apabila dibandingkan dengan nilai transaksi harian di BEI, transaksi harian Hertz sekitar USD 250 Juta ini sama dengan 50% nilai perdagangan harian di BEI.

FOMO?

Berdasarkan data Investment Company Institute (ICI), saat kecemasan melanda pasar, dana yang diparkir di Market Fund meningkat. Di akhir bulan Maret, angkanya mencapai USD 1.2 Trilyun. Terjadinya market-madness di berbagai pasar saham dunia, US Treasury menjadi pilihan.

Investor memilih Money Market Fund yang hanya menghasilkan yield sekitar 0.35%. 

Ekspansi Neraca Fed, yang hanya dalam hitungan minggu meningkat dari USD 3.8 Trilyun menjadi USD 7.1 Trilyun, menjadi cermin tentang agresifnya Fed melakukan stabilisasi pasar. Pembelian yang dilakukan Fed tidak terbatas pada Treasury di pasar sekunder saja, tetapi juga di pasar primer (yang berasal dari stimulus fiskal), corporate bonds, dan bahkan junk bonds (melalui ETF). Adanya bantalan yang dilakukan Fed ini, menjadi awal pembalikan pasar. Aliran dana yang kembali di pasar, yang diparkir di Money Market Fund, kembali masuk ke pasar modal. 

Elemen FOMO (Fear Of Missing Out), diduga menjadi elemen pemicu new madness. Mengalirnya kembali dana yang masuk ke pasar, yang disertai FOMO ini, menjadikan bursa berbalik dengan cepat. Kenaikan sebesar 47% dalam 2.5 bulan bukanlah fenomena biasa. Di BEI, angka transaksi perdagangan per-hari, seperti sudah disampaikan di catatan saya sebelumnya, juga meningkat 2 kali lipat.

Inilah konsekwensi dari konstruksi pembentukan harga yang memang harus terjadi setiap harinya. Headlines dan attitude pelaku pasar akan sangat menentukan harga yang terbentuk itu, at least di dalam jangka pendek. Dalam jangka panjang? Not so much.

Kalau kita kembali ke kebijakan Fed, tidak ada yang berubah. Bahkan dalam FOMC kemarin itu, 17 board members mengeluarkan proyeksi yang sama, suku bunga mendekati 0 akan berlangsung sampai dengan tahun 2022. Artinya, easy money masih akan berlangsung lama. Oleh karena itu, menurut hemat saya, kembalinya index ke harga terendah tanggal 23 Maret itu, probabilitanya menjadi semakin kecil.

Namun, di sisi lain, koreksi seperti yang terjadi semalam di Wall Street, sebesar 6% untuk S&P dan 7% Dow Jones, menjadi koreksi yang wajar, jika kita melihat madness seperti yang saya tunjukan dalam kenaikan sejumlah perusahaan yang sudah menyatakan (atau memiliki potensi) bangkrut di atas.

Dengan demikian, terjadinya koreksi harus dipandang sebagai peluang untuk membeli tambahan saham baru yang menarik.

Untuk menutup catatan ini, saya ingin menjawab satu pertanyaan dari salah-seorang Subscriber :

“Pak, mengapa saham di BEI yang direkomendasikan hanya terbatas 3 saham saja? Apakah ada rencana untuk menambah lagi saham-saham  di BEI?”.

Seperti saya sampaikan di Catatan JS-Portfolio tanggal 13 Mei 2020, saat dimulainya konstruksi JSP, saya tidak tahu kapan satu saham akan dimasukan, atau dikeluarkan dari JSP. Hal ini akan sangat tergantung, apa yang ditawarkan pasar.

Saya membayangkan, bahwa dalam satu bulan ada 1 atau 2 saham di BEI atau non-BEI yang akan dimasukan kedalam JSP. Dengan demikian, dalam satu tahun, bisa genap mendapatkan sekitar 15-25 perusahaan, dan bisa mulai memilah, mana saham BEI dan non-BEI.

Namun apa yang terjadi di pasar, dengan begitu banyak opportunity, hanya dalam 2 minggu ada sekitar 10 saham yang sudah masuk dalam JSP. Jika opportunity di pasar tidak seperti yang ada saat itu, boleh jadi saat ini di JSP hanya ada 3, atau maximum 4 saham saja, seperti saya rencanakan semula. 

Apa yang akan dilakukan dengan JSP ini akan tetap sama. Saya hanya akan menambah atau mengeluarkan saham, sesuai dengan peluang yang ditawarkan. Meskipun untuk sebagian, saya menganjurkan, agar secara disiplin menggunakan Trailing Stop.

Khusus untuk saham di BEI, saya juga sudah menyampaikan keyakinan saya, bahwa banyak perusahaan-perusahaan di BEI yang akan tumbuh dan besar melalui perjalanan waktu. Namun saya tetap menganjurkan untuk mereka yang dapat melakukan diversifikasi ke saham non-BEI, juga mengalokasikan sebagian dananya di saham-saham non BEI.

GDP Indonesia sudah mengalami peningkatan luar biasa. And yet, jika kita hanya fokus ke saham-saham perusahaan Indonesia saja, berarti kita mengabaikan opportunity yang ditawarkan 99% GDP dunia. GDP Indonesia hanya mewakili 1% GDP dunia saja. Melakukan diversifikasi di dalam satu pasar, tidak memberikan diversifikasi yang optimum.

Kedua, elemen nilai tukar berada di luar kendali kita. Dalam 5 tahun, IHSG sudah naik 40%. Namun di dalam periode yang sama, nilai tukar Rupiah terhadap USD juga anjlok lebih dari 40%. Secara efektif hasil portfolio itu menjadi Nol. Apabila Anda mengirim anak sekolah ke LN, Anda tidak bisa membayar dengan Rupiah. Naik turunnya nilai Rupiah, berada di luar kendali kita, dan Anda tidak bisa minta selisih nilai tukar kepada Menteri Keuangan, atau pemerintah Indonesia, jika kebijakan yang mereka ambil membuat nilai Rupiah turun. Anda bertanggung-jawab untuk memproteksi diri sendiri. 

Terkait pertanyaan mengapa hanya 3 yang di BEI. Meskipun sebagian sudah saya jawab di atas, saya ingin bertanya balik, memangnya harus berapa? What’s wrong dengan hanya 3 saja, jika sementara ini hanya tiga emiten itu saja yang ada dalam JSP.

Anda tahu, berapa CAGR Berkshire Hathaway? 20%, atau “cuma” 1.7% per-bulan. Menghasilkan CAGR 20% bukan hal yang mudah, tetapi jika Anda menghasilkan 1.7% per-bulan, hal ini tidak akan membuat Anda berjingkrak-jingkrak kegirangan. 

On that note, mengapa harus “memaksakan” diri untuk menambah 2 atau 3 saham lagi? Bahkan jika sisa 7 bulan tahun 2020 ini Anda tidak melakukan apa-apa, yield yang Anda dapatkan sudah melebihi 20%. Kalau 1 bulan 20%, kalau disetahunkan sudah 240%. Sudah lebih baik dari apa yang bisa dihasilkan Berkshire Hathaway. Apabila kita tidak yakin, bahwa yang akan kita tambahkan itu tidak dapat membuat yang ada menjadi lebih baik, mengapa harus ditambah?

Memilih untuk tidak melakukan apa-apa, seringkali menjadi opsi lebih baik dibandingkan memaksakan diri melakukan sesuatu. Tentunya hal ini tidak berarti, tidak ada lagi yang akan dimasukan. Perjalanan masih panjang. Pada saat kita berbicara peluang Gold Oil Ratio, tentunya kita tidak berharap bahwa semua itu akan terjadi dalam hitungan hari. Ada perjalanan waktu yang masih harus dijalani. Apakah 12, 18 ataukah 24 bulan, kita akan sama-sama lihat. Tetapi tidak segera. Apabila rencana semula mendapatkan 14 saham tadi membutuhkan waktu 6-8 bulan, dan saat ini sudah kita miliki, bukankah 4-5 bulan ke depan kita dapat lebih tenang mengamati peluang apa yang akan ditawarkan pasar.

Kalau saya bisa meminjam perkataan Charlie Munger, menghindarkan potensi kerugian seringkali menjadikan kinerja portfolio kita bisa lebih baik, daripada terlalu terpukau pada potensi keuntungan. Istilah yang sering saya pakai adalah, mendahulukan pertanyaan ini “Apakah kita sudah memiliki downside protection dari investasi yang kita lakukan?.

Jika downside protection itu sudah kita miliki, the upside will be taken care of. 

Kembali meminjam perkataan Charlie Munger, kita akan melihat apa yang ditawarkan pasar, dalam rangka “trying to be consistently not stupid instead of trying to be intelligent”.

Salam,Joeliardi Sunendar  

GOLD TO OIL RATIO

GOLD TO OIL RATIO.

Munculnya kesempatan yang baik untuk berinvestasi di oil sector.

Di dalam beberapa catatan terakhir, ekspansi Neraca dari Bank Sentral dan stimulus fiskal di berbagai negara, telah merupakan bantalan yang dapat menghindarkan terjadinya dampak lebih buruk akibat Covid-19. 

Semalam, dalam konferensi pers seusai meeting Federal Open Market Committee, Jerome Powell, kembali mengulang mantra “whatever it takes”-nya, saya kutip, “We’re strongly committed to using our tools to do whatever we can for as long as it takes” (huruf tebal dari saya).

Melalui statement-nya, Fed juga menyatakan, bahwa perekonomian  masih menghadapi “considerable risks”. Pernyataan ini memperkuat alasannya, mengapa ekspansi Neraca Fed masih akan terus berlanjut. FOMC secara spesifik juga menyatakan, untuk tetap mempertahankan pembelian Treasuries (USD 80 Milyar) dan MBS (USD 40 Milyar) setiap bulannya.

Pernyataan, bahwa perekonomian menghadapi “considerable risks”, bukanlah pernyataan mengejutkan. Memang apa yang kita harapkan dari timbulnya disrupsi perekonomian yang tiba-tiba ini?. Namun hal ini, cukup untuk membuat pasar terkoreksi. 

Lewat sudut pandang yang lain, S&P 500 yang telah meningkat sekitar 40% hanya dalam waktu 2 bulan dari terendahnya, juga dapat menjadi alasan terjadinya koreksi yang berasal dari mereka yang take-profit. 

Pernyataan Fed, “We’re not even thinking about thinking about rasing rates” tentunya juga bukan merupakan hal yang mengejutkan. Namun pasar menangkap pernyataan Fed ini, sebagai tambahan indikasi dari adanya prospek perekonomian yang buruk. Selain terjadinya koreksi saham, harga Treasury (safe haven) juga kembali meningkat. Bonds- yield untuk 10 Years US Treasury turun 2.9% ke 0.726% semalam.

Namun demikian, pernyataan Fed ini – yang menjadi alasan berbagai kebijakan yang dilakukannya – tentu tidak tanpa konsekwensi. Injeksi masif yang dilakukan Fed, dan Bank Sentral lainnya, dalam pandangan saya, merupakan benih-benih inflasi. Membicarakan potensi inflasi di dalam kondisi perekonomian yang tertekan seperti sekarang ini, saya paham, menjadi agak ganjil. 

Injeksi masif, dengan besaran yang tidak pernah terjadi sebelumnya, merupakan kabar buruk untuk nilai mata uang kertas. Hal ini menjadi bentuk lain dari proses penurunan nilai mata uang. Cost of money, di sejumlah negara, sudah mendekati angka 0, bahkan negatif. Turunnya nilai mata uang kertas, sama artinya dengan kenaikan nilai real assets seperti komoditi, properti dan nilai (saham-saham) perusahaan.

Harga rumah yang 10 tahun lalu bisa dibeli dengan harga Rp 300 Juta, saat ini mungkin harganya sudah Rp 600 Juta, atau lebih. Kenaikan itu, kenaikan harga rumah, sama artinya dengan turunnya nilai mata uang kertas. 

Berinvestasi di sektor komoditi, properti serta di saham perusahaan-perusahaan yang baik, dapat menghindarkan kita dari penurunan nilai mata uang kertas ini.

Migas, sekarang ini merupakan salah-satu komoditi yang menawarkan peluang yang baik. Didalam kondisi normal, oil-companies yang sangat padat modal (CIC), bukan merupakan favorit saya. Namun apabila kita melihat dinamika yang terjadi di sektor migas saat ini, dan yang terjadi di masa lalu bisa menjadi panduan kita, opportunity di sektor ini akan terlalu menarik untuk dilewatkan.

Berlainan dengan bisnis yang dilakukan oleh CEC, sektor komoditi ini harus selalu mengalami periode boom & bust cycle. 

Gold serta oil merupakan komoditi yang juga harus mengalami siklus ini. Berdasarkan statistik dengan populasi data sejak tahun 1861, 80% dari periode selama 160 tahun ini, Gold Oil Ratio berada dalam kisaran 10 X dan 30 X. Dengan demikian, probabilita terjadinya Gold Oil Ratio (GOR) di bawah 10 X atau di atas 30 X, peluangnya hanya 20%. Dalam kasus extreme, katakanlah GOR 100 X atau 1 X, tentu masih mungkin terjadi, namun terjadinya hal itu menjadi sebuah black-swan event. 

GOR Chart

Disrupsi perekonomian akibat Covid-19 menimbulkan penurunan oil demand sekitar 25 juta barrel-per-day (bpd) di bulan April, atau 25% dari worldwide demand sebelum datangnya Covid-19. Membanjirnya oil – sebagai akibat physical delivery dari transaksi future yang tidak bisa dilakukan, karena penuhnya oil storage – membuat harga minyak turun mendekati 0. Bahkan sempat menyentuh angka negatif. Banyak yang terkejut, dan lantas bertanya “Kok bisa, harga minyak negatif?”. Boleh jadi yang bertanya ini belum tahu, bahwa ada komoditas lainnya (uang kertas) yang harganya juga negatif. 

Harga negatif itu adalah konsekwensi dari physical delivery yang tidak mungkin dilakukan. Storage fee yang melambung tinggi, membuat oil price menjadi negatif. Situasi seperti ini tidak berlangsung lama, harga minyak bergerak naik, meskipun masih di bawah USD 20. Dengan gold price naik – karena munculnya kecemasan – di harga USD 1,750, maka Gold Oil Ratio saat itu mencapai angka 88 X. Ratio yang berada di luar kisaran angka normal.  

Pertanyaannya adalah, apakah penurunan demand ini akan berlanjut terus? Apakah oil demand akan tetap berada di level 75-80 juta bpd?. 

Pembukaan kembali kegiatan perekonomian, tentu dapat menjadikan demand yang hilang itu datang kembali. Besaran angka demand yang kembali, serta bisa berlangsung berapa lama, akan sangat bervariasi. Hal ini akan tergantung kepada seberapa cepat “back to normal” atau “to new normal” ini terjadi. Namun, kecenderungannya, sisi demand  yang hilang ini tidak akan berlangsung selamanya.

Dari sisi supply, mungkin gambarannya berbeda. Seperti sudah sering saya sampaikan, industri shale-oil telah merubah peta bisnis oil dunia. Shale-oil telah mampu meningkatkan produksi minyak Amerika dalam 10 tahun terakhir. Berdasarkan data dari EIA, produksi Amerika telah meningkat lebih dari 2 kali lipat dari 5.1 Juta bpd (2008) menjadi 11.8 Juta bpd (2019), atau sekitar 12% dari produksi dunia.

Namun demikian, production cost shale-oil jauh lebih tinggi dibanding conventional oil. Banyak shale-oil company yang akan bangkrut, jika harga minyak di bawah USD 50. Hal ini sudah terjadi tahun 2015-2016, dan sedang berlangsung saat ini.

Berbeda dengan peningkatan sisi demand, yang akan kembali muncul dengan mulai berputarnya kegiatan perekonomian, penurunan supply yang “terpaksa” diturunkan itu tidak serta-merta dapat dipulihkan di dalam waktu segera.

Disrupsi produksi dalam periode yang cukup panjang, berbulan-bulan, pasti menimbulkan damage baik terhadap sumur-sumur minyak yang sudah digunakan, maupun cadangan minyaknya. Hal ini menjadi lebih relevan untuk shale-oil, yang memakai metoda fracking, dan produsen  offshore oil. Untuk menghidupkan kembali produksinya memerlukan waktu panjang.

Kalau kita melihat data oil rigs terakhir, hanya dalam tempo 2-3 bulan ini, sudah turun sekitar 50%. Diperkirakan, dengan panjangnya daftar kebangkrutan perusahaan minyak Amerika, seperti disampaikan G&R, satu perusahaan riset di Amerika, diperkirakan di akhir tahun 2020 ini, oil rigs yang aktif hanya tinggal 25%. Atau turun 75% dari jumlah rigs di awal tahun 2020. Hal ini diperkuat dengan revisi penurunan belanja modal dari perusahaan-perusahaan minyak. Dengan demikian, hal ini akan menjadikan disrupsi dari sisi supply menjadi lebih panjang.

Kembalinya sisi demand, yang tidak bisa diimbangi dengan segera dari sisi supply, merupakan resep ideal untuk terjadinya  kenaikan oil price. OPEC menjadi kelompok yang dapat mempengaruhi pembentukan oil price. Saat ini, karena adanya Covid-19 ini, OPEC+ sudah setuju untuk memotong produksi  sekitar 8 Juta bpd. Apabila terjadi pemulihan sisi demand, OPEC+ menjadi kelompok yang dapat segera mengisi lubang yang hilang dari sisi supply. Apabila demand yang kembali ini ke level sebelum Covid-19 datang, maka masih ada gap 12 juta bpd.

Dengan gold price di level 1,750 dan WTI 38, maka GOR saat ini berada di angka 46 X. Tidak sangat extreme, tetapi berada di luar kisaran ratio yang normal. Jika histori bisa menjadi indikasi, maka berinvestasi pada oil companies saat ini, menjadi pilihan yang lebih menarik.

Pada tahun 2016, Gold Oil Ratio mencapai angka 47 X seperti saat ini, dimana oil price tercatat USD 26/barrel dan gold USD 1,220. Oktober tahun 2018, oil price naik ke USD 75/barrel, terjadi kenaikan sebesar 188% dalam waktu kurang dari 3 tahun. Di dalam periode yang sama, gold price harganya tidak kemana-mana, bahkan sempat turun sedikit di bawah harga USD 1,220.

Membalik-balik rangkaian batu di kelompok perusahaan komoditas, dimana salah satunya oil stocks, merupakan bagian untuk menghindar dari penurunan nilai tukar uang kertas. Satu saham di NYSE yang 2 hari lalu dimasukan menjadi bagian JSP, menjadi saham pertama di sektor ini yang ada dalam JSP.  

Have a great investing,

Joeliardi  

Beberapa catatan dari Administrasi :

  1. Bagi mereka yang ingin menerima e-mail dari JSPortfolio.id, bisa memilih Subscribe di kolom Subscribe Newsletter
  • Untuk Member, meskipun posting yang dikirim lewat e-mail juga sudah diposting di webpage, yang hanya dapat diakses Member, disarankan juga untuk melakukan Subscribe Newsletter. Saat ini sedang diusahkan untuk Member baru bisa secara otomatis juga menerima setiap e-mail yang dikirim.
  • E-mail Newsletter dapat diakses juga oleh non-Member, namun Catatan Portfolio & Status Terakhir Portfolio, hanya bisa diakses oleh Member saja.
  • Untuk mereka yang ingin melakukan Subscription bisa dilakukan di webpage jsportfolio.id, dengan mengikuti instruksi yang telah disiapkan disitu.
  • Kami tidak bisa menjawab pertanyaan yang sifatnya perorangan. Apalagi menyangkut saham tertentu secara spesifik, di luar yang ada di dalam JSP ini.  

TRAILING STOP

TRAILING STOP

Good morning.

So far, so good.

Semua saham dalam JS-Portfolio menunjukan pergerakan positif. Dari 14 saham itu, ada 1 saham diantaranya menghasilkan triple-digit gain, 10 saham double digit gain. Tiga saham yang terakhir masuk di dalam portfolio, menunjukan kenaikan single digit gain.

Seperti sudah saya sampaikan, kenaikan seperti ini bukan merupakan kenaikan yang sering terjadi. Penurunan tajam sebelumnya, menjadi alasan mengapa recovery yang terjadi juga sangat tajam. Oleh karena itu, mengharapkan kenaikan seperti ini menjadi sebuah hal yang rutin, bukan merupakan harapan yang realistis. Namun demikian, landasan untuk menemukan perusahaan yang baik – di harga yang baik – dapat menjadi pedoman yang dapat diterapkan di berbagai kondisi pasar.

Untuk mereka yang menggunakan pedoman trailing-stop, saya hanya ingin mengulang prinsip dasar mekanismenya. Sesuai dengan profile dari masing-masing investor, Anda dapat menentukan sendiri berapa persen angka yang Anda dapat pergunakan di dalam trailing-stop ini, baik pada saat menginisiasi posisi, maupun setelah memiliki posisi. 

Angka yang digunakan untuk mengingatkan kembali mekanisme dari trailing-stop ini, hanya untuk memudahkan contoh saja. Bagi mereka yang tidak mau menggunakan trailing-stop, saya juga bisa mengerti. Namun apabila apa yang terjadi di pasar, masih membuat Anda harus terganggu, saya anjurkan untuk memakai trailing-stop. And move on.

Untuk contoh ini, kita ambil satu saham di BEI, dan satu non-BEI.

  1. Saham di BEI. BTN, dimasukan dalam JSP tanggal 18 Mei dengan harga Rp 750. Kita ambil contoh, bahwa maximum toleransi yang Anda tetapkan untuk satu saham adalah 30%. Dalam penentuan angka ini, sesuai toleransi masing-masing, saya menganjurkan pemakaian trailing stop 25%-35%. Namun demikian, untuk jenis perusahaan komoditas – yang volatile – saya anjurkan memakai persentase lebih tinggi, 40%-50%. Harap diingat, untuk memakai position-sizing juga. Kembali ke contoh BTN, dengan persentase 30% yang dipakai, maka SETELAH kita membeli di harga Rp 750, kalau BTN jatuh di bawah harga Rp 525, kita akan langsung jual. No question asked.
  • Apabila setelah pembelian itu, harga BTN naik, maka otomatis trigger untuk trailing stop itu juga berubah. Pedoman harga 525 itu tidak lagi berlaku. Pedoman trailing-stop memakai CLOSING-PRICE tertinggi yang terjadi selama saham BTN masih berada di dalam JSP. Perhatikan kata CLOSING PRICE ini. Kita mengabaikan naik dan turunnya harga yang terjadi selama perdagangan, yang kita pakai adalah harga penutupan tertinggi. Dalam hal BTN ini, harga penutupan tertinggi sejak tanggal 18 Mei adalah 1,275. Jadi harga Rp 1,175 ini yang sekarang kita pakai sebagai referensi dan bukan Rp 750 lagi. Dalam hal Closing Price sudah lebih tinggi dari harga beli, saya menganjurkan untuk memakai persentase traling stop lebih rendah dari yang kita pakai pada saat memulai pembelian. Dengan demikian, jika terjadi pembalikan harganya, kita masih dapat memperoleh keuntungan. Atau memperkecil angka kerugian. Untuk contoh BTN ini, saya menganjurkan untuk memakai angka 20% sebagai trailing stop, dari saham BTN yang sudah naik dari harga belinya. Dengan demikian, jika BTN turun kembali ke Rp 940, saham BTN itu langsung dijual. No question asked, dan Anda masih dapat menikmati gain 25%. Keuntungan 25% dalam waktu 3 minggu, bukan hal yang pantas dikeluhkan. Namun, jika BTN tidak turun ke harga Rp 940, Anda akan terus memegang saham BTN ini. Apabila closing price BTN di hari-hari berikutnya naik di atas Rp 1,175, maka Anda tentu menggunakan angka trailing stop yang baru. Jika highest closing price yang baru itu Rp 1,500, maka pedoman trailing stop menjadi Rp 1,200, dan demikian seterusnya. Anda hanya perlu waktu sekitar 5 menit di akhir perdagangan, untuk melakukan penyesuaian trailing-stop yang akan dipakai.
  • Dalam kasus non-BEI, kita bisa memakai saham Eurobank yang dimasukan dalam JSP di tanggal  20 Mei pada harga Euro 0,3060. Persentase trailing-stop untuk EUROB yang dipakai ketika mulai dimasukan, sama dengan BTN, 30%. Kalau EUROB turun ke harga Euro 0,2910, saham ini akan langsung dijual. No question asked.
  • Dengan mekanisme yang seperti BTN, kita melihat bahwa sejak saham ini dibeli, harga tertingginya sampai closing semalam di Athens Stock Exchange terjadi harga Euro 0,4316. Oleh karena harga EUROB ini sudah di atas harga belinya, maka persentase traling stop diubah. Tidak lagi 30%, tetapi 20%. Dengan pedoman ini, maka jika EUROB turun ke Euro 0,345, saham ini akan dijual. No question asked. Anda masih mendapatkan keuntungan 13%, dalam waktu 3 minggu. Angka yang masih lebih baik dari non-risk investment yang memberikan yield 1% dalam setahun.

Mekanisme trailing-stop ini, akan menghilangkan komponen emosi di dalam keputusan investasi Anda. Adanya referensi ini, juga membantu Anda untuk dapat lebih disiplin, karena ada pedoman yang dapat Anda pakai.

Trailing-stop akan mencegah terjadinya catastrophic loss – yang untuk sebagian disebabkan oleh pertimbangan emosional. Selain itu, dengan memakai trailing-stop ini Anda akan terus menunggangi the winner, dan mendapatkan keuntungan yang optimum. The winning-stock ini akan selalu berada di dalam portfolio Anda, sampai Anda memperoleh signal, dari pedoman trailing-stop, bahwa sudah waktunya Anda untuk merealisasikan keuntungan Anda.

Salam, 

Joeliardi

Ada tambahan catatan dari pihak Administrasi :

  1. Mohon maaf, jika masih ada permasalahan administrasi. Mereka yang sudah teregistrasi sebagai Subscriber di jsportfolio.id masih ada yang belum menerima e-mail lewat address jsportfolio2@gmail.com. Posting rekomendasi yang dikirim via e-mail kemarin, pada saat yang sama juga sudah bisa diakses di webpage jsportfolio.id oleh paid-subscribers. Untuk sementara, posting rekomendasi hanya akan dilakukan lewat webpage saja. Apabila ada paid-subscribers yang ingin memastikan, untuk bisa menerima e-mail, dapat mengirim kembali alamat e-mailnya ke jsportfolio2@gmail.com
  • Sebaliknya, ada juga mereka yang sebetulnya bukan Subscribers, tetapi menerima e-mail rekomendasi karena data mereka telah masuk pada saat Subscribe, tetapi belum menyelesaikan aspek administrasinya. Kami sudah memperbaiki hal ini, dan tidak akan terulang lagi.  
  • Karena masih banyaknya pertanyaan, berikut ini adalah tahapan untuk menjadi Subscribers di jsportfolio.id : 1) Klik Subscribe di webpage jsportfolio.id, 2) Isi data, dan lakukan pembayaran. 3) Kirim konfirmasi pembayaran ke e-mail jsportfolio2@gmail.com atau WA 0811822622. 4) Setelah konfirmasi pembayaran kami terima, kami akan mengaktifkan Subscriber Account untuk dapat mengakses JS-Portfolio.

Perspective

Year To Date S&P 500 mencapai angka positif untuk pertama-kalinya sejak kedatangan pandemic Covid-19. Coronavirus telah mendorong Fed dan Pemerintah Amerika menggelontorkan stimulus yang setara dengan seperempat GDP Amerika. Apa ini artinya? Ketika S&P 500 berada di level yang sama dengan angka S&P 500 saat ini, besaran stimulus senilai USD 5 Trilyun itu tidak ada dalam perekonomian Amerika. Injeksi dana dan stimulus ini dalam waktu yang relatif panjang, masih akan tetap berada dalam perekonomian Amerika.

Apa yang terjadi setelah krisis tahun 2008 di Amerika? Krisis itu telah membuat Neraca Fed melonjak 400% dalam tempo 5 tahun, karena dengan adanya kebijakan moneter dan stimulus fiskal untuk menjawab krisis pada saat itu. Periode 10 tahun (2009-2019) setelah terjadinya krisis itu menjadi salah satu periode terbaik di pasar modal, S&P 500 meningkat 500%. Tentu saja, dalam perjalanannya, ada tanjakan dan penurunan yang terjadi.

Coronavirus telah menjadikan Neraca Fed melonjak dari USD 4 Trilyun menjadi lebih dari Rp 7 Trilyun. Fed bahkan melakukan hal yang tidak pernah dilakukan sebelumnya, dengan membeli junk bonds dan ETF. Ada satu hal yang belum dilakukan Fed, dan sudah dilakukan BOJ, yaitu membeli saham-saham perusahaan di Bursa. Apa yang disampaikan oleh Powel, “whateever it takes”, menjadi mantra dalam menjawab adanya disrupsi.

QE yang dilakukan Fed serta stimulus fiskal bernilai Trilyunan dollar yang diinjeksikan dalam perekonomian (yang tidak ada sebelum terjadinya pandemic ini), niscaya akan menjadi tambahan peluru, dan merupakan kabar baik untuk pasar.

Bagaimana dengan Indonesia? Kebijakan moneter serta stimulus fiskal bernilai lebih dari Rp 1,000 Trilyun menjadi bantalan yang disiapkan oleh BI dan pemerintah Indonesia. Hal ini telah mulai memperbaiki kadar kecemasan yang ditimbulkan Covid-19. Pandemic ini masih sangat memprihatinkan. Angka-angkanya juga masih belum menunjukan penurunan. Namun dengan Stay at Home atau Work From Home dan berbagai pembatasan yang dilakukan, tidak berarti perekonomian menjadi Zero. Angka capacity utilization di Kwartal I/2020 masih sebesar 74.09%, turun 0.32% dari Kwartal terakhir tahun 2019. Ada kemungkinan angkanya masih akan turun pada Kwartal II/2020, tetapi sulit untuk dapat mengatakan bahwa angkanya menjadi nol. 

Kondisi “less-bad” ini telah menjadikan perbaikan di dalam nilai tukar Rupiah dan IHSG. Aliran dana yang sudah mulai masuk lagi menjadi penyebab terjadinya hal itu. IHSG sudah mulai tembus kembali di atas 5,000. IHSG sudah meningkat 29% dari angka terendahnya yang tercatat 2.5 bulan lalu. Lebih dari itu, di minggu pertama bulan Juni, kita melihat rekor transaksi perdagangan harian dari rata-rata Rp 7 Trilyun sebelumnya, menjadi Rp 11-12 Trilyun. Bahkan kemarin, nilai perdagangan mencapai Rp 13.5 Trilyun. Ada 302 emiten yang mengalami peningkatan harga, dibandingkan dengan 134 emiten yang harganya turun. Advance To Decline Ratio ini memberikan indikasi denyut nadi yang terjadi di pasar saat ini. 

Untuk mereka yang ingin bergabung di JS-Portfolio, prosesnya hanya bisa dilakukan di https://jsportfolio.id