PERSPEKTIF 22 JULI 2020

Kombinasi kebijakan moneter dan stimulus fiskal berada di balik angka kenaikan index bursa Amerika. Namun, kebijakan yang dapat berhasil mengendalikan kekhawatiran pasar, telah menimbulkan ekses valuasi yang tampak berlebihan.

Recovery yang terjadi membuat valuasi pasar Amerika semakin tinggi. Market Cap To GDP Amerika, saat ini angkanya sekitar 144%, yang dapat memberikan indikasi tentang valuasi pasar yang sedang euphoria. Namun hal ini, masih belum menunjukan “kegilaan” valuasi pasar di Amerika, seperti yang tampak di saham Tesla.

Market Cap Tesla saat ini sekitar $290 Milyar. Produksi per-Kwartal, di bawah 100,000 unit, meskipun Tesla menyatakan optimis bahwa pada tahun 2020 ini bisa memproduksi 500,000 unit. Untuk dapat memberi perspektif, Volkswagen dengan brands seperti Audi, Bentley, Porsche, Lamborghini, Bugatti dan VW sendiri, tahun lalu memproduksi 11 juta mobil. Porsche sendiri sudah memproduksi EV (Porsche Taycan), yang dianggap sebagai saingan Tesla (type P100D). Dalam tahun 2019, VW berhasil menjual hampir 11 juta unit. Tesla, dalam 10 tahun ke depan, diperkirakan mampu memproduksi 2 juta mobil setiap tahun-nya.  

Dengan penjualan sekitar 400,000 unit, nilai penjualan (TTM) Tesla ini tercatat sebesar $ 22 Milyar, dan masih harus mencatatkan kerugian ($ 114 Juta). And yet, valuasinya mencapai $ 290 Milyar, atau sekitar 3.6 kali lebih tinggi dari VW, yang mampu menghasilkan 11 juta mobil, dengan angka penjualan Euro 252 Milyar (12 kali-nya Tesla), dan laba Euro 14 Milyar.

I get it, membandingkan VW dengan Tesla tentu bukan apple-to-apple comparison. Tetapi bahkan dengan memberikan kualifikasi seperti itu, sulit untuk tidak mengatakan bahwa valuasi Tesla ini menggambarkan irasionalitas pasar. Injeksi likuiditas di pasar Amerika, memungkinkan terjadinya irasionalias seperti ini. 

Ada baiknya untuk memandang dari luar, sehingga kita bisa bertanya, “Apakah kondisi seperti ini akan bisa dipertahankan (sustainable) dan dapat berlangsung terus menerus?”.

Unemployment-subsidy ($ 600 per-minggu), yang menjadi bagian dari stimulus untuk mengurangi dampak Covid-19 ini akan berakhir 31 Juli besok. Mari kita lihat, apa yang akan terjadi dengan subsidi ini.

Pilpres bulan Nopember ini, yang disertai kerasnya pertengkaran kubu Demokrat (yang menguasai Kongres) dan kubu Republik (mayoritas di Senat, dan berdiri di belakang Trump), diperkirakan bisa menimbulkan pertikaian baru, terkait perpanjangan program subsidi ini.

Kubu Demokrat (dengan Biden sebagai Capres-nya) telah menyiapkan rancangan perpanjangan stimulus sebesar $ 3 Trilyun. Sementara itu, di sisi lain, Republik menyiapkan rancangan sebesar $ 1 Trilyun.

Kekalahan Hillary (Demokrat) dari Trump di dalam Pilpres tahun 2016, lebih banyak disebabkan terlalu confidence-nya kubu Demokrat ketika itu, yang menganggap enteng Trump. Kalau kita mundur ke belakang, memang sangat sulit untuk membayangkan, bahwa Amerika sebagai negara terbesar dunia, ternyata “mampu” memilih Presiden sekaliber Trump.

Oleh karenanya, tidak mengherankan apabila partisipasi pemilih kubu Demokrat pada Pilpres tahun 2016 itu sangat rendah. Berbagai polling yang menunjukan Hillary unggul dari Trump, juga menjadi alasan yang berada di balik rendahnya partisipasi dari Kubu Demokrat itu. Hillary sudah pasti menang, menjadi boomerang untuk kubu Demokrat.

Di Pilpres 2020 ini, Demokrat tidak ingin mengulangi pengalaman yang  sama. Demokrat mau memastikan, bahwa partisipasi pemilh dari kubu mereka dapat mencapai jumlah sebanyak-banyaknya.

Itu sebabnya, rancangan yang mereka ajukan lebih tinggi dari apa yang diajukan Republik. Demokrat mengusulkan agar subsidi yang sama itu dilakukan sampai awal tahun depan, Januari 2020. 

Apa ini artinya? Demokrat mengisyaratkan, agar rakyat Amerika tidak harus cepat-cepat keluar dari WFH dan lockdown-nya. Besaran subsidi ini, yang untuk sebagian orang, lebih besar dibandingkan penghasilan-nya selama ini, diharapkan bisa menekan keinginan untuk cepat-cepat reopening.

Dengan kondisi WFH dan reopening yang tidak perlu buru-buru, maka strategi Demokrat untuk mendorong mail-in voting pada pilpres tahun 2020 ini, bisa membantu meningkatkan partispasi pemilih Demokrat. Para pemilih, dengan demikian, tidak usah harus repot-repot keluar dan mendatangi tempat kotak suara.

Itu sebabnya, kubu Republik sangat menentang rancangan yang akan meningkatkan mail-in voting ini. Republik justru sebaliknya, mereka ini mendorong segera dilakukannya reopening. Di dalam rancangan yang diajukan Republik, yang diberikan justru “back-to-work bonus”, dan bonus ini akan berakhir setelah Pilpres dilakukan. Republik tidak ingin mail-in voting, yang memudahkan partisipasi, menjadi instrumen yang dapat dipergunakan Demokrat. Mail-in voting ini merupakan lonceng  kekalahan kubu Republik, serta Trump.  

Oleh sebab itu, kedua kubu ini akan sekeras mungkin menentang apa yang diajukan kubu lainnya. Pertikaian keras semacam ini bisa menjadi berkah untuk para pembuat headlines. Munculnya berbagai berita ini dalam headlines pada minggu-minggu mendatang, akan dapat dengan mudah mengganggu suasana hati pelaku pasar, yang valuasinya sudah berlebihan. Saya tidak akan heran, jika hal ini memicu koreksi.

Atas dasar ini, dengan diumumkannya stimulus di kawasan Euro-zone, sebesar Euro 750 Milyar, maka pasar Eropa yang menawarkan valuasi lebih menarik, bisa menjadi salah satu pilihan investor.

Tidak hanya sekedar valuasinya yang lebih menarik, tetapi juga terkait dengan denominasi di pasar Eropa, yang tentu saja menggunakan mata uang Euro.

Seperti tampak di dalam gambar, sejak krisis 2008, mata uang Euro ini terus menerus mengalami penurunan. Keberagaman negara yang ada di dalam Eurozone, tidak “semudah” Amerika (dengan Fed-nya) untuk menjawab berbagai permasalahan. Proses dan kecepatan waktu dari setiap pengambilan keputusan di kawasan Eurozone tidak bisa seperti apa yang mampu dilakukan Amerika. Permasalahan di German, tentu memerlukan penanganan yang berbeda dari apa yang perlu dilakukan, katakanlah Yunani, yang dengan kekuatan perekonomian berbeda. Ini juga sebabnya, sementara Amerika sudah melompat jauh dari krisis 2008 (sebelum terjadinya Covid-19), Eropa masih jauh ketinggalan.

Euro telah kehilangan sekitar 30% daya belinya dibandingkan Dollar, dalam 11 tahun ini. Euro turun dari 1.57 di tahun 2008, serta sempat mendekati angka Par (1) di tahun 2017.

Apakah masif-nya injeksi di Amerika ini telah membuat investor mulai mempertanyakan “kehebatan” dollar, serta menjadikan Euro begerak naik?

Kombinasi menguatnya mata uang Euro, dan vauasi pasar Eropa yang lebih reasonable, membuat pasar Europa terlalu menarik untuk dapat diabaikan. Dalam JSP sendiri, dari 19 emiten yang sudah masuk sejauh ini, perusahaan Eropa menjadi mayoritas, dengan jumlah sebanyak 7 emiten  (39%). Sementara sisanya tersebar di BEI (6), Amerika (2), UK (2), Hong Kong (1), New Zeland (1). 

iNDEX GERMAN
INDEX ITALY

Selama bulan Juli, ada dua emiten yang masuk di dalam JSP. Jumlah ini sesuai dengan apa yang disampaikan pada saat pembentukan JSP. Jumlah yang lebih banyak, dari yang direncanakan, yang masuk dalam JSP di bulan Mei dan Juni (17 emiten), seperti saya sampaikan Ketika itu memang lebih disebabkan oleh opportunity di pasar yang datang, dan terlalu menarik untuk diabaikan.

Apabila dalam waktu waktu mendatang ini, pasar juga menawarkan peluang yang sama, tentu hal yang sama mungkin juga dilakukan.

Namun, jika peluang yang baik itu tidak ditawarkan pasar, maka doing nothing seringkali menjadi pilihan yang lebih baik.

Salam,

Joeliardi 

PERSPEKTIF 14 JULI 2020

PERSPEKTIF 14 JULI 2020

Market Cap To GDP Ratio, kemudian dikenal sebagai Buffett Indicator, melalui pernyataan yang disampaikannya pada tahun 2001 di majalah Fortune : “It is probably the best single measure of where valuation stands at any given time”.

Ratio ini digunakan untuk mengukur temperatur pasar, apakah secara umum pasar sedang overvalued (angkanya di atas 100%), atau sedang dalam kondisi undervalued (ratio di bawah 75%). Kisaran ratio antara 75% dan 100% mencerminkan kondisi pasar dalam kondisi fair-value. 

Ratio ini mengukur denyut pasar dalam kisaran waktu relatif panjang  – selaras dengan cara pandang Buffett. Sulit untuk mengharapkan ada fluktuasi besar dalam 2 variable (GDP dan Market Cap), yang menjadi penentu Ratio ini, didalam jangka waktu pendek. Pengecualian terjadi, apabila pasar berhadapan dengan systemic risk, seperti terjadi tahun 2000 dan 2008 di Amerika. Atau tahun 1998 dan 2008 di Indonesia.

Dengan memakai Wilshire 5000 Index, yang mencerminkan cakupan Market perusahaan yang lebih luas dibandingkan Dow Jones dan S&P 500, saat ini Market Cap to GDP Ratio Amerika berada di angka 144%. Sebagai perbandingan, di tahun 2000, sebelum krisis dotcom, Ratio itu berada di angka 137%. Di tahun 2007, sebelum meledaknya housing bubble, Ratio-nya tercatat di 105%. 

Ratio saat ini berada di angka yang lebih tinggi dibanding angka yang mendahului 2 krisis sebelumnya. Apakah Ratio yang masih tinggi saat ini, yang menjadi alasan mengapa Buffett masih belum memanfaatkan kas yang dimilikinya saat ini? Seperti diketahui, Buffett menjual semua saham airliners, dan sebagian saham perbankan pada Kwartal I/2020.

Hasil penjualan itu menambah saldo kas Berkshire. Sejauh ini, kecuali pembelian saham Dominion Energy senilai $ 10 Milyar, Buffett masih belum melakukan pembelian lainnya. 

Terkait shares buy-back, di Kwartal I/2020, Berkshire melakukan buy-back senilai $ 1.7 Milyar. Di Kwartal II/2020, shares buy-back dilakukan lebih agresif. Minggu lalu, data terakhir Berkshire menunjukan, bahwa di dalam periode 23 April sampai 7 Juli 2020, jumlah saham Berkshire turun 1.2%. Berdasarkan angka ini, maka diperkirakan Berkshire telah melakukan shares buy-back sekitar $ 5 Milyar. Angka ini 3 X lipat dari buy-back yang dilakukannya pada Kwartal sebelumnya. Namun, angka ini relatif masih kecil dibandingkan dengan saldo kas yang dimilikinya.

Peran yang dimainkan Fed, yang berhasil mengembalikan confidence di pasar (bisa menjaga Market Cap, yang merupakan faktor pembilang dari Ratio ini), meskipun angka GDP (yang merupakan faktor pembagi dari Ratio ini) mengalami penurunan. Peranan Fed, dengan demikian, membuat Ratio ini terdistorsi.

Dengan tingginya Ratio Market Cap to GDP di Amerika, apakah koreksi akan terjadi dalam waktu dekat ini di Amerika? Tentu saja, saya tidak tahu. Meskipun, dari sisi lain, dengan mudah kita dapat melihat bahwa valuasi berbagai perusahaan sudah berada di angka yang hampir tidak masuk akal. 

Apakah “keberanian” pasar ini, karena pelaku pasar juga menduga Fed akan kembali menjadi dewa penolong, jika terjadi koreksi pasar lagi?

Kebijakan dan perangkat yang dilakukan Fed menghadapi coronavirus ini, sudah keluar dari apa yang pernah dilakukan Fed selama ini. Powell sendiri menyatakan : “We crossed a lot of red lines that had not been crossed before”. Pembelian obligasi dan ETF yang keranjangnya bonds perusahaan tidak pernah dilakukan sebelumnya. 

Apakah jika pasar kembali terkoreksi – karena valuasinya yang sangat tidak masuk akal, dan bukan karena second wave Covid-19 – Fed akan “crossed another red line” lagi, dengan melakukan pembelian saham-saham perusahaan di bursa?. 

Sejauh ini, belum ada indikasi seperti itu. Tetapi kalau red-line ini juga ditabrak Fed, Fed tidak sendirian. Selama ini, Bank Sentral Jepang  dan Bank Sentral Swiss, telah melakukan pembelian saham perusahaan di bursa saham. Saham-saham perusahaan telah menjadi bagian dalam Neraca Bank Sentral itu. Meskipun ada perbedaan karakter dari kedua Bank Sentral ini. Dalam hal BOJ, hanya saham-saham Jepang yang ada Tokyo Stock Exchange yang menjadi sasaran pembeliannya. Dalam hal SNB, saham-saham yang dibelinya tidak hanya perusahaan Swiss saja. Ada nama-nama seperti Apple, Amazon serta Facebook dalam Neraca SNB.  

Bagaimana dengan BEI?  

Dengan relatif mudanya sejarah BEI, tentu kita tidak dapat begitu saja menggunakan ukuran angka ratio GDP To Maket Cap yang sama. Saat ini, agregasi perekonomian kita (GDP) masih belum dapat dicerminkan oleh agregasi kegiatan usaha yang terkumpul di pasar modal. Besaran kegiatan usaha yang sahamnya masih belum tercatat di BEI, angkanya masih tinggi, mencerminkan tingkat partisipasi yang masih rendah.

Dengan demikian, menggunakan persentase ratio 75% sebagai angka indikasi tentang kondisi pasar yang undervalued, untuk BEI, tentunya tidak tepat. Dengan melihat grafik ini, serta memakai persentase yang sama, maka BEI selalu undervalued.

Namun, kita dapat memakai kerangka berpikir yang sama, apabila kita melihat korelasi yang terjadi di antara kedua komponen itu.

Setelah krisis keuangan tahun 1998, sampai tahun 2002, Ratio selalu berada di bawah 20%. Angka ratio 13.2% merupakan angka terendah, yang menawarkan Buying Opportunity #1 di BEI, dengan naiknya IHSG dalam 5 tahun berikutnya. 

Dalam periode  2002-2006, Ratio Market Cap To GDP di Indonesia ini selalu berada di kisaran 20%-40%. Ketika ratio meningkat di atas 40% di tahun 2007, dan angkanya mencapai 44.9%0, terjadi koreksi besar. Koreksi besar itu menjadikan Ratio in jatuh ke angka 17.6% pada tahun 2008. Angka itu membuat pasar menawarkan Buying Opportunity #2 di BEI, dengan kenaikan IHSG yang terjadi dalam 10  tahun berikutnya.

Periode berikutnya, angka 40% merupakan batas bawah Ratio ini.  Ada kotak baru, dengan kisaran 40%-50%, yang menjaga Ratio ini. Di tahun 2017, angka 50% tembus untuk pertama-kalinya, dan mencatat angka 51.3%. Angka ini menjadi angka tertinggi yang pernah dicapai di BEI.

Kedatangan Covid-19 telah membuat Ratio ini turun kembali di bawah angka 40%, angka yang pernah terjadi sebelum tahun 2007. Di bulan Maret 2020, angkanya sempat mencapai 33.7%, dan saat ini tercatat di 37.5%.

Atas alasan ini juga, dalam catatan sebelumnya, saya menyampaikan, jika sejarah bisa menjadi pedoman, maka saat ini pasar menawarkan Buying Opportunity #3 di BEI. Khususnya untuk mereka yang belum, atau tidak, mendapatkan Buying Opportunity #1 dan #2, yang terjadi 20 dan 10 tahun yang lalu.

Tentu saja dalam perjalanannya, kenaikan ini tidak akan berjalan lurus dengan garis yang mulus. Berbagai berita akan menjadi elemen utama yang akan membentuk harganya di dalam satuan waktu yang pendek, baik berita tentang perusahaan sendiri, maupun secara umum.

Tidak lama lagi, kita akan mendapatkan informasi tentang kinerja yang terjadi pada Kwartal II/2020. Covid-19 telah menurunkan proyeksi dan estimasi kinerja perusahaan. 

EPS sejumlah perusahaan diperkirakan akan mengalami penurunan di tahun 2020, dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Untuk sekedar contoh saja, dapat diberikan contoh dua bank utama di BEI (angka EPS tahun sebelumnya vs estimasi EPS di tahun ini) : BBCA (1,158 vs 895), BBRI (280 vs 171).

Sangat bisa dipahami, apabila perusahaan mengambil langkah sangat konservatif, dan memasukan elemen terburuk dalam kondisi krisis ini. Realitas angka yang lebih baik dari estimasi, selalu menjadi kabar baik yang sangat disenangi pasar. Oleh karenanya, attitude seperti ini pada saat krisis, merupakan hal yang dapat dipahami. Kita akan melihat di bulan-bulan mendatang ini, apakah akan muncul elemen surprise dari estimasi yang sangat konservatif ini.

Salam,

Joeliardi Sunendar

PERSPEKTIF 10 JULI 2020

PERSPEKTIF 10 JULI 2020

Rally yang terjadi di C

hina stocks tampak terlihat pada grafik di bawah ini.

China telah menjadi kekuatan perekonomian terbesar ke dua di dunia. Untuk mereka yang ingin memiliki exposure di kelompok perusahaan-perusahaan besar di China, bisa mempertimbangkan ASHR. Keranjang dari ETF ini, dirancang untuk dapat mencerminkan 300 China-A shares yang merupakan 300 perusahaan terbesar di China Stock Market. 

Stimulus fiskal yang dilakukan Amerika Serikat – dan membuat Neraca Fed membengkak dari $ 4.2 Trilyun (Maret) menjadi $ 7.1 Trilyun pada bulan Mei, menimbulkan sejumlah kekhawatiran. 

Membengkaknya defisit, yang diakibatkan oleh stimulus fiskal di atas, diperkirakan dapat menurunkan nilai dollar sebagai denominasi asset.

Sampai sekarang ini, dollar masih bisa mempertahankan privilege-nya sebagai mata uang dunia. Mereka yang berpikir mencari alternatifnya, selalu kembali tersandung TINA (There Is No Alternative).

Seperti disampaikan South China Morning Post, 7 Juli 2020, data-data SWIFT system terakhir, masih menunjukan kuatnya dominasi dollar ini  dalam international payment system. Transaksi dalam Dollar tercatat 43%, sementara Yuan masih sangat kecil (1.66%). Besaran GDP kedua negara tidak (atau belum?) tercermin dalam international payment.

Prospek penurunan nilai Dollar, tentu saja mengkhawatirkan investor dan negara yang memiliki Reserve dalam Dollar. Nilai cadangan devisa China saat ini sekitar $ 3.1 Trilyun, dan persentase terbesarnya dalam US Treasury. Selain itu, ada sekitar $ 2 Trilyun dalam bentuk investasi, yang sebagian besar dalam denominasi dollar.

Apakah ada upaya pemerintah China untuk meningkatkan keberadaan pasar modalnya, untuk dapat memperkuat posisinya saat ini? Dengan meningkatkan daya-tarik pasar modalnya, maka posisi Yuan sebagai  mata-uang perekonomian terbesar dunia, diharapkan dapat terangkat juga.

Saat ini Market Cap pasar modal China sekitar 59.3 Trilyun, atau setara $ 8.5 Trilyun, hanya sekitar 28% dari nilai Market Cap Amerika ($ 30.4 Trilyun). Sementara itu, nilai GDP China ($ 14.1 Trilyun) setara dengan 65.9 % nilai GDP Amerika ($ 21.4 Trilyun). Apabila kita memakai metrik yang disebut Buffett Indicator (Ratio Market Cap terhadap GDP), maka opsinya adalah a) pasar Amerika yang sudah kemahalan, atau b) pasar China yang masih relatif murah. 

Dari data Reuters, arus dana investor asing di Shenzen Stock Exchange di tahun 2019 naik sebesar 68% dibandingkan arus masuk tahun 2018. Untuk bisa kembali ke level yang pernah dicapai Shanghai SX di tahun 2015, pasar China masih perlu naik 35%.

China-based technology stocks, seperti juga di Amerika, menunjukan kenaikan yang lebih tinggi dibanding Index, seperti yang ditunjukan di gambar ini (Tencent, yang listed di HKSE dan Alibaba, di Nasdaq).

Dari Top-10 perusahaan yang berada dalam MSCI World Index (Total Market Cap, $ 43 Trilyun), 6 perusahaan diantaranya merupakan tech-based companies : Facebook, Amazon, Apple, Alphabet (Google),  Visa dan Microsoft. Mereka mewakili sekitar 12.5% MSCI World Index atas dasar data-data bulan Maret. 

China memiliki sejumlah perusahaan berbasis teknologi, yang menjadi  cerminan kelompok teknologi Amerika di atas : Tencent, Alibaba, JD, Baidu, Xiaomi, iQiyi, NetEase. 

Akhir Juni, Market Cap ke 6 perusahaan Amerika berbasis teknologi di atas tercatat $ 7.4 Trilyun. Sementara itu, total Market Cap Tencent, Alibaba, Baidu dan JD.com, iQiyi dan NetEase sekitar  $ 1.3 Trilyun.

Akan sangat menarik, untuk melihat potensi sejumlah perusahaan di sektor teknologi dengan target pasar 2 Milyar penduduk seperti China.

Salam,

Joeliardi Sunendar

PERSPEKTIF 7 JULI 2020

PERSPEKTIF 7 JULI 2020

Di dalam catatan terdahulu, saya sudah menyampaikan bahwa koreksi Covid-19 ini menjadi Buying Opportunity of a life time #3, bagi mereka yang tidak mendapatkan Opportunity yang sama di tahun 1998 (#1), dan tahun 2008 (#2).

Masih belum membaiknya angka korban Covid-19, akan tetap menjadi hal yang memprihatinkan. Kerisauan karena belum terkendalinya soal ini, masih dapat mempengaruhi pergerakan pasar.

Pada sisi lain, besaran response kebijakan moneter dan stimulus fiskal – yang mulai menimbulkan debat sampai ke akar teori ekonomi – serta dibukanya kembali kegiatan perekonomian, akan memberikan nuansa baru dalam pergerakan pasar. Data dan statistik yang ditunjukan oleh kegiatan perekonomian akan mulai mendapatkan perhatian.

Data-data PMI (Purchasing Manager Index) dan Consumer Confidence mulai menunjukan kondisi “less bad”. Angka PMI dan CC di bulan Juni, melakukan pembalikan dan bergerak naik dibandingkan bulan Mei.

Salah satu response kebijakan moneter yang dilakukan berbagai Bank Sentral, adalah dengan menurunkan suku bunga. Di negara maju, suku bunga mendekati angka 0, sementara di negara berkembang, seperti Indonesia, meskipun tidak sampai mendekati 0, namun berada dalam kisaran terendah selama ini.

Atas alasan ini, pasar modal – dengan instrumen saham sebagai asset class – memiliki potensi untuk melanjutkan peningkatannya.

Sebagai salah satu asset-class, apa yang ditawarkan imbal-hasil saham akan dibandingkan dengan imbal-hasil yang bisa dihasilkan dari asset-class lainnya.  

Tingkat suku bunga, menjadi faktor penting yang akan mempengaruhi pembentukan harga saham di pasar modal.

Bayangkan, jika 650 perusahaan yang ada di BEI ini merupakan sebuah perusahaan. Peningkatan kekayaan pemilik saham perusahaan, hanya akan ditentukan oleh seberapa besar hasil yang diperoleh perusahaan dari modal yang ditanamkannya.

Kalau modalnya Rp 1 Juta, dan perusahaan bisa menghasilkan Rp 150 Ribu (ROE 15%), maka kekayaan pemegang saham bertambah sebesar Rp 150 Ribu. Tidak kurang, tidak lebih.

Peningkatan kekayaan perusahaan ini (apakah itu sebuah perusahaan yang dijadikan contoh ini, atau 650 perusahaan di BEI), tidak akan naik atau turun oleh apapun yang dilakukan para pemegang sahamnya.

Jika ada pemegang saham yang menjual sahamnya kepada pemegang saham yang lain, keuntungan atau kerugian yang terjadi hanya beralih tempat saja. Keuntungan pemegang saham A, menjadi kerugian si B, dan begitu seterusnya.

Apapun yang dilakukan oleh A, B atau C, D, dan para pemegang saham lainnya, tidak memiliki konsekwensi apapun kepada perusahaan. 

Tentu saja ada pihak lain, yang kantongnya bertambah – dan diambil dari A, B, C, D dst.  – yaitu mereka yang membantu terjadinya transaksi di antara A, B, C, D dan seterusnya itu. Tentu saja para pembantu yang memudahkan berjalannya transaksi ini, menginginkan frekwensi yang terjadi semakin sering. Semakin sering frekwensi itu dilakukan, maka akan semakin besar juga bagian yang diperolehnya – at the expense of A, B, C, D dst. yang menjadi pemilik perusahaan. Tidak heran apabila para pembantu ini mengarahkan tindakannya untuk sedapat mungkin membuat terjadinya frekwensi itu sesering mungkin.

Sekali lagi, apa yang terjadi di atas, tidak akan mempengaruhi besaran kekayaan perusahaan. Kekayaan perusahaan hanya naik Rp 150 ribu, dari apa yang dapat dihasilkannya.

Di ruangan satunya lagi, meskipun apa yang dihasilkan perusahaan ini angkanya tetap dalam setahun fiskal, Rp 150 Ribu, apa yang dilakukan oleh A, B C, D dst. bisa sangat berbeda. Bisa saja A, yang hari ini duduk di kursi penjual, besok bisa beralih duduk di kursi pembeli. Begitu juga dengan B, C, D dan seterusnya. Kursi mereka bisa cepat beralih, meski bertambahnya kekayaan perusahaan angkanya tidak berubah.

Lantas apa hubungannya dengan suku bunga?

  1. Pertama kita lihat dulu dari kacamata saham sebagai instrumen investasi. Jika suku bunga turun, maka beban bunga yang harus dibayar perusahaan juga akan menurun. Jika biaya bunga turun, maka hasil yang dapat diperoleh perusahaan – ceteris paribus – tentu tidak lagi Rp 150 ribu, tetapi akan lebih besar dari Rp 150 Ribu. Angka yang lebih tinggi dari Rp 150 Ribu, akan membuat A, B, C  dst. menunjukan reaksi berbeda saat mereka bertransaksi,  dibandingkan ketika hasil perusahaan A Rp 150 Ribu. Penurunan suku bunga ini, secara umum, menjadi katalis peningkatan harga saham di bursa.
  • Kedua, dari titik-pandang saham sebagai salah-satu asset class, maka imbal hasil yang ditawarkan saham ini akan dibandingkan dengan apa yang ditawarkan asset-class lainnya. Jika suku bunga di negara itu 25%, dan bunga obligasi yang 25% ini menjadikan hasil bunganya dalam 4 tahun sudah dapat mengembalikan dana pokok, apa yang akan terjadi di pasar saham? Para pelaku pasar tentu hanya akan tertarik, jika pasar modal dapat memberikan imbal-hasil yang lebih dari 25% yang tidak berisiko itu. Angka PER tidak lain dari kebalikan angka suku bunga. Suku bunga sebesar 25% sama artinya dengan PER 4 X. Oleh karena itu, maka hanya apabila pasar menawarkan PER 4X atau lebih kecil, investor baru akan tertarik berinvestasi di pasar modal. Dengan demikian, hal ini akan menjadikan PER yang dapat ditoleransi pasar berada di kisaran 4X saja. Jika suku bunga negara di itu menunjukan trend penurunan, maka angka PER yang dapat ditolerir juga tentu akan meningkat. Jika suku bunga itu turun dari 25% ke 7%, maka PER yang bisa diterima oleh pasar tidak lagi 4X (100 dibagi 25), tetapi menjadi sekitar 14X (100 dibagi 7).

Fenomena yang menunjukan korelasi antara suku bunga serta kinerja index di pasar modal ini, dapat kita amati dari apa yang terjadi di BEI dan di Amerika. Tingginya suku bunga, merupakan kabar buruk untuk pasar modal. Sebaliknya, rendahnya suku bunga akan menjadi kabar baik bagi mereka yang melakukan investasi di pasar modal.

Dow Jones, 1964 : 874. 1981 : 875

Buffett jarang menulis, kecuali melalui Annual Report Berkshire, yang biasa dibagikan satu hari sebelum AGM. Di dalam salah satu tulisannya di Fortune, tahun 1999, dia menulis tentang angka Dow Jones di atas, yang angkanya tidak kemana-mana dalam 17 tahun.

Kita tahu, holding-time investasinya sangat panjang. Namun, apabila dia harus menunggu 17 tahun, dan kemudian tidak mendapatkan apa-apa dalam 17 tahun seperti ditunjukan di atas, saya yakin Buffett akan gerah juga. 

Di dalam periode 17 tahun itu, GDP Amerika (yang mewakili agregasi kegiatan usaha di Amerika) meningkat 370%. Namun peningkatan ini hanya membuat Dow Jones naik 1% saja. 

Terjadinya fenomena ini disebabkan oleh perkembangan suku bunga, yang terjadi dalam periode ini. Suku bunga naik dari 4% di tahun 1964, dan mencapai 15% pada tahun 1981. Peningkatan suku bunga, seperti dijelaskan di atas, mempengaruhi toleransi atas angka PER yang dapat diterima oleh pasar. 

Dengan kondisi suku bunga yang tinggi, semakin kecil dorongan untuk investor berinvestasi di pasar modal. Untuk apa mengalokasikan dana di saham, jika non-risk investment, seperti obligasi, bisa memberikan imbal-hasil yang baik (15%)?

Sejak tahun 1981, kondisi suku bunga yang tinggi ini berubah, dengan diangkatnya Volcker sebagai Chairman Fed. Terjadi pembalikan trend suku bunga, yang turun dari angka 15% (1981) menjadi 5% pada tahun 1998. Sementara GDP Amerika naik sekitar 300%, kenaikan Dow Jones mencatat angka lebih tinggi, 1,000% lebih dari 875 menjadi 9,181. Hal ini bisa diterangkan dengan apa yang sudah dijelaskan di atas. 

Beban bunga yang berkurang, dan dapat meningkatkan laba, menjadi resep ideal, karena dikombinasikan dengan kenaikan angka PER yang dapat ditoleransi pasar. Dengan turunya suku bunga, dari 15% ke 5%, maka PER sebesar 15-16 kali menjadi angka yang dapat diterima oleh pasar. Tidak lagi 6-7 kali, seperti ketika suku bunga masih 15%.

Fenomena yang sama juga terjadi di Indonesia. Kenaikan angka GDP di dalam 12 tahun (1990-2002) tidak menimbulkan pengaruh apapun  terhadap angka IHSG. Angka IHSG tahun 2002 (425) kurang lebih sama dengan angka IHSG tahun 1990 (418). Penyebab utama hal ini terletak pada suku bunga double-digit yang menandai perekonomian kita saat itu. Bahkan pada tahun-tahun 1998-1999, suku bunga mencapai 70%. Insentif apa yang dapat mendorong investasi di pasar modal, apabila non-risk investment menghasilkan yield 20%-25%, dan bahkan sempat 70% dalam beberapa waktu?

Terjadinya trend penurunan suku bunga di awal tahun 2000-an telah mendorong terjadinya pembalikan kondisi ini. Dalam 17 tahun (2002-2019), GDP Indonesia meningkat 522%. Penurunan suku bunga – yang menghasilkan kombinasi peningkatan EPS dan kenaikan PE Ratio yang dapat ditoleransi pasar, membuat IHSG naik dengan angka yang lebih tinggi dalam periode yang sama, yaitu 1,482%. Penurunan suku bunga dari double-digit menjadi single digit berada di balik peningkatan ini.

Trend penurunan suku bunga yang masih akan terus berlangsung ini, menjadi katalis untuk mendorong peningkatan harga saham di bursa.

Salam,

Joeliardi

PERSPEKTIF 2 JULI 2020

PERSPEKTIF 2 JULI 2020

Di beberapa catatan sebelumnya, kita sudah melihat bagaimana Fed dan Bank Sentral lainnya memakai resep yang sama dengan apa yang dilakukan saat krisis tahun 2008, Quantitative Easing/QE. QE sekarang ini dilakukan dengan dosis lebih tinggi.

 QE juga dilakukan di Indonesia. Dalam pernyataannya tanggal 26 Mei, BI menyampaikan “Policy coordination between the Government, Bank Indonesia, OJK and LPS towards economic recovery, Bank Indonesia has injected liquidity into the banking industry totaling around Rp 583.5 Trilyun”. 

QE sebesar Rp 583.5 Trilyun di atas itu, dilakukan BI melalui beberapa mekanisme, baik melalui pembelian SBN, repo maupun penurunan RR (Giro Wajib Minimum).

Tanggal 26 Mei 2020, BI memiliki SBN senilai Rp 443 Trilyun, atau naik sebesar Rp 178 Trilyun, dibandingkan dengan angka akhir tahun 2019. Angka ini memberikan indikasi besaran SBN yang dijual oleh investor, yang kemudian dibeli oleh BI.

Di bulan Mei, SBN yang dimiliki perbankan Indonesia tercatat sekitar Rp 886 Trilyun. BI sudah mengisyaratkan, bahwa bank-bank itu dapat melakukan repo SBN, jika mereka membutuhkan tambahan likuiditas. Saya masih belum tahu, sampai sejauh ini, seberapa besar dari SBN itu yang beralih ke Neraca BI. 

Seperti telah disampaikan pada Perspektif sebelumnya, angka defisit tahun 2020 ini diperkirakan mencapai angka Rp 900 Trilyun lebih. 

Peningkatan defisit ini, mengharuskan pemerintah untuk menerbitkan hutang baru. Apabila akhirnya BI harus menyerap SBN sebesar Rp 574 Trilyun, karena pasti tidak ada investor yang akan berminat membeli SBN dengan bunga 0, atau di bawah benchmark.

Berdasarkan Laporan Keuangan BI di tahun 2019, Neraca BI tercatat sebesar Rp 2,351 Trilyun. Berbagai kebijakan yang disebutkan di atas, jelas akan menimbulkan ekspansi besar dalam Neraca BI.

Dampak besar yang ditimbulkan Covid-19 mengharuskan otoritas saat ini mengambil tindakan-tindakan darurat, seperti disampaikan di atas. Tidak melakukan apa-apa, akan menimbulkan konsekwensi yang lebih parah.

Namun demikian, injeksi likuiditas yang sangat masif ini akan menjadi langkah awal terjadinya proses penurunan nilai kertas.

Menjadi bagian dari pemilik (saham) berbagai perusahaan yang baik, dapat menjaga kita dari penurunan nilai uang kertas, yang merupakan bentuk lain dari kenaikan real assets. 

Apabila sejarah dapat dipakai sebagai referensi, apa yang sekarang ini terjadi di pasar, merupakan Buying Opportunity of a life time #3 di BEI.

Di dalam buku CSBPM Vol I, saya menyampaikan, bahwa “…Tidak ada seorangpun yang tahu, apakah mungkin akan terjadi lagi kepanikan di pasar…………….”.(CSBPM, Page 232).

Selanjutnya, “…….Jika memang hal itu terjadi lagi, kira-kira kapan akan terjadinya?………………….Tidak ada seorangpun yang tahu, apalagi bisa meramalkan kapannya……………Namun fakta juga menunjukan, bahwa kepanikan pasar itu sering terjadi. Di Amerika, terakhir terjadi tahun 2008……………….Indonesia juga mengalami hal ini, saat terjadinya krisis ekonomi paling parah di tahun 1998”. (CSBPM, Page 232).

Terjadinya koreksi besar di tahun 1998 dan 2008, menjadi periode di pasar modal yang menawarkan Buying Opportunity of a life time #1 dan #2 di BEI, yang sejarahnya belum terlalu panjang ini. Angka IHSG tidak pernah lagi menengok kebelakang, seperti tampak di gambar.

Dalam buku itu juga saya menyampaikan, “Berdasarkan pengalaman yang saya alami selama ini, rasanya cukup aman untuk mengatakan, bahwa jika ada koreksi besar-besaran di pasar modal (dengan koreksi 40% atau lebih, dan bukan koreksi normal 2%-10%), masa tiga tahun menjadi periode penantian normal, untuk pasar kembali menemukan keseimbangan barunya” (CSBPM, Page 233).

Covid-19 telah menimbulkan March Madness di BEI, yang menjadikan  angka IHSG turun sekitar 41%. Skala kecemasan pasar sebagai akibat Covid-19 ini setara dengan apa yang terjadi tahun 1998 dan 2008.

Bagi mereka yang memang masih terlalu muda untuk bisa mengalami Buying Opportunity of a life time #1 dan #2, sekarang ini pasar sedang menawarkan Buying Opportunity of a life time #3. Bisa jadi Anda harus menunggu sepuluh tahun lagi, untuk mendapatkan kesempatan yang sama.

Berbagai berita, baik tentang perkembangan Covid-19, perekonomian secara umum, maupun kinerja perusahaan, dalam waktu mendatang ini pasti akan mempengaruhi pergerakan harga pasar sehari-harinya. Namun jika Anda fokus dengan #1) membeli perusahaan yang baik, #2) membelinya dengan harga yang baik, #3) memberi kesempatan kepada waktu yang memadai untuk bekerjanya investasi itu, maka apa yang saya sebut Buying Opportunity of life time #3 ini dapat memberi Anda imbalan yang lebih dari memuaskan. 

PELUANG DARI PARADIGMA BARU FITNESS DI NEW NORMAL

Seorang Hedge Fund Manager, yang juga menjadi member SoulCycle  https://soul-cycle.com yang sangat fanatik, di e-mailnya bercerita ke saya, bahwa dia mungkin akan mengembalikan sepeda SoulCycle yang dipakainya selama ini, untuk beralih ke Peloton/PTON.

Kedatangan Covid-19, selain meningkatkan perhatian investors pada perusahaan seperti Zoom, juga meningkatkan popularitas interactive fitness platform, seperti PTON, yang disebutkan Hedge Fund Manager di atas.

Saya bukan mau merekomendasikan PTON. Peningkatan popularitas-nya tampak dalam peningkatan Revenue dalam Kwartal I sebesar 63%, paid-subscribers meningkat 64%, dan 93% retention rate untuk TTM.

Angka-angka yang sangat impresif. Namun, valuasi PTON yang terlalu sulit untuk dapat saya pahami, tidak memungkinkan saya berinvestasi di perusahaan ini. Dalam 3 bulan ini, saham PTON naik 200%, dari $20 menjadi $60, dengan Market Cap USD 17 Milyar.

Dana sebesar itu cukup untuk membeli 12 ULTJ, plus uang kembalian $ 750 Juta. 

Dengan Market Cap sebesar itu, tahun lalu PTON mencatat Revenue sebesar $915 Juta. Labanya tahun lalu? Negatif $195 Juta. Bagaimana dengan CFO-nya? Negatif $108 Juta, meskipun untuk 9 bulan pertama tahun fiskal ini, sudah positif $ 49 Juta. Modalnya? $ 1.5 Milyar.

Saya tidak mungkin tega membeli perusahaan yang angka EV/EBITDA-nya 316 kali, dan Price/Sales-nya 18.5X. Namun, seperti disebutkan di atas, hal ini tidak bisa menghalangi kenaikan harganya sebesar 200% dalam 3 bulan ini.

Mengapa saya menyinggung PTON ini? Karena ada satu produsen gym  dan fitness equipment di Milan Stock Exchange, yang sekarang dalam proses eksekusi untuk melakukan apa yang dikerjakan PTON. Saat ini, saya masih dalam proses menghimpun kembali data-data perusahaan ini. Saya mengharapkan awal minggu depan, sudah bisa rampung, dan bisa memasukan perusahaan ini kedalam JSP.

Berbeda dengan PTON, valuasi perusahaan masih sangat reasonable. Market Cap-nya, kurang dari 10% Market Cap Peleton. Revenue TTM, sekitar Euro 670 Juta, sehingga Price/Sales-nya sekitar 2X. Laba dalam 3 tahun ini naik hampir 100%, dari Euro 43 Juta (2016) ke Euro 83 Juta di tahun 2019. CFO dalam periode yang sama, naik 38%, dari Euro 97 Juta (2016) ke Euro 135 Juta. Angka-angka ini, berbeda dengan angka-angka PTON, masih dapat dikunyah oleh pemikiran saya.

Apabila data-datanya sudah lengkap, saya akan kirim ke member JSP.

Salam,

Joeliardi

PERSPEKTIF 1 JULI 2020

PERSPEKTIF 1 JULI 2020

Hari terakhir perdagangan di bulan Juni, IHSG ditutup di angka 4,905, dan mencatat kenaikan 3.2% dalam bulan Juni. 

Setelah turun 27.94% di Kwartal I, angka IHSG mencatatkan kenaikan 8.06% di Kwartal II. Angka ini masih belum dapat memperbaiki angka penurunan IHSG dalam 6 bulan pertama tahun 2020. YTD, IHSG masih mencatat penurunan sebesar 22.13%. Angka ini menempatkan BEI di urutan terbawah, dengan kinerja terburuk diantara 6 negara ASEAN.

Investor asing selama tahun 2020, masih menunjukan Neto Penjualan sebesar Rp 15.6 Trilyun. Hal ini dapat menjadi salah-satu alasan belum pulihnya kembali angka IHSG. Namun dengan Neto Penjualan sebesar Rp 24.9 Trilyun (Januari sampai Minggu ke-II Mei), tampak bahwa dari mulai Minggu ke-III Mei, investor asing sudah mulai masuk kembali ke BEI. Selama bulan Mei, investor asing ini mencatatkan Neto Pembelian Rp 8 Trilyun.

Namun demikian, sampai sejauh ini, tahun 2020 ini bukan merupakan tahun yang baik untuk saham sebagai asset-class.   

Dari sebanyak 36 index bursa dunia, 35 bursa diantaranya di Semester I/2020 ini masih menunjukan angka negatif. Bursa Turki menjadi satu-satunya bursa yang berhasil menunjukan angka positif, sebesar 1.9%. Austria menempati posisi terburuk, dengan penurunan sekitar 29.9%.  

BERBAGAI BEBAN PEMBIAYAAN DEFISIT

Neto penjualan investor asing di BEI, relatif masih lebih baik dari arus keluarnya dana di pasar uang. Berdasarkan laporan BI pada tanggal 26 Juni, saya kutip, “………….non-resident investors have booked a net sell totaling Rp 141.72 trillion in the domestic financial markets”.

Adanya kebutuhan dana buat menutup proyeksi defisit di atas 6% dari GDP (untuk pertama-kalinya setelah krisis 1998), akan mengharuskan pemerintah untuk menerbitkan surat hutang baru lagi, sekitar Rp 904 Trilyun. Adanya rencana pasokan hutang baru ini, dalam jumlah yang sangat besar, bisa menjadi salah-satu faktor dalam sikap wait-and-see investor asing.

Untuk sebagian, hal ini menjadi penyebab angka CDS-Indonesia yang masih belum turun di bawah angka 100. Meskipun saat ini angka CDS ini (130) sudah di bawah angka terburuk di bulan Maret (290), tetapi masih jauh di atas angka bulan Februari (58). 

Demikian pula dengan suku bunga SUN-10 tahun, yang masih belum mau turun di bawah 7%. Besarnya spread SUN-10 tahun dan Treasury-10 tahun, dan tingkat inflasi yang masih terjaga, seharusnya yield SUN bisa mulai turun.  

Sampai sekarang ini, seperti diberitakan Bloomberg, siapa yang bakal menanggung beban defisit masih dirundingkan oleh pemerintah serta BI. Total anggaran untuk Covid ini angkanya mencapai Rp 904 Trilyun. 

Berdasarkan proposal yang ada, dana ini akan dipergunakan 1) untuk kebutuhan belanja publik, seperti kesehatan, jaring pengaman sosial serta program ketersedian pangan, sebesar Rp 397.6 Trilyun; 2) untuk kebutuhan non-publik, seperti program bantuan untuk UMKM dengan jumlah dana sebesar Rp 176.8 Trilyun.

Untuk #1 dan #2 ini, total Rp 574.4 Trilyun, pemerintah mengharapkan bebannya ditanggung oleh BI. Bagaimana caranya? Pemerintah akan menerbitkan SUN untuk kebutuhan dana ini, tetapi untuk #1, SUN itu akan dibeli oleh BI dengan suku bunga 0%. Sementara untuk #2, SUN yang akan dibeli BI ini, suku bunganya 1% di bawah suku-bunga acuan. 

Untuk kebutuhan dana sisanya, Rp 329.6 Trilyun, penerbitan SUN yang dengan suku bunga yang berlaku, akan menjadi beban pemerintah.

Potensi adanya penerbitan surat hutang baru ini, akan menaikan ratio Hutang terhadap GDP. Ratio ini tidak mungkin lagi bisa dipertahankan di bawah 30%. Kombinasi peningkatan hutang, dan kontraksi nilai GDP akan menjadikan ratio lebih tinggi lagi. 

Adanya rencana BI yang akan menjadi pembeli SUN baru, merupakan bentuk lain dari QE. Akan terjadi ekspansi Neraca BI. Namun yang akan menjadi pertanyaan menarik adalah, bagaimana BI meng-absorp suku bunga 0 itu (untuk SUN sejumlah Rp 397.6 Trilyun). Kalau kita lihat di Laporan Keuangan BI tahun 2019 (saya pernah posting di IG, tanggal 1 Juni, perkembangan Neraca BI dari tahun 2000 sampa 2019), selama tahun 2019, BI menghasilkan Surplus sebesar Rp 33 Trilyun. Rencana untuk mengalihkan sebagian beban defisit ini kepada BI, tentunya bisa mempengaruhi surplus yang bisa dihasilkannya. Terlepas dari angka-angka ini, terjadinya hal ini akan menjadikan banyak orang yang mulai bertanya : Bagaimana dengan independensi BI?

Akan menarik, untuk melihat bagaimana perkembangan dari dinamika ini, serta sektor apa saja yang akan mendapat manfaat dari program yang akan dilakukan ini.

Untuk mereka yang sudah join di JSP, dan belum membaca masuknya satu emiten lagi di JSP, yang diposting semalam, dapat membacanya.

Salam,

Joeliardi

PERSPEKTIF 29 JUNI 2020

PERSPEKTIF 29 JUNI 2020

Akan sangat menarik untuk bisa mengetahui, apa yang akan dapat kita baca di media-media tahun 2025, atau tahun 2030, tentang apa yang akhirnya terjadi setelah berakhirnya krisis Covid-19 di tahun 2020 ini. (Atau krisis Covid-19 ini tidak akan pernah berakhir?).

Tentu sekarang ini tidak ada yang dapat mengetahui apa yang terjadi, setelah krisis 2020 ini. Dan apa yang akan ditulis media, pada saat kita memasuki tahun 2025, atau tahun 2030 nanti. 

Persis, seperti apa yang kita saat ini sudah mampu kita lakukan.

Saat ini, setelah 22 tahun terjadinya krisis besar 1998 (Indonesia), dan setelah 12 tahun terjadinya resesi besar di tahun 2008 (Amerika), kita baru bisa melihat dengan lengkap krisis itu. Selain itu, kita juga saat ini sudah tahu apa yang terjadi setelah krisis itu berakhir.

Setelah krisis tahun 1998, tidak ada satupun pemilik Bank besar yang dapat mempertahankan Bank-nya. Namun, industri perbankan bukan hanya sekedar masih relevan, tetapi bahkan mencatat pertumbuhan yang sangat besar di dalam 20 tahun terakhir ini. 

Apakah Salim Group akan lebih berusaha keras ketika itu, agar mereka tidak harus melepaskan Bank-nya? Apabila mereka tahu, bahwa Bank yang Assets-nya masih Rp 60-an Trilyun ketika itu, bisa menjadi Rp 919 Trilyun seperti saat ini, mereka pasti bersikeras mempertahankannya.

Masalahnya, tidak ada seorangpun yang tahu. Apalagi dengan kondisi mencekam yang terjadi pada saat itu. Meskipun pemegang mayoritas beralih, namun pertumbuhan perekonomian Indonesia bisa membuat Bank BCA mempertahankan posisinya, sebagai Bank swasta nomor 1 di Indonesia, seperti posisinya waktu masih ditangan Salim Group.

Tidak ada pertumbuhan ekonomi sebuah negara, yang tidak dibarengi dengan pertumbuhan industri perbankan. GDP Indonesia sudah naik dari 115 Milyar US Dollar (1998) menjadi 1.1 Trilyun US Dollar saat ini. Naik 10 naik sepuluh kali lipat. Pertumbuhan ekonomi Indonesia telah menjadi ladang subur bagi industri perbankan.

Pertanyaan kita, ketika Covid-19 masih berada di sekeliling kita seperti saat ini, apakah Covid-19 ini akan membuat peran industri perbankan tidak lagi relevan?

Apakah peranannya akan berkurang, dengan kemunculan Covid-19 ini sehingga membuat kue bisnis industri perbankan semakin kecil? Kalau jawabannya ya, siapa yang lantas mengambil-alih peran intermediasi ini?

Covid-19 menimbulkan dampak buruk terhadap perbankan, kita tidak perlu meragukan lagi. Namun dampaknya tentu berbeda untuk setiap Bank. Dalam beberapa kwartal ke depan, kita akan melihat bagaimana dampak Covid-19 ini kepada masing-masing bank. 

Sejauh ini, saya masih belum melihat ada opsi lain yang akan membuat peran perbankan tidak lagi relevan di Indonesia. Ke-4 bank terbesar, menurut hemat saya, masih akan tetap menguasai industri perbankan nasional. 

Perusahaan Yang Unggul Setelah Krisis  

Seorang analis mengirim e-mail kepada saya minggu lalu. Di e-mail itu, dia bercerita tentang studi yang dilakukan 3 orang Professor Harvard di tahun 2009, tidak lama setelah terjadinya Great Recession Amerika tahun 2008. Saya sudah menyinggung sedikit soal ini dalam Instagram saya, ketika berbicara soal satu emiten di LSE yang baru masuk dalam JSP hari Jumat lalu. 

Mereka bertiga meneliti kinerja 4,700 emiten sebelum, pada saat dan setelah krisis, yang terjadi pada 3 krisis sebelumnya, yaitu 1980-1982, 1990-1991 dan 2000-2002.

Hal yang mereka teliti adalah, apa yang emiten-emiten lakukan atas 6 hal di bawah ini, pada saat kondisi berubah dari baik, menjadi buruk dan kemudian membaik lagi.

Berikut ke-6 items itu :

  1. Jumlah pegawai
  2. Harga Pokok Penjualan (COGS)
  3. R & D (Riset dan Pengembangan)
  4. Marketing
  5. Belanja Modal (CapEx)
  6. Akuisisi

Berdasarkan kajian mereka, mengacu kepada apa yang dilakukan oleh perusahaan itu atas ke-6 hal di atas, mereka memasukan perusahaan kedalam 4 kelompok berikut ini :

  1. Prevention-focused : Memotong pengeluaran, dan pemotongan itu lebih besar dibanding yang dilakukan oleh pesaingnya.  
  2. Promotion-focused : Meningkatkan belanja promosi yang lebih besar dibandingkan pesaingnya
  3. Pragmatic : Menerapkan kombinasi prevention dan promotion-focused
  4. Progressive : Menurunkan COGS. Karyawan yang diberhentikan, jumlahnya lebih kecil dibanding apa yang dilakukan perusahaan lain yang sejenis. Selain itu, mereka juga mengeluarkan belanja lebih banyak untuk melakukan promosi, belanja modal dan juga melakukan akusisi.

Hal terakhir ini, akusisi – dalam kondisi krisis – yang dilakukan emiten di LSE, menjadi alasan pokok mengapa emiten ini dimasukan kedalam JSP.

Dari kajian yang dilakukan ini, terdapat karakteristik dari perusahaan-perusahaan yang keluar dari krisis itu dengan kondisi yang lebih baik.

Pengurangan biaya, lebih difokuskan kepada upaya-upaya untuk bisa meningkatkan dan memperbaiki efisiensi operasi, jadi tidak berbentuk pemberhentian karyawan hanya sekedar untuk mengurangi biaya.  

Peningkatan efisiensi ini juga memungkinkan perusahaan untuk dapat membelanjakan sumber-dana yang dimiliki, yang dapat memperbaiki kinerja perusahaan melalui pemasaran, R&D dan akuisisi.

Dia memberikan contoh apa yang dilakukan Target. Target menaikan belanja promosi dan belanja modal-nya, masing-masing 20% dan 50% di atas apa yang perusahaan ini belanjakan, sebelum krisis terjadi.

Jumlah outlet meningkat dari 947 menjadi 1,047 unit. Peningkatan ini dilakukannya paralel dengan program peningkatan produktifitas serta perbaikan efisiensi dalam supply chain. Target tidak melakukan sendiri program “online-store”-nya, tetapi dilakukan dengan menjadi partner Amazon.

Jika kita mau memanfaatkan kajian mereka, untuk dapat menemukan perusahaan yang memiliki posisi lebih kokoh seusai krisis, ada metrik-metrik yang dapat kita pakai. 

Kajian itu berkesimpulan, bahwa ada 2 atribut dari the winner :

  1. Kinerja keuangan yang lebih baik
  2. Pertumbuhan penjualan dan EPS at least 10% lebih baik dari apa yang bisa ditunjukan perusahaan lain dalam kelompoknya.

Untuk butir 1 itu kita bisa melihat perbaikan itu dalam sejumlah metrik seperti Gross Margin dan Operating Margin, serta perbaikan pada CFO perusahaan.

Untuk di BEI, ada sejumlah pengamatan yang sedang dilakukan untuk beberapa perusahaan di periode 2000-2003, dan 2009-2002. Apabila ada hasil pengamatan yang menarik, akan saya sharing di lain waktu.

Salam,

Joeliardi Sunendar 

PERSPEKTIF 26 JUNI 2020

PERSPEKTIF 26 JUNI 2020

Sejak kedatangan Covid-19, dinamika pergerakan di pasar ditentukan oleh tarik-menarik antara The Uncertainty (sebagai dampak Covid-19) dengan response berupa kebijakan moneter dan stimulus fiskal. 

Mantra Fed “whatever it takes”, seperti disampaikan dalam beberapa Perspektif terdahulu, menempatkan response kebijakan moneter dan stimulus fiskal ini sebagai “The Known Factor”. Bahkan skala response yang dilakukan saat ini, tidak pernah terjadi sebelumnya. 

Meskipun dengan skala, instrumen dan mekanisme yang berbeda, apa yang dilakukan Fed serta pemerintah Amerika ini, dilakukan juga oleh negara-negara lainnya, termasuk Indonesia.

Dengan pasar yang berlangsung setiap saat, pasokan informasi terkait The Uncertainty dan The Known Factor, memberikan indikasi ke mana arah pasar akan bergerak.

Pergerakan pasar dalam jangka pendek ini – meskipun (atau karena?) tidak ada yang tahu – menjadi magnit utama mayoritas pelaku pasar. 

Ketika The Uncertainty datang, berbagai pasar dunia berjatuhan, yang berlangsung dengan cepat dan berskala besar. Volatility Index/VIX dan CDS (untuk Indonesia) angkanya melambung tinggi.

Munculnya Response/The Known Factor di pasar bisa mengendalikan The Uncertainty. Penurunan pasar yang disebabkan The Uncertainty, mencapai titik nadirnya di bulan Maret. Pembalikan dari titik nadir itu, berlangsung cepat, dan dengan angka yang besar, sama halnya seperti ketika terjadinya koreksi. 

Namun, terjadinya pembalikan ini tidak berarti The Uncertainty sudah hilang. Sampai sekarang, masih belum ditemukan vaksin maupun obat untuk Covid-19.

“Pertandingan” antara The Known Factor vs The Uncertainty ini, masih akan terus berlangsung.   

Pasokan informasi tentang The Uncertainty – statistik terakhir tentang kenaikan korban Covid-19, potensi datangnya gelombang kedua yang bisa menghambat reopening – akan berhadapan dengan response apa yang akan dilakukan The Known Factor ini. 

Apa yang terjadi di BEI pada hari Rabu, 23 Juni , misalnya, bisa dipakai sebagai ilustrasi tentang tarik-menarik ini. Pengumuman pemerintah, yang akan menempatkan dananya di Bank BUMN, menjadi pendorong utama kenaikan saham-saham Bank BUMN. The Known Factor, untuk sementara, mengambil-alih statistik kenaikan angka korban Covid-19, yang menjadi elemen The Uncertainty.

Apa yang terjadi semalam di Wall Street juga menunjukan fenomena yang sama. Di awal-awal perdagangan, kekhawatiran akan datangnya gelombang kedua coronavirus, meningkatnya statistik korban di Texas dan Florida, mendominasi pasar. Tambahan informasi tentang jobless claim yang mencapai sekitar 1.5 juta, juga memperbesar tekanan itu.

Ketika The Known Factor datang – membawa kabar relaksasi sejumlah regulasi di sektor perbankan, hanya dalam 1 jam terakhir perdagangan index S&P 500 yang masih negatif, berbalik positif dan bisa mencatat kenaikan 1.1%. Seperti dilaporkan Bloomberg, relaksasi ini akan dapat “membebaskan” kebutuhan margin yang harus disediakan perbankan sebesar $ 40 Milyar. Adanya pembebasan ini, menghasilkan pasokan peluru baru untuk sektor perbankan. Tidak heran, ketika perdagangan ditutup, sektor perbankan mencatat angka kenaikan yang lebih tinggi (2.7%) dibandingkan kenaikan index S&P 500.

Seorang Fund Manager, lewat e-mailnya tadi pagi, menyampaikan apa yang menjadi observasinya : “Ada beberapa Algorithmic Traders yang menggunakan headlines sebagai indikatornya. Kata “Covid-19 spiking” misalnya, menjadi trigger mesin trading-nya melakukan transaksi.

Observasi ini, bisa menjadi salah-satu alasan, mengapa naik turunnya harga di bursa sangat besar serta berlangsung cepat.

Namun, tentu hal semacam ini hanya relevan untuk mereka yang lebih mengutamakan pergerakan harga di bursa, sebagai perhatian utama- nya. Tarik-menarik ini antara The Uncertainty dan The Known Factor, akan mewarnai pengambilan keputusannya.

Dalam perspektif jangka panjang, injeksi likuiditas serta tingkat bunga yang mendekati 0 (yang ditawarkan non-risk assets, seperti Treasury), akan membuat risk-asset (saham perusahaan yang bisa meningkatkan EPS-nya) menjadi pilihan yang lebih menarik.  

Terjadinya penurunan harga saham – ketika elemen The Uncertainty mengambil-alih headlines dari The Known Factor – akan menjadi pintu masuk untuk mendapatkan perusahaan yang baik, di harga yang baik.

Apa yang disampaikan oleh Buffett pada RUPS Berkshire di bulan Mei,  menggaris-bawahi hal ini : “You’re going to get a fine result, if you own equities (stocks) over a long period of time”.

BEI

Investor asing sepanjang hari perdagangan kemarin, masih melakukan Neto penjualan senilai Rp 528 Milyar. Dengan demikian, secara Year- To-Date, investor asing masih mencatat angka Neto Penjualan Rp 13.4 Trilyun.

Penurunan yang terjadi di BEI kemarin, ditandai dengan nilai transaksi yang relatif rendah (Rp 6.5 Trilyun), dibanding dengan angka transaksi yang terjadi hari sebelumnya, ketika bursa mengalami kenaikan.

Peningkatan nilai transaksi yang besar – saat harga saham mengalami kenaikan – serta mengecilnya nilai transaksi – ketika pasar mengalami penurunan – dapat merupakan indikasi bahwa proses kenaikan harga di pasar, masih akan berlanjut.

Terjadinya kenaikan harga di pasar, tentu akan semakin memperkecil jumlah saham yang menarik untuk dimasukan kedalam portfolio. Ada baiknya, untuk menunggu tambahan informasi yang dapat ditunjukan oleh perusahaan-perusahaan di BEI pada Kwartal ke-II ini. Meskipun, sekali lagi, elemen The Uncertainty serta The Known Factor akan tetap mewarnai perilaku pasar.

Di luar BEI, saya mengharapkan hari ini – selambat-lambatnya besok – informasi menarik tentang sebuah perusahaan yang listed di LSE, akan saya posting di webpage.

Perusahaan ini memiliki trophy-assets di kawasan West End, London. Bahkan untuk standar London, properti yang dikuasai oleh emiten ini merupakan Triple-A location.

Ambruknya harga properti di London sejak tahun 2015, yang sampai sekarang belum pulih, memberikan peluang untuk membeli sahamnya dengan diskon sekitar 47% dari NBV. 

Langkah yang dilakukan perusahaan ini sekitar 2 minggu lalu,  semakin menambah daya tarik perusahaan ini untuk dimasukan kedalam JSP.

Stay tuned.

Salam,

Joeliardi Sunendar  

PERSPEKTIF 25 JUNI 2020

PERSPEKTIF 25 JUNI 2020

Dalam perdagangan hari Rabu, 24 Juni 2020 kemarin, IHSG mencatat angka kenaikan 85.60 point, atau sekitar 1.75%. Kenaikan IHSG ini juga ditandai dengan peningkatan nilai transaksi (Rp 9.8 Trilyun), yang lebih tinggi dibandingkan rata-rata transaksi dalam Minggu ke-3 bulan Juni (Rp 7.9 Trilyun).

Advance To Decline Ratio (ADR) tercatat 1.55 X, dimana jumlah emiten yang mengalami kenaikan berjumlah 245 emiten, sementara ada 158 emiten yang harga sahamnya turun. ADR di atas 1 X ini mencerminkan kondisi pasar yang sedang bergairah kemarin.

Investor local masih mendominasi perdagangan. Investor asing, dalam transaksi perdagangan kemarin, mencatatkan Neto Penjualan Rp 251 Milyar. Year To Date untuk tahun 2020 ini, investor asing mencatatkan Neto Penjualan sebesar Rp 13.6 Trilyun.

Keputusan pemerintah untuk menempatkan dana Rp 30 Trilyun di ke-4 Bank BUMN, menjadi pendorong kenaikan angka IHSG. Bagi mereka yang membaca Newsletter Perspektif pada tanggal 14 Juni 2020, tentu telah mengetahui, bahwa penempatan dana pemerintah di Bank-Bank ini memang sudah merupakan bagian kebijakan moneter dan stimulus fiskal BI/Pemerintah Indonesia.

Cuplikan Perspektif tanggal 14 Juni 2020, saya kutip disini, “Bank juga bisa minta pemerintah untuk dapat menempatkan tambahan dananya di perbankan”.

Pasokan likuiditas ini, tentu saja tidak akan berhenti disini, seperti apa yang ditambahkan dalam catatan tanggal 14 Juni itu,  “Proyeksi defisit yang lebih dari Rp 1,000 Trilyun, serta kebutuhan penempatan dana pemerintah di perbankan ini dapat dilakukan melalui penerbitan SUN, dimana BI akan menjadi pembelinya”. 

Reaksi pasar atas penempatan dana pemerintah di Bank-Bank BUMN ini, jelas tampak dari kontribusi sektor keuangan dalam kenaikan IHSG kemarin. Sektor keuangan menjadi leader di dalam “pacuan kuda” dan mencatat kenaikan 3.2%, atau 145 basis point lebih baik dibandingkan kenaikan IHSG. Dari kenaikan IHSG sebesar 85.6 point itu, sekitar 40.7 point (47.5%) disumbangkan oleh 4 Bank terbesar di Indonesia.

Namun demikian, pandangan bahwa hal ini bisa segera meningkatkan kembali kredit perbankan, saya kira masih terlalu dini. Didalam kondisi perekonomian yang sedang lesu, menaikan pinjaman atau melakukan ekspansi tentu bukan merupakan pilihan utama perusahaan.

Dalam pandangan saya, berbagai kombinasi kebijakan yang dilakukan selama ini, lebih untuk menstabilkan likuiditas. 

Dalam Tinjauan Kebijakan Moneter bulan Juni 2020 yang disampaikan BI tanggal 22 Juni, BI mengungkapkan (butir-4), saya kutip “melakukan injeksi likuiditas (Quantitative Easing) ke pasar uang dan perbankan dalam jumlah yang besar…….”. Berapa angkanya tidak lagi disebutkan di dalam laporan terakhir BI.

Namun jika mengacu apa yang disampaikan oleh BI pada bulan-bulan sebelumnya, angkanya mencapai Rp 503.8 Trilyun (di bulan April), dan naik menjadi Rp 583.8 Trilyun (di bulan Mei).

Tentu saja kita tidak bisa menggunakan kacamata yang sama tentang QE yang dilakukan BI, dengan QE yang dilakukan Fed. Dollar – senjata Fed – memiliki privilege yang tidak dimiliki oleh Rupiah.

Mari kita lihat.

QE dan ekspansi Neraca Fed diikuti dengan ekspansi M2. Saya refresh definisi M2, yang merupakan penjumlahan angka M1 (uang kartal dan giro) ditambah “uang kuasi” (tabungan, deposito serta surat berharga kecuali saham).

Covid-19 telah meningkatkan Neraca Fed dari $ 4 Trilyun menjadi $ 7 Trilyun. Banyak pengamat memperkirakan bahwa Neraca Fed ini akan meningkat sampai $ 10 Trilyun pada akhir tahun ini. 

Ekspansi Neraca Fed $ 3 Trilyun itu diikuti juga oleh peningkatan angka M2 (Money Supply). Ada kenaikan asset keuangan sebesar $ 3 Trilyun di tangan masyarakat. Tidak heran, jika banyak orang yang tidak heran atas kenaikan di Wall Street, dengan melihat masifnya injeksi likuiditas sekarang ini.  

Bagaimana mungkin kebijakan Fed seperti ini bisa membuat kenaikan harga saham? Bukankah Fed tidak masuk ke bursa – dan meningkatkan demand – yang bisa mendorong kenaikan harga saham? Bukankah Fed hanya membeli Treasury dan Bond saja, bukan saham?

Mari kita bayangkan likuiditas itu (tanpa adanya Fed) di dalam sebuah Gentong yang lentur. Gentong (Kemakmuran) ini berisikan 2 elemen pokok : Saving dan Investment. Besaran Gentong akan terus-menerus mengalami penyesuaian, dengan konsumsi yang dilakukan, tambahan belanja investasi dan arus kas yang dihasilkan dari kegiatan usaha.

Konsumsi yang diambil dari Saving, akan membuat Gentong tadi lebih kecil. Tetapi jika konsumsi itu diambil dari peningkatan hasil kegiatan usaha (yang hasilnya lebih besar dibandingkan belanja konsumsinya), Gentong akan tetap membesar. Terjadinya peningkatan hasil kegiatan usaha (yang dicerminkan dalam arus kas) akan meningkatkan besaran Gentong itu. 

Terjadinya Covid-19 telah menurunkan belanja konsumsi dan investasi di satu sisi, dan menurunkan arus kas yang dihasilkan melalui kegiatan usaha. Penurunan belanja konsumsi akan menaikan elemen Saving. 

Perhatikan terjadinya kenaikan Saving di Gambar ini, sejak terjadinya Covid-19. 

Covid-19 telah menghentikan mayoritas kegiatan usaha. Oleh karena itu, arus kas yang dihasilkan menjadi kecil, atau bahkan hilang. Apabila ini terjadi dalam waktu yang panjang, maka Gentong kemakmuran itu akan semakin mengecil. Kita sudah sering mendengar serta membaca tentang proyeksi penurunan GDP. Adanya pengurangan (atau bahkan hilangnya arus kas ini), pada gilirannya akan menurunkan Saving serta Investment yang berada dalam Gentong (Kemakmuran) itu.

Dalam kondisi seperti ini, kombinasi kebijakan moneter serta stimulus fiskal, melalui injeksi likuditas yang masif, bisa menambal lubang yang ditimbulkan oleh berhentinya kegiatan usaha – yang menurunkan arus kas perusahaan, dan penghasilan karyawan. Dengan adanya injeksi ini, maka lubang itu tidak harus memakan elemen Saving dan Investment.

Saya lupa tanggalnya, tetapi di bulan Maret, fenomena ini juga telah dibahas, dimana Treasury serta Gold, yang sering dianggap safe haven setiap terjadinya krisis, harganya malah turun. Penurunan hasil usaha, serta ambruknya harga real-assets, menimbulkan masalah likuiditas. Hal ini mengharuskan investors untuk menjual safe haven-nya, karena adanya kebutuhan likuiditas itu. Itu sebabnya harga Treasury di pasar mengalami penurunan (dan mengakibatkan yield) naik. 

Langkah pertama Fed membeli Treasury, dan BI membeli SUN, karena itu menjadi langkah yang tepat dalam menstabilkan kondisi likuiditas di pasar, saat terjadinya March madness itu. Pembelian besar-besaran yang dilakukan Fed dan BI (di Indonesia) telah bisa menurunkan yield.

Elemen Saving/Investment dalam Gentong – yang sudah ada sebelum datangnya Covid-19 – tidak lagi harus dijual, karena adanya tambahan injeksi likuiditas. Terjadinya penjualan instrumen  – meskipun non-risk assets, seperti Treasury – akan mendorong penurunan harganya.

Jika non-risk assets harganya terus menerus turun, dapat dibayangkan dampaknya terhadap sistem keuangan. Siapa lagi yang mau membeli risk-assets – seperti corporate bonds dan saham – kalau non-risk assets saja harganya jatuh? Masalah likuiditas bisa berubah menjadi masalah solvabilitas. 

Pembelian Corporate Bonds yang secara langsung dilakukan oleh Fed, untuk individual bonds, menjadi isyarat target Fed untuk memastikan bisa berfungsinya kembali credit market. Kegiatan bisnis yang terhenti akibat Covid, menjadikan banyak perusahaan yang harus merancang-kembali struktur pendanaan/permodalannya. Kehadiran Fed, sebagai pembeli Bonds, membantu fungsi yang selama ini dilakukan Lembaga Keuangan. Tanpa kehadiran Fed di Credit Market, Lembaga Keuangan yang masih limbung terkena dampak Covid-19, Credit Market ini tidak dapat berfungsi secara optimum.

Injeksi likuiditas yang dilakukan Fed, berhasil membuat yield non-risk assets, seperti Treasury, turun di bawah 1%. Rendahnya imbalan yang dapat diberikan non-risk assets ini, pada gilirannya membuat semakin menariknya risk-assets seperti saham dan obligasi, yang bisa memberi imbalan jauh lebih menarik. 

Dua hari lalu, CNBC melaporkan bahwa saat ini ada dana sebesar $ 5 Trilyun di Money Market Fund. Dengan yield Market Fund sekarang ini yang hanya 0.23%-0.28%, kenaikan angka S&P 500 sebesar 40% dalam 3 bulan ini, bisa mendorong beralihnya dana itu dari money market ke pasar modal. 

Apa yang dilakukan oleh Fed, melalui pembelian Bonds itu, tidak dapat dilakukan BI. BI tidak memiliki mandat untuk bisa melakukan kegiatan seperti itu. Sejauh ini, BI hanya dapat melakukan pembelian SBN lewat pasar sekunder maupun pasar primer. Mandat untuk bisa melakukan pembelian di pasar primer ini menjadi sangat penting, karena sampai akhir tahun – dengan peningkatan defisit dari 3% menjadi 6.2% – akan ada tambahan surat hutang baru yang diterbitkan pemerintah, sekitar $ 23-26 Milyar (estimasi Goldman Sachs). Apabila BI harus menyerap semua hutang pemerintah yang baru ini, jumlah SBN yang tercatat di buku BI akan naik dua kali lipat. Akan terjadi ekspansi Neraca BI.

Dari Neraca BI terakhir yang saya miliki, yaitu akhir tahun 2019, Neraca BI tercatat Rp 2.351 Trilyun. Pembelian (dan rencana pembelian dalam tahun 2020) surat hutang pemerintah, diperkirakan akan menjadikan Neraca BI berada di atas angka Rp 3,000 Trilyun, atau naik sekitar 40%.

Saya tidak memiliki angka Neraca bulanan BI. Selain itu, saya juga tidak tahu, apakah, seperti Fed, BI menerbitkan Neraca bulanan, yang dapat diakses setiap saat di webpage-nya. 

Terkait M2 ini, data terakhir yang ada, berasal dari Laporan Analisis BI yang dipublikasikan tanggal 3 Juni 2020. Ada time lag cukup panjang, karena yang disampaikan bulan Juni itu adalah data M2 untuk periode bulan April 2020.

Berbeda dengan lonjakan M2 di Amerika, sebagai akibat dari adanya kebijakan QE, seperti disampaikan di atas, M2 pada bulan April 2020 di Indonesia, justru menunjukan penrunan. Bulan April, besaran angka M2 tercatat Rp 6,238 Trilyun, turun dari Rp 162 Trilyun dari angka di bulan Maret (Rp 6,440 Trilyun). Net cash outflow investors asing, saya perkirakan menjadi alasan terjadinya hal ini. Namun, seperti dikatakan di atas, data ini adalah data bulan April. Perkembangan yang terjadi di bulan Mei dan Juni, dapat mengubah gambaran itu.

Namun demikian, secara umum, apa yang ditunjukan didalam industri perbankan, mengisyaratkan hal yang sama di bulan April. Dana pihak ketiga mengalami penurunan sekitar 1.6%, yaitu dari Rp 5.979 Trilyun  (Maret), menjadi Rp 5.883 Trilyun (April).

Hal yang sama tampak dalam angka-angka kredit. Angka pinjaman di bulan April (Rp 5.601 Trilyun), turun Rp 102 Trilyun dibanding dengan angka bulan sebelumnya (Rp 5.703 Trilyun). YoY, angka pertumbuhan pinjaman juga semakin kecil, hanya tumbuh 4.9%, dari angka sebesar 7.2% yang tercatat pada bulan sebelumnya.

Data-data yang lebih mutakhir, serta laporan keuangan bulanan bank-bank, mungkin akan bisa memberikan gambaran yang lebih baik.

Namun agak berbeda dari biasanya, laporan keuangan dari Bank besar seperti BRI, misalnya, untuk bulan April saja, baru dikeluarkan tanggal 19 Juni minggu lalu. Boleh jadi LK Kwartal II/2020, juga baru dapat kita akses lebih lamban dari biasanya.

Salam,

Joeliardi Sunendar

PERSPEKTIF 24 JUNI 2020

PERSPEKTIF 24 JUNI 2020

PRICE TAKER VS PRICE MAKER

Saya muat kembali gambar perkembangan harga sejumlah komoditi, yang saya kirim kemarin

Saya yakin Anda sudah dapat melihatnya dengan jelas, harga itu setiap tahunnya naik turun. Kalau waktu tahunan itu kita buat menjadi bulan, kita juga akan melihat naik turunnya harga itu setiap bulannya.

Mining companies, betapapun besarnya mereka, kalau ingin menjual barangnya, mereka hanya dapat menjual dengan harga yang terjadi di pasar.

Exxon, British Petroleum, Chevron atau Shell, tidak akan bisa menjual crude oil yang dihasilkannya dengan harga $ 60, kalau harga minyak di pasar $ 30. Mereka tidak memiliki pilihan lain, kecuali mengikuti harga yang terbentuk di pasar. 

Begitu pula Freeport atau Newmont, untuk gold. PTBA, ADRO, ITMG dan INDY untuk batubara. INCO, ANTM, maupun VALE untuk komoditi nikel, juga Cameco, misalnya, untuk uranium.

Perusahaan-perusahaan ini hanya bisa menjual produknya mengikuti apa yang ditetapkan pasar. Mereka tidak memiliki kekuatan yang bisa menentukan harga produknya sendiri. Mereka adalah Price Taker.

Oleh karena itu, PRICE (yang akan ditentukan oleh apa yang dihasilkan kinerjanya, VALUE) akan sangat berfluktuasi. Itulah sebabnya, apabila kita ingin berinvestasi pada commodity-based companies ini, tahapan siklus dimana kita berinvestasi, menjadi sangat krusial. 

Jika kita berinvestasi di tahapan siklus yang tepat – pada saat bisnis ini sedang tidak disukai, ketika harga komoditasnya turun, dan membuat banyak perusahaan di sektor ini bangkrut – mengalokasikan sebagian dana portfolio di sektor ini, dapat menghasilkan imbalan yang baik.

Kebangkrutan masal di sektor ini, karena banyak perusahaan tidak lagi sanggup produksi – harga produk lebih tinggi dari biaya produksinya – akan menghasilkan penurunan produksi. Penurunan produksi, apabila produk ini masih dibutuhkan, akan menciptakan keseimbangan harga yang baru. Akan terjadi proses kenaikan harga komoditas ini di pasar. 

The cure for low price is a low price.

Kenaikan harga komoditasnya, akan membuat saham-saham di sektor ini kembali menjadi perhatian investors. Jika saham perusahaan sudah disukai oleh investor, siapa yang dapat menahan kenaikan harganya?

Oleh karena itu, kenaikan double-digit, dan bahkan triple-digit, dalam harga saham perusahaan di sektor ini, bukanlah sebuah kemustahilan. 

Namun, apabila kita melakukan investasi untuk sektor ini di tahapan siklus yang salah, we will lose our shirt.

Apa indikasi dari tahapan siklus yang salah ini? Yaitu apabila kita mulai masuk ketika harga komoditas ini sudah naik lagi, serta menghasilkan margin yang tinggi untuk perusahaan. Harga sahamnya seperti sudah digambarkan di atas, sudah meningkat triple-digit. Smart money juga sudah mulai banyak yang gemar meramalkan, bahwa harga komoditas ini akan semakin naik lagi dalam waktu dekat ini. Atas dasar itu, smart-money mempublikasikan rekomendasi (yang dikutip berbagai media), untuk membeli saham-saham yang berada di sektor ini. 

Boleh jadi, ketika smart-money mulai mengeluarkan rekomendasinya, sehingga harga saham di sektor ini semakin naik (Tuh kan betul naik, seperti yang mereka bilang), dumb money, yang telah mengakumulasi saham sektor ini 2-3 tahun sebelumnya – ketika hanya suara jangkrik saja yang terdengar, dan membuat harga saham di sektor ini diobral – mulai melepaskan sahamnya, at a very nice price. Smart-money, tentu  saja tidak memiliki kemewahan waktu untuk menunggu selama itu.

Meningkatnya harga serta margin dari perusahaan di sektor ini, tentu akan menarik investasi baru lagi. Apakah untuk meningkatkan tingkat produksi dari perusahaan yang sudah ada, atau berdirinya perusahaan yang baru akan memulai produksinya. Kenaikan produksi ini tentunya akan meningkatkan pasokan baru, dan tahapan siklus baru-pun mulai bergulir lagi. Dan begitulah seterusnya.

Oleh sebab itu, memakai pendekatan Equity Bond untuk perusahaan yang berada di sektor ini, merupakan hal yang mustahil.

Gambaran yang berbeda, terlihat dalam Gambar ke-2, kelompok yang sering saya sebut sebagai Price Maker. 

Kesukaan dan kebutuhan konsumen mereka atas barang maupun jasa yang dihasilkan perusahaan ini, membuat mereka dapat menentukan harganya sendiri. Kombinasi peningkatan volume dan harga yang bisa ditentukannya sendiri, menjadi kunci pertumbuhan Value-nya.

Di dalam jangka panjang, satu-satunya yang akan menentukan Price adalah Value. Apabila Value meningkat, Price akan naik. What’s more simple than that?

Apakah harga saham Hermes akan tetap saja sama, seperti harga yang terjadi di tahun 2009, setelah EPS-nya naik 529% dari Euro 2.75 (2019) menjadi Euro 14.55? Tentu saja tidak. Harga sahamnya pasti naik.

Apakah mungkin harga saham Master Card bisa naik 1,190% dari $ 12 (2009) menjadi $ 298 (tahun 2019), apabila EPS-nya tetap saja seperti EPS pada tahun 2009 ($ 1.12) ?. Tentu tidak mungkin. Kenaikan saham Master Card menjadi mungkin, karena EPS-nya telah meningkat 695%, menjadi $ 7.79 pada tahun 2019.

Kelompok perusahaan ini – dengan kekuatannya sebagai price maker – secara konsisten mampu meningkatkan EPS-nya  (Value perusahaan) dari tahun ke tahun. Para pemegang sahamnya, hanya membutuhkan perjalanan waktu buat memperoleh hasilnya. Ladang permainan yang berlangsung setiap saatnya di pasar, bukan merupakan ladangnya. 

Bandingkan dengan contoh saham di paling bawah, British Petroleum, yang EPS-nya sangat lumpy. Naik turun tidak ada polanya. Sementara harga saham Master Card dan berbagai perusahaan baik lainnya naik, ratusan, dan bahkan ribuan, persen dalam 10 tahun terakhir, harga BP dalam periode yang sama justru turun lebih dari 40%.

Itulah sebabnya Buffett sering mengatakan “Time is the friend of the wonderful company, the enemy of the mediocre”. 

Salam,

Joeliardi