PERSPEKTIF 22 JULI 2020

Kombinasi kebijakan moneter dan stimulus fiskal berada di balik angka kenaikan index bursa Amerika. Namun, kebijakan yang dapat berhasil mengendalikan kekhawatiran pasar, telah menimbulkan ekses valuasi yang tampak berlebihan.

Recovery yang terjadi membuat valuasi pasar Amerika semakin tinggi. Market Cap To GDP Amerika, saat ini angkanya sekitar 144%, yang dapat memberikan indikasi tentang valuasi pasar yang sedang euphoria. Namun hal ini, masih belum menunjukan “kegilaan” valuasi pasar di Amerika, seperti yang tampak di saham Tesla.

Market Cap Tesla saat ini sekitar $290 Milyar. Produksi per-Kwartal, di bawah 100,000 unit, meskipun Tesla menyatakan optimis bahwa pada tahun 2020 ini bisa memproduksi 500,000 unit. Untuk dapat memberi perspektif, Volkswagen dengan brands seperti Audi, Bentley, Porsche, Lamborghini, Bugatti dan VW sendiri, tahun lalu memproduksi 11 juta mobil. Porsche sendiri sudah memproduksi EV (Porsche Taycan), yang dianggap sebagai saingan Tesla (type P100D). Dalam tahun 2019, VW berhasil menjual hampir 11 juta unit. Tesla, dalam 10 tahun ke depan, diperkirakan mampu memproduksi 2 juta mobil setiap tahun-nya.  

Dengan penjualan sekitar 400,000 unit, nilai penjualan (TTM) Tesla ini tercatat sebesar $ 22 Milyar, dan masih harus mencatatkan kerugian ($ 114 Juta). And yet, valuasinya mencapai $ 290 Milyar, atau sekitar 3.6 kali lebih tinggi dari VW, yang mampu menghasilkan 11 juta mobil, dengan angka penjualan Euro 252 Milyar (12 kali-nya Tesla), dan laba Euro 14 Milyar.

I get it, membandingkan VW dengan Tesla tentu bukan apple-to-apple comparison. Tetapi bahkan dengan memberikan kualifikasi seperti itu, sulit untuk tidak mengatakan bahwa valuasi Tesla ini menggambarkan irasionalitas pasar. Injeksi likuiditas di pasar Amerika, memungkinkan terjadinya irasionalias seperti ini. 

Ada baiknya untuk memandang dari luar, sehingga kita bisa bertanya, “Apakah kondisi seperti ini akan bisa dipertahankan (sustainable) dan dapat berlangsung terus menerus?”.

Unemployment-subsidy ($ 600 per-minggu), yang menjadi bagian dari stimulus untuk mengurangi dampak Covid-19 ini akan berakhir 31 Juli besok. Mari kita lihat, apa yang akan terjadi dengan subsidi ini.

Pilpres bulan Nopember ini, yang disertai kerasnya pertengkaran kubu Demokrat (yang menguasai Kongres) dan kubu Republik (mayoritas di Senat, dan berdiri di belakang Trump), diperkirakan bisa menimbulkan pertikaian baru, terkait perpanjangan program subsidi ini.

Kubu Demokrat (dengan Biden sebagai Capres-nya) telah menyiapkan rancangan perpanjangan stimulus sebesar $ 3 Trilyun. Sementara itu, di sisi lain, Republik menyiapkan rancangan sebesar $ 1 Trilyun.

Kekalahan Hillary (Demokrat) dari Trump di dalam Pilpres tahun 2016, lebih banyak disebabkan terlalu confidence-nya kubu Demokrat ketika itu, yang menganggap enteng Trump. Kalau kita mundur ke belakang, memang sangat sulit untuk membayangkan, bahwa Amerika sebagai negara terbesar dunia, ternyata “mampu” memilih Presiden sekaliber Trump.

Oleh karenanya, tidak mengherankan apabila partisipasi pemilih kubu Demokrat pada Pilpres tahun 2016 itu sangat rendah. Berbagai polling yang menunjukan Hillary unggul dari Trump, juga menjadi alasan yang berada di balik rendahnya partisipasi dari Kubu Demokrat itu. Hillary sudah pasti menang, menjadi boomerang untuk kubu Demokrat.

Di Pilpres 2020 ini, Demokrat tidak ingin mengulangi pengalaman yang  sama. Demokrat mau memastikan, bahwa partisipasi pemilh dari kubu mereka dapat mencapai jumlah sebanyak-banyaknya.

Itu sebabnya, rancangan yang mereka ajukan lebih tinggi dari apa yang diajukan Republik. Demokrat mengusulkan agar subsidi yang sama itu dilakukan sampai awal tahun depan, Januari 2020. 

Apa ini artinya? Demokrat mengisyaratkan, agar rakyat Amerika tidak harus cepat-cepat keluar dari WFH dan lockdown-nya. Besaran subsidi ini, yang untuk sebagian orang, lebih besar dibandingkan penghasilan-nya selama ini, diharapkan bisa menekan keinginan untuk cepat-cepat reopening.

Dengan kondisi WFH dan reopening yang tidak perlu buru-buru, maka strategi Demokrat untuk mendorong mail-in voting pada pilpres tahun 2020 ini, bisa membantu meningkatkan partispasi pemilih Demokrat. Para pemilih, dengan demikian, tidak usah harus repot-repot keluar dan mendatangi tempat kotak suara.

Itu sebabnya, kubu Republik sangat menentang rancangan yang akan meningkatkan mail-in voting ini. Republik justru sebaliknya, mereka ini mendorong segera dilakukannya reopening. Di dalam rancangan yang diajukan Republik, yang diberikan justru “back-to-work bonus”, dan bonus ini akan berakhir setelah Pilpres dilakukan. Republik tidak ingin mail-in voting, yang memudahkan partisipasi, menjadi instrumen yang dapat dipergunakan Demokrat. Mail-in voting ini merupakan lonceng  kekalahan kubu Republik, serta Trump.  

Oleh sebab itu, kedua kubu ini akan sekeras mungkin menentang apa yang diajukan kubu lainnya. Pertikaian keras semacam ini bisa menjadi berkah untuk para pembuat headlines. Munculnya berbagai berita ini dalam headlines pada minggu-minggu mendatang, akan dapat dengan mudah mengganggu suasana hati pelaku pasar, yang valuasinya sudah berlebihan. Saya tidak akan heran, jika hal ini memicu koreksi.

Atas dasar ini, dengan diumumkannya stimulus di kawasan Euro-zone, sebesar Euro 750 Milyar, maka pasar Eropa yang menawarkan valuasi lebih menarik, bisa menjadi salah satu pilihan investor.

Tidak hanya sekedar valuasinya yang lebih menarik, tetapi juga terkait dengan denominasi di pasar Eropa, yang tentu saja menggunakan mata uang Euro.

Seperti tampak di dalam gambar, sejak krisis 2008, mata uang Euro ini terus menerus mengalami penurunan. Keberagaman negara yang ada di dalam Eurozone, tidak “semudah” Amerika (dengan Fed-nya) untuk menjawab berbagai permasalahan. Proses dan kecepatan waktu dari setiap pengambilan keputusan di kawasan Eurozone tidak bisa seperti apa yang mampu dilakukan Amerika. Permasalahan di German, tentu memerlukan penanganan yang berbeda dari apa yang perlu dilakukan, katakanlah Yunani, yang dengan kekuatan perekonomian berbeda. Ini juga sebabnya, sementara Amerika sudah melompat jauh dari krisis 2008 (sebelum terjadinya Covid-19), Eropa masih jauh ketinggalan.

Euro telah kehilangan sekitar 30% daya belinya dibandingkan Dollar, dalam 11 tahun ini. Euro turun dari 1.57 di tahun 2008, serta sempat mendekati angka Par (1) di tahun 2017.

Apakah masif-nya injeksi di Amerika ini telah membuat investor mulai mempertanyakan “kehebatan” dollar, serta menjadikan Euro begerak naik?

Kombinasi menguatnya mata uang Euro, dan vauasi pasar Eropa yang lebih reasonable, membuat pasar Europa terlalu menarik untuk dapat diabaikan. Dalam JSP sendiri, dari 19 emiten yang sudah masuk sejauh ini, perusahaan Eropa menjadi mayoritas, dengan jumlah sebanyak 7 emiten  (39%). Sementara sisanya tersebar di BEI (6), Amerika (2), UK (2), Hong Kong (1), New Zeland (1). 

iNDEX GERMAN
INDEX ITALY

Selama bulan Juli, ada dua emiten yang masuk di dalam JSP. Jumlah ini sesuai dengan apa yang disampaikan pada saat pembentukan JSP. Jumlah yang lebih banyak, dari yang direncanakan, yang masuk dalam JSP di bulan Mei dan Juni (17 emiten), seperti saya sampaikan Ketika itu memang lebih disebabkan oleh opportunity di pasar yang datang, dan terlalu menarik untuk diabaikan.

Apabila dalam waktu waktu mendatang ini, pasar juga menawarkan peluang yang sama, tentu hal yang sama mungkin juga dilakukan.

Namun, jika peluang yang baik itu tidak ditawarkan pasar, maka doing nothing seringkali menjadi pilihan yang lebih baik.

Salam,

Joeliardi 

Published by Joeliardi

Investor, Author.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: