PERSPEKTIF 14 JULI 2020

PERSPEKTIF 14 JULI 2020

Market Cap To GDP Ratio, kemudian dikenal sebagai Buffett Indicator, melalui pernyataan yang disampaikannya pada tahun 2001 di majalah Fortune : “It is probably the best single measure of where valuation stands at any given time”.

Ratio ini digunakan untuk mengukur temperatur pasar, apakah secara umum pasar sedang overvalued (angkanya di atas 100%), atau sedang dalam kondisi undervalued (ratio di bawah 75%). Kisaran ratio antara 75% dan 100% mencerminkan kondisi pasar dalam kondisi fair-value. 

Ratio ini mengukur denyut pasar dalam kisaran waktu relatif panjang  – selaras dengan cara pandang Buffett. Sulit untuk mengharapkan ada fluktuasi besar dalam 2 variable (GDP dan Market Cap), yang menjadi penentu Ratio ini, didalam jangka waktu pendek. Pengecualian terjadi, apabila pasar berhadapan dengan systemic risk, seperti terjadi tahun 2000 dan 2008 di Amerika. Atau tahun 1998 dan 2008 di Indonesia.

Dengan memakai Wilshire 5000 Index, yang mencerminkan cakupan Market perusahaan yang lebih luas dibandingkan Dow Jones dan S&P 500, saat ini Market Cap to GDP Ratio Amerika berada di angka 144%. Sebagai perbandingan, di tahun 2000, sebelum krisis dotcom, Ratio itu berada di angka 137%. Di tahun 2007, sebelum meledaknya housing bubble, Ratio-nya tercatat di 105%. 

Ratio saat ini berada di angka yang lebih tinggi dibanding angka yang mendahului 2 krisis sebelumnya. Apakah Ratio yang masih tinggi saat ini, yang menjadi alasan mengapa Buffett masih belum memanfaatkan kas yang dimilikinya saat ini? Seperti diketahui, Buffett menjual semua saham airliners, dan sebagian saham perbankan pada Kwartal I/2020.

Hasil penjualan itu menambah saldo kas Berkshire. Sejauh ini, kecuali pembelian saham Dominion Energy senilai $ 10 Milyar, Buffett masih belum melakukan pembelian lainnya. 

Terkait shares buy-back, di Kwartal I/2020, Berkshire melakukan buy-back senilai $ 1.7 Milyar. Di Kwartal II/2020, shares buy-back dilakukan lebih agresif. Minggu lalu, data terakhir Berkshire menunjukan, bahwa di dalam periode 23 April sampai 7 Juli 2020, jumlah saham Berkshire turun 1.2%. Berdasarkan angka ini, maka diperkirakan Berkshire telah melakukan shares buy-back sekitar $ 5 Milyar. Angka ini 3 X lipat dari buy-back yang dilakukannya pada Kwartal sebelumnya. Namun, angka ini relatif masih kecil dibandingkan dengan saldo kas yang dimilikinya.

Peran yang dimainkan Fed, yang berhasil mengembalikan confidence di pasar (bisa menjaga Market Cap, yang merupakan faktor pembilang dari Ratio ini), meskipun angka GDP (yang merupakan faktor pembagi dari Ratio ini) mengalami penurunan. Peranan Fed, dengan demikian, membuat Ratio ini terdistorsi.

Dengan tingginya Ratio Market Cap to GDP di Amerika, apakah koreksi akan terjadi dalam waktu dekat ini di Amerika? Tentu saja, saya tidak tahu. Meskipun, dari sisi lain, dengan mudah kita dapat melihat bahwa valuasi berbagai perusahaan sudah berada di angka yang hampir tidak masuk akal. 

Apakah “keberanian” pasar ini, karena pelaku pasar juga menduga Fed akan kembali menjadi dewa penolong, jika terjadi koreksi pasar lagi?

Kebijakan dan perangkat yang dilakukan Fed menghadapi coronavirus ini, sudah keluar dari apa yang pernah dilakukan Fed selama ini. Powell sendiri menyatakan : “We crossed a lot of red lines that had not been crossed before”. Pembelian obligasi dan ETF yang keranjangnya bonds perusahaan tidak pernah dilakukan sebelumnya. 

Apakah jika pasar kembali terkoreksi – karena valuasinya yang sangat tidak masuk akal, dan bukan karena second wave Covid-19 – Fed akan “crossed another red line” lagi, dengan melakukan pembelian saham-saham perusahaan di bursa?. 

Sejauh ini, belum ada indikasi seperti itu. Tetapi kalau red-line ini juga ditabrak Fed, Fed tidak sendirian. Selama ini, Bank Sentral Jepang  dan Bank Sentral Swiss, telah melakukan pembelian saham perusahaan di bursa saham. Saham-saham perusahaan telah menjadi bagian dalam Neraca Bank Sentral itu. Meskipun ada perbedaan karakter dari kedua Bank Sentral ini. Dalam hal BOJ, hanya saham-saham Jepang yang ada Tokyo Stock Exchange yang menjadi sasaran pembeliannya. Dalam hal SNB, saham-saham yang dibelinya tidak hanya perusahaan Swiss saja. Ada nama-nama seperti Apple, Amazon serta Facebook dalam Neraca SNB.  

Bagaimana dengan BEI?  

Dengan relatif mudanya sejarah BEI, tentu kita tidak dapat begitu saja menggunakan ukuran angka ratio GDP To Maket Cap yang sama. Saat ini, agregasi perekonomian kita (GDP) masih belum dapat dicerminkan oleh agregasi kegiatan usaha yang terkumpul di pasar modal. Besaran kegiatan usaha yang sahamnya masih belum tercatat di BEI, angkanya masih tinggi, mencerminkan tingkat partisipasi yang masih rendah.

Dengan demikian, menggunakan persentase ratio 75% sebagai angka indikasi tentang kondisi pasar yang undervalued, untuk BEI, tentunya tidak tepat. Dengan melihat grafik ini, serta memakai persentase yang sama, maka BEI selalu undervalued.

Namun, kita dapat memakai kerangka berpikir yang sama, apabila kita melihat korelasi yang terjadi di antara kedua komponen itu.

Setelah krisis keuangan tahun 1998, sampai tahun 2002, Ratio selalu berada di bawah 20%. Angka ratio 13.2% merupakan angka terendah, yang menawarkan Buying Opportunity #1 di BEI, dengan naiknya IHSG dalam 5 tahun berikutnya. 

Dalam periode  2002-2006, Ratio Market Cap To GDP di Indonesia ini selalu berada di kisaran 20%-40%. Ketika ratio meningkat di atas 40% di tahun 2007, dan angkanya mencapai 44.9%0, terjadi koreksi besar. Koreksi besar itu menjadikan Ratio in jatuh ke angka 17.6% pada tahun 2008. Angka itu membuat pasar menawarkan Buying Opportunity #2 di BEI, dengan kenaikan IHSG yang terjadi dalam 10  tahun berikutnya.

Periode berikutnya, angka 40% merupakan batas bawah Ratio ini.  Ada kotak baru, dengan kisaran 40%-50%, yang menjaga Ratio ini. Di tahun 2017, angka 50% tembus untuk pertama-kalinya, dan mencatat angka 51.3%. Angka ini menjadi angka tertinggi yang pernah dicapai di BEI.

Kedatangan Covid-19 telah membuat Ratio ini turun kembali di bawah angka 40%, angka yang pernah terjadi sebelum tahun 2007. Di bulan Maret 2020, angkanya sempat mencapai 33.7%, dan saat ini tercatat di 37.5%.

Atas alasan ini juga, dalam catatan sebelumnya, saya menyampaikan, jika sejarah bisa menjadi pedoman, maka saat ini pasar menawarkan Buying Opportunity #3 di BEI. Khususnya untuk mereka yang belum, atau tidak, mendapatkan Buying Opportunity #1 dan #2, yang terjadi 20 dan 10 tahun yang lalu.

Tentu saja dalam perjalanannya, kenaikan ini tidak akan berjalan lurus dengan garis yang mulus. Berbagai berita akan menjadi elemen utama yang akan membentuk harganya di dalam satuan waktu yang pendek, baik berita tentang perusahaan sendiri, maupun secara umum.

Tidak lama lagi, kita akan mendapatkan informasi tentang kinerja yang terjadi pada Kwartal II/2020. Covid-19 telah menurunkan proyeksi dan estimasi kinerja perusahaan. 

EPS sejumlah perusahaan diperkirakan akan mengalami penurunan di tahun 2020, dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Untuk sekedar contoh saja, dapat diberikan contoh dua bank utama di BEI (angka EPS tahun sebelumnya vs estimasi EPS di tahun ini) : BBCA (1,158 vs 895), BBRI (280 vs 171).

Sangat bisa dipahami, apabila perusahaan mengambil langkah sangat konservatif, dan memasukan elemen terburuk dalam kondisi krisis ini. Realitas angka yang lebih baik dari estimasi, selalu menjadi kabar baik yang sangat disenangi pasar. Oleh karenanya, attitude seperti ini pada saat krisis, merupakan hal yang dapat dipahami. Kita akan melihat di bulan-bulan mendatang ini, apakah akan muncul elemen surprise dari estimasi yang sangat konservatif ini.

Salam,

Joeliardi Sunendar

Published by Joeliardi

Investor, Author.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: