PERSPEKTIF 7 JULI 2020

PERSPEKTIF 7 JULI 2020

Di dalam catatan terdahulu, saya sudah menyampaikan bahwa koreksi Covid-19 ini menjadi Buying Opportunity of a life time #3, bagi mereka yang tidak mendapatkan Opportunity yang sama di tahun 1998 (#1), dan tahun 2008 (#2).

Masih belum membaiknya angka korban Covid-19, akan tetap menjadi hal yang memprihatinkan. Kerisauan karena belum terkendalinya soal ini, masih dapat mempengaruhi pergerakan pasar.

Pada sisi lain, besaran response kebijakan moneter dan stimulus fiskal – yang mulai menimbulkan debat sampai ke akar teori ekonomi – serta dibukanya kembali kegiatan perekonomian, akan memberikan nuansa baru dalam pergerakan pasar. Data dan statistik yang ditunjukan oleh kegiatan perekonomian akan mulai mendapatkan perhatian.

Data-data PMI (Purchasing Manager Index) dan Consumer Confidence mulai menunjukan kondisi “less bad”. Angka PMI dan CC di bulan Juni, melakukan pembalikan dan bergerak naik dibandingkan bulan Mei.

Salah satu response kebijakan moneter yang dilakukan berbagai Bank Sentral, adalah dengan menurunkan suku bunga. Di negara maju, suku bunga mendekati angka 0, sementara di negara berkembang, seperti Indonesia, meskipun tidak sampai mendekati 0, namun berada dalam kisaran terendah selama ini.

Atas alasan ini, pasar modal – dengan instrumen saham sebagai asset class – memiliki potensi untuk melanjutkan peningkatannya.

Sebagai salah satu asset-class, apa yang ditawarkan imbal-hasil saham akan dibandingkan dengan imbal-hasil yang bisa dihasilkan dari asset-class lainnya.  

Tingkat suku bunga, menjadi faktor penting yang akan mempengaruhi pembentukan harga saham di pasar modal.

Bayangkan, jika 650 perusahaan yang ada di BEI ini merupakan sebuah perusahaan. Peningkatan kekayaan pemilik saham perusahaan, hanya akan ditentukan oleh seberapa besar hasil yang diperoleh perusahaan dari modal yang ditanamkannya.

Kalau modalnya Rp 1 Juta, dan perusahaan bisa menghasilkan Rp 150 Ribu (ROE 15%), maka kekayaan pemegang saham bertambah sebesar Rp 150 Ribu. Tidak kurang, tidak lebih.

Peningkatan kekayaan perusahaan ini (apakah itu sebuah perusahaan yang dijadikan contoh ini, atau 650 perusahaan di BEI), tidak akan naik atau turun oleh apapun yang dilakukan para pemegang sahamnya.

Jika ada pemegang saham yang menjual sahamnya kepada pemegang saham yang lain, keuntungan atau kerugian yang terjadi hanya beralih tempat saja. Keuntungan pemegang saham A, menjadi kerugian si B, dan begitu seterusnya.

Apapun yang dilakukan oleh A, B atau C, D, dan para pemegang saham lainnya, tidak memiliki konsekwensi apapun kepada perusahaan. 

Tentu saja ada pihak lain, yang kantongnya bertambah – dan diambil dari A, B, C, D dst.  – yaitu mereka yang membantu terjadinya transaksi di antara A, B, C, D dan seterusnya itu. Tentu saja para pembantu yang memudahkan berjalannya transaksi ini, menginginkan frekwensi yang terjadi semakin sering. Semakin sering frekwensi itu dilakukan, maka akan semakin besar juga bagian yang diperolehnya – at the expense of A, B, C, D dst. yang menjadi pemilik perusahaan. Tidak heran apabila para pembantu ini mengarahkan tindakannya untuk sedapat mungkin membuat terjadinya frekwensi itu sesering mungkin.

Sekali lagi, apa yang terjadi di atas, tidak akan mempengaruhi besaran kekayaan perusahaan. Kekayaan perusahaan hanya naik Rp 150 ribu, dari apa yang dapat dihasilkannya.

Di ruangan satunya lagi, meskipun apa yang dihasilkan perusahaan ini angkanya tetap dalam setahun fiskal, Rp 150 Ribu, apa yang dilakukan oleh A, B C, D dst. bisa sangat berbeda. Bisa saja A, yang hari ini duduk di kursi penjual, besok bisa beralih duduk di kursi pembeli. Begitu juga dengan B, C, D dan seterusnya. Kursi mereka bisa cepat beralih, meski bertambahnya kekayaan perusahaan angkanya tidak berubah.

Lantas apa hubungannya dengan suku bunga?

  1. Pertama kita lihat dulu dari kacamata saham sebagai instrumen investasi. Jika suku bunga turun, maka beban bunga yang harus dibayar perusahaan juga akan menurun. Jika biaya bunga turun, maka hasil yang dapat diperoleh perusahaan – ceteris paribus – tentu tidak lagi Rp 150 ribu, tetapi akan lebih besar dari Rp 150 Ribu. Angka yang lebih tinggi dari Rp 150 Ribu, akan membuat A, B, C  dst. menunjukan reaksi berbeda saat mereka bertransaksi,  dibandingkan ketika hasil perusahaan A Rp 150 Ribu. Penurunan suku bunga ini, secara umum, menjadi katalis peningkatan harga saham di bursa.
  • Kedua, dari titik-pandang saham sebagai salah-satu asset class, maka imbal hasil yang ditawarkan saham ini akan dibandingkan dengan apa yang ditawarkan asset-class lainnya. Jika suku bunga di negara itu 25%, dan bunga obligasi yang 25% ini menjadikan hasil bunganya dalam 4 tahun sudah dapat mengembalikan dana pokok, apa yang akan terjadi di pasar saham? Para pelaku pasar tentu hanya akan tertarik, jika pasar modal dapat memberikan imbal-hasil yang lebih dari 25% yang tidak berisiko itu. Angka PER tidak lain dari kebalikan angka suku bunga. Suku bunga sebesar 25% sama artinya dengan PER 4 X. Oleh karena itu, maka hanya apabila pasar menawarkan PER 4X atau lebih kecil, investor baru akan tertarik berinvestasi di pasar modal. Dengan demikian, hal ini akan menjadikan PER yang dapat ditoleransi pasar berada di kisaran 4X saja. Jika suku bunga negara di itu menunjukan trend penurunan, maka angka PER yang dapat ditolerir juga tentu akan meningkat. Jika suku bunga itu turun dari 25% ke 7%, maka PER yang bisa diterima oleh pasar tidak lagi 4X (100 dibagi 25), tetapi menjadi sekitar 14X (100 dibagi 7).

Fenomena yang menunjukan korelasi antara suku bunga serta kinerja index di pasar modal ini, dapat kita amati dari apa yang terjadi di BEI dan di Amerika. Tingginya suku bunga, merupakan kabar buruk untuk pasar modal. Sebaliknya, rendahnya suku bunga akan menjadi kabar baik bagi mereka yang melakukan investasi di pasar modal.

Dow Jones, 1964 : 874. 1981 : 875

Buffett jarang menulis, kecuali melalui Annual Report Berkshire, yang biasa dibagikan satu hari sebelum AGM. Di dalam salah satu tulisannya di Fortune, tahun 1999, dia menulis tentang angka Dow Jones di atas, yang angkanya tidak kemana-mana dalam 17 tahun.

Kita tahu, holding-time investasinya sangat panjang. Namun, apabila dia harus menunggu 17 tahun, dan kemudian tidak mendapatkan apa-apa dalam 17 tahun seperti ditunjukan di atas, saya yakin Buffett akan gerah juga. 

Di dalam periode 17 tahun itu, GDP Amerika (yang mewakili agregasi kegiatan usaha di Amerika) meningkat 370%. Namun peningkatan ini hanya membuat Dow Jones naik 1% saja. 

Terjadinya fenomena ini disebabkan oleh perkembangan suku bunga, yang terjadi dalam periode ini. Suku bunga naik dari 4% di tahun 1964, dan mencapai 15% pada tahun 1981. Peningkatan suku bunga, seperti dijelaskan di atas, mempengaruhi toleransi atas angka PER yang dapat diterima oleh pasar. 

Dengan kondisi suku bunga yang tinggi, semakin kecil dorongan untuk investor berinvestasi di pasar modal. Untuk apa mengalokasikan dana di saham, jika non-risk investment, seperti obligasi, bisa memberikan imbal-hasil yang baik (15%)?

Sejak tahun 1981, kondisi suku bunga yang tinggi ini berubah, dengan diangkatnya Volcker sebagai Chairman Fed. Terjadi pembalikan trend suku bunga, yang turun dari angka 15% (1981) menjadi 5% pada tahun 1998. Sementara GDP Amerika naik sekitar 300%, kenaikan Dow Jones mencatat angka lebih tinggi, 1,000% lebih dari 875 menjadi 9,181. Hal ini bisa diterangkan dengan apa yang sudah dijelaskan di atas. 

Beban bunga yang berkurang, dan dapat meningkatkan laba, menjadi resep ideal, karena dikombinasikan dengan kenaikan angka PER yang dapat ditoleransi pasar. Dengan turunya suku bunga, dari 15% ke 5%, maka PER sebesar 15-16 kali menjadi angka yang dapat diterima oleh pasar. Tidak lagi 6-7 kali, seperti ketika suku bunga masih 15%.

Fenomena yang sama juga terjadi di Indonesia. Kenaikan angka GDP di dalam 12 tahun (1990-2002) tidak menimbulkan pengaruh apapun  terhadap angka IHSG. Angka IHSG tahun 2002 (425) kurang lebih sama dengan angka IHSG tahun 1990 (418). Penyebab utama hal ini terletak pada suku bunga double-digit yang menandai perekonomian kita saat itu. Bahkan pada tahun-tahun 1998-1999, suku bunga mencapai 70%. Insentif apa yang dapat mendorong investasi di pasar modal, apabila non-risk investment menghasilkan yield 20%-25%, dan bahkan sempat 70% dalam beberapa waktu?

Terjadinya trend penurunan suku bunga di awal tahun 2000-an telah mendorong terjadinya pembalikan kondisi ini. Dalam 17 tahun (2002-2019), GDP Indonesia meningkat 522%. Penurunan suku bunga – yang menghasilkan kombinasi peningkatan EPS dan kenaikan PE Ratio yang dapat ditoleransi pasar, membuat IHSG naik dengan angka yang lebih tinggi dalam periode yang sama, yaitu 1,482%. Penurunan suku bunga dari double-digit menjadi single digit berada di balik peningkatan ini.

Trend penurunan suku bunga yang masih akan terus berlangsung ini, menjadi katalis untuk mendorong peningkatan harga saham di bursa.

Salam,

Joeliardi

Published by Joeliardi

Investor, Author.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: