PERSPEKTIF 2 JULI 2020

PERSPEKTIF 2 JULI 2020

Di beberapa catatan sebelumnya, kita sudah melihat bagaimana Fed dan Bank Sentral lainnya memakai resep yang sama dengan apa yang dilakukan saat krisis tahun 2008, Quantitative Easing/QE. QE sekarang ini dilakukan dengan dosis lebih tinggi.

 QE juga dilakukan di Indonesia. Dalam pernyataannya tanggal 26 Mei, BI menyampaikan “Policy coordination between the Government, Bank Indonesia, OJK and LPS towards economic recovery, Bank Indonesia has injected liquidity into the banking industry totaling around Rp 583.5 Trilyun”. 

QE sebesar Rp 583.5 Trilyun di atas itu, dilakukan BI melalui beberapa mekanisme, baik melalui pembelian SBN, repo maupun penurunan RR (Giro Wajib Minimum).

Tanggal 26 Mei 2020, BI memiliki SBN senilai Rp 443 Trilyun, atau naik sebesar Rp 178 Trilyun, dibandingkan dengan angka akhir tahun 2019. Angka ini memberikan indikasi besaran SBN yang dijual oleh investor, yang kemudian dibeli oleh BI.

Di bulan Mei, SBN yang dimiliki perbankan Indonesia tercatat sekitar Rp 886 Trilyun. BI sudah mengisyaratkan, bahwa bank-bank itu dapat melakukan repo SBN, jika mereka membutuhkan tambahan likuiditas. Saya masih belum tahu, sampai sejauh ini, seberapa besar dari SBN itu yang beralih ke Neraca BI. 

Seperti telah disampaikan pada Perspektif sebelumnya, angka defisit tahun 2020 ini diperkirakan mencapai angka Rp 900 Trilyun lebih. 

Peningkatan defisit ini, mengharuskan pemerintah untuk menerbitkan hutang baru. Apabila akhirnya BI harus menyerap SBN sebesar Rp 574 Trilyun, karena pasti tidak ada investor yang akan berminat membeli SBN dengan bunga 0, atau di bawah benchmark.

Berdasarkan Laporan Keuangan BI di tahun 2019, Neraca BI tercatat sebesar Rp 2,351 Trilyun. Berbagai kebijakan yang disebutkan di atas, jelas akan menimbulkan ekspansi besar dalam Neraca BI.

Dampak besar yang ditimbulkan Covid-19 mengharuskan otoritas saat ini mengambil tindakan-tindakan darurat, seperti disampaikan di atas. Tidak melakukan apa-apa, akan menimbulkan konsekwensi yang lebih parah.

Namun demikian, injeksi likuiditas yang sangat masif ini akan menjadi langkah awal terjadinya proses penurunan nilai kertas.

Menjadi bagian dari pemilik (saham) berbagai perusahaan yang baik, dapat menjaga kita dari penurunan nilai uang kertas, yang merupakan bentuk lain dari kenaikan real assets. 

Apabila sejarah dapat dipakai sebagai referensi, apa yang sekarang ini terjadi di pasar, merupakan Buying Opportunity of a life time #3 di BEI.

Di dalam buku CSBPM Vol I, saya menyampaikan, bahwa “…Tidak ada seorangpun yang tahu, apakah mungkin akan terjadi lagi kepanikan di pasar…………….”.(CSBPM, Page 232).

Selanjutnya, “…….Jika memang hal itu terjadi lagi, kira-kira kapan akan terjadinya?………………….Tidak ada seorangpun yang tahu, apalagi bisa meramalkan kapannya……………Namun fakta juga menunjukan, bahwa kepanikan pasar itu sering terjadi. Di Amerika, terakhir terjadi tahun 2008……………….Indonesia juga mengalami hal ini, saat terjadinya krisis ekonomi paling parah di tahun 1998”. (CSBPM, Page 232).

Terjadinya koreksi besar di tahun 1998 dan 2008, menjadi periode di pasar modal yang menawarkan Buying Opportunity of a life time #1 dan #2 di BEI, yang sejarahnya belum terlalu panjang ini. Angka IHSG tidak pernah lagi menengok kebelakang, seperti tampak di gambar.

Dalam buku itu juga saya menyampaikan, “Berdasarkan pengalaman yang saya alami selama ini, rasanya cukup aman untuk mengatakan, bahwa jika ada koreksi besar-besaran di pasar modal (dengan koreksi 40% atau lebih, dan bukan koreksi normal 2%-10%), masa tiga tahun menjadi periode penantian normal, untuk pasar kembali menemukan keseimbangan barunya” (CSBPM, Page 233).

Covid-19 telah menimbulkan March Madness di BEI, yang menjadikan  angka IHSG turun sekitar 41%. Skala kecemasan pasar sebagai akibat Covid-19 ini setara dengan apa yang terjadi tahun 1998 dan 2008.

Bagi mereka yang memang masih terlalu muda untuk bisa mengalami Buying Opportunity of a life time #1 dan #2, sekarang ini pasar sedang menawarkan Buying Opportunity of a life time #3. Bisa jadi Anda harus menunggu sepuluh tahun lagi, untuk mendapatkan kesempatan yang sama.

Berbagai berita, baik tentang perkembangan Covid-19, perekonomian secara umum, maupun kinerja perusahaan, dalam waktu mendatang ini pasti akan mempengaruhi pergerakan harga pasar sehari-harinya. Namun jika Anda fokus dengan #1) membeli perusahaan yang baik, #2) membelinya dengan harga yang baik, #3) memberi kesempatan kepada waktu yang memadai untuk bekerjanya investasi itu, maka apa yang saya sebut Buying Opportunity of life time #3 ini dapat memberi Anda imbalan yang lebih dari memuaskan. 

PELUANG DARI PARADIGMA BARU FITNESS DI NEW NORMAL

Seorang Hedge Fund Manager, yang juga menjadi member SoulCycle  https://soul-cycle.com yang sangat fanatik, di e-mailnya bercerita ke saya, bahwa dia mungkin akan mengembalikan sepeda SoulCycle yang dipakainya selama ini, untuk beralih ke Peloton/PTON.

Kedatangan Covid-19, selain meningkatkan perhatian investors pada perusahaan seperti Zoom, juga meningkatkan popularitas interactive fitness platform, seperti PTON, yang disebutkan Hedge Fund Manager di atas.

Saya bukan mau merekomendasikan PTON. Peningkatan popularitas-nya tampak dalam peningkatan Revenue dalam Kwartal I sebesar 63%, paid-subscribers meningkat 64%, dan 93% retention rate untuk TTM.

Angka-angka yang sangat impresif. Namun, valuasi PTON yang terlalu sulit untuk dapat saya pahami, tidak memungkinkan saya berinvestasi di perusahaan ini. Dalam 3 bulan ini, saham PTON naik 200%, dari $20 menjadi $60, dengan Market Cap USD 17 Milyar.

Dana sebesar itu cukup untuk membeli 12 ULTJ, plus uang kembalian $ 750 Juta. 

Dengan Market Cap sebesar itu, tahun lalu PTON mencatat Revenue sebesar $915 Juta. Labanya tahun lalu? Negatif $195 Juta. Bagaimana dengan CFO-nya? Negatif $108 Juta, meskipun untuk 9 bulan pertama tahun fiskal ini, sudah positif $ 49 Juta. Modalnya? $ 1.5 Milyar.

Saya tidak mungkin tega membeli perusahaan yang angka EV/EBITDA-nya 316 kali, dan Price/Sales-nya 18.5X. Namun, seperti disebutkan di atas, hal ini tidak bisa menghalangi kenaikan harganya sebesar 200% dalam 3 bulan ini.

Mengapa saya menyinggung PTON ini? Karena ada satu produsen gym  dan fitness equipment di Milan Stock Exchange, yang sekarang dalam proses eksekusi untuk melakukan apa yang dikerjakan PTON. Saat ini, saya masih dalam proses menghimpun kembali data-data perusahaan ini. Saya mengharapkan awal minggu depan, sudah bisa rampung, dan bisa memasukan perusahaan ini kedalam JSP.

Berbeda dengan PTON, valuasi perusahaan masih sangat reasonable. Market Cap-nya, kurang dari 10% Market Cap Peleton. Revenue TTM, sekitar Euro 670 Juta, sehingga Price/Sales-nya sekitar 2X. Laba dalam 3 tahun ini naik hampir 100%, dari Euro 43 Juta (2016) ke Euro 83 Juta di tahun 2019. CFO dalam periode yang sama, naik 38%, dari Euro 97 Juta (2016) ke Euro 135 Juta. Angka-angka ini, berbeda dengan angka-angka PTON, masih dapat dikunyah oleh pemikiran saya.

Apabila data-datanya sudah lengkap, saya akan kirim ke member JSP.

Salam,

Joeliardi

Published by Joeliardi

Investor, Author.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: