PERSPEKTIF 1 JULI 2020

PERSPEKTIF 1 JULI 2020

Hari terakhir perdagangan di bulan Juni, IHSG ditutup di angka 4,905, dan mencatat kenaikan 3.2% dalam bulan Juni. 

Setelah turun 27.94% di Kwartal I, angka IHSG mencatatkan kenaikan 8.06% di Kwartal II. Angka ini masih belum dapat memperbaiki angka penurunan IHSG dalam 6 bulan pertama tahun 2020. YTD, IHSG masih mencatat penurunan sebesar 22.13%. Angka ini menempatkan BEI di urutan terbawah, dengan kinerja terburuk diantara 6 negara ASEAN.

Investor asing selama tahun 2020, masih menunjukan Neto Penjualan sebesar Rp 15.6 Trilyun. Hal ini dapat menjadi salah-satu alasan belum pulihnya kembali angka IHSG. Namun dengan Neto Penjualan sebesar Rp 24.9 Trilyun (Januari sampai Minggu ke-II Mei), tampak bahwa dari mulai Minggu ke-III Mei, investor asing sudah mulai masuk kembali ke BEI. Selama bulan Mei, investor asing ini mencatatkan Neto Pembelian Rp 8 Trilyun.

Namun demikian, sampai sejauh ini, tahun 2020 ini bukan merupakan tahun yang baik untuk saham sebagai asset-class.   

Dari sebanyak 36 index bursa dunia, 35 bursa diantaranya di Semester I/2020 ini masih menunjukan angka negatif. Bursa Turki menjadi satu-satunya bursa yang berhasil menunjukan angka positif, sebesar 1.9%. Austria menempati posisi terburuk, dengan penurunan sekitar 29.9%.  

BERBAGAI BEBAN PEMBIAYAAN DEFISIT

Neto penjualan investor asing di BEI, relatif masih lebih baik dari arus keluarnya dana di pasar uang. Berdasarkan laporan BI pada tanggal 26 Juni, saya kutip, “………….non-resident investors have booked a net sell totaling Rp 141.72 trillion in the domestic financial markets”.

Adanya kebutuhan dana buat menutup proyeksi defisit di atas 6% dari GDP (untuk pertama-kalinya setelah krisis 1998), akan mengharuskan pemerintah untuk menerbitkan surat hutang baru lagi, sekitar Rp 904 Trilyun. Adanya rencana pasokan hutang baru ini, dalam jumlah yang sangat besar, bisa menjadi salah-satu faktor dalam sikap wait-and-see investor asing.

Untuk sebagian, hal ini menjadi penyebab angka CDS-Indonesia yang masih belum turun di bawah angka 100. Meskipun saat ini angka CDS ini (130) sudah di bawah angka terburuk di bulan Maret (290), tetapi masih jauh di atas angka bulan Februari (58). 

Demikian pula dengan suku bunga SUN-10 tahun, yang masih belum mau turun di bawah 7%. Besarnya spread SUN-10 tahun dan Treasury-10 tahun, dan tingkat inflasi yang masih terjaga, seharusnya yield SUN bisa mulai turun.  

Sampai sekarang ini, seperti diberitakan Bloomberg, siapa yang bakal menanggung beban defisit masih dirundingkan oleh pemerintah serta BI. Total anggaran untuk Covid ini angkanya mencapai Rp 904 Trilyun. 

Berdasarkan proposal yang ada, dana ini akan dipergunakan 1) untuk kebutuhan belanja publik, seperti kesehatan, jaring pengaman sosial serta program ketersedian pangan, sebesar Rp 397.6 Trilyun; 2) untuk kebutuhan non-publik, seperti program bantuan untuk UMKM dengan jumlah dana sebesar Rp 176.8 Trilyun.

Untuk #1 dan #2 ini, total Rp 574.4 Trilyun, pemerintah mengharapkan bebannya ditanggung oleh BI. Bagaimana caranya? Pemerintah akan menerbitkan SUN untuk kebutuhan dana ini, tetapi untuk #1, SUN itu akan dibeli oleh BI dengan suku bunga 0%. Sementara untuk #2, SUN yang akan dibeli BI ini, suku bunganya 1% di bawah suku-bunga acuan. 

Untuk kebutuhan dana sisanya, Rp 329.6 Trilyun, penerbitan SUN yang dengan suku bunga yang berlaku, akan menjadi beban pemerintah.

Potensi adanya penerbitan surat hutang baru ini, akan menaikan ratio Hutang terhadap GDP. Ratio ini tidak mungkin lagi bisa dipertahankan di bawah 30%. Kombinasi peningkatan hutang, dan kontraksi nilai GDP akan menjadikan ratio lebih tinggi lagi. 

Adanya rencana BI yang akan menjadi pembeli SUN baru, merupakan bentuk lain dari QE. Akan terjadi ekspansi Neraca BI. Namun yang akan menjadi pertanyaan menarik adalah, bagaimana BI meng-absorp suku bunga 0 itu (untuk SUN sejumlah Rp 397.6 Trilyun). Kalau kita lihat di Laporan Keuangan BI tahun 2019 (saya pernah posting di IG, tanggal 1 Juni, perkembangan Neraca BI dari tahun 2000 sampa 2019), selama tahun 2019, BI menghasilkan Surplus sebesar Rp 33 Trilyun. Rencana untuk mengalihkan sebagian beban defisit ini kepada BI, tentunya bisa mempengaruhi surplus yang bisa dihasilkannya. Terlepas dari angka-angka ini, terjadinya hal ini akan menjadikan banyak orang yang mulai bertanya : Bagaimana dengan independensi BI?

Akan menarik, untuk melihat bagaimana perkembangan dari dinamika ini, serta sektor apa saja yang akan mendapat manfaat dari program yang akan dilakukan ini.

Untuk mereka yang sudah join di JSP, dan belum membaca masuknya satu emiten lagi di JSP, yang diposting semalam, dapat membacanya.

Salam,

Joeliardi

Published by Joeliardi

Investor, Author.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: