PERSPEKTIF 29 JUNI 2020

PERSPEKTIF 29 JUNI 2020

Akan sangat menarik untuk bisa mengetahui, apa yang akan dapat kita baca di media-media tahun 2025, atau tahun 2030, tentang apa yang akhirnya terjadi setelah berakhirnya krisis Covid-19 di tahun 2020 ini. (Atau krisis Covid-19 ini tidak akan pernah berakhir?).

Tentu sekarang ini tidak ada yang dapat mengetahui apa yang terjadi, setelah krisis 2020 ini. Dan apa yang akan ditulis media, pada saat kita memasuki tahun 2025, atau tahun 2030 nanti. 

Persis, seperti apa yang kita saat ini sudah mampu kita lakukan.

Saat ini, setelah 22 tahun terjadinya krisis besar 1998 (Indonesia), dan setelah 12 tahun terjadinya resesi besar di tahun 2008 (Amerika), kita baru bisa melihat dengan lengkap krisis itu. Selain itu, kita juga saat ini sudah tahu apa yang terjadi setelah krisis itu berakhir.

Setelah krisis tahun 1998, tidak ada satupun pemilik Bank besar yang dapat mempertahankan Bank-nya. Namun, industri perbankan bukan hanya sekedar masih relevan, tetapi bahkan mencatat pertumbuhan yang sangat besar di dalam 20 tahun terakhir ini. 

Apakah Salim Group akan lebih berusaha keras ketika itu, agar mereka tidak harus melepaskan Bank-nya? Apabila mereka tahu, bahwa Bank yang Assets-nya masih Rp 60-an Trilyun ketika itu, bisa menjadi Rp 919 Trilyun seperti saat ini, mereka pasti bersikeras mempertahankannya.

Masalahnya, tidak ada seorangpun yang tahu. Apalagi dengan kondisi mencekam yang terjadi pada saat itu. Meskipun pemegang mayoritas beralih, namun pertumbuhan perekonomian Indonesia bisa membuat Bank BCA mempertahankan posisinya, sebagai Bank swasta nomor 1 di Indonesia, seperti posisinya waktu masih ditangan Salim Group.

Tidak ada pertumbuhan ekonomi sebuah negara, yang tidak dibarengi dengan pertumbuhan industri perbankan. GDP Indonesia sudah naik dari 115 Milyar US Dollar (1998) menjadi 1.1 Trilyun US Dollar saat ini. Naik 10 naik sepuluh kali lipat. Pertumbuhan ekonomi Indonesia telah menjadi ladang subur bagi industri perbankan.

Pertanyaan kita, ketika Covid-19 masih berada di sekeliling kita seperti saat ini, apakah Covid-19 ini akan membuat peran industri perbankan tidak lagi relevan?

Apakah peranannya akan berkurang, dengan kemunculan Covid-19 ini sehingga membuat kue bisnis industri perbankan semakin kecil? Kalau jawabannya ya, siapa yang lantas mengambil-alih peran intermediasi ini?

Covid-19 menimbulkan dampak buruk terhadap perbankan, kita tidak perlu meragukan lagi. Namun dampaknya tentu berbeda untuk setiap Bank. Dalam beberapa kwartal ke depan, kita akan melihat bagaimana dampak Covid-19 ini kepada masing-masing bank. 

Sejauh ini, saya masih belum melihat ada opsi lain yang akan membuat peran perbankan tidak lagi relevan di Indonesia. Ke-4 bank terbesar, menurut hemat saya, masih akan tetap menguasai industri perbankan nasional. 

Perusahaan Yang Unggul Setelah Krisis  

Seorang analis mengirim e-mail kepada saya minggu lalu. Di e-mail itu, dia bercerita tentang studi yang dilakukan 3 orang Professor Harvard di tahun 2009, tidak lama setelah terjadinya Great Recession Amerika tahun 2008. Saya sudah menyinggung sedikit soal ini dalam Instagram saya, ketika berbicara soal satu emiten di LSE yang baru masuk dalam JSP hari Jumat lalu. 

Mereka bertiga meneliti kinerja 4,700 emiten sebelum, pada saat dan setelah krisis, yang terjadi pada 3 krisis sebelumnya, yaitu 1980-1982, 1990-1991 dan 2000-2002.

Hal yang mereka teliti adalah, apa yang emiten-emiten lakukan atas 6 hal di bawah ini, pada saat kondisi berubah dari baik, menjadi buruk dan kemudian membaik lagi.

Berikut ke-6 items itu :

  1. Jumlah pegawai
  2. Harga Pokok Penjualan (COGS)
  3. R & D (Riset dan Pengembangan)
  4. Marketing
  5. Belanja Modal (CapEx)
  6. Akuisisi

Berdasarkan kajian mereka, mengacu kepada apa yang dilakukan oleh perusahaan itu atas ke-6 hal di atas, mereka memasukan perusahaan kedalam 4 kelompok berikut ini :

  1. Prevention-focused : Memotong pengeluaran, dan pemotongan itu lebih besar dibanding yang dilakukan oleh pesaingnya.  
  2. Promotion-focused : Meningkatkan belanja promosi yang lebih besar dibandingkan pesaingnya
  3. Pragmatic : Menerapkan kombinasi prevention dan promotion-focused
  4. Progressive : Menurunkan COGS. Karyawan yang diberhentikan, jumlahnya lebih kecil dibanding apa yang dilakukan perusahaan lain yang sejenis. Selain itu, mereka juga mengeluarkan belanja lebih banyak untuk melakukan promosi, belanja modal dan juga melakukan akusisi.

Hal terakhir ini, akusisi – dalam kondisi krisis – yang dilakukan emiten di LSE, menjadi alasan pokok mengapa emiten ini dimasukan kedalam JSP.

Dari kajian yang dilakukan ini, terdapat karakteristik dari perusahaan-perusahaan yang keluar dari krisis itu dengan kondisi yang lebih baik.

Pengurangan biaya, lebih difokuskan kepada upaya-upaya untuk bisa meningkatkan dan memperbaiki efisiensi operasi, jadi tidak berbentuk pemberhentian karyawan hanya sekedar untuk mengurangi biaya.  

Peningkatan efisiensi ini juga memungkinkan perusahaan untuk dapat membelanjakan sumber-dana yang dimiliki, yang dapat memperbaiki kinerja perusahaan melalui pemasaran, R&D dan akuisisi.

Dia memberikan contoh apa yang dilakukan Target. Target menaikan belanja promosi dan belanja modal-nya, masing-masing 20% dan 50% di atas apa yang perusahaan ini belanjakan, sebelum krisis terjadi.

Jumlah outlet meningkat dari 947 menjadi 1,047 unit. Peningkatan ini dilakukannya paralel dengan program peningkatan produktifitas serta perbaikan efisiensi dalam supply chain. Target tidak melakukan sendiri program “online-store”-nya, tetapi dilakukan dengan menjadi partner Amazon.

Jika kita mau memanfaatkan kajian mereka, untuk dapat menemukan perusahaan yang memiliki posisi lebih kokoh seusai krisis, ada metrik-metrik yang dapat kita pakai. 

Kajian itu berkesimpulan, bahwa ada 2 atribut dari the winner :

  1. Kinerja keuangan yang lebih baik
  2. Pertumbuhan penjualan dan EPS at least 10% lebih baik dari apa yang bisa ditunjukan perusahaan lain dalam kelompoknya.

Untuk butir 1 itu kita bisa melihat perbaikan itu dalam sejumlah metrik seperti Gross Margin dan Operating Margin, serta perbaikan pada CFO perusahaan.

Untuk di BEI, ada sejumlah pengamatan yang sedang dilakukan untuk beberapa perusahaan di periode 2000-2003, dan 2009-2002. Apabila ada hasil pengamatan yang menarik, akan saya sharing di lain waktu.

Salam,

Joeliardi Sunendar 

Published by Joeliardi

Investor, Author.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: