PERSPEKTIF 25 JUNI 2020

PERSPEKTIF 25 JUNI 2020

Dalam perdagangan hari Rabu, 24 Juni 2020 kemarin, IHSG mencatat angka kenaikan 85.60 point, atau sekitar 1.75%. Kenaikan IHSG ini juga ditandai dengan peningkatan nilai transaksi (Rp 9.8 Trilyun), yang lebih tinggi dibandingkan rata-rata transaksi dalam Minggu ke-3 bulan Juni (Rp 7.9 Trilyun).

Advance To Decline Ratio (ADR) tercatat 1.55 X, dimana jumlah emiten yang mengalami kenaikan berjumlah 245 emiten, sementara ada 158 emiten yang harga sahamnya turun. ADR di atas 1 X ini mencerminkan kondisi pasar yang sedang bergairah kemarin.

Investor local masih mendominasi perdagangan. Investor asing, dalam transaksi perdagangan kemarin, mencatatkan Neto Penjualan Rp 251 Milyar. Year To Date untuk tahun 2020 ini, investor asing mencatatkan Neto Penjualan sebesar Rp 13.6 Trilyun.

Keputusan pemerintah untuk menempatkan dana Rp 30 Trilyun di ke-4 Bank BUMN, menjadi pendorong kenaikan angka IHSG. Bagi mereka yang membaca Newsletter Perspektif pada tanggal 14 Juni 2020, tentu telah mengetahui, bahwa penempatan dana pemerintah di Bank-Bank ini memang sudah merupakan bagian kebijakan moneter dan stimulus fiskal BI/Pemerintah Indonesia.

Cuplikan Perspektif tanggal 14 Juni 2020, saya kutip disini, “Bank juga bisa minta pemerintah untuk dapat menempatkan tambahan dananya di perbankan”.

Pasokan likuiditas ini, tentu saja tidak akan berhenti disini, seperti apa yang ditambahkan dalam catatan tanggal 14 Juni itu,  “Proyeksi defisit yang lebih dari Rp 1,000 Trilyun, serta kebutuhan penempatan dana pemerintah di perbankan ini dapat dilakukan melalui penerbitan SUN, dimana BI akan menjadi pembelinya”. 

Reaksi pasar atas penempatan dana pemerintah di Bank-Bank BUMN ini, jelas tampak dari kontribusi sektor keuangan dalam kenaikan IHSG kemarin. Sektor keuangan menjadi leader di dalam “pacuan kuda” dan mencatat kenaikan 3.2%, atau 145 basis point lebih baik dibandingkan kenaikan IHSG. Dari kenaikan IHSG sebesar 85.6 point itu, sekitar 40.7 point (47.5%) disumbangkan oleh 4 Bank terbesar di Indonesia.

Namun demikian, pandangan bahwa hal ini bisa segera meningkatkan kembali kredit perbankan, saya kira masih terlalu dini. Didalam kondisi perekonomian yang sedang lesu, menaikan pinjaman atau melakukan ekspansi tentu bukan merupakan pilihan utama perusahaan.

Dalam pandangan saya, berbagai kombinasi kebijakan yang dilakukan selama ini, lebih untuk menstabilkan likuiditas. 

Dalam Tinjauan Kebijakan Moneter bulan Juni 2020 yang disampaikan BI tanggal 22 Juni, BI mengungkapkan (butir-4), saya kutip “melakukan injeksi likuiditas (Quantitative Easing) ke pasar uang dan perbankan dalam jumlah yang besar…….”. Berapa angkanya tidak lagi disebutkan di dalam laporan terakhir BI.

Namun jika mengacu apa yang disampaikan oleh BI pada bulan-bulan sebelumnya, angkanya mencapai Rp 503.8 Trilyun (di bulan April), dan naik menjadi Rp 583.8 Trilyun (di bulan Mei).

Tentu saja kita tidak bisa menggunakan kacamata yang sama tentang QE yang dilakukan BI, dengan QE yang dilakukan Fed. Dollar – senjata Fed – memiliki privilege yang tidak dimiliki oleh Rupiah.

Mari kita lihat.

QE dan ekspansi Neraca Fed diikuti dengan ekspansi M2. Saya refresh definisi M2, yang merupakan penjumlahan angka M1 (uang kartal dan giro) ditambah “uang kuasi” (tabungan, deposito serta surat berharga kecuali saham).

Covid-19 telah meningkatkan Neraca Fed dari $ 4 Trilyun menjadi $ 7 Trilyun. Banyak pengamat memperkirakan bahwa Neraca Fed ini akan meningkat sampai $ 10 Trilyun pada akhir tahun ini. 

Ekspansi Neraca Fed $ 3 Trilyun itu diikuti juga oleh peningkatan angka M2 (Money Supply). Ada kenaikan asset keuangan sebesar $ 3 Trilyun di tangan masyarakat. Tidak heran, jika banyak orang yang tidak heran atas kenaikan di Wall Street, dengan melihat masifnya injeksi likuiditas sekarang ini.  

Bagaimana mungkin kebijakan Fed seperti ini bisa membuat kenaikan harga saham? Bukankah Fed tidak masuk ke bursa – dan meningkatkan demand – yang bisa mendorong kenaikan harga saham? Bukankah Fed hanya membeli Treasury dan Bond saja, bukan saham?

Mari kita bayangkan likuiditas itu (tanpa adanya Fed) di dalam sebuah Gentong yang lentur. Gentong (Kemakmuran) ini berisikan 2 elemen pokok : Saving dan Investment. Besaran Gentong akan terus-menerus mengalami penyesuaian, dengan konsumsi yang dilakukan, tambahan belanja investasi dan arus kas yang dihasilkan dari kegiatan usaha.

Konsumsi yang diambil dari Saving, akan membuat Gentong tadi lebih kecil. Tetapi jika konsumsi itu diambil dari peningkatan hasil kegiatan usaha (yang hasilnya lebih besar dibandingkan belanja konsumsinya), Gentong akan tetap membesar. Terjadinya peningkatan hasil kegiatan usaha (yang dicerminkan dalam arus kas) akan meningkatkan besaran Gentong itu. 

Terjadinya Covid-19 telah menurunkan belanja konsumsi dan investasi di satu sisi, dan menurunkan arus kas yang dihasilkan melalui kegiatan usaha. Penurunan belanja konsumsi akan menaikan elemen Saving. 

Perhatikan terjadinya kenaikan Saving di Gambar ini, sejak terjadinya Covid-19. 

Covid-19 telah menghentikan mayoritas kegiatan usaha. Oleh karena itu, arus kas yang dihasilkan menjadi kecil, atau bahkan hilang. Apabila ini terjadi dalam waktu yang panjang, maka Gentong kemakmuran itu akan semakin mengecil. Kita sudah sering mendengar serta membaca tentang proyeksi penurunan GDP. Adanya pengurangan (atau bahkan hilangnya arus kas ini), pada gilirannya akan menurunkan Saving serta Investment yang berada dalam Gentong (Kemakmuran) itu.

Dalam kondisi seperti ini, kombinasi kebijakan moneter serta stimulus fiskal, melalui injeksi likuditas yang masif, bisa menambal lubang yang ditimbulkan oleh berhentinya kegiatan usaha – yang menurunkan arus kas perusahaan, dan penghasilan karyawan. Dengan adanya injeksi ini, maka lubang itu tidak harus memakan elemen Saving dan Investment.

Saya lupa tanggalnya, tetapi di bulan Maret, fenomena ini juga telah dibahas, dimana Treasury serta Gold, yang sering dianggap safe haven setiap terjadinya krisis, harganya malah turun. Penurunan hasil usaha, serta ambruknya harga real-assets, menimbulkan masalah likuiditas. Hal ini mengharuskan investors untuk menjual safe haven-nya, karena adanya kebutuhan likuiditas itu. Itu sebabnya harga Treasury di pasar mengalami penurunan (dan mengakibatkan yield) naik. 

Langkah pertama Fed membeli Treasury, dan BI membeli SUN, karena itu menjadi langkah yang tepat dalam menstabilkan kondisi likuiditas di pasar, saat terjadinya March madness itu. Pembelian besar-besaran yang dilakukan Fed dan BI (di Indonesia) telah bisa menurunkan yield.

Elemen Saving/Investment dalam Gentong – yang sudah ada sebelum datangnya Covid-19 – tidak lagi harus dijual, karena adanya tambahan injeksi likuiditas. Terjadinya penjualan instrumen  – meskipun non-risk assets, seperti Treasury – akan mendorong penurunan harganya.

Jika non-risk assets harganya terus menerus turun, dapat dibayangkan dampaknya terhadap sistem keuangan. Siapa lagi yang mau membeli risk-assets – seperti corporate bonds dan saham – kalau non-risk assets saja harganya jatuh? Masalah likuiditas bisa berubah menjadi masalah solvabilitas. 

Pembelian Corporate Bonds yang secara langsung dilakukan oleh Fed, untuk individual bonds, menjadi isyarat target Fed untuk memastikan bisa berfungsinya kembali credit market. Kegiatan bisnis yang terhenti akibat Covid, menjadikan banyak perusahaan yang harus merancang-kembali struktur pendanaan/permodalannya. Kehadiran Fed, sebagai pembeli Bonds, membantu fungsi yang selama ini dilakukan Lembaga Keuangan. Tanpa kehadiran Fed di Credit Market, Lembaga Keuangan yang masih limbung terkena dampak Covid-19, Credit Market ini tidak dapat berfungsi secara optimum.

Injeksi likuiditas yang dilakukan Fed, berhasil membuat yield non-risk assets, seperti Treasury, turun di bawah 1%. Rendahnya imbalan yang dapat diberikan non-risk assets ini, pada gilirannya membuat semakin menariknya risk-assets seperti saham dan obligasi, yang bisa memberi imbalan jauh lebih menarik. 

Dua hari lalu, CNBC melaporkan bahwa saat ini ada dana sebesar $ 5 Trilyun di Money Market Fund. Dengan yield Market Fund sekarang ini yang hanya 0.23%-0.28%, kenaikan angka S&P 500 sebesar 40% dalam 3 bulan ini, bisa mendorong beralihnya dana itu dari money market ke pasar modal. 

Apa yang dilakukan oleh Fed, melalui pembelian Bonds itu, tidak dapat dilakukan BI. BI tidak memiliki mandat untuk bisa melakukan kegiatan seperti itu. Sejauh ini, BI hanya dapat melakukan pembelian SBN lewat pasar sekunder maupun pasar primer. Mandat untuk bisa melakukan pembelian di pasar primer ini menjadi sangat penting, karena sampai akhir tahun – dengan peningkatan defisit dari 3% menjadi 6.2% – akan ada tambahan surat hutang baru yang diterbitkan pemerintah, sekitar $ 23-26 Milyar (estimasi Goldman Sachs). Apabila BI harus menyerap semua hutang pemerintah yang baru ini, jumlah SBN yang tercatat di buku BI akan naik dua kali lipat. Akan terjadi ekspansi Neraca BI.

Dari Neraca BI terakhir yang saya miliki, yaitu akhir tahun 2019, Neraca BI tercatat Rp 2.351 Trilyun. Pembelian (dan rencana pembelian dalam tahun 2020) surat hutang pemerintah, diperkirakan akan menjadikan Neraca BI berada di atas angka Rp 3,000 Trilyun, atau naik sekitar 40%.

Saya tidak memiliki angka Neraca bulanan BI. Selain itu, saya juga tidak tahu, apakah, seperti Fed, BI menerbitkan Neraca bulanan, yang dapat diakses setiap saat di webpage-nya. 

Terkait M2 ini, data terakhir yang ada, berasal dari Laporan Analisis BI yang dipublikasikan tanggal 3 Juni 2020. Ada time lag cukup panjang, karena yang disampaikan bulan Juni itu adalah data M2 untuk periode bulan April 2020.

Berbeda dengan lonjakan M2 di Amerika, sebagai akibat dari adanya kebijakan QE, seperti disampaikan di atas, M2 pada bulan April 2020 di Indonesia, justru menunjukan penrunan. Bulan April, besaran angka M2 tercatat Rp 6,238 Trilyun, turun dari Rp 162 Trilyun dari angka di bulan Maret (Rp 6,440 Trilyun). Net cash outflow investors asing, saya perkirakan menjadi alasan terjadinya hal ini. Namun, seperti dikatakan di atas, data ini adalah data bulan April. Perkembangan yang terjadi di bulan Mei dan Juni, dapat mengubah gambaran itu.

Namun demikian, secara umum, apa yang ditunjukan didalam industri perbankan, mengisyaratkan hal yang sama di bulan April. Dana pihak ketiga mengalami penurunan sekitar 1.6%, yaitu dari Rp 5.979 Trilyun  (Maret), menjadi Rp 5.883 Trilyun (April).

Hal yang sama tampak dalam angka-angka kredit. Angka pinjaman di bulan April (Rp 5.601 Trilyun), turun Rp 102 Trilyun dibanding dengan angka bulan sebelumnya (Rp 5.703 Trilyun). YoY, angka pertumbuhan pinjaman juga semakin kecil, hanya tumbuh 4.9%, dari angka sebesar 7.2% yang tercatat pada bulan sebelumnya.

Data-data yang lebih mutakhir, serta laporan keuangan bulanan bank-bank, mungkin akan bisa memberikan gambaran yang lebih baik.

Namun agak berbeda dari biasanya, laporan keuangan dari Bank besar seperti BRI, misalnya, untuk bulan April saja, baru dikeluarkan tanggal 19 Juni minggu lalu. Boleh jadi LK Kwartal II/2020, juga baru dapat kita akses lebih lamban dari biasanya.

Salam,

Joeliardi Sunendar

Published by Joeliardi

Investor, Author.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: