PERSPEKTIF 24 JUNI 2020

PERSPEKTIF 24 JUNI 2020

PRICE TAKER VS PRICE MAKER

Saya muat kembali gambar perkembangan harga sejumlah komoditi, yang saya kirim kemarin

Saya yakin Anda sudah dapat melihatnya dengan jelas, harga itu setiap tahunnya naik turun. Kalau waktu tahunan itu kita buat menjadi bulan, kita juga akan melihat naik turunnya harga itu setiap bulannya.

Mining companies, betapapun besarnya mereka, kalau ingin menjual barangnya, mereka hanya dapat menjual dengan harga yang terjadi di pasar.

Exxon, British Petroleum, Chevron atau Shell, tidak akan bisa menjual crude oil yang dihasilkannya dengan harga $ 60, kalau harga minyak di pasar $ 30. Mereka tidak memiliki pilihan lain, kecuali mengikuti harga yang terbentuk di pasar. 

Begitu pula Freeport atau Newmont, untuk gold. PTBA, ADRO, ITMG dan INDY untuk batubara. INCO, ANTM, maupun VALE untuk komoditi nikel, juga Cameco, misalnya, untuk uranium.

Perusahaan-perusahaan ini hanya bisa menjual produknya mengikuti apa yang ditetapkan pasar. Mereka tidak memiliki kekuatan yang bisa menentukan harga produknya sendiri. Mereka adalah Price Taker.

Oleh karena itu, PRICE (yang akan ditentukan oleh apa yang dihasilkan kinerjanya, VALUE) akan sangat berfluktuasi. Itulah sebabnya, apabila kita ingin berinvestasi pada commodity-based companies ini, tahapan siklus dimana kita berinvestasi, menjadi sangat krusial. 

Jika kita berinvestasi di tahapan siklus yang tepat – pada saat bisnis ini sedang tidak disukai, ketika harga komoditasnya turun, dan membuat banyak perusahaan di sektor ini bangkrut – mengalokasikan sebagian dana portfolio di sektor ini, dapat menghasilkan imbalan yang baik.

Kebangkrutan masal di sektor ini, karena banyak perusahaan tidak lagi sanggup produksi – harga produk lebih tinggi dari biaya produksinya – akan menghasilkan penurunan produksi. Penurunan produksi, apabila produk ini masih dibutuhkan, akan menciptakan keseimbangan harga yang baru. Akan terjadi proses kenaikan harga komoditas ini di pasar. 

The cure for low price is a low price.

Kenaikan harga komoditasnya, akan membuat saham-saham di sektor ini kembali menjadi perhatian investors. Jika saham perusahaan sudah disukai oleh investor, siapa yang dapat menahan kenaikan harganya?

Oleh karena itu, kenaikan double-digit, dan bahkan triple-digit, dalam harga saham perusahaan di sektor ini, bukanlah sebuah kemustahilan. 

Namun, apabila kita melakukan investasi untuk sektor ini di tahapan siklus yang salah, we will lose our shirt.

Apa indikasi dari tahapan siklus yang salah ini? Yaitu apabila kita mulai masuk ketika harga komoditas ini sudah naik lagi, serta menghasilkan margin yang tinggi untuk perusahaan. Harga sahamnya seperti sudah digambarkan di atas, sudah meningkat triple-digit. Smart money juga sudah mulai banyak yang gemar meramalkan, bahwa harga komoditas ini akan semakin naik lagi dalam waktu dekat ini. Atas dasar itu, smart-money mempublikasikan rekomendasi (yang dikutip berbagai media), untuk membeli saham-saham yang berada di sektor ini. 

Boleh jadi, ketika smart-money mulai mengeluarkan rekomendasinya, sehingga harga saham di sektor ini semakin naik (Tuh kan betul naik, seperti yang mereka bilang), dumb money, yang telah mengakumulasi saham sektor ini 2-3 tahun sebelumnya – ketika hanya suara jangkrik saja yang terdengar, dan membuat harga saham di sektor ini diobral – mulai melepaskan sahamnya, at a very nice price. Smart-money, tentu  saja tidak memiliki kemewahan waktu untuk menunggu selama itu.

Meningkatnya harga serta margin dari perusahaan di sektor ini, tentu akan menarik investasi baru lagi. Apakah untuk meningkatkan tingkat produksi dari perusahaan yang sudah ada, atau berdirinya perusahaan yang baru akan memulai produksinya. Kenaikan produksi ini tentunya akan meningkatkan pasokan baru, dan tahapan siklus baru-pun mulai bergulir lagi. Dan begitulah seterusnya.

Oleh sebab itu, memakai pendekatan Equity Bond untuk perusahaan yang berada di sektor ini, merupakan hal yang mustahil.

Gambaran yang berbeda, terlihat dalam Gambar ke-2, kelompok yang sering saya sebut sebagai Price Maker. 

Kesukaan dan kebutuhan konsumen mereka atas barang maupun jasa yang dihasilkan perusahaan ini, membuat mereka dapat menentukan harganya sendiri. Kombinasi peningkatan volume dan harga yang bisa ditentukannya sendiri, menjadi kunci pertumbuhan Value-nya.

Di dalam jangka panjang, satu-satunya yang akan menentukan Price adalah Value. Apabila Value meningkat, Price akan naik. What’s more simple than that?

Apakah harga saham Hermes akan tetap saja sama, seperti harga yang terjadi di tahun 2009, setelah EPS-nya naik 529% dari Euro 2.75 (2019) menjadi Euro 14.55? Tentu saja tidak. Harga sahamnya pasti naik.

Apakah mungkin harga saham Master Card bisa naik 1,190% dari $ 12 (2009) menjadi $ 298 (tahun 2019), apabila EPS-nya tetap saja seperti EPS pada tahun 2009 ($ 1.12) ?. Tentu tidak mungkin. Kenaikan saham Master Card menjadi mungkin, karena EPS-nya telah meningkat 695%, menjadi $ 7.79 pada tahun 2019.

Kelompok perusahaan ini – dengan kekuatannya sebagai price maker – secara konsisten mampu meningkatkan EPS-nya  (Value perusahaan) dari tahun ke tahun. Para pemegang sahamnya, hanya membutuhkan perjalanan waktu buat memperoleh hasilnya. Ladang permainan yang berlangsung setiap saatnya di pasar, bukan merupakan ladangnya. 

Bandingkan dengan contoh saham di paling bawah, British Petroleum, yang EPS-nya sangat lumpy. Naik turun tidak ada polanya. Sementara harga saham Master Card dan berbagai perusahaan baik lainnya naik, ratusan, dan bahkan ribuan, persen dalam 10 tahun terakhir, harga BP dalam periode yang sama justru turun lebih dari 40%.

Itulah sebabnya Buffett sering mengatakan “Time is the friend of the wonderful company, the enemy of the mediocre”. 

Salam,

Joeliardi   

Published by Joeliardi

Investor, Author.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: