PERSPEKTIF 19 JUNI 2020

PERSPEKTIF 19 JUNI 2020

Pertemuan Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia tanggal 17-18 Juni kemarin, selain memutuskan penurunan suku bunga BI-RRR (Reverse Repo Rate) sebesar 25 bp menjadi 4.25%, juga memutuskan beberapa ketentuan lainnya.

Covid-19 menimbulkan permasalahan untuk perusahaan-perusahaan, yang menjadi nasabah industri perbankan. QE melalui instrumen SBN, dilakukan untuk dapat memastikan bahwa likuiditas tetap bisa terjaga dengan baik. Penurunan persentase Giro Wajib Minimum, dari angka 5% menjadi 2%, juga menjadi bagian tambahan injeksi likuiditas dalam industri perbankan.

Dalam pertemuan kemarin, BI memberikan tambahan stimulasi untuk perbankan. BI memutuskan untuk memberikan jasa giro sebesar 1.5% kepada Bank yang dapat memenuhi Giro Wajib Minimum. Bunga 1.5% ini diberikan BI untuk jumlah dana sebesar 3% dari Dana Pihak Ketiga. Adanya jasa giro ini, menjadi tambahan pendapatan perbankan.

BI memperkirakan bahwa perekonomian kita masih akan mengalami kontraksi dalam Kwartal II/2020. Sementara untuk keseluruhan tahun 2020, BI memperkirakan akan terjadi kontraksi perekonomian sebesar 0.9%-1.9%. Kalau kita terjemahkan dalam angka, penurunan kue PDB ini berada di kisaran Rp 140 Trilyun – Rp 300 Trilyun. Kombinasi dari kebijakan moneter dan stimulus fiskal sejauh ini, angkanya telah lebih besar dari proyeksi penurunan kue PDB ini. Mengacu kepada proyeksi ini, perbaikan perekonomian diharapkan mulai terlihat dalam Kwartal III/IV. Untuk tahun 2021, BI memperkirakan pertumbuhan PDB sekitar 5%-6%.

Sebagaimana telah disampaikan kemarin, terjadinya kenaikan surplus perdagangan sebesar USD 2.09 Milyar dari Defisit USD 372 Juta (April), lebih disebabkan oleh penurunan tajam (42%) angka Impor. Turunnya impor ini, terutama dalam hal bahan baku produksi dan capital goods, harus terus diperhatikan. Karena dapat mengganggu sisi supply.

Mulai terlihatnya arus dana masuk, sebesar USD 7.5 Milyar di Kwartal II sampai 15 Juni, menunjukan mulai menariknya asset domestik kita. Arus dana masuk ini berhasil meningkatkan kembali cadanga devisa di bulan Mei, yang tercatat sebesar USD 130.5 Milyar. Perkembangan ini, menjadi salah-satu alasan mengapa BI memperkirakan bahwa defisit transaksi berjalan akan berada di kisaran 1.5% dari PDB dalam bulan-bulan mendatang. Angka defisit ini jauh  di bawah perkiraan awal yang berkisar 2.5%-3% dari angka PDB.

Dari sisi perbankan, CAR perbankan Indonesia sebesar 22.03% di bulan April, menunjukan masih tetap terjaganya stabilitas sistem keuangan. NPL (gross) tercatat 2.89% serta 1.13% (neto), masih berada di kisaran angka yang wajar. Namun demikian, dengan angka pertumbuhan sisi kredit (5.7%, April yoy), yang lebih rendah dibandingkan dengan angka pertumbuhan DPK (8.1%) menunjukan fungsi intermediasi yang masih belum optimum.

CDS 5 tahun Indonesia yang tercatat saat ini, 126, jauh di bawah angka tertingginya di 290, pada tanggal 23 Maret 2020, menjadi indikasi dari mulai pulihnya kembali keyakinan investor terhadap Indonesia. Carry-trade yang mulai menarik perhatian pasar lagi, bahkan menempatkan Indonesia di peringkat teratas Carry Titans, seperti laporan Bloomberg kemarin.

Untuk mereka yang masih bertanya tentang private placement BSDE, yang diumumkan kemarin, ada beberapa catatan tambahan :

Peraturan OJK No. 038/POJK.04/2014, memungkinkan emiten untuk melakukan penambahan modalnya tanpa Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu (HMETD), “baik untuk memperbaiki posisi keuangan maupun selain untuk memperbaiki posisi keuangan Perusahaan Terbuka”.

Ada sejumlah persyaratan, yang tentunya harus dipenuhi dahulu, jika “memperbaiki posisi keuangan” merupakan dasar untuk penambahan modal tanpa HMETD. 

BSDE jelas tidak bisa memenuhi persyaratan itu. Namun alasan “selain untuk memperbaiki posisi keuangan” dapat merupakan alasan untuk BSDE mengambil langkah ini. 

Penambahan modal tanpa HMETD, hanya dapat dilakukan maximum 10% dari modal disetor. BSDE mengambil angka maximum ini, dengan menerbitkan saham baru sebanyak 1.92 Milyar, dengan harga Rp 640 per-saham. Dengan harga pelaksanaan ini, maka BSDE mendapatkan tambahan dana sebesar Rp 1.22 Trilyun. Tambahan saham seluruhnya diambil oleh 2 pemegang saham utama, yang saat ini memiliki 51.58% saham, sehingga kepemilikannya meningkat menjadi 55.98%.

Secara fundamental, tidak ada perubahan berarti dari apa yang telah saya sampaikan sebelumnya, pada saat memasukan BSDE dalam JSP.

Adanya peningkatan modal ini, akan menambah Kas BSDE dari Rp 10.4 Trilyun (31 Maret 2020) menjadi Rp 11.6 Trilyun. Modal naik menjadi Rp 33.4 Trilyun, dari sebelumnya sebesar Rp 32.2 Trilyun (31 Maret). 

Penambahan jumlah saham baru sebanyak 1.92 Milyar, meningkatkan jumlah saham BSDE menjadi 21.17 Milyar lembar saham, dari 19.24 Milyar (31 Maret). NBV berubah dari Rp 1,672 menjadi Rp 1,578. Tidak terlalu banyak berubah, dibandingkan dengan entry point JSP di harga Rp 760.

Berapa besar nilai tambah yang dapat dihasilkan dari tambahan modal ini, tentunya akan sangat tergantung kepada capital deployment yang dilakukan manajemen BSDE.

Namun demikian, pelaksanaan penambahan modal tanpa HMETD ini, seperti sudah saya sampaikan sebelumnya, menjadi ganjil karena saat ini tidak ada urgensi yang mengharuskan perusahaan melakukannya.

Pertama, sekarang ini perusahaan memiliki saldo Kas Rp 10.2 Trilyun, dan hutang bank yang akan jatuh tempo tahun ini, jumlahnya hanya Rp 581 Milyar.

Kedua, dalam laporannya kepada OJK, pada tanggal 18 Maret 2020, BSDE telah menyampaikan rencananya untuk melakukan shares buy-back. Dalam keterangan pers-nya, bahkan Direksi BSDE menyebutkan, bahwa shares buy-back ini akan dilakukan dengan menggunakan dana internal senilai Rp 1 Trilyun. Oleh karena itu, terjadinya penambahan modal tanpa HMETD ini menjadi ganjil. Untuk apa membeli sahamnya kembali, lewat program  shares buy-back, jika kemudian menerbitkan saham baru. Apabila kedua pemilik saham utama mau meningkatkan sahamnya, mengapa mereka tidak membelinya di pasar saja. Kalau mereka membelinya di pasar, BSDE tentu tidak harus mengeluarkan dana untuk melakukan shares buy-back.  

Sejauh ini, saya belum mendapatkan informasi berapa banyak saham yang dibeli melalui program shares buy-back ini, dan di harga berapa. Angka-angka di atas, tentunya harus kita sesuaikan dengan pembelian kembali saham yang dilakukan BSDE dari bulan Maret, sampai dengan 18 Juni kemarin.

Apakah terjadinya keganjilan ini akan berpengaruh terhadap harganya di bursa dalam jangka pendek? Bisa saja. I don’t know. 

Apakah kedua pemegang saham utama akan menjual kembali di pasar tambahan 1.92 Milyar saham yang mereka dapatkan di harga Rp 640 ini? Jika ini yang dilakukan, bisa jadi meningkatnya order jual akan bisa menurunkan harganya. Namun, saya meragukan, bahwa keuntungan selisih harga yang terjadi saat ini merupakan motivasi para pemegang saham utama ini.

Sambil tetap berpedoman kepada Traling Stop, mereka yang memiliki time-frame investasi yang memadai, dapat mengabaikan soal private-placement ini. Private-placement tidak mengubah thesis investasi JSP di perusahaan ini. Namun, adanya hal ini menurunkan point corporate governance BSDE, sampai ada penjelasan lebih lanjut, dan yang lebih masuk akal, dari manajemen BSDE.

Salam,

Joeliardi Sunendar

Published by Joeliardi

Investor, Author.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: