PERSPEKTIF 18 JUNI 2020

PERSPEKTIF 18 JUNI 2020

Dari hasil survey yang diberitakan Bloomberg, penurunan suku-bunga, akan menjadi salah satu keputusan Rapat BI yang dilakukan hari ini.

Perkiraan penurunan suku bunga 25 basis points, menjadi 4.25%, akan merupakan pemotongan suku bunga yang ketiga kalinya tahun 2020. 


Banyak yang menduga, penurunan 25 basis points ini akan dilakukan oleh BI dalam pertemuannya bulan Mei lalu. Namun, pada pertemuan bulan lalu, BI tetap mempertahankan angka suku bunga 4.50%.

Gubernur BI sendiri dalam sejumlah kesempatan, telah menyinggung soal lebarnya spread antara US Bonds dan SUN yields. Ditambah angka inflasi yang relatif rendah, dan membaiknya angka defisit, nilai Rupiah dianggap masih undervalued, sehingga memiliki potensi menguat.

Pandangannya ini, tampak disepakati pasar. Kondisi ini telah kembali mendorong terjadinya carry-trading. Memanfaatkan kondisi tingginya spread yang dihasilkan dari currency yang memiliki potensi penguatan nilai tukar. You got the best of the two world : high interest rate serta nilai tukar yang menguat. Seperti ditunjukan di dalam gambar, dari 9 Carry Titans, Rupiah berada di peringkat teratas.

Mengacu kepada pandangan ini, penurunan 25 basis points pada hari ini, mungkin sudah berada di meja. Pasar sebenarnya cukup surprise, ketika pertemuan BI bulan lalu itu tidak memutuskan penurunan suku bunga.

Namun demikian, dalam pandangan saya, keputusan penurunan suku bunga hari ini, jika dilakukan, lebih didorong oleh proyeksi penurunan GDP di Kwartal II/2020. Hari Selasa lalu, pemerintah memperkirakan, bahwa PDB akan terkontraksi sebesar 3.1% pada Kwartal II/2020 ini. Kontraksi ini lebih buruk dibandingkan Kwartal I/2020, sebesar 2.41% (qoq).

Terjadinya kontraksi pada Kwartal II/2020 ini, tentu akan mengubah angka proyeksi GDP (yoy), yang sebelumnya diperkirakan akan berada di angka 2.97%. Sejauh ini saya belum mendapatkan angkanya.

Meskipun keputusan penurunan suku bunga selalu memiliki dua sisi, namun, pada umumnya penurunan suka bunga selalu disambut baik oleh pasar. Melemahnya perekonomian – yang menjadi trigger untuk terjadinya penurunan suku bunga ini – sering berada di balik layar.

Bulan Mei kemarin, Neraca Perdagangan Indonesia mencatat surplus sebesar USD 2.1 Milyar, naik hampir 1,000% dibanding angka surplus di bulan Mei tahun 2019 (USD 220 Juta). Bulan April 2020, Indonesia masih mencatat angka defisit perdagangan sebesar USD 372 Juta.

Namun peningkatan surplus perdagangan yang terjadi pada bulan Mei ini, menjadi indikator tentang melambatnya mesin perekonomian ini. Terjadinya surplus, diakibatkan oleh menurunnya impor, sekitar 42%. Penurunan masuknya bahan baku, dan capital goods (komponen dari angka impor), tetap harus menjadi bahan perhatian kita. 

Apabila sisi demand yang akan kembali meningkat melalui re-opening, dan ada time-lag dari sisi supply untuk memenuhi kebutuhan bahan baku dan capital-goods, kesenjangan ini tentu akan dapat mendorong kenaikan harga. Apalagi menjelang serta saat Idul Adha, angka inflasi selalu bergerak naik. Apakah BI akan lebih memilih buat mencegah hal itu, atau baru akan melakukan tindakan setelah indikasinya terlihat. 

Apa yang diputuskan BI hari ini bisa memberi kita indikasi mana pilihan yang akan diambil. Selain itu, kembali kita akan melihat berapa besar response (kebijakan moneter dan stimulus fiskal) yang disiapkan, guna menjawab damage yang terjadi ini.

Salam,

Joeliardi

Published by Joeliardi

Investor, Author.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: