PERSPEKTIF 16 JUNI 2020

PERSPEKTIF 16 JUNI 2020

FED VS CORONA

Apa yang terjadi di Wall Street kemarin, kembali menunjukan semakin besarnya peranan Fed di pasar – Fed, telah menjadi big player di pasar.

Rencana Fed, bahwa akan mulai melakukan pembelian bond langsung (individual corporate bonds) – melalui Secondary Market Corporate Credit Facilty – membuat S&P 500 berbalik, dari kondisi negatif 2.5% di awal perdagangan menjadi positif 0.83% di akhir perdagangan kemarin di New York.

Sebelum Wall Street dibuka, Index S&P 500 maupun Dow Jones Future menunjukan angka negatif sepanjang perdagangan di Asia dan Eropa. Hal ini telah membuat pasar di Asia dan Eropa mengalami penurunan dalam perdagangan kemarin. Pembalikan yang terjadi di Wall Street semalam, diperkirakan akan mendorong kenaikan pasar di Asia serta Eropa hari ini.

Pembelian corporate bonds oleh Fed selama ini, dilakukan melalui ETF yang keranjangnya berisi corporate bonds. Di catatan Persepktif yang ditulis sebelumnya, apa yang dilakukan Fed ini telah mendorong LQD (ETF Investment Grade Bonds) mengalami kenaikan.

Injeksi likuiditas yang dilakukan Fed dari bulan Maret, mencerminkan   kekuatan yang ditunjukan Fed. Tanpa adanya injeksi itu, yang berhasil menciptakan stabilitas di pasar, tidak mungkin S&P 500 bisa naik 45% dari angka terendahnya.

Apa yang dilakukan Fed saat ini, menjadi indikasi keinginan Fed untuk memastikan tersedianya akses pendanaan untuk perusahaan. Bahkan Fed juga menghimbau pemerintah untuk dapat meningkatkan belanja negara, untuk mempercepat pemulihan ekonomi. 

Berbagai indikator perekonomian menunjukan kondisi perekonomian yang buruk di berbagai sektor. President dari Federal Reserve Bank of San Francisco, Mary. C Daly, seperti dikutip New York Times, mengacu kepada masa pemulihan yang sangat panjang ketika terjadinya Great Depression dan Great Recession. Dibutuhkan waktu bertahun-tahun, bahkan dekade sampai terjadinya pemulihan ketika itu. Oleh karenanya, dia menambahkan, “A decade is too long. We can’t wait 10 years for an economic recovery to reach everyone”.

Dengan attitude seperti ini, kesigaan Fed ini tidak terbatas hanya pada apa yang disampaikannya minggu lalu. Seusai FOMC, Fed menyatakan komitmen, untuk tetap mempertahankan jumlah pembelian Treasury dan MBS sebesar USD 120 Milyar/bulan. Selain itu, 15 dari 17 Board members mengisyaratkan kondisi suku bunga mendekati angka 0 bisa berlangsung sampai tahun 2022. Dimulainya program Fed melakukan pembelian bonds perusahaan secara individu, menguatkan kehadiran Fed sebagai pelaku pasar yang aktif. Dengan langkah ini, Fed ingin memastikan bahwa perekonomian dapat berfungsi kembali secepat mungkin. Perbaikan likuiditas di pasar uang dan pasar modal tidak sama dengan sudah berfungsinya kembali mesin perekonomian.

Akan menarik, untuk melihat apakah industri perminyakan yang sudah memakan banyak korban, dan menyatakan dirinya bangkrut, menjadi target dari program ini. Oil rigs yang sudah anjlok lebih dari 60% dalam setahun ini, akan menimbulkan gangguan pasokan minyak dunia. Jika permintaan kembali normal, dan disrupsi dari sisi pasokan tidak dapat dipulihkan segera, hal ini dapat menjadi pemicu kenaikan oil price. 

Bagaimana di Indonesia? 

Di Indonesia, angka defisit sudah tidak lagi dibatasi maximum sebesar 3%. Angka terakhir yang diajukan pemerintah saat ini 6.27%. Minggu lalu, pemerintah mengumumkan adanya rencana pembangunan 89 proyek baru dalam tahun 2020-2024, senilai USD 95 Milyar. 

Proyek-proyek ini antara lain pembangunan rel kereta api, jalan tol, 5 bandara, 5 pelabuhan, 5 kawasan industri, 3 smelter, dan banyak lain-nya lagi di sektor infrasruktur dan energi.

Proyek-proyek ini, jika dilakukan dengan baik, tentu dapat membantu mempercepat proses pemulihan perekonomian. Berbagai proyek ini, diperkirakan dapat menciptakan tambahan lapangan kerja sebanyak 4 juta orang setiap tahunnya.

Sejauh ini QE yang sudah dilakukan BI, berdasarkan pengumuman BI angkanya telah mencapai Rp 503.8 rilyun. Tambahan stimulus fiskal, sekitar Rp 600 Trilyun, yang meningkatkan defisit Rp 1,028,5 Trilyun, menjadi response tambahan yang dilakukan pemerintah.

Berdasarkan laporan terakhir, GDP di Kwartal I turun 2.41% di Kwartal I/2020. Angka penurunan ini merupakan angka terburuk sejak tahun 2009, saat krisis di Amerika ketika itu juga berdampak pada perekonomian Indonesia.

Dengan kontraksi sebesar 2.41% ini, maka pertumbuhan GDP tahunan untuk 12 bulan sampai Maret 2020, hanya sekitar 2.97%. Angka ini merupakan angka terendah sejak 2011. Dengan perbaikan yang bisa terjadi di Kwartal III dan IV, Menkeu memperkirakan bahwa untuk tahun 2020, GDP Indonesia akan mengalami kontraksi sebesar 0.4%. Sementara, Menko Ekuin, pada sisi lain, memperkirakan GDP Indonesia masih akan tetap mencatat angka pertumbuhan 2.3% untuk tahun 2020.

Apabila kita mengambil dugaan yang lebih pesimis, yaitu kontraksi sebesar 0.4%, kalau kita terjemahkan dalam angka Rupiah akan setara dengan Rp 63 Trilyun. Kalau kita mengambil kontraksi yang terjadi dalam Kwartal I/2020, angka itu setara dengan Rp 379 Trilyun. 

Dengan melihat angka-angka sejauh ini, response yang telah dan akan dilakukan pemerintah, angkanya lebih besar dari kontraksi yang saat ini sudah terjadi dalam Kwartal I/2020.

Oleh karena disrupsi Covid-19 di Indonesia ini mulai meningkat di bulan terakhir Kwartal I dan di awal Kwartal II/2020, apa yang terjadi pada kontraksi perekonomian dalam Kwartal II/2020 masih harus kita lihat. Begitu pula dengan response pemerintah atas perubahan angka-angka yang terjadi.

Namun sejauh ini, kita sudah melihat bahwa response yang disiapkan lebih besar dari kontraksi yang terjadi. 

Saya hanya ingin menambahkan, bahwa dengan berbagai pembatasan yang memang perlu dilakukan, tidak sama artinya dengan berhentinya kegiatan perekonomian secara total. Capacity Utilization di Kwartal I, angkanya masih 74.09%, jauh di atas angka tahun 2008 saat terjadinya krisis tahun 2008, apalagi tahun 1998. Aliran barang – meskipun jelas menurun – masih berlangsung. Pekerjaan masih dilakukan, meskipun tidak lagi di kantor-kantor, WFH. 

Pada saat roda perekonomian bergerak lagi, meskipun dalam pacuan yang lebih lambat, adanya injeksi likuiditas berupa kombinasi stimulus fiskal dan kebijakan moneter, yang angkanya lebih besar dari kontraksi yang terjadi, menjadi elemen yang tidak boleh kita lupakan.

Salam,

Joeliardi

Published by Joeliardi

Investor, Author.

2 thoughts on “PERSPEKTIF 16 JUNI 2020

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: