PERSPEKTIF 15 JUNI 2020

PERSPEKTIF – 14 JUNI 2020

PERSPEKTIF 15 JUNI 2020

Masih menyambung tentang soal membeli atau tidak membeli saham yang harganya sudah naik, minggu lalu saya juga menerima e-mail dari seorang dokter. Subjek e-mail-nya : Timing Entry BBTN.

“….apakah di harga BBTN saat ini masih boleh masuk atau tidak?……. Karena harga saat ini sudah naik 40% lebih (dari harga saat BBTN mulai masuk dalam JSP)….”.

Time memiliki peran sangat krusial dalam keberhasilan portfolio kita. Apabila 2 elemen berikut ini Anda tambahkan dalam strategi investasi Anda, Anda dapat segera merasakan perbedannya.

Pertama, extending your time horison. Kedua, gunakan trailing-stop. 

Pada saat Anda membeli saham, tanamkan keinginan untuk memilki sahamnya dengan time-horison yang memadai. Dengan memiliki niat seperti ini, yaitu memilikinya untuk kurun waktu yang panjang, maka Anda hanya mau membeli saham-saham tertentu saja, dan hanya mau membelinya dengan harga tertentu juga. Anda persyaratan tertentu yang harus dipenuhi saham yang Anda beli itu. Hanya jika persyaratan itu sudah dipenuhi saham tersebut, baru Anda akan membelinya. Hal ini akan menjaga Anda, sehingga bisa terhindar dari kerugian. 

Sekali lagi, time menjadi faktor krusial. Timing? Not so much. Karena sejauh pemahaman saya, tidak ada orang yang bisa mengetahui kapan harga sebuah saham itu berada di bottom-nya, dan kapan di top-nya.

Khusus terkait pertanyaan dari dokter ini, keengganan saya untuk bisa mengiyakan, BUKAN karena harga sahamnya sudah naik 40%. Setiap kita membeli saham di harga tertentu, harga yang dibayarkan ini tidak bisa berdiri sendiri. Pertanyaan dasarnya adalah, VALUE apa yang kita dapatkan dengan membayar PRICE seperti itu. 

Harga saham yang sudah naik 40%, bukan merupakan alasan yang bisa kita pakai untuk tidak mau lagi membeli saham itu. 

Sebelum kita membahas lebih lanjut BBTN, ada baiknya untuk melihat contoh lain, untuk memahami, bahwa kenaikan harga 40% tidak dapat dipakai sebagai alasan yang tepat untuk tidak membeli sebuah saham.

Seperti tampak di gambar, harga saham MSFT sudah naik sekitar 60%, dari USD 63 awal tahun 2017 menjadi $ 104 awal tahun 2019. Apakah harganya yang sudah naik 60% ini, dapat dijadikan alasan untuk tidak boleh membeli sahamnya lagi?. Tentu alasan itu tidak tepat.

Pada saat harga saham MSFT USD 63, laba MSFT (VALUE)-nya “hanya” $ 20 Milyar. Ketika VALUE (laba MSFT) itu naik 95%, mencapai angka  $ 39 Milyar, maka kenaikan harganya yang 40% itu tidak bisa dijadikan alasan untuk tidak membeli saham MSFT. 

Dengan contoh ini jelas, bahwa naiknya harga saham, bukan menjadi alasan yang tepat untuk tidak membeli saham. Harga saham yang kita bayarkan tidak bisa kita perlakukan sebagai hal yang berdiri sendiri.  

Inilah esensi dari Value Investing. Kita meyakini, dan ini sudah terbukti puluhan, bahkan ratusan tahun, PRICE (harga saham) sudah pasti akan mengikuti VALUE (kinerja perusahaan) dalam jangka panjang. 

Oleh karena itu, jika kita memiliki saham perusahaan yang dari tahun ke tahun dapat secara konsisten meningkatkan Value-nya, maka harga sahamnya pasti akan ikut meningkat. Tetapi hal ini memerlukan waktu yang memadai.

Kembali ke soal BBTN. Jadi kenaikan harga BBTN yang sudah naik 40% itu, bukan menjadi alasan untuk “jangan dulu melakukan pembelian”.

Alasan utamanya adalah, 1) Kita belum tahu apa yang terjadi dengan kinerja BBTN (dan BBRI) akibat Covid-19 ini. Seberapa besar damage-nya, yang akan mengubah Value perusahaan. Dalam beberapa catatan sebelumnya, data-data BI sudah menunjukan terjadinya kontraksi dari penyaluran kredit, seperti juga sudah saya singgung baik di IG maupun di catatan ini. Not a surprise, tetapi kita belum tahu magnitude-nya ini seperti apa. Dalam kondisi normal, saya sudah menunjukan CFO dari kedua Bank itu, jelas menunjukan bahwa harganya saat ini undervalue dan sangat menarik. Tetapi saat ini, bukan kondisi normal. Oleh sebab itu ada baiknya, untuk melihat LK Kwartal II/2020. Meskipun tentunya tidak sepenuhnya tergambar, tetapi kita bisa melihat kecenderungan-nya. Berbagai langkah yang diambil oleh BI dan pemerintah, kita sudah jelas melihat adanya extra-ordinary effort karena situasinya yang tidak normal ini. 

2) Memahami bahwa mayoritas pelaku pasar bukan merupakan long-term investors, saya menduga, ada sebagian yang mungkin tergoda untuk take profit, karena sudah mendapat keuntungan 40-50% dalam 1 bulan. Kalau yang mau menjual lebih banyak dari yang mau membeli kan harga mungkin bisa turun lagi. Kita juga tidak tahu, siapa membeli di berapa, dan berapa banyak. Motivasi dan tujuan membelinya juga bisa sangat beragam. Belum lagi kalau tiba-tiba ada berita negative. Katakanlah ada yang membeli di harga 1,100 atau 1,200, dan berniat membeli untuk jangka panjang. Tiba-tiba banyak berita buruk muncul. Saya tidak akan heran, jika niatnya untuk berinvestasi jangka panjang lantas berubah. Yang tadinya niat 3 tahun, melihat di pasar harganya turun karena berbagai berita buruk itu, hanya dalam 3 hari saham itu dijual. Dan di harga yang lebih rendah dari harga belinya.

Siapa tahu, ada yang seperti itu. Saya tidak tahu. 

Kalau saya bisa menganjurkan, sebaiknya alokasikan danya membeli saham yang tadi pagi sudah saya posting di webpage. 

Catatan tambahan, terkait Trailing Stop, yang sudah saya sampaikan juga harganya, agar bisa diikuti secara disiplin. Kalau hit, the next day langsung dijual. No question asked, dan move on.

Salam,

Joeliardi Sunendar

Published by Joeliardi

Investor, Author.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: