PERSPEKTIF – 14 JUNI 2020

PERSPEKTIF – 14 JUNI 2020

Pada tanggal 8 Juni, BI mengumumkan cadangan devisa per-Mei 2020, sebesar USD 130.5 Milyar. Angka ini meningkat dari angka bulan April (USD 127.9 Milyar). Sebagaimana diketahui, akhir Maret 2020, angka cadangan devisa kita sempat anjlok menjadi USD 120.5 Milyar – yang kemudian mendorong pemerintah menerbitkan global bonds. Covid-19 telah menimbulkan cash outflow, yang mengakibatkan terjadinya penurunan nilai cadangan devisa dari USD 130.4 Milyar (Januari 2020) menjadi USD 120.5 Milyar pada bulan Maret 2020 di atas.

Angka cadangan devisa yang kembali ke angka sebelum Covid-19 itu, menjadi hasil kombinasi dari penerbitan global bonds dan aliran dana yang mulai masuk kembali, baik di pasar uang maupun di pasar modal.

Di pasar uang, hal ini dapat dilihat dengan semakin kecilnya pembelian SBSN/SUN yang dilakukan BI di pasar primer. Partisipasi investor mulai kembali menyerap enerbitan instrumen hutang ini.

Pembelian SBSN di pasar perdana yang dilakukan BI, turun dari angka Rp 11.95 Trilyun (21 April – 8 Mei), menjadi Rp 1.17 Trilyun pada lelang tanggal 8 Mei. Begitu juga dengan SUN, dari nilai Rp 10.84 Trilyun pada lelang 28/29 April – 12 Mei, turun menjadi Rp 2.09 Trilyun pada lelang minggu pertama bulan Juni.

Kecenderungan yang sama, tampak di Pasar Modal. Dari awal Februari sampai minggu ke-II bulan Mei, investor asing melakukan Net-Selling sebesar Rp 20.9 Trilyun. Posisi Net-Selling ini mulai berbalik menjadi Net-Buying di Minggu ke-III bulan Mei (Rp 3.8 Trilyun) dan Rp Minggu-I bulan Juni (Rp 2.3 Trilyun). Meskipun minggu kemarin, asing tampak melakukan Net-Selling Rp 1.8 Trilyun. Kombinasi antara profit-taking – memanfaatkan kenaikan IHSG yang cukup besar – dan volatilitas Wall Street sebagai reaksi atas pernyataan Powell minggu lalu, tampak ikut mempengaruhi suasana hati pelaku pasar di BEI. Harap diingat, bahwa mayoritas investor asing di BEI, bukanlah long-term investors.

Besaran out-flow yang terjadi, yang sejauh ini masih belum diimbangi dengan inflow dalam jumlah yang sama, mengisyaratkan banyaknya investor yang masih sidelines. Mereka yang masih sidelines ini, ketika melihat kenaikan index yang cukup besar, akan terdorong untuk mulai mengalihkan dana yang dimilikinya ke pasar modal. Hal ini merupakan faktor yang dapat meningkatkan volatilitas. Mereka yang merasa telah ketinggalan – karena tidak mengikuti kenaikan itu – bisa menimbulkan reaksi FOMO, Fear Of Missing Out (again). Keinginannya untuk jangan sampai ketinggalan lagi, akan meningkatkan risiko investasinya. Price yang dibayarkannya melebihi Value yang didapatkannya. Seakan tidak tersedia lagi transaksi perdagangan itu esok hari, bulan, minggu atau tahun depan. 

Permasalahan mayoritas investors adalah, minatnya untuk melakukan pembelian saham justru terjadi pada saat pasar menunjukan kenaikan (dimana risiko semakin meningkat). Bukan pada saat pasar itu sedang menawarkan risiko yang lebih rendah, ketika harga saham perusahaan sedang mengalami penurunan.

Peningkatan volatilitas tidak berarti sama dengan adanya penurunan Index. Apa yang terjadi saat ini, baik di major stock-exchanges maupun di BEI, memberikan kita gambaran tentang volatilitas yang terjadi. Kita melihat penurunan besar yang terjadi dalam satu hari, diikuti dengan kenaikan besar di hari berikutnya. Demikian pula sebaliknya.

Mari kita coba lihat, dinamika apa yang ditimbulkan oleh Covid-19 ini, sehingga kita bisa memahami kerangka berpikir jangka panjangnya.

Dalam kondisi systematic risk seperti saat ini, yang terjadi bersamaan di berbagai belahan dunia, apa yang dilakukan oleh Amerika sebagai kekuatan ekonomi terbesar di dunia, sangat berpengaruh atas pasar-pasar lainnya.   

Sementara IHSG meningkat sekitar 25% dari terendahnya, Dow Jones sudah meningkat hampir 40% dari terendahnya.

Ada kesamaan langkah awal yang dilakukan Fed dan BI, di akhir Maret dan awal April 2020. Dua institusi ini mengumumkan, bahwa mereka akan melakukan pembelian Surat Hutang Negara-nya masing-masing di pasar sekunder. Langkah awal ini perlu dilakukan, untuk menjamin likuiditas di pasar. Di saat kecemasan pasar berada pada puncaknya, asset-class yang lazim dianggap safe-haven, seperti Treasury dan SUN, ternyata ikut dijual oleh investors. 10-yrs Treasury yield berada di atas 1%, dan yield SBN-10 tahun lebih dari 8%. Peran aktif yang dilakukan Bank Sentral mampu menurunkan yield ini. (Apabila banyak invetors yang menjual SUN, maka harga SUN jatuh, dan membuat yield naik; begitu juga sebaliknya, jika semakin banyak yang membeli SUN, maka harga SUN akan naik, dan membuat yield-nya menurun). 

Selain itu, BI sama seperti Fed, ikut aktif melakukan pembelian obligasi negara di pasar perdana, yang diterbitkan pemerintahnya untuk bisa membiayai stimulus fiskal dan defisit belanja negara.

Kedua langkah ini, berhasil memperbaiki stabilitas pasar, yang sempat terganggu oleh Covid-19. Melalui sejumlah catatan sebelumnya, saya telah menyampaikan, bahwa Uncertainty yang ditimbulkan Covid-19 ini, sudah bisa dikendalikan oleh kebijakan moneter maupun stimulus  fiskal. Kedua hal ini muncul sebagai The Known Factor.

The Known Factor ini , yang berhasil menyingkirkan rasa cemas pasar, membuat pemulihan pasar juga terjadi dengan cepat. Langkah lanjut (Fed) melakukan pembelian corporate bonds dan ETF, semakin dapat meyakinkan pasar. Pemulihan pasar dan kenaikan harga saham, tentu dapat menjadi modal awal untuk kebangkitan perekonomian. Namun, modal awal seperti ini tentu saja belum memadai.

Pemulihan perekonomian yang bersinambungan, hanya mungkin jika mesin perekonomian dapat berfungsi kembali dengan baik. Covid-19 telah membuat banyak perusahaan berhenti berusaha, dan tidak bisa menghasilkan pendapatan. Perusahaan tidak dapat membayar hutang pinjaman dan bunganya (termasuk obligasi). Bond market berhenti.

Oleh karena itu, langkah Fed melakukan pembelian corporate bonds dan ETF Bonds (di Indonesia hal ini belum dilakukan) menjadi indikasi awal, untuk dapat memastikan bekerjanya kembali fungsi kredit, dan bond market. Upaya Fed ini tampak berhasil. Kita dapat melihat salah-satu contoh ETF, LQD, yang keranjangnya berupa Investment Grade Corporate Bond.

Fed mengumumkan rencana pembelian Corporate Bonds maupun ETF Bonds ini tanggal 23 Maret. Ketika itu, harga LQD di USD 114. Melihat harga LQD saat ini, yang sudah naik di USD 132, merupakan pertanda bahwa bond market sudah mulai berfungsi kembali. Upaya pemulihan kembali yang harus dilakukan masing-masing perusahaan, tentu tidak dapat dilakukan dengan baik tanpa dukungan credit market.

Bagaimana dengan Indonesia, yang sumber pendanaan utamanya dari perbankan dan bukan bond market? Sampai sejauh ini, saya tidak ada mendengar tentang rencana BI untuk ikut aktif melakukan pembelian corporate bonds. Langkah yang dilakukan BI selain aktif membeli SUN di pasar primer dan sekunder, industri perbankan juga menjadi salah-satu yang mendapatkan perhatian BI.

Ada sejumlah langkah yang sudah dilakukan BI terkait perbankan ini.

Pasokan likuiditas, dilakukan melalui berbagai mekanisme. Selain repo SBN yang berada di perbankan (pada tanggal 14 Mei berjumlah Rp 886 Trilyun), Bank juga bisa minta pemerintah untuk dapat menempatkan tambahan dana pemerintah di perbankan. Proyeksi defisit yang lebih dari Rp 1,000 Trilyun, serta kebutuhan penempatan dana pemerintah di perbankan bisa dilakukan melalui penerbitan SUN, dimana BI akan menjadi pembelinya.

Penurunan RR perbankan, dengan dana DPK sekitar Rp 5,900 Trilyun, akan memberikan tambahan peluru sekitar Rp 180 Trilyun di industri perbankan. Bagaimana dengan potensi kredit macet di perbankan? Sejauh mana pemerintah bisa memberikan bantuan?

Dirut BRI, pada pertengahan Mei menyampaikan harapannya, untuk mendapatkan suntikan dana dari pemerintah. Bantuan ini diperlukan untuk membantu likuiditas yang berkurang, akibat restrukturisasi dari akibat Covid-19 ini.

Saya kutip, pernyataannya di IQ Plus :”Mudah-mudahan pemerintah menempatkan dana di Bank-Bank yang melakukan restrukturisasi, termasuk BRI. Karena BRI paling banyak merestrukturisasi UMKM, jadi mudah-mudahan dapat yang paling banyak, meski tidak sepenuhnya”. 

BRI sendiri sampai akhir April sudah melakukan restrukturisasi untuk sekitar 1.4 juta nasabahnya, untuk total nilai pinjaman Rp 101 Trilyun. Apa yang disampaikan oleh BI di atas, merupakan respon atas usulan yang disampaikan industri perbankan.

OJK sendiri dalam pengumumannya telah menyampaikan, bahwa ada sekitar 90 bank yang telah melakukan restrukturisasi untuk sekitar 4.3 Juta nasabahnya, dengan pinjaman senilai Rp 391 Trilyun, per-tanggal 11 Mei 2020.

Selain itu, BI juga sudah memberikan indikasi untuk bisa memberikan renumerasi untuk dana Bank yang termasuk dalam RR. Namun sampai saat ini, saya belum mengetahui berapa besarannya.

Terkait hal ini, saya sekaligus ingin menjawab pertanyaan yang kurang lebih senada yang ditanyakan oleh beberapa JSP subscribers :

“Pak, saya mau beli BBTN di 1,150 atau maximum 1,200. Time frame saya 1-3 tahun ke depan, apakah sudah kemahalan? Saya masih mau kejar beli…”(KL)

“Saya baru join 3 hari lalu, portfolio saya kosong/nol. Bagaimana ya Pak, apakah saya langsung ikutan beli di harga berapapun, atau harus menunggu harga turun, sampai ada pemberitahuan untuk pembelian emiten lain? Berarti saat ini saya do nothing, harus sabar” (GI).

“Saya terlambat beli BBRI, BBCA dan BBTN. Apakah saya bisa masuk sekarang, atau tunggu dulu? Saya investasi untuk 1-2 tahun. Saya mau trading saham di luar negeri, apakah ada broker yang direkomendasi? (RW).

Ada pertanyaan lain, tetapi karena pertanyaannya senada, tidak perlu saya tuliskan lagi disini.

Jawaban saya :

Untuk ketiga saham itu, kalau saya lihat CFO Kwartal I saja, saya dapat langsung mengatakan, bahwa di harga saat ini masih murah. Apabila hal ini terjadi dalam kondisi normal, saya pasti akan tetap memberikan rekomendasi beli.

Saya ambil contoh BRI, misalnya, CFO Kwartal I/2020, mencapai angka Rp 16.5 Trilyun. CFO perbankan, seperti sudah saya sering sampaikan lebih straight-forward dibanding non-perbankan. Di CFO perbankan, angka itu merupakan nilai tunai bersih yang diterima dari hasil bunga, komisi dan penerimaan bank lainnya, setelah dikurangi semua biaya bunga yang dibayarkan kepada deposan, dan biaya operasi perbank-an. Jika ada kredit macet, dan pembayaran bunganya tidak diterima, ya tidak bakal masuk dalam CFO. Jadi angka ini adalah angka murni. Pure. Tidak mungkin bisa dimanipulasi, seperti angka laba, yang ada di Income Statement. Income is an opinion, Cash is a fact.

Dalam kondisi normal, dalam setahun diperkirakan nilai tunai yang bisa diterima BRI ini menjadi sekitar Rp 66 Trilyun. Market Cap saat ini hanya sekitar Rp 370 Trilyun. Anda bisa berhitung sendiri.

Begitu juga dengan BBTN. CFO-nya di Kwartal I/2020, Rp 1.2 Trilyun. Dalam kondisi normal, kita bisa mengharapkan CFO setahun mencapai Rp 4.8 Trilyun. Market Cap saat ini Rp 12 Trilyun, yang lebih kecil dari Equity-nya (Book Value) sebesar Rp 16 Trilyun.

Tetapi sekarang is no ordinary time. Kita telah melihat di atas sejumlah hal yang sedang dan harus dilakukan BI. Oleh karena itu, ada baiknya untuk menunggu terlebih dahulu Laporan Keuangan Kwartal II/2020. Apakah ada perubahan signifikan dalam 3 bulan ini, sehingga kita bisa lebih memahami pengaruhnya terhadap industri perbankan dalam 12-18 bulan mendatang. Apakah harga sahamnya akan naik, atau turun dalam 2-3 bulan mendatang, sampai mereka mengeluarkan Laporan Keuangannya, tentu saja saya tidak tahu. Kalau saya tahu harganya pasti naik dalam 2-3 bulan ini, pasti saya akan suruh beli. Kalau saya tahu harganya akan turun, pasti saya suruh jual dulu, dan nanti kalau sudah turun, saya suruh beli lagi. Masalahnya, saya tidak tahu itu.

Yang saya tahu, saat ini ada permasalahan temporer yang diakibatkan oleh Covid-19, yang memberi dampak cukup luas. Masih perlu waktu untuk melihat seberapa besar dampak yang terjadi. Apabila kita sudah bisa mendapatkan tambahan info itu, at least kita bisa lebih paham, apakah Price yang kita bayarkan itu lebih rendah dari Value yang kita bisa dapatkan.

Terkait saham di BEI ini, saat ini saya juga sedang melihat sejumlah emiten di beberapa sektor yang cukup menarik. Mudah-mudahan saja data-datanya bisa dilengkapi, sehingga saya bisa memberikan at least 1 emiten lagi di BEI.

Ada opsi lain yang bisa dilakukan untuk ketiga nama di BEI yang telah ada di JSP itu, seperti yang sudah dilakukan di emiten terakhir, dengan melakukan pembelian bertahap. Kalau kemarin kita melakukan 50% di batch pertama, dan 50% di batch kedua, untuk 3 saham di BEI ini bisa dilakukan pembelian batch pertama 25%. Setelah itu nanti kita akan melihat perkembangannya. (Ini khususnya untuk yang merasa harus membeli saham, dan doing nothing bukan merupakan satu hal yang menyenangkannya).

Salam,

Joeliardi 

Published by Joeliardi

Investor, Author.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: