TRYING TO BE CONSISTENTLY NOT STUPID

Jakarta, 12 Juni 2020

Angka IHSG pada minggu terakhir Mei dan minggu pertama bulan Juni, meningkat pesat, naik 8.65%. Kenaikan ini diikuti dengan peningkatan nilai transaksi harian.

Memasuki awal minggu ke-2 Juni, bahkan IHSG sempat kembali di atas angka 5,000.

Penjelasan Powell setelah FOMC (Federal Open Market Committee) meeting hari Rabu, menimbulkan reaksi negatif di pasar. Pernyataan-nya bahwa perekonomian menghadapi “considerable risks”, dan GDP akan terkontraksi 6.5% tahun 2020, mendorong penurunan S&P 500 dan Dow Jones, dan sejumlah major exchanges di Eropa. Bahkan S&P 500 turun 6% semalam. 

Kekhawatiran akan datangnya gelombang kedua Covid-19 merupakan faktor tambahan, yang semakin menekan index, termasuk IHSG. Pada saat systematic risks terjadi di berbagai belahan dunia, yang terjadi di Wall Street akan sangat mempengaruhi pasar-pasar lainnya. 

Pernyataan Powel di atas, tidak hanya menimbulkan reaksi negatif di pasar, tetapi juga di lingkungan team perekonomian Trump, dan tentu juga Trump sendiri. Navarro, penasihat ekonomi White House, ketika diwawancara Yahoo Finance, bahkan sempat menyebut Powell “the worst bedside manner of any Fed Chairman in history”. Bukan itu saja, Navarro juga menyebutkan, kalau Powell menjadi penjual sushi, maka “he would market it as cold dead fish”. Apa yang di-tweet oleh Trump, silahkan lihat sendiri di twitter-nya, karena saya termasuk orang yang tidak ingin menyebar-luaskan apa yang disampaikan DJT ini. 

Apabila kita sejenak keluar dari apa yang terjadi di pasar, saya kira kita akan sepakat, bahwa berbagai hal yang disampaikan Powell bukanlah hal yang baru. Hal itu juga sudah diketahui, pada saat Wall Street rally 47%, dan BEI 25%, dari angka terendahnya, beberapa hari yang lalu.

Jadi apa yang terjadi? 

Tiga hari lalu, pada saat saya mulai menyinggung Trailing Stop, karena semua 14 saham JSP mengalami kenaikan cukup besar, dalam catatan itu saya mengingatkan “Kenaikan seperti ini (1 triple-digit, 10 double-digit dan 3 single-digit) dalam jangka pendek, bukanlah hal yang biasa. Oleh karena itu, mengharapkan terjadinya hal yang sama merupakan harapan yang tidak realistis”.

Untuk dapat memberikan konteks yang saya sampaikan di atas, dapat kita lihat pada apa yang terjadi pada sejumlah emiten di Amerika, yang telah mengambil langkah Chapter-11 (menyatakan dirinya bangkrut). Atau,  kalau kita melihat kondisi keuangannya, mereka saat ini berada di ambang kebangkrutan.

Hari Senin tanggal 8 Juni kemarin, hanya dalam 1 hari saja, Extraction Oil/XOG naik 247.91%. Noble naik 163.43%, Hertz (115.18%), Whitting Petroleum, yang sudah seringkali saya singgung proses kebangkrutan-nya, naik 152.17%, dan banyak lagi yang lainnya. Jika namanya bukan spekulasi, istilah apa yang tetap untuk menyebut fenomena ini?

Memang betul untuk ukuran Wall Street, nilai transaksi perdagangan dari perusahaan yang bangkrut dan akan bangkrut di atas, relatif kecil. Hertz, misalnya, angka perdagangannya tercatat sekitar USD 250 Juta. Angka yang tentunya sangat kecil dibanding, katakanlah Apple, yang nilai transaksinya USD 16 Milyar/hari. Namun, apabila dibandingkan dengan nilai transaksi harian di BEI, transaksi harian Hertz sekitar USD 250 Juta ini sama dengan 50% nilai perdagangan harian di BEI.

FOMO?

Berdasarkan data Investment Company Institute (ICI), saat kecemasan melanda pasar, dana yang diparkir di Market Fund meningkat. Di akhir bulan Maret, angkanya mencapai USD 1.2 Trilyun. Terjadinya market-madness di berbagai pasar saham dunia, US Treasury menjadi pilihan.

Investor memilih Money Market Fund yang hanya menghasilkan yield sekitar 0.35%. 

Ekspansi Neraca Fed, yang hanya dalam hitungan minggu meningkat dari USD 3.8 Trilyun menjadi USD 7.1 Trilyun, menjadi cermin tentang agresifnya Fed melakukan stabilisasi pasar. Pembelian yang dilakukan Fed tidak terbatas pada Treasury di pasar sekunder saja, tetapi juga di pasar primer (yang berasal dari stimulus fiskal), corporate bonds, dan bahkan junk bonds (melalui ETF). Adanya bantalan yang dilakukan Fed ini, menjadi awal pembalikan pasar. Aliran dana yang kembali di pasar, yang diparkir di Money Market Fund, kembali masuk ke pasar modal. 

Elemen FOMO (Fear Of Missing Out), diduga menjadi elemen pemicu new madness. Mengalirnya kembali dana yang masuk ke pasar, yang disertai FOMO ini, menjadikan bursa berbalik dengan cepat. Kenaikan sebesar 47% dalam 2.5 bulan bukanlah fenomena biasa. Di BEI, angka transaksi perdagangan per-hari, seperti sudah disampaikan di catatan saya sebelumnya, juga meningkat 2 kali lipat.

Inilah konsekwensi dari konstruksi pembentukan harga yang memang harus terjadi setiap harinya. Headlines dan attitude pelaku pasar akan sangat menentukan harga yang terbentuk itu, at least di dalam jangka pendek. Dalam jangka panjang? Not so much.

Kalau kita kembali ke kebijakan Fed, tidak ada yang berubah. Bahkan dalam FOMC kemarin itu, 17 board members mengeluarkan proyeksi yang sama, suku bunga mendekati 0 akan berlangsung sampai dengan tahun 2022. Artinya, easy money masih akan berlangsung lama. Oleh karena itu, menurut hemat saya, kembalinya index ke harga terendah tanggal 23 Maret itu, probabilitanya menjadi semakin kecil.

Namun, di sisi lain, koreksi seperti yang terjadi semalam di Wall Street, sebesar 6% untuk S&P dan 7% Dow Jones, menjadi koreksi yang wajar, jika kita melihat madness seperti yang saya tunjukan dalam kenaikan sejumlah perusahaan yang sudah menyatakan (atau memiliki potensi) bangkrut di atas.

Dengan demikian, terjadinya koreksi harus dipandang sebagai peluang untuk membeli tambahan saham baru yang menarik.

Untuk menutup catatan ini, saya ingin menjawab satu pertanyaan dari salah-seorang Subscriber :

“Pak, mengapa saham di BEI yang direkomendasikan hanya terbatas 3 saham saja? Apakah ada rencana untuk menambah lagi saham-saham  di BEI?”.

Seperti saya sampaikan di Catatan JS-Portfolio tanggal 13 Mei 2020, saat dimulainya konstruksi JSP, saya tidak tahu kapan satu saham akan dimasukan, atau dikeluarkan dari JSP. Hal ini akan sangat tergantung, apa yang ditawarkan pasar.

Saya membayangkan, bahwa dalam satu bulan ada 1 atau 2 saham di BEI atau non-BEI yang akan dimasukan kedalam JSP. Dengan demikian, dalam satu tahun, bisa genap mendapatkan sekitar 15-25 perusahaan, dan bisa mulai memilah, mana saham BEI dan non-BEI.

Namun apa yang terjadi di pasar, dengan begitu banyak opportunity, hanya dalam 2 minggu ada sekitar 10 saham yang sudah masuk dalam JSP. Jika opportunity di pasar tidak seperti yang ada saat itu, boleh jadi saat ini di JSP hanya ada 3, atau maximum 4 saham saja, seperti saya rencanakan semula. 

Apa yang akan dilakukan dengan JSP ini akan tetap sama. Saya hanya akan menambah atau mengeluarkan saham, sesuai dengan peluang yang ditawarkan. Meskipun untuk sebagian, saya menganjurkan, agar secara disiplin menggunakan Trailing Stop.

Khusus untuk saham di BEI, saya juga sudah menyampaikan keyakinan saya, bahwa banyak perusahaan-perusahaan di BEI yang akan tumbuh dan besar melalui perjalanan waktu. Namun saya tetap menganjurkan untuk mereka yang dapat melakukan diversifikasi ke saham non-BEI, juga mengalokasikan sebagian dananya di saham-saham non BEI.

GDP Indonesia sudah mengalami peningkatan luar biasa. And yet, jika kita hanya fokus ke saham-saham perusahaan Indonesia saja, berarti kita mengabaikan opportunity yang ditawarkan 99% GDP dunia. GDP Indonesia hanya mewakili 1% GDP dunia saja. Melakukan diversifikasi di dalam satu pasar, tidak memberikan diversifikasi yang optimum.

Kedua, elemen nilai tukar berada di luar kendali kita. Dalam 5 tahun, IHSG sudah naik 40%. Namun di dalam periode yang sama, nilai tukar Rupiah terhadap USD juga anjlok lebih dari 40%. Secara efektif hasil portfolio itu menjadi Nol. Apabila Anda mengirim anak sekolah ke LN, Anda tidak bisa membayar dengan Rupiah. Naik turunnya nilai Rupiah, berada di luar kendali kita, dan Anda tidak bisa minta selisih nilai tukar kepada Menteri Keuangan, atau pemerintah Indonesia, jika kebijakan yang mereka ambil membuat nilai Rupiah turun. Anda bertanggung-jawab untuk memproteksi diri sendiri. 

Terkait pertanyaan mengapa hanya 3 yang di BEI. Meskipun sebagian sudah saya jawab di atas, saya ingin bertanya balik, memangnya harus berapa? What’s wrong dengan hanya 3 saja, jika sementara ini hanya tiga emiten itu saja yang ada dalam JSP.

Anda tahu, berapa CAGR Berkshire Hathaway? 20%, atau “cuma” 1.7% per-bulan. Menghasilkan CAGR 20% bukan hal yang mudah, tetapi jika Anda menghasilkan 1.7% per-bulan, hal ini tidak akan membuat Anda berjingkrak-jingkrak kegirangan. 

On that note, mengapa harus “memaksakan” diri untuk menambah 2 atau 3 saham lagi? Bahkan jika sisa 7 bulan tahun 2020 ini Anda tidak melakukan apa-apa, yield yang Anda dapatkan sudah melebihi 20%. Kalau 1 bulan 20%, kalau disetahunkan sudah 240%. Sudah lebih baik dari apa yang bisa dihasilkan Berkshire Hathaway. Apabila kita tidak yakin, bahwa yang akan kita tambahkan itu tidak dapat membuat yang ada menjadi lebih baik, mengapa harus ditambah?

Memilih untuk tidak melakukan apa-apa, seringkali menjadi opsi lebih baik dibandingkan memaksakan diri melakukan sesuatu. Tentunya hal ini tidak berarti, tidak ada lagi yang akan dimasukan. Perjalanan masih panjang. Pada saat kita berbicara peluang Gold Oil Ratio, tentunya kita tidak berharap bahwa semua itu akan terjadi dalam hitungan hari. Ada perjalanan waktu yang masih harus dijalani. Apakah 12, 18 ataukah 24 bulan, kita akan sama-sama lihat. Tetapi tidak segera. Apabila rencana semula mendapatkan 14 saham tadi membutuhkan waktu 6-8 bulan, dan saat ini sudah kita miliki, bukankah 4-5 bulan ke depan kita dapat lebih tenang mengamati peluang apa yang akan ditawarkan pasar.

Kalau saya bisa meminjam perkataan Charlie Munger, menghindarkan potensi kerugian seringkali menjadikan kinerja portfolio kita bisa lebih baik, daripada terlalu terpukau pada potensi keuntungan. Istilah yang sering saya pakai adalah, mendahulukan pertanyaan ini “Apakah kita sudah memiliki downside protection dari investasi yang kita lakukan?.

Jika downside protection itu sudah kita miliki, the upside will be taken care of. 

Kembali meminjam perkataan Charlie Munger, kita akan melihat apa yang ditawarkan pasar, dalam rangka “trying to be consistently not stupid instead of trying to be intelligent”.

Salam,Joeliardi Sunendar  

Published by Joeliardi

Investor, Author.

2 thoughts on “TRYING TO BE CONSISTENTLY NOT STUPID

  1. Pak, saya sangat tertarik untuk invest di perusahaan non BEI. Tp mau tanya kalau kita invest di bursa luar apakah ada yg semacam lembaga/dewan Syariah yg memilah saham saham yg sesuai Syariah seperti di Indonesia? Saya Kira banyak orang2 di indonesia yg masih ragu untuk invest di perusahaam non BEI karena hal ini

    Like

Leave a Reply to Joeliardi Cancel reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: