GOLD TO OIL RATIO

GOLD TO OIL RATIO.

Munculnya kesempatan yang baik untuk berinvestasi di oil sector.

Di dalam beberapa catatan terakhir, ekspansi Neraca dari Bank Sentral dan stimulus fiskal di berbagai negara, telah merupakan bantalan yang dapat menghindarkan terjadinya dampak lebih buruk akibat Covid-19. 

Semalam, dalam konferensi pers seusai meeting Federal Open Market Committee, Jerome Powell, kembali mengulang mantra “whatever it takes”-nya, saya kutip, “We’re strongly committed to using our tools to do whatever we can for as long as it takes” (huruf tebal dari saya).

Melalui statement-nya, Fed juga menyatakan, bahwa perekonomian  masih menghadapi “considerable risks”. Pernyataan ini memperkuat alasannya, mengapa ekspansi Neraca Fed masih akan terus berlanjut. FOMC secara spesifik juga menyatakan, untuk tetap mempertahankan pembelian Treasuries (USD 80 Milyar) dan MBS (USD 40 Milyar) setiap bulannya.

Pernyataan, bahwa perekonomian menghadapi “considerable risks”, bukanlah pernyataan mengejutkan. Memang apa yang kita harapkan dari timbulnya disrupsi perekonomian yang tiba-tiba ini?. Namun hal ini, cukup untuk membuat pasar terkoreksi. 

Lewat sudut pandang yang lain, S&P 500 yang telah meningkat sekitar 40% hanya dalam waktu 2 bulan dari terendahnya, juga dapat menjadi alasan terjadinya koreksi yang berasal dari mereka yang take-profit. 

Pernyataan Fed, “We’re not even thinking about thinking about rasing rates” tentunya juga bukan merupakan hal yang mengejutkan. Namun pasar menangkap pernyataan Fed ini, sebagai tambahan indikasi dari adanya prospek perekonomian yang buruk. Selain terjadinya koreksi saham, harga Treasury (safe haven) juga kembali meningkat. Bonds- yield untuk 10 Years US Treasury turun 2.9% ke 0.726% semalam.

Namun demikian, pernyataan Fed ini – yang menjadi alasan berbagai kebijakan yang dilakukannya – tentu tidak tanpa konsekwensi. Injeksi masif yang dilakukan Fed, dan Bank Sentral lainnya, dalam pandangan saya, merupakan benih-benih inflasi. Membicarakan potensi inflasi di dalam kondisi perekonomian yang tertekan seperti sekarang ini, saya paham, menjadi agak ganjil. 

Injeksi masif, dengan besaran yang tidak pernah terjadi sebelumnya, merupakan kabar buruk untuk nilai mata uang kertas. Hal ini menjadi bentuk lain dari proses penurunan nilai mata uang. Cost of money, di sejumlah negara, sudah mendekati angka 0, bahkan negatif. Turunnya nilai mata uang kertas, sama artinya dengan kenaikan nilai real assets seperti komoditi, properti dan nilai (saham-saham) perusahaan.

Harga rumah yang 10 tahun lalu bisa dibeli dengan harga Rp 300 Juta, saat ini mungkin harganya sudah Rp 600 Juta, atau lebih. Kenaikan itu, kenaikan harga rumah, sama artinya dengan turunnya nilai mata uang kertas. 

Berinvestasi di sektor komoditi, properti serta di saham perusahaan-perusahaan yang baik, dapat menghindarkan kita dari penurunan nilai mata uang kertas ini.

Migas, sekarang ini merupakan salah-satu komoditi yang menawarkan peluang yang baik. Didalam kondisi normal, oil-companies yang sangat padat modal (CIC), bukan merupakan favorit saya. Namun apabila kita melihat dinamika yang terjadi di sektor migas saat ini, dan yang terjadi di masa lalu bisa menjadi panduan kita, opportunity di sektor ini akan terlalu menarik untuk dilewatkan.

Berlainan dengan bisnis yang dilakukan oleh CEC, sektor komoditi ini harus selalu mengalami periode boom & bust cycle. 

Gold serta oil merupakan komoditi yang juga harus mengalami siklus ini. Berdasarkan statistik dengan populasi data sejak tahun 1861, 80% dari periode selama 160 tahun ini, Gold Oil Ratio berada dalam kisaran 10 X dan 30 X. Dengan demikian, probabilita terjadinya Gold Oil Ratio (GOR) di bawah 10 X atau di atas 30 X, peluangnya hanya 20%. Dalam kasus extreme, katakanlah GOR 100 X atau 1 X, tentu masih mungkin terjadi, namun terjadinya hal itu menjadi sebuah black-swan event. 

GOR Chart

Disrupsi perekonomian akibat Covid-19 menimbulkan penurunan oil demand sekitar 25 juta barrel-per-day (bpd) di bulan April, atau 25% dari worldwide demand sebelum datangnya Covid-19. Membanjirnya oil – sebagai akibat physical delivery dari transaksi future yang tidak bisa dilakukan, karena penuhnya oil storage – membuat harga minyak turun mendekati 0. Bahkan sempat menyentuh angka negatif. Banyak yang terkejut, dan lantas bertanya “Kok bisa, harga minyak negatif?”. Boleh jadi yang bertanya ini belum tahu, bahwa ada komoditas lainnya (uang kertas) yang harganya juga negatif. 

Harga negatif itu adalah konsekwensi dari physical delivery yang tidak mungkin dilakukan. Storage fee yang melambung tinggi, membuat oil price menjadi negatif. Situasi seperti ini tidak berlangsung lama, harga minyak bergerak naik, meskipun masih di bawah USD 20. Dengan gold price naik – karena munculnya kecemasan – di harga USD 1,750, maka Gold Oil Ratio saat itu mencapai angka 88 X. Ratio yang berada di luar kisaran angka normal.  

Pertanyaannya adalah, apakah penurunan demand ini akan berlanjut terus? Apakah oil demand akan tetap berada di level 75-80 juta bpd?. 

Pembukaan kembali kegiatan perekonomian, tentu dapat menjadikan demand yang hilang itu datang kembali. Besaran angka demand yang kembali, serta bisa berlangsung berapa lama, akan sangat bervariasi. Hal ini akan tergantung kepada seberapa cepat “back to normal” atau “to new normal” ini terjadi. Namun, kecenderungannya, sisi demand  yang hilang ini tidak akan berlangsung selamanya.

Dari sisi supply, mungkin gambarannya berbeda. Seperti sudah sering saya sampaikan, industri shale-oil telah merubah peta bisnis oil dunia. Shale-oil telah mampu meningkatkan produksi minyak Amerika dalam 10 tahun terakhir. Berdasarkan data dari EIA, produksi Amerika telah meningkat lebih dari 2 kali lipat dari 5.1 Juta bpd (2008) menjadi 11.8 Juta bpd (2019), atau sekitar 12% dari produksi dunia.

Namun demikian, production cost shale-oil jauh lebih tinggi dibanding conventional oil. Banyak shale-oil company yang akan bangkrut, jika harga minyak di bawah USD 50. Hal ini sudah terjadi tahun 2015-2016, dan sedang berlangsung saat ini.

Berbeda dengan peningkatan sisi demand, yang akan kembali muncul dengan mulai berputarnya kegiatan perekonomian, penurunan supply yang “terpaksa” diturunkan itu tidak serta-merta dapat dipulihkan di dalam waktu segera.

Disrupsi produksi dalam periode yang cukup panjang, berbulan-bulan, pasti menimbulkan damage baik terhadap sumur-sumur minyak yang sudah digunakan, maupun cadangan minyaknya. Hal ini menjadi lebih relevan untuk shale-oil, yang memakai metoda fracking, dan produsen  offshore oil. Untuk menghidupkan kembali produksinya memerlukan waktu panjang.

Kalau kita melihat data oil rigs terakhir, hanya dalam tempo 2-3 bulan ini, sudah turun sekitar 50%. Diperkirakan, dengan panjangnya daftar kebangkrutan perusahaan minyak Amerika, seperti disampaikan G&R, satu perusahaan riset di Amerika, diperkirakan di akhir tahun 2020 ini, oil rigs yang aktif hanya tinggal 25%. Atau turun 75% dari jumlah rigs di awal tahun 2020. Hal ini diperkuat dengan revisi penurunan belanja modal dari perusahaan-perusahaan minyak. Dengan demikian, hal ini akan menjadikan disrupsi dari sisi supply menjadi lebih panjang.

Kembalinya sisi demand, yang tidak bisa diimbangi dengan segera dari sisi supply, merupakan resep ideal untuk terjadinya  kenaikan oil price. OPEC menjadi kelompok yang dapat mempengaruhi pembentukan oil price. Saat ini, karena adanya Covid-19 ini, OPEC+ sudah setuju untuk memotong produksi  sekitar 8 Juta bpd. Apabila terjadi pemulihan sisi demand, OPEC+ menjadi kelompok yang dapat segera mengisi lubang yang hilang dari sisi supply. Apabila demand yang kembali ini ke level sebelum Covid-19 datang, maka masih ada gap 12 juta bpd.

Dengan gold price di level 1,750 dan WTI 38, maka GOR saat ini berada di angka 46 X. Tidak sangat extreme, tetapi berada di luar kisaran ratio yang normal. Jika histori bisa menjadi indikasi, maka berinvestasi pada oil companies saat ini, menjadi pilihan yang lebih menarik.

Pada tahun 2016, Gold Oil Ratio mencapai angka 47 X seperti saat ini, dimana oil price tercatat USD 26/barrel dan gold USD 1,220. Oktober tahun 2018, oil price naik ke USD 75/barrel, terjadi kenaikan sebesar 188% dalam waktu kurang dari 3 tahun. Di dalam periode yang sama, gold price harganya tidak kemana-mana, bahkan sempat turun sedikit di bawah harga USD 1,220.

Membalik-balik rangkaian batu di kelompok perusahaan komoditas, dimana salah satunya oil stocks, merupakan bagian untuk menghindar dari penurunan nilai tukar uang kertas. Satu saham di NYSE yang 2 hari lalu dimasukan menjadi bagian JSP, menjadi saham pertama di sektor ini yang ada dalam JSP.  

Have a great investing,

Joeliardi  

Beberapa catatan dari Administrasi :

  1. Bagi mereka yang ingin menerima e-mail dari JSPortfolio.id, bisa memilih Subscribe di kolom Subscribe Newsletter
  • Untuk Member, meskipun posting yang dikirim lewat e-mail juga sudah diposting di webpage, yang hanya dapat diakses Member, disarankan juga untuk melakukan Subscribe Newsletter. Saat ini sedang diusahkan untuk Member baru bisa secara otomatis juga menerima setiap e-mail yang dikirim.
  • E-mail Newsletter dapat diakses juga oleh non-Member, namun Catatan Portfolio & Status Terakhir Portfolio, hanya bisa diakses oleh Member saja.
  • Untuk mereka yang ingin melakukan Subscription bisa dilakukan di webpage jsportfolio.id, dengan mengikuti instruksi yang telah disiapkan disitu.
  • Kami tidak bisa menjawab pertanyaan yang sifatnya perorangan. Apalagi menyangkut saham tertentu secara spesifik, di luar yang ada di dalam JSP ini.  

Published by Joeliardi

Investor, Author.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: