Perspective

Year To Date S&P 500 mencapai angka positif untuk pertama-kalinya sejak kedatangan pandemic Covid-19. Coronavirus telah mendorong Fed dan Pemerintah Amerika menggelontorkan stimulus yang setara dengan seperempat GDP Amerika. Apa ini artinya? Ketika S&P 500 berada di level yang sama dengan angka S&P 500 saat ini, besaran stimulus senilai USD 5 Trilyun itu tidak ada dalam perekonomian Amerika. Injeksi dana dan stimulus ini dalam waktu yang relatif panjang, masih akan tetap berada dalam perekonomian Amerika.

Apa yang terjadi setelah krisis tahun 2008 di Amerika? Krisis itu telah membuat Neraca Fed melonjak 400% dalam tempo 5 tahun, karena dengan adanya kebijakan moneter dan stimulus fiskal untuk menjawab krisis pada saat itu. Periode 10 tahun (2009-2019) setelah terjadinya krisis itu menjadi salah satu periode terbaik di pasar modal, S&P 500 meningkat 500%. Tentu saja, dalam perjalanannya, ada tanjakan dan penurunan yang terjadi.

Coronavirus telah menjadikan Neraca Fed melonjak dari USD 4 Trilyun menjadi lebih dari Rp 7 Trilyun. Fed bahkan melakukan hal yang tidak pernah dilakukan sebelumnya, dengan membeli junk bonds dan ETF. Ada satu hal yang belum dilakukan Fed, dan sudah dilakukan BOJ, yaitu membeli saham-saham perusahaan di Bursa. Apa yang disampaikan oleh Powel, “whateever it takes”, menjadi mantra dalam menjawab adanya disrupsi.

QE yang dilakukan Fed serta stimulus fiskal bernilai Trilyunan dollar yang diinjeksikan dalam perekonomian (yang tidak ada sebelum terjadinya pandemic ini), niscaya akan menjadi tambahan peluru, dan merupakan kabar baik untuk pasar.

Bagaimana dengan Indonesia? Kebijakan moneter serta stimulus fiskal bernilai lebih dari Rp 1,000 Trilyun menjadi bantalan yang disiapkan oleh BI dan pemerintah Indonesia. Hal ini telah mulai memperbaiki kadar kecemasan yang ditimbulkan Covid-19. Pandemic ini masih sangat memprihatinkan. Angka-angkanya juga masih belum menunjukan penurunan. Namun dengan Stay at Home atau Work From Home dan berbagai pembatasan yang dilakukan, tidak berarti perekonomian menjadi Zero. Angka capacity utilization di Kwartal I/2020 masih sebesar 74.09%, turun 0.32% dari Kwartal terakhir tahun 2019. Ada kemungkinan angkanya masih akan turun pada Kwartal II/2020, tetapi sulit untuk dapat mengatakan bahwa angkanya menjadi nol. 

Kondisi “less-bad” ini telah menjadikan perbaikan di dalam nilai tukar Rupiah dan IHSG. Aliran dana yang sudah mulai masuk lagi menjadi penyebab terjadinya hal itu. IHSG sudah mulai tembus kembali di atas 5,000. IHSG sudah meningkat 29% dari angka terendahnya yang tercatat 2.5 bulan lalu. Lebih dari itu, di minggu pertama bulan Juni, kita melihat rekor transaksi perdagangan harian dari rata-rata Rp 7 Trilyun sebelumnya, menjadi Rp 11-12 Trilyun. Bahkan kemarin, nilai perdagangan mencapai Rp 13.5 Trilyun. Ada 302 emiten yang mengalami peningkatan harga, dibandingkan dengan 134 emiten yang harganya turun. Advance To Decline Ratio ini memberikan indikasi denyut nadi yang terjadi di pasar saat ini. 

Untuk mereka yang ingin bergabung di JS-Portfolio, prosesnya hanya bisa dilakukan di https://jsportfolio.id

Published by Joeliardi

Investor, Author.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: