APA YANG TERJADI DI SEKTOR KEUANGAN DI BEI?

Minggu terakhir sebelum liburan lebaran, ada anomali terjadi di pasar. Di minggu itu, sementara IHSG hanya naik 0.85%, kenaikan di sektor keuangan mencapai 3.48%. Atau 4 kali lebih baik dibandingkan dengan kenaikan angka IHSG. Angka ini menunjukan, bahwa sektor keuangan (bersama-sama sektor Aneka Industri) menjadi leader. Para penggemar pacuan kuda di BEI, tentu sudah mengetahui siapa perusahaan di sektor Aneka Industri yang sedang memimpin di depan saat ini (Hal ini tentu merupakan topik yang lain). 

Hal yang sama masih terjadi kemarin, di hari pertama trading setelah libur. Sektor keuangan mengalami kenaikan lebih tinggi (2.06%) dari angka kenaikan IHSG (1.78%). Padahal di minggu sebelumnya, sektor ini merupakan sektor yang terburuk, dengan penurunan sebesar 7.47%. Jauh lebih buruk dibandingkan angka penurunan IHSG di minggu yang sama (1.95%).

Anomali ini menimbulkan pertanyaan : Apakah ini pertanda bahwa the worst is over di sektor keuangan? Ataukah perkembangan yang terjadi 10 tahun di Sektor ini menjadi terhenti, karena datangnya Covid-19?

Mari kita lihat.

Perhitungan sederhana, berupa ratio antara IHSG dengan Index Sektor Keuangan, menghasilkan angka 4.71X di akhir tahun 2019. Ratio yang sama, saat ini ini tercatat 5.25X. Simple ratio ini, memberikan indikasi tentang kinerja Sektor Keuangan yang lebih buruk dibandingkan IHSG selama tahun 2020 ini. Sementara IHSG (YTD) turun 26.55%, angka penurunan di Sektor Keuangan jauh lebih buruk (33.19%).

Dalam Perspective tanggal 11 Mei 2020, saya juga telah menunjukan, bahwa Market Cap ke-3 bank terbesar di BEI yang masih 23.5% pada akhir tahun 2019, di minggu itu sudah turun 8.5% menjadi 21.5%.

Sebelum kedatangan Covid-19, pertumbuhan luar biasa yang terjadi di sektor keuangan telah menempatkan Sektor ini sebagai leaders di BEI.

Tahun 2010, emiten yang memiliki Market Cap terbesar di BEI, adalah sebuah perusahaan yang ada di Sektor Aneka Industri, yang sudah kita singgung di atas. Market Cap-nya ketika itu Rp 221 Trilyun. Sekarang ini, dengan Market Cap-nya yang sudah turun menjadi Rp 175 Trilyun, posisi emiten ini turun dari #1 menjadi #7.

Jika rasa optimisme sudah tidak tersisa lagi di pasar, datangnya sedikit kabar baik seringkali bisa menjadi katalis, yang dapat mengubah arah. Katalis berupa windfall profit di Kwartal IV/2020, yang akan diperoleh emiten ini boleh jadi merupakan katalis baik. Dari sejak terendahnya di 2 bulan lalu, harga sahamnya sudah meningkat 23%.

Mari kita kembali ke Sektor Keuangan.

Tahun 2010, ketiga bank terbesar BEI, berada di ranking #3 (BBCA), #4 (Mandiri) dan #5 (BBRI). Bobot ketiga bank ini mewakili 12,89% dari nilai Kapitalisasi Pasar IHSG. 

Seperti sudah ditulis di atas, bobot ketiga Bank terbesar di BEI ini, pada akhir tahun 2019 tercatat 23.5%. Perananannya meningkat 2 kali lipat dibandingkan 10 tahun yang lalu. Market Cap ke-3 Bank ini sudah naik dari Rp 417 Trilyun (2010) menjadi Rp 1,706 Trilyun akhir tahun 2019, sebelum datangnya Covid-19. Terjadi kenaikan sebesar 400% ini jauh lebih baik dibandingkan kenaikan angka IHSG (170%) dalam periode yang sama, yaitu dari 3,703 (2010) menjadi 6,299 (2019).

Untuk lebih memberikan perspektif : 10 emiten di BEI dengan Market Cap terbesar, memiliki bobot 46.3%. Sisanya (53.7%) harus dibagi oleh 600-an lebih perusahaan lainnya di BEI. Apa ini artinya? Bagi investor (asing maupun lokal, terlebih asing) yang mau mengalokasikan dana di BEI, mereka pasti memprioritaskan emiten berada di dalam Top 10 ini. Kelompok Top-10 ini, menjadi penentu kemana angka IHSG bergerak (dalam jangka pendek). Berdasarkan observasi awal saya, sekitar 70% gerakan IHSG ditentukan oleh Kelompok Top-10 ini.

Perhatikan angka di atas, 50% dari bobot Top-10 ini, diwakili oleh tiga Bank yang termasuk di dalam Sektor Keuangan. Drastisnya penurunan IHSG, bobot terbesarnya dipengaruhi oleh apa yang terjadi pada Sektor ini. 

Demikian pula sebaliknya, membaiknya IHSG secara signifikan hanya mungkin terjadi, apabila cuaca cerah datang kembali di sektor ini. 

Langkah awal QE yang dilakukan oleh BI, selain melakukan pembelian SBN yang “dibuang” investor asing (Rp 166 Triyun), BI juga membuat kebijakan untuk menurunkan Reserve Requirement (GWM). Relaksasi RR ini menambah peluru likuiditas perbankan, yang harus berhadapan dengan terganggunnya kinerja usaha nasabah-nasabahnya. Di luar itu, BI juga sedang mempertimbangkan semacam “renumerasi” atas GWM yang ditempatkan Bank. Adanya renumerasi ini, bisa sedikit membantu tambahan pendapatan Bank, yang terganggu karena adanya penurunan kemampuan nasabah-nasabahnya karena Covid-19.

Sejauh ini, apabila saya melihat CFO (show me the money) dan bukan laba (yang dipengaruhi oleh peningkatan besaran cadangan NPL) BRI dan BTN, yang saya gunakan sebagai contoh, saya belum melihat ada tekanan yang berarti. Namun demikian, harap diingat bahwa terjadinya hal ini terbatas untuk apa yang dicerminkan dalam LK Kwartal I/2020. Disrupsi Covid-19 ini mengalami eskalasi sejak awal April, dan masih berlangsung sampai saat ini. Apa yang terjadi di dalam Kwartal II/2020 akan dapat memberikan tambahan input.

Namun demikian, terjadinya pergerakan yang berbeda dari Wall Street (Pasar Sudirman) dan Main Street (Pasar Matraman?) sudah seringkali terjadi. Lazimnya, Wall Street seringkali lebih dahulu cemas (silahkan perhatikan angka VIX yang lompat sampai 400% ke 85, atau buat kita di Indonesia, CDS yang naik 400% sampai ke angka 290), meskipun di Main Street skala kecemasannya tidak separah itu. Orang masih jalan-jalan dan berdebat keras : locked-down, atau tidak. Ada vaksin dan obat atau tidak dan seterusnya. 

Ketika kecemasan di Main Street sudah berada di puncaknya, karena mendengar berbagai berita (riil) tentang meningkatnya kematian akibat Covid-19, meledaknya angka pengangguran, macetnya kegiatan usaha, mereka yang di Wall Street rasa cemasnya justru mulai menurun. Bisa kita lihat, misalnya VIX tidak lagi di 85, tetapi sudah turun hampir 70% menjadi 28. Di Indonesia, CDS sudah tidak lagi 290, dan sekarang ini sudah tinggal 170. Dialektika seperti ini sudah sering berlangsung, dan dapat menjadi alasan munculnya kembali interest terhadap sektor ini. Kombinasi kebijakan moneter dan stimulus fiskal yang dilakukan oleh BI dan pemerintah, mungkin sudah dapat membantu mengangkat awan hitam yang menyelimuti sektor ini.

Likuiditas perdagangan juga tampaknya sudah mulai kembali ke IHSG. Dalam 4 bulan pertama tahun 2020, rata-rata perdagangan harian masih di kisaran Rp 6-7 Trilyun, turun dari rata-rata nilai perdagangan dalam tahun 2019 (Rp 9.1 Trilyun). Kemarin, angkanya sudah mulai membaik di Rp 8.6 Trilyun (all board). 

Selama Kwartal I/2020, investor asing masih melakukan penjualan di BEI, dengan angka Neto Penjualan Rp 10 Trilyun. Dalam bulan April, penjualan masih dilakukan investor asing, dengan nilai Neto Penjualan sebesar Rp 8.8 Trilyun. Minggu lalu, investor asing sudah mulai masuk kembali ke BEI, dengan Neto Pembelian sebesar Rp 14 Trilyun. Angka ini jauh lebih tinggi dibanding dengan nilai Neto Penjualan yang masih terjadi di minggu sebelumnya (Rp 4 Trilyun).

Valuation gap yang saat ini terjadi antara emerging markets (termasuk BEI) dan developed market (khususnya Amerika), dapat meningkatkan minat smart-money untuk kembali melirik emerging markets.

Published by Joeliardi

Investor, Author.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: