THANKS TO CORONAVIRUS, DUA BANK INI BISA DIMASUKAN SEBAGAI SAHAM #1 DAN #2 DALAM PORTFOLIO

Industri keuangan diperkirakan menjadi sektor yang akan mengalami tekanan cukup besar dari  krisis Covid-19 ini. Disrupsi perekonomian menghantam dua sisi bersamaan, sisi supply dan demand.

Angka Indonesia Manufacturing PMI pada bulan April (27.5) menjadi cermin tajamnya kontraksi kegiatan usaha. Angka ini merupakan angka terendah dalam 10 tahun terakhir, sejak survey PMI ini dilakukan. Pada bulan Maret angka PMI ini masih tercatat 45.3. Anjloknya kegiatan produksi akan merupakan kabar buruk bagi perusahaan dan bank-bank pemberi pinjaman.

Sebelum datangnya coronavirus, sejak pertengahan tahun 2018, sektor keuangan Indonesia sebetulnya juga sudah berada di dalam kondisi perekonomian yang tidak kondusif. Besaran angka pertumbuhan kredit perbankan, menunjukan trend penurunan. Bahkan di akhir tahun 2019, tingkat pertumbuhan itu hanya mencapai 6.1%, yang merupakan angka pertumbuhan kredit terendah dalam 20 tahun terakhir. 

Sektor Terbaik di IHSG tahun 2019.

Namun begitu, tahun 2019 menjadi tahun yang sangat baik untuk sektor keuangan di BEI. Berbaliknya kebijakan Fed, dari rencana semula yang akan menaikan bunga, menjadi menurunkan bunga, menghasilkan rally dan sentimen positif di pasar modal. 

BEI ikut mendapatkan berkah meningkatnya antusiasme dan likuiditas itu. Sepanjang tahun 2019, investor asing mencatatkan Neto Pembelian sebesar Rp 50 Trilyun. Nilai rata-rata perdagangan di BEI dalam tahun 2019 (Rp 9.1 Trilyun/hari), merupakan angka perdagangan harian BEI tertinggi dalam sejarah BEI.

Oleh karena itu, tidak mengherankan apabila Bank BCA dan Bank BRI – sebagai perusahaan #1 dan #2 dengan Market Cap terbesar – menjadi target pertama investor asing setiap mereka mengalokasikan dananya di BEI.

Pelajaran dasar ilmu ekonomi di SMA, tentang kurva permintaan dan penawaran, “Meningkatnya permintaan akan menghasilkan kenaikan harga” juga berlaku di bursa. 

Dengan demikian, meskipun IHSG hanya naik 1.7% selama tahun 2019 itu, Sektor Keuangan meningkat dengan angka lebih tinggi, 15.22%.

Dalam jangka pendek, kenaikan harga sering ditentukan bukan oleh karena kenaikan laba atau pendapatan, tetapi lebih disebabkan oleh ekspektasi, antusiasme atau, sebaliknya, rasa cemas para pelaku pasar. 

EPS – yang mencerminkan kinerja – Bank BCA pada tahun 2019, “hanya” naik 10% dibanding dengan EPS-nya pada tahun 2018. Tetapi kenaikan yang “hanya” 10% ini, tidak menghalangi kenaikan harga BCA dengan angka yang lebih tinggi, 28%. Kenaikan sebesar 28% ini menjadikan harga saham BCA ditutup di harga Rp 33,425.

Hal yang serupa, terjadi juga terjadi dengan Bank BRI. Di tahun 2019, BBRI menghasilkan EPS sebesar Rp 281, atau naik 6% dibandingkan dengan EPS yang bisa dihasilkannya di tahun 2018. Bagaimana dengan harga sahamnya? Dengan harga saham BBRI yang tercatat di Rp 4,400 pada akhir tahun 2019, harga sahamnya meningkat 20%.

“………..jika kenaikan harga di bursa sudah lebih tinggi dibandingkan dengan kemampuan perusahaan dalam meningkatkan EPS-nya, hal ini menjadi salah-satu tanda bahwa pasar sedang dilanda rasa optimisme yang tinggi” (CMBPM, hal 174). 

Betapapun baiknya kinerja sebuah perusahaan, tetapi apabila sahamnya harus dibeli dengan harga terlalu tinggi, hal ini akan menganggu imbal-hasil kita dalam jangka panjang. Seringkali rasa optimisme menutupi hasil perhitungan sederhana kalkulator kita.

Coronavirus Mengubah Gambar Itu

Sektor keuangan dipersepsikan menjadi satu sektor yang rawan dengan adanya Covid-19. Sampai tulisan ini dibuat, sektor Keuangan berubah menjadi sektor yang penurunannya (31%) lebih buruk dibandingkan angka penurunan IHSG (26%). Bank BRI turun 40% dan Bank BCA 24%.

Fenomena yang sama, tentang terpuruknya sektor keuangan juga dapat kita lihat di Wall Street. Ketiga bank terbesar di Amerika,  mengalami penurunan yang jauh lebih besar dari S&P 500. Wells Fargo turun 54%. JP Morgan turun 35%, serta Bank Of America turun 36%. 

Di luar airlines stocks, yang akhirnya dijual semuanya di bulan April, angka merah saham perbankan mewarnai Equity Portfolio Berkshire di Kwartal I/2020. Selain ketiga Bank di atas, ada 4 bank saham lain yang termasuk dalam 15 Equity Portfolio BH dengan nilai terbesar. Dengan demikian, 7 dari 15 perusahaan yang berada di Top-15 Equity Portfolio Berkshire Hathaway adalah saham-saham perbankan. 

Top-15 ini mewakili 85% nilai Equity Portfolio BH (USD 248 Milyar, akhir tahun 2019). Saham-saham perbankan mewakili sekitar 30% nilai Portfolio BH. Meskipun hal ini tidak akan mengganggu Buffett, namun apa yang terjadi di dalam Kwartal I/2020 ini, niscaya bakal merupakan kenangan istimewa untuk Buffett. 

Apakah penurunan saham-saham perbankan di BEI dan Wall Street ini wajar?

Masih belum tersedia informasi yang memadai, tentang seberapa besar “damage” yang (akan) ditimbulkan oleh Covid-19 ini. Keterbatasan ini tidak memungkinkan kita untuk melakukan perkiraan yang reasonable.

Meskipun demikian, kalau kita kembali ke Indonesia, data bulan Maret menunjukan angka pertumbuhan kredit (yoy) yang masih cukup tinggi,  sebesar 7.95%. Tingkat pertumbuhan ini lebih baik dibandingkan (yoy) Desember yang hanya 6.08%. Trend peningkatan ini, tentu saja sangat mungkin berbalik arah di Kwartal ke II dan III.

Likuiditas juga masih tampak terjaga, meskipun tentu sangat terbantu oleh QE yang dilakukan BI. Dana Pihak Ketiga di bulan Maret, masih menunjukan peningkatan (yoy) sebesar 9.54%. Kenaikan ini lebih baik dibandingkan dengan angka (yoy) Desember, sebesar 6.54%. 

Kondisi perbankan Indonesia menghadapi krisis sekarang ini, tentunya sangat berbeda dengan kondisi perbankan Indonesia saat terjadi krisis tahun 1998.

Pada krisis 1998, perbankan Indonesia justru merupakan bagian dari masalah pokoknya. Kepemilikan bank-bank, dimanfaatkan pemiliknya   sebagai sumber-utama pendanaan untk membiayai kegiatan usaha non-bank yang mereka miliki.  

Ketika krisis terjadi, dan bisnis non-bank mereka bermasalah, akhirnya semuanya bermuara menjadi permasalahan kredit macet di bank-bank mereka. Kualitas kredit yang sangat buruk, sehingga bermuara pada kredit macet, tentu bisa dimengerti. Posisi sebagai pemilik dan nasabah bank, pada saat yang sama, membuat proses pemberian kredit sulit buat dilakukan dengan wajar dan benar. 

Itu sebabnya, tidak ada satu pemilik bank-pun yang selamat, atau dapat keluar dari krisis dengan tetap memiliki bank-nya. Either dibubarkan, atau dijual kepada pemegang saham baru – seperti Bank BCA. Hanya ada satu Bank besar yang selamat melewati krisis itu, yaitu Panin Bank.

Krisis 1998 menjadi tonggak untuk melakukan perbaikan struktural di  industri perbankan, termasuk masalah kualitas pemberian kredit, serta kecukupan modal perbankan.

Disrupsi Covid-19 sangat besar kemungkinan akan bisa meningkatkan kredit macet. Namun sejauh ini, dari hasil pertemuan KKSK kemarin, diumumkan bahwa Non Performing Loan (Gross) sampai Maret tahun ini angkanya sekitar 2.7%. Hanya naik sedikit dari angka NPL di bulan Desember (2.53%). Tentu kita masih harus melihat perkembangannya dalam bulan-bulan mendatang. Dengan rata-rata Net Interest Margin di atas 5%, angka NPL di atas masih dalam batasan terkendali.

Selain itu, industri perbankan Indonesia termasuk yang memiliki angka kecukupan modal yang tinggi. Capital Adequacy Ratio di bulan Maret memang sedikit turun (21.72%) dibandingkan dengan CAR pada bulan Desember 2019 (23.31%), namun angkanya masih di atas persyaratan yang berlaku. 

Meskipun Bukan Waktu Terbaik…..

Seperti disampaikan di atas, 7 perusahaan (dari 15 perusahaan dengan nilai investasi terbesar di dalam Portfolio Berkshire Hathaway) adalah Bank. 

Saya memahami, tidak semua investor tertarik untuk berinvestasi pada bank konvensional. I get it. Masih banyak kelompok usaha lain, yang bisa mereka pilih sebagai tempat investasinya.

Namun, untuk mereka yang memiliki preferensi pada bisnis perbankan, dan ingin mengalokasikan bagian terbesar dana portfolionya pada bank bank di Indonesia, saat ini merupakan salah-satu waktu yang baik untuk mengakumulasi saham-saham perbankan. 

Memang peluangnya saat ini tidak sebesar seperti di tahun 1998-2000, karena seperti telah dituliskan di atas kondisi permasalahannya sudah berbeda. Sistem perbankan saat ini tidak seburuk ketika terjadi krisis tahun 1998. Sehingga penurunan harga dari koreksi sekarang ini tidak bisa sedramatis seperti tahun 1998-2000.

Tentu tidak ada jaminan, bahwa harga saham perbankan ini sudah tidak bakal turun lagi. Adanya berita negatif tentang kondisi perekonomian makro dan industri keuangan dalam bulan-bulan mendatang, akan bisa membuat harga saham turun. Siapa yang dapat mengukur suasana hati para pelaku pasar yang sangat temperamental?

Pertanyaan pokoknya, adalah :”Apakah industri perbankan masih akan tetap relevan di masa-masa mendatang, seperti apa yang sudah terjadi selama ini?”.

Saya termasuk yang meyakini, bahwa fungsi intermediasi perbankan masih tetap akan relevan. Berbagai Fin-Tech mungkin saja mengambil sebagian market-share dari fungsi tersebut. Namun, bahkan jika hal itu terjadi, memerlukan waktu panjang untuk dapat mengambil-alih bisnis perbankan di Indonesia dengan Assets sekitar $ 600 Milyar saat  ini. Selain itu, dalam perjalanan usahanya, apa yang dilakukan oleh Fin-Tech itu, bisa menjadi bagian dari kegiatan usaha perbankan yang telah dilakukannya selama ini.

Tidak ada negara di dunia ini yang perekonomiannya maju, yang tidak disertai dengan pertumbuhan dalam industri perbankan-nya. Kemajuan dan pertumbuhan industri perbankan, bahkan seringkali lebih pesat dari pertumbuhan perekonomian negaranya.

Tahun 2002 total assets perbankan Indonesia masih sekitar $ 80 Milyar, di akhir tahun 2019 angkanya sudah sekitar $ 600 Milyar. Peningkatan ini setara CAGR 12.58%, atau dua kali pertumbuhan GDP Indonesia. Tidak heran, jika Bank Central Asia yang dijual pemerintah Indonesia di tahun 2000 senilai Rp 10 Trilyun, hari ini nilainya sudah mencapai $ 43 Milyar. Untuk memberikan perspektif, angka ini sama dengan 4% nilai GDP Indonesia (!).

Peningkatan skala perekonomian Indonesia, seperti ditunjukan melalui kenaikan GDP, Market Cap, dan pertumbuhan middle-class selama ini, menjadi bukti kemajuan berbagai sektor dan industri pendukungnya.

Menjadi bagian dari pemegang saham perusahaan-perusahaan di dalam sektor yang pertumbuhannya lebih tinggi dibandingkan perekonomian nasional, dapat memberikan imbalan yang lebih dari memuaskan. Bank merupakan bisnis dengan pertumbuhan lebih tinggi dari perekonomian Indonesia.

BBRI dan BBCA, sebagai leaders industri perbankan Indonesia, tentu menjadi opsi yang masuk akal, untuk menjadi bagian portfolio mereka yang berinvestasi di BEI. Di luar kedua bank ini, masih ada satu Bank lagi yang menarik perhatian saya, dengan niche market-nya yang dapat menjadikan nilai tambah Bank ini. 

Sama halnya dengan bank lainnya, Covid-19 tentu bakal mengganggu kinerjanya. Antisipasi bakal terganggunya kinerja perusahaan ini telah membuat harganya turun. Penurunan valuasi saat ini, dalam pandangan saya, sudah tidak lagi menyisakan sedikitpun rasa optimisme terhadap Bank ini. Seringkali, apabila optimisme itu sudah tidak tersisa lagi, kita hanya tinggal menunggu waktu. Kabar tentang kondisinya yang sudah tidak buruk saja di kemudian hari, akan dianggap menjadi sebuah kabar baik oleh pasar. Dan kita tahu, bagaimana reaksi pasar ketika menerima kabar baik. Untuk perusahaan semacam ini, less bad saja sudah menjadi good news. 

Namun, sampai sekarang ini, masih banyak Bank belum mengeluarkan Laporan Keuangan Kwartal I/2020. Jadi sementara ini, saya menunggu dahulu publikasi laporannya, sebelum menyebutkan nama Bank itu.  

Untuk tahap awal ini, BBRI dan BBCA akan dimasukan sebagai bagian dari Portfolio. Bisa jadi, setelah LK I/2020 dipublikasikan, saham Bank ini akan menjadi Portfolio #3.

Published by Joeliardi

Investor, Author.

6 thoughts on “THANKS TO CORONAVIRUS, DUA BANK INI BISA DIMASUKAN SEBAGAI SAHAM #1 DAN #2 DALAM PORTFOLIO

  1. Kalau boleh saya tebak, apa yang terjadi pada saham BBCA saat preclosing selasa sore (12 mei 2020) itu karena ada pembelian yg dilakukan oleh Pak Joel, ya kan pak ? Hehehe.

    Btw mengenai NPL, tahun ini OJK memberi kelonggaran bagi perbankan dalam pencatatan NPL di laporan keuangan, hal ini memungkinkan perbankan untuk lebih leluasa dalam mengelola kualitas kredit. Sehingga bisa sedikit meredam kenaikan angka NPL.

    Thanks pak for sharing, saya selalu mengikuti update Bapak di IG maupun stockbit. Dan dengan adanya blog ini sangat mempermudah akses kepada artikel yang bapak tulis (tidak perlu buka stockbit dan IG). Selain itu dengan adanya blog ini juga memudahkan dalam pencarian artikel berdasarkan timeline maupun kategorinya.

    Liked by 1 person

  2. Dari 7 portofolio yg saya punya 4 perbankan besar karena saya melihat prospek kedepannya karna pertumbuhannya dan harganya masih murah terimakasih juga untuk pak joel sangat senang untuk ilmu ilmu baru nya sukseme terimakasih

    Liked by 1 person

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: