APA YANG TERJADI DI BEI?

Seperti disampaikan BI kemarin, dari QE yang telah dilakukan sampai dengan April ( Rp 504 Trilyun), sekitar 33% diantaranya  (Rp 166 Trilyun) merupakan pembelian SBN di pasar sekunder yang dijual oleh foreign investors. 

Besaran penjualan SBN ini bisa menjadi indikasi ekivalen dollar yang keluar, yang dilakukan investor asing. Adanya arus dana keluar ini selain mengurangi cadangan devisa, juga menambah tekanan pada nilai tukar Rupiah.

Sampai dengan akhir Maret 2020, nilai SBN yang masih dimiliki investor asing tercatat Rp 927 Trilyun, turun dari nilai Rp 1,062 Trilyun pada akhir tahun 2019.

Adanya pembelian SBN yang dilakukan oleh BI, meskipun telah dapat mengurangi tekanan likuiditas, namun masih belum bisa mengurangi yield-nya yang masih bertahan di atas 8%. Apabila kita lihat di minggu ke-3 Februari, yield itu masih sekitar 6.5%. Hal ini dapat menjadi indikasi belum kembalinya minat foreign investors untuk masuk ke pasar obligasi. 

Selama bulan April, masih terjadi arus dana asing yang keluar, sebesar Rp 2.14 Trilyun. Namun minggu pertama bulan Mei ini tercatat dana asing masuk membeli SBN senilai Rp 1.2 Trilyun.

Current spread antara Indonesia dan Amerika untuk 10-years Bonds tercatat 752 basis points. Sementara itu, angka 5-years CDS Indonesia tercatat di 206.94. Sudah turun dari angkanya yang terburuk saat March Madness (290.8), tetapi masih jauh dari angka di minggu ke-3 bulan Februari (58.4), ketika kondisi masih relatif stabil.

Masih akan terjadi tarik-menarik antara lebarnya spread (dari US dan Indonesia Bonds) dengan tingkat kepercayaan investor asing yang tercermin dalam angka CDS. Perkembangan positif dari kedua faktor ini, tentu akan dapat menurunkan yield dan CDS, serta menguatkan nilai Rupiah.

BAGAIMANA DENGAN IHSG?

Di akhir minggu kemarin, angka IHSG tercatat di 4,597. Dengan demikian, YTD IHSG masih mengalami penurunan 27%.

Namun setelah menyentuh angka terendahnya di 3,938, pada minggu ke-3 bulan Maret, sudah terjadi recovery sebesar 17%.

Melalui beberapa catatan saya sudah menyampaikan, jika kita melihat data-data historis 20 tahun terakhir, tidak pernah ada koreksi (peak to bottom) yang lebih dari 15 bulan.  

IHSG menyentuh angka terendahnya karena Covid-19 tanggal 23 Maret 2020 di 3,938. Dengan demikian, IHSG sudah turun sekitar 41% dari angka tertingginya di bulan April 2019 (6,636), sekitar 12 bulan yang lalu.

Apakah angka IHSG bisa terkoreksi kembali ke angka terendah di 3,938, dan kemudian melanjutkan penurunannya? Ataukah angka itu akan menjadi angka terendahnya tahun ini?

Hanya tinggal menunggu waktu 3 bulan, untuk melihat apakah Covid-19 ini akan mencatat sejarah baru di BEI, dimana koreksi peak-to-bottom ternyata dapat lebih dari 15 bulan. sejarah Tetapi apabila sejarah baru itu tidak terjadi – dan angka 3,938 merupakan angka terendah IHSG, maka kita akan lebih sering membaca ucapan Mark Twain : “History doesn’t repeat itself, but it does rhyme”. Over and over again.

FAKTOR ASING.

Kita masih belum tahu, kapan Covid-19 ini dapat ditanggulangi dengan tuntas. Berhentinya mayoritas kegiatan ekonomi, jelas akan berdampak pada kinerja perusahaan dan bank-bank yang memberikan pinjaman.

Melihat kinerja Kwartal I, II dan III tahun 2020, menurut hemat saya, masih belum dapat memberikan gambaran yang lengkap tentang damage yang ditimbulkan Covid-19. Namun demikian, langkah-langkah yang diambil BI dan pemerintah – betapapun banyak kekurangannya – sudah dapat mengurangi kecemasan pasar. Market (systemic) risks sudah berkurang, dan perhatian akan lebih diarahkan kepada corporate atau sector risks.

Di dalam banyak waktu, krisis seringkali menawarkan banyak peluang yang bisa menghasilkan yield lebih dari memuaskan.

Drawdown di pasar – meskipun dengan alasan dan skala yang berlainan – merupakan bagian dari dinamika pasar, yang telah sering terjadi selama ini.

Peranan investor asing (atau investor Indonesia yang memakai badan usaha asing) selalu menjadi perhatian, karena apa yang mereka lakukan di BEI, dianggap dapat menentukan perilaku pasar modal. Hal yang sama juga juga terjadi di Pasar Uang.

Selama Kwartal I/2020, asing (lihat pengertian di atas) tercatat melakukan Neto penjualan sebesar Rp 10 Trilyun. Dalam bulan April, neto penjualan masih terus terjadi dan mencapai Rp 11 Trilyun. Dengan demikian, akumulasi penjualan asing dalam 4 bulan terakhir ini sudah mencapai Rp 21 Trilyun. 

Jika kita melihat neto PEMBELIAN asing selama tahun 2019 (Rp 49 Trilyun), apa yang dilakukan mereka dalam minggu-minggu mendatang ini, akan merupakan indikasi apakah semua saham yang mereka beli di tahun 2019 itu akan dilepas semua. 

Anjloknya IHSG secara masif ini, terutama untuk mereka yang mungkin belum terlalu lama berinvestasi di pasar modal, tentu bukan merupakan peristiwa yang menyenangkan. Tidak heran apabila hal ini menurunkan nilai perdagangan saham di bursa. Banyak yang mungkin sudah melemparkan handuk putih, dan mengucapkan sumpah : Kapok, dan tidak mau lagi berinvestasi di pasar modal. 

Di tahun 2019, nilai perdagangan harian BEI mencapai Rp 9.1 Trilyun per-hari, atau meningkat sekitar 7% dibanding dengan tahun 2018 (Rp 8.5 Trilyun). Dalam 4 bulan tahun 2020, rata-rata nilai perdagangan sudah turun menjadi Rp 6.6 Trilyun. 

Antusiasme yang semakin rendah untuk melakukan trading – setelah terjadinya penurunan yang masif – selalu merupakan kabar baik untuk mereka yang berpegang pada prinsip, bahwa dibalik lembaran saham-saham itu ada kinerja perusahaan.

Dalam menjalankan perusahaan, kondisi perekonomian tidak selalu berpihak kepada perusahaan. Namun, jika setiap terjadi masalah yang menimpa perusahaan, para pemilik perusahaan itu langsung menyerah, berapa banyak perusahaan yang harus ditutup setiap jam-nya? 

In real world, pemilik perusahaan harus menghadapi masalah – besar maupun kecil, baik yang berasal dari internal maupun external, dan manajemen perusahaan tentu harus menangani permasalahan itu.

Ada yang hanya memerlukan waktu pendek untuk manajemen bisa menyelesaikan persoalan itu. Ada juga yang memerlukan waktu panjang, bisa bulanan atau tahunan. 

Attitude yang berlainan terjadi di pasar modal. Berita buruk di hari ini, dipandangnya sebagai berita buruk yang harus terus-menerus dihadapi perusahaan. Begitu pula jika ada kabar baik yang mungkin di dengar serta dibacanya. Berita baik itu bakal terus menerus menjadi bagian dari perusahaan. Kata forever merupakan hal permanen di dalam pemikirannya. 

PERUBAHAN SEKTOR

Sampai akhir tahun 2019, sektor Finance merupakan leader di pasar. 

Angka IHSG selama tahun 2019 hanya meningkat 1.7%. Sektor Finance menunjukan kenaikan yang lebih impresif, 15% dalam periode yang sama. Di belakangnya menyusul Sektor Industri Dasar dan Kimia (14%) serta sektor Property (12.5%). Sektor terakhir ini menjadi sektor yang tadinya saya perkirakan bakal meneruskan kenaikannya, dan menjadi leader di tahun 2020.

Thanks to coronavirus, tampaknya dugaan itu meleset, kecuali jika tanda-tanda inflasi – jika perekonomian bergerak kembali, bisa mulai datang.

Tiga besar bank yang mendominasi industri perbankan, BBCA, BBRI dan BMRI mewakili sekitar 23.5% Market Cap BEI untuk tahun 2019. TPIA dan BRPT  yang masuk kedalam kelompok 10 besar Market Cap BEI tahun 2019, dengan bobot 2.55% dan 1.85%, menjadi alasan mengapa Sektor Industri Dasar & Kimia menjadi sektor dengan kinerja terbaik kedua di tahun 2019.

10 perusahaan terbesar (Top 10) BEI mewakili 47% Market Cap BEI. Sisanya, 53%, harus dibagi oleh sekitar 660 perusahaan. 

Coronavirus telah mengubah peta kekuatan sektor di BEI.

Sektor Finance, yang masih memimpin sampai bulan Februari, tidak bisa lagi menjadi leader, khususnya karena kedua saham di sektor ini (BCA dan terutama BRI) tidak lagi dapat menahan tekanan penjualan sahamnya di bursa. Pengumuman shares buy-back BRI – dan diharapkan bisa menahan laju penurunan sahamnya – dimanfaatkan untuk dapat menjual saham BRI di harga yang lebih baik. Sementara IHSG turun 27.95% (YTD di penutupan minggu lalu), Sektor Finance turun lebih buruk lagi, sebesar 31.63%. 

Sektor Consumer Goods mengambil-alih posisi “leader”. Tentu bukan karena kinerjanya positif, tetapi karena penurunannya (negatif 12.41%) lebih kecil dibandingkan penurunan IHSG.

Ke-3 bank terbesar yang akhir tahun masih menguasai 23.5% Market Cap BEI, pada penutupan minggu lalu bobotnya turun  8.5%, menjadi 21.5%. 

BBRI menunjukan penurunan yang paling parah dari ke-3 bank besar itu. Bobot BRI sebesar 7.4% di akhir tahun 2019, saat ini hanya tinggal 5.9% saja. Sementara itu, UNVR menjadi pelaku utama yang membuat Sektor Consumer Goods menjadi leader sampai penutupan minggu lalu. Bobot UNVR yang masih 4.4% di akhir tahun 2019, saat ini sudah naik hampir 32%, mencapai 5.8%. Posisinya yang masih di ranking 5 dari Top 10 pada akhir tahun 2019, saat ini sudah meningkat satu tangga, di posisi ke-4. Apabila TLKM tidak sigap, posisinya di Top-3 sangat mungkin bisa diambil-alih oleh UNVR. Meskipun secara YTD harganya masih turun sekitar 4%, tetapi sejak March Madness tanggal 23 Maret, saham UNVR ini sudah meningkat 29%.

Published by Joeliardi

Investor, Author.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: