APAKAH INFLASI AKAN DATANG?

Seperti diberitakan New York Post, Lary Kudlow, penasihat keuangan Presiden Amerika, menyebutkan bahwa paket stimulus coronavirus ini angkanya lebih dari $6 Trilyun, atau sekitar 30% dari GDP Amerika.

Pada dasarnya ini adalah QE – printing money out of thin air – yang juga dilakukan Amerika saat menghadapi krisis tahun 2008. Mekanismenya melalui ekspansi Neraca Fed, peningkatan hutang dan pembengkakan defisit.

Sebelum Amerika dihantam meteor coronavirus, ekspansi Neraca Fed itu belum kembali normal. Angkanya masih $ 4 Trilyun. Adanya Covid-19 menambah bengkak Neraca Fed menjadi lebih dari $ 6 Trilyun.

Apa konsekwensi yang akan timbul dari kebijakan yang saat ini diambil? Meskipun tidak memberikan penjelasan lebih lanjut, Buffett misalnya, telah menyampaikan kekhawatirannya soal “extreme consequences”, yang diakibatkan oleh QE saat ini. Apakah kekhawatirannya ini, yang membuat dia masih tetap memelihara dry-powder-nya sekarang ini?

Bagaimana pemerintah Amerika akan membiayai lonjakan defisit-nya?  Bagaimana cara membayar angka pinjaman yang sudah lebih tinggi dari nilai GDP-nya saat ini? Cetak uang lagi? Berhutang lagi?

Jika kombinasi ini yang dilakukan, bukankah ini merupakan resep yang ideal untuk terjadinya inflasi?

Jika ternyata inflasi muncul – nilai mata uang semakin turun – apa yang harus dilakukan? Assets-class yang mana yang akan diuntungkan?

Jika inflasi terjadi, penabung, deposan dan pemilik bonds akan menjadi kelompok yang dirugikan. Mereka akan mengalihkan dananya kedalam assets-class yang dapat menetralisir kenaikan inflasi, yang mengurangi purchasing power dari mata uang (currency). 

Dalam kondisi saat ini, dimana aktivitas perekonomian nyaris berhenti, dengan suku bunga mendekati 0, angka pengangguran yang tinggi, dan harga komoditas sangat rendah, mempertanyakan apakah bakal terjadi inflasi mungkin merupakan pertanyaan yang ganjil. 

Berbagai indikator sekarang ini lebih mencerminkan deflasi dari sebuah perekonomian yang sedang berada di dalam kondisi resesi. Bagaimana mungkin menduga bakal ada inflasi? 

Mari kita coba lihat.

Seperti disebutkan di atas, coronavirus tidak hanya melakukan disrupsi atas sisi demand, tetapi juga supply chain. Apabila locked-down dibuka, dan kegiatan kembali normal, peningkatan permintaan (pemulihan dari sisi demand) akan lebih cepat, dibandingkan dengan pemulihan supply yang terdisrupsi oleh coronavirus ini.

Meningkatnya permintaan yang tidak dapat segera diimbangi dengan pasokan yang seimbang, menjadi resep untuk terjadinya inflasi.

Semakin lama sisi demand tertekan, maka ketika tekanan itu terangkat, serta katup mulai dibuka lagi, lonjakan demand yang terjadi akan makin kuat. Demand yang tertekan karena locked-down yang hanya sebulan, tentu bakal menghasilkan reaksi lonjakan demand berbeda, dibanding dengan masa locked-down yang lebih panjang, 6-12 bulan. Atas dasar ini, menduga bakal terjadinya inflasi bukan hal yang berlebihan. 

Inflasi memang tidak akan terjadi dalam kondisi resesi. 

Namun apabila recovery mulai terjadi – dan disrupsi supply chain tidak bisa dipulihkan dalam waktu segera – terjadinya inflasi menjadi sebuah kemungkinan. Meningkatnya angka defisit dan kenaikan nilai pinjaman, yang berasal dari stimulus sekarang ini – akan menambah tekanan itu. 

Meskipun begitu, jika kita melihat apa yang terjadi dengan QE ex-krisis 2008, bukankah kebijakan itu tidak menimbulkan inflasi?

Terkait hal ini, apa yang disampaikan Bank for International Settlement (BIS) mungkin bisa membantu. Menurut pandangan BIS, terbentuknya global supply chain menjadi faktor penting terjadinya disinflasi selama ini.

Tidak tersedianya bahan baku, tenaga kerja, atau mesin produksi suatu negara, dapat ditanggulangi dengan kehadiran global supply-chain ini. IPhone, dan berbagai produk lainnhya yang ada di tangan konsumen di Amerika – yang dihasilkan perusahaan Amerika – tidak harus diproduksi di Amerika. QE tidak hanya berhenti di kantong-kantong perekonomian  Amerika saja. Pasokan QEdijawab dengan peningkatan pasokan barang melalui global supply chain. 

Berdasarkan estimasi IMF, sekitar 75% kenaikan nilai perdagangan dari tahun 1993-2013 disebabkan oleh adanya peningkatan di dalam global supply chain. Dalam 20 tahun itu, nilai perdagangan dunia naik sebesar 500%. Terpeliharanya global supply chain, menjadi landasan kuat yang memungkinkan terjadinya ekspansi itu, tanpa menimbulkan inflasi.  

Jika global-supply chain tidak bisa terpelihara dengan baik, atau terjadi disrupsi karena adanya coronavirus ini, maka QE bisa memiliki potensi untuk menimbulkan inflasi. Mengutip istilah Prof Stephen Roach dari Yale University, “Inflation was primarily a local affair”. Dorongan inflasi menjadi lebih besar di dalam sebuah perekonomian yang tertutup. Jika terjadi kenaikan upah/gaji, dan pemerintah melarang impor barang – sementara produksi di dalam negeri terbatas, atau tidak efisien – maka dapat memicu inflasi. 

Coronavirus telah menimbulkan disrupsi dalam global supply chain. 

Benar, bahwa sudah mulai banyak yang berpikir melakukan reshoring, atau mengalihkan kembali pusat-pusat produksi ke negara asal. 

Jepang misalnya, mengalokasikan sebagian dana peruntukan Covid-19 recovery-nya, untuk program reshoring bagi perusahaan Jepang yang berniat mengalihkan usahanya dari China. 

Reshoring Initiative – Bringing Manufactaring Back Home juga menjadi penggerak program reshoring di Amerika. Namun pengalihan kegiatan usaha – untuk mengganti disrupsi supply chain itu – tentu memerlukan waktu. Tidak bisa segera menjawab peningkatan demand yang terjadi.

Dengan demikian, potensi terjadinya inflasi sebagai akibat dari money-printing yang dilakukan saat ini, tidak bisa serta merta diabaikan.

Dari sudut pandang yang lain, adanya faktor inflasi ini, mungkin bahkan dapat membantu pemerintahan sebuah negara dalam “memperkecil” beban hutangnya (berbanding GDP) yang semakin meningkat sekarang ini, seperti diterangkan di bawah ini.

Adanya coronavirus membuat Indonesia tidak lagi dapat menggunakan batasan defisit maximum 3% dari GDP. Selain itu, Debt To GDP kita juga akan mengalami peningkatan. ADB sudah memperkirakan, bahwa ratio itu akan meningkat menjadi 37.8% akhir tahun 2020. Angka kenaikan yang cukup tinggi, dari level 29.8% di akhir tahun 2019. 

Membandingkan ratio ini, dengan mengatakan bahwa angkanya masih lebih rendah dari Amerika, tentu bukan merupakan perbandingan yang dapat menenangkan kita. 

REFLATION

Bagaimana elemen inflasi yang dirancang pemerintah (reflation), lewat ekspansi perekonomian – melalui stimulus fiskal dan moneter – dapat memperbaiki ratio Debt To GDP sebuah negara?

Bahkan dalam pandangan Prof Reach, berkaca pada apa yang terjadi di Amerika seusai PD II, inflasi ini menjadi satu-satunya jalan keluar untuk 

Amerika, agar bisa menurunkan GDP To Debt Ratio-nya yang sekarang ini sudah lebih tinggi dari GDP-nya.

Angka setinggi ini hanya pernah dialami Amerika sebelumnya, setelah terjadinya PD II. Masalah hutang seusai PD II ini bisa diperbaiki, melalui reflation, lewat stimulus fiskal dan moneter. Kebijakan ganda ini dapat menghasilkan laju pertumbuhan, dan menimbulkan inflasi.

Dalam kurun waktu 1947-1957, sementara angka pinjaman turun 0.9%, akselerasi inflasi telah menciptakan peningkatan angka GDP sekitar 7% per-tahun. Hal ini berhasil menurunkan Debt To GDP Ratio Amerika ke angka 47%.   

Bagaimana dengan Indonesia setelah terjadinya krisis tahun 1998?

Tahun 2000, Debt To GDP Ratio kita masih sangat tinggi, yaitu 87.44%. Dalam kurun waktu 2000-2010, tingkat inflasi Indonesia mencapai rata-rata 7.87%. Bahkan di dalam tahun 2002 dan 2005 mencapai dua digit, masing-masing 12.16% dan 14.18%. 

Akselerasi inflasi dalam 10 tahun itu telah menciptakan pertumbuhan angka GDP, dari USD 179 Milyar (tahun 2000) menjadi USD 755 Milyar (tahun 2010). Terjadi kenaikan GDP sebesar USD 576 Milyar. 

Di sisi lain, Hutang Indonesia hanya naik 18%, yaitu dari USD 156 Milyar (2000) menjadi USD 185 Milyar (2010). Kombinasi  ini bisa menurunkan Debt To GDP Indonesia dari 87.44% pada tahun 2000, menjadi 24.53% di tahun 2010.

Besaran ratio 24%-an ini masih bisa dipertahankan sampai tahun 2014. Sejak 2015, mulai terjadi peningkatan menjadi 27% dan terus berlanjut sampai akhir tahun 2019 di angka 29.8%. Seperti dituliskan di atas, ADB memperkirakan bahwa ratio ini akan naik lagi sampai 37.8% akhir tahun 2020 ini.

SEKTOR APA?

Apabila pada akhirnya inflasi terjadi, maka turunnya nilai mata uang itu akan merupakan kabar baik untuk sektor komoditas dan property. Gold sebagai lambang kecemasan, bahkan sudah terlebih dahulu meningkat harganya. Meskipun atas dasar alasan yang berbeda. Bukan karena soal inflasi, tetapi timbulnya kecemasan pasar karena datangnya Covid-19.

Di dalam 4-5 tahun terakhir, sektor komoditi bukan merupakan sektor  yang terlalu menyenangkan. Bloomberg Commodity Index maupun ETF yang fokusnya di komoditi, sudah kehilangan 50% nilainya. Coronavirus menambah tekanan pada sejumlah komoditi dalam tahun ini.

Apabila roda perekonomian mulai bergerak, dan potensi adanya inflasi muncul ke permukaan, maka sektor komoditi dan properti merupakan  sektor yang akan menarik perhatian. Dalam kesempatan lain, saya akan coba melihat apa yang terjadi di BEI sepanjang tahun 2020 ini.

Published by Joeliardi

Investor, Author.

4 thoughts on “APAKAH INFLASI AKAN DATANG?

  1. Terimakasih atas perspective luar biasanya pak Joe. Kalau boleh bertanya, Apa yang mengakibatkan sektor komoditi dan property akan diuntungkan ketika nilai mata uang menurun ?? bukannya indonesia masih orientasi import untuk oil ??

    Liked by 1 person

  2. Selamat pagi Pak Joel! Terima kasih sudah membagikan perspektifnya. Saya cukup bisa mengikuti penjelasan bapak, namun agak sedikit kesulitan mengaitkan benang merah di bagian terakhir, yaitu terkait sektor properti.
    Mohon dikoreksi jika salah pengertian saya.
    1. Dengan tingkat unemployment rate yang semakin tinggi di indonesia (apalagi US), maka purchasing power orang akan menjadi lemah, dan seharusnya diprioritaskan untuk kebutuhan primer. Namun, ketika roda perekonomian mulai bergerak, angka unemployment rate akan semakin membaik dan purchasing power semakin kuat. tetapi karena kebanyakan orang akan berpikir bahwa uang yang dihasilkan akan termakan inflasi, maka lebih baik diinvestasikan ke properti yang mempunyai kecenderungan harga untuk naik atau paling tidak tetap. Betulkah seperti ini?

    2. Inflasi Indonesia dalam 4-5 tahun terakhir cukup stabil di 3%-an dan pertumbuhan ekonomi di 5%-an. Apakah konteks inflasi yang Bapak maksud di artikel ini sehingga bisa menarik sektor komoditi & properti, adalah kondisi dimana inflasi lebih tinggi dari pertumbuhan ekonomi seperti tahun 2013-2014? karena selama ini juga, kita sudah “terbiasa” dengan inflasi di angka 3%-an itu, bukan?

    Liked by 1 person

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: