APA YANG TERJADI DI WALL STREET?

Jika Anda bertanya kepada pemegang saham Amazon, MSFT dan FB, “Bisa ceritakan bagaimana cara Anda mengendalikan kecemasan Anda dalam menghadapi coronavirus saat ini?”. Boleh jadi mereka akan balik bertanya :”What? Apa itu coronavirus?”. 

Guncangnya pasar akibat coronavirus, seakan-akan tidak memiliki arti samasekali untuk ketiga perusahaan ini.

Berbeda dengan S&P yang secara YTD masih turun 9.32%, AMZN, MSFT dan FB, selama tahun 2020 ini mencatat kenaikan masing-masing 28%, 17% dan 22%. Bahkan jika dihitung dari saat pasar sedang di puncak kecemasannya, saham MSFT dan FB meningkat 35% dan 42%.

S&P 500, walaupun YTD-nya masih negatif, sudah mengalami recovery sebesar 27% dari titik terendahnya. Recovery yang demikian cepat ini, membuat banyak orang heran. Bukankah berbagai kabar buruk saat ini dengan mudah masih terlihat dimana-mana? Kenaikan pengangguran, berhentinya mayoritas kegiatan bisnis, melonjaknya defisit dan hutang masih menjadi berita rutin di berbagai media. Selain itu, bukankah kita juga masih belum bisa mengendalikan coronavirus sampai saat ini? Apa yang terjadi dengan Wall Street, yang pergerakannya berlainan dengan apa yang ditunjukan di Main Street?.

PASAR YANG MEMILIKI DUA SISI.

Dalam pandangan saya, kita dapat melihatnya dari sejumlah faktor di bawah ini :

  1. Berbeda dengan krisis sebelumnya di Amerika tahun 2008 (atau 1998 di Indonesia), dimana asal mula krisis itu berasal dari adanya kebusukan yang terjadi di dalam sistem keuangan, krisis Covid-19 berasal dari luar sistem yang ada. Coronavirus is a random event. Ibaratnya seperti meteor yang datang dan jatuh menimpa bumi. 
  • Jatuhnya meteor ini, dalam tempo yang pendek segera membuat berhentinya berbagai macam aktivitas. Berhentinya kegiatan ini tidak terbatas pada kegiatan perekonomian, tetapi juga aktivitas sosial, bahkan ritual keagamaan yang biasa dilakukan berjamaah. Jatuhnya meteor ini telah menciptakan lubang besar yang berupa ketidak-pastian.
  • Dampak kerusakan yang ditimbulkan – apakah karena kebusukan dari internal  system seperti di tahun 2008 ataupun random event seperti saat ini – pada akhirnya bisa saja sama. Namun demikian, skala percepatan kerusakannya berbeda. Penyebab dari internal, menimbulkan kerusakan relatif bertahap – banyak yang mungkin sudah bersiap-siap, karena sudah mulai mencium baunya. Dalam kasus meteor coronavirus ini, kedatangannya yang “tiba-tiba” itu menimbulkan kecemasan berjamaah, yang hampir bersamaan di berbagai tempat. Hal ini menciptakan skala kecemasan yang tidak terkendali dan massif.
  • Timbulnya kecemasan yang tidak terkendali itu, misalnya dapat kita lihat pada apa yang terjadi pada assets yang selalu dianggap sangat tidak berisiko setiap terjadinya krisis (Treasury Notes) atau gold price yang sering dianggap sebagai safe haven, serta menjadi instrumen untuk hedging. Lazimnya, di saat terjadi krisis, kedua asset- class ini akan mengalami kenaikan. Ketika kecemasan pasar ini berada di puncaknya, di bulan Maret kemarin, Fed melakukan pemotongan suku-bunga. Namun apa yang terjadi di pasar? Kita menyaksikan anomali, karena di Treasury Market, justru gambar yang berbeda terjadi. US Bond yield bukannya turun, tetapi justru naik dan mencapai 2% lebih. Agresifnya angka penjualan T-Notes di Treasury Market menjadikan harganya rontok, sehingga yield meningkat sampai di atas 2%. Gold price juga anjlok sekitar 14% dari harga seminggu sebelumnya, di $1,675/oz.
  • Gambaran ini menunjukan, bahwa investors tidak hanya sekedar menjual saham yang dimilikinya Mereka juga ikut menjual no-risk assets (Treasury Notes) serta safe-haven instrument (gold). Apa yang terjadi ini menunjukan skala kecemasan yang begitu besar-nya. VIX, yang biasa dipakai mengukur besaran kecemasan pasar, melonjak 400% dalam waktu yang relatif pendek. Contoh-contoh ini menunjukan pasar yang sangat reaktif. Everything was on sale.
  • Langkah Fed dan pemerintah Amerika, dengan mantra “whatever it takes”  juga memberi indikasi besarnya lubang ketidak-pastian yang terjadi di pasar ketika itu. Neraca Fed yang melonjak 50% di dalam hitungan minggu, maupun lonjakan hutang Amerika yang langsung mencapai angka lebih dari 100% GDP-nya, menjadi opsi yang segera diambil untuk menutup lubang besar itu. Kombinasi kebijakan moneter dan stimulus fiskal ini, merupakan The Known Factor untuk menghadapi The Uncertainty yang ditimbulkan oleh Covid-19.
  • Response berupa kebijakan moneter serta stimulus fiskal di atas, sejauh ini telah berhasil mengangkat market risk (systemic risk), meskipun malapetaka akibat coronavirus ini masih terjadi sampai saat ini. Seberapa besar damage yang ditimbulkan, sampai sejauh ini is anyone’s guess. Disrupsi yang ditimbulkan Covid-19 ini tidak hanya di sisi demand saja, tetapi juga supply-side. Pengaruhnya terhadap masing-masing sektor dan perusahaan akan bisa sangat berbeda. Perhatian investor mulai beralih, tidak lagi kepada pasar secara umum, tetapi akan lebih diarahkan kepada kinerja masing-masing sektor/perusahaan. Apa yang terjadi dalam 9-12 bulan ke depan dari masing-masing sektor/perusahaan, akan menentukan arah pergerakan pasar selanjutnya. Angka-angka di Kwartal I dan II/2020 ini, menurut hemat saya, masih belum dapat memberikan gambaran yang memadai.  
  • Oleh karenanya, ada baiknya untuk bisa lebih hati-hati membaca “recovery” S&P yang terjadi dalam satuan waktu yang pendek ini. Untuk sebagian, mantra Fed telah menjadi bantalan. Oleh karena itu, terjadinya recovery ini bukan berarti the worst is over. Hal ini, lebih menunjukan munculnya keyakinan pasar, karena adanya Big Brother yang telah siaga buat melemparkan tali bantuan. Attitude yang sama, hari ini disampaikan juga oleh Lagarde, Presiden ECB: “……….a swift, sizeable, and symmetrical European tool to fund the recovery is necessary, and ECB will play its part”. Terjadinya recovery yang relatif cepat ini, merupakan hasil pembalikan sikap reaktif sebelumnya yang juga begitu massif dan cepat. Ketika Big Brother kehadirannya belum dirasakan, penjualan non-risk assets yang sangat agresif seperti disampaikan di atas, merupakan salah satu contoh sikap pasar yang sangat reaktif ketika itu. Pada saat orang berteriak :”Kebakaran…kebakaran…kebakaran”, melarikan diri keluar serta melepaskan apapun yang ada di dalam, menjadi opsi yang masuk akal. Ketika ternyata ada Big Brother yang bisa mengendalikan api, mereka yang sudah berada di luar itu, mulai merasa nyaman untuk masuk kembali. Bahkan berebutan masuk, lebih cepat dibandingkan dengan saat mereka lari ke luar.
  • Terjadinya recovery S&P 500 ini juga harus dikaitkan dengan fakta tentang peranan sejumlah kecil emiten, yang merupakan bagian dari S&P 500. Microsoft, Amazon, Google, Facebook serta Apple, yang jumlahnya hanya 1% dari jumlah perusahaan di dalam S&P 500, memiliki bobot 20% dalam S&P 500.  Dengan demikian, 80%-bobot sisanya dibagi oleh 495 (95%) emiten lain. Oleh karena itu, S&P 500 sekarang ini bisa disebut memiliki dua muka. Satu muka yang berseri-seri, terutama diwakili ke-5 emiten tersebut di atas. Recovery S&P 500 ini tidak dengan sendirinya mewakili 495 muka lainnya yang berada dalam komponen S&P 500. Kelompok Bank, misalnya, menunjukan wajah berbeda. Year To Date, JP Morgan turun 33 %, bahkan Wells Fargo turun 52%. 

Apakah money-printing ini akan menjadi pemicu inflasi di masa-masa mendatang ini? Jika inflasi terjadi, apa yang seharusnya menjadi perhatian investor? Hal ini mungkin akan dibahas dalam catatan berikutnya.

Published by Joeliardi

Investor, Author.

One thought on “APA YANG TERJADI DI WALL STREET?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: